Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Lelaki yang menghadap ke arahku bertubuh kecil, tetapi gempal. Hidungnya merah, matanya besar dan berair, dan rambut ikalnya begitu hitam sampai-sampai hampir ungu. Dia mirip lukisan malaikat bayi—apa namanya, kerubut? Bukan, kerubin. Tepat. Dia mirip kerubin yang menua di rumah kumuh. Pakaiannya kemeja Hawaii bercorak harimau. Dia pasti cocok kalau ikut pesta poker Gabe, tetapi aku mendapat firasat orang ini dapat mengalahkan ayah tiriku sekalipun soal berjudi.

“Itu Pak D,” gumam Grover kepadaku. “Dia direktur perkemahan. Yang sopan, ya. Gadis itu, itu Annabeth Chase. Dia cuma pekemah, tetapi dia sudah berada di sini lebih lama daripada siapa pun. Dan kau sudah kenal Chiron ….”

Dia menunjuk lelaki yang memunggungiku.

Pertama-tama, kusadari dia duduk di kursi roda. Lalu aku mengenali jaket wolnya, rambut cokelat yang menipis, jenggot yang kusut.

“Pak Brunner!” seruku.

Guru bahasa Latin itu menoleh dan tersenyum kepadaku. Matanya berbinar jail, seperti yang kadang terlihat di kelas saat dia mengeluarkan kuis mendadak dan membuat semua jawaban soal pilihan gandanya B.

“Ah, bagus, Percy,” katanya. “Sekarang ada empat orang untuk main pinochle.”

Dia menawariku kursi di sebelah kanan Pak D. Si direktur perkemahan itu memandangku dengan mata merah dan menghela napas panjang. “Oh, aku harus menyambut ya? Selamat datang di Perkemahan Blasteran. Nah, sudah kukatakan. Jangan harap aku senang berkenalan denganmu.”

“Eh, makasih.” Aku beringsut menjauh darinya. Satu pelajaran yang kupetik setelah hidup bersama Gabe adalah cara mengetahui kapan seorang dewasa habis minum-minum. Sudah pasti Pak D bersahabat dengan alcohol, sama pastinya aku bukan seorang satir.

“Annabeth?” Pak Brunner memanggil si gadis pirang.

Dia maju dan Pak Brunner memperkenalkan kami. “Gadis ini merawatmu hingga kau sehat, Percy. Annabeth, Manis, tolong periksa tempat tidur Percy, ya? dia kita tempatkan di pondok sebelas sementara ini.”

Annabeth berkata, “Baik, Chiron.”

Dia sepertinya seumur denganku, barangkali beberapa sentimeter lebih tinggi, dan tampak jauh lebih atletis. Dengan kulit terbakar dan rambut pirang ikal, dia persis seperti gadis khas California dalam bayanganku. Tetapi, matanya menghancurkan bayangan itu. Warnanya abu-abu memukau, seperti awan badai. Indah, tetapi juga menggentarkan, seolah-olah dia sedang menganalisis cara terbaik untuk menaklukkanku dalam perkelahian.

Dia melirik tanduk minotaurus di tanganku, lalu kembali kepadaku. Aku membayangkan dia akan berkata, Kau membunuh minotaurus! atau Wah, kau hebat! atau semacamnya.

Dia malah bilang, “Kau ngiler kalau lagi tidur.”

Lalu dia berlari ke pekarangan, rambut pirangnya berkibar-kibar.

“Jadi,” kataku, ingin cepat-cepat mengubah topic. “Pak Brunner, eh, bekerja di sini?”

“Bukan Pak Brunner,” kata mantan Pak Brunner. “Itu cuma nama samaran. Kau boleh memanggilku Chiron.”

“Oke.” Sambil merasa bingung, aku menoleh kepada si direktur. “Dan Pak D … itu singkatan nama?”

Pak D berhenti mengocok kartu. Dia menatapku seolah-olah aku baru bersendawa keras. “Anak muda, nama itu punya kekuatan. Tidak boleh digunakan sembarangan.”

“Oh. Betul. Maaf.”

“Sungguh, Percy,” sela Chiron-Brunner, “aku senang kau masih hidup. Sudah lama aku tidak mengunjungi calon pekemah. Aku pasti menyesal kalau selama ini aku cuma menyia-nyiakan waktu.”

“Mengunjungi?”

“Aku setahun bekerja di Akademi Yancy, itu untuk mengajarimu. Tentu saja, kami menempatkan satir di banyak sekolah, untuk mengawasi. Tapi, Grover memberitahuku begitu bertemu denganmu. Dia merasa kau istimewa, jadi aku memutuskan untuk datang ke utara. Aku meyakinkan guru bahasa Latin yang satu lagi untuk … eh, mengambil cuti.”

Aku berusaha mengingat awal tahun ajaran. Rasanya sudah lama sekali, tetapi aku memang ingat samar-samar bahwa ada guru bahasa Latin lain pada minggu pertamaku di Yancy. Lalu, tanpa penjelasan, dia menghilang dan Pak Brunner mengambil alih mata pelajaran itu.

“Bapak datang ke Yancy untuk mengajariku?” tanyaku.

Chiron mengangguk. “Sejujurnya, pada awalnya aku tidak terlalu yakin soal dirimu. Kami menghubungi ibumu, memberitahunya bahwa kami mengamatimu kalau-kalau kau sudah siap untuk Perkemahan Blasteran. Tapi, waktu itu kau masih harus banyak belajar. Namun, kau sampai ke sini hidup-hidup, dan itu selalu jadi ujian pertamanya.”

“Grover,” kata Pak D tak sabar, “kau mau main atau tidak?”

“Main, Pak!” Grover gemetar sambil duduk di kursi keempat, tetapi aku heran mengapa dia setakut itu pada seorang lelaki kecil gempal yang berkemeja Hawaii bercorak harimau.

“Kau tahu kan cara bermain pinochle?” Pak D menatapku curiga.

“Sayangnya, tidak,” kataku.

“Sayangnya, tidak, Pak,” katanya.

“Pak,” ulangku. Aku semakin tidak menyukai direktur perkemahan itu.

“Nah,” katanya kepadaku, “selain pertarungan gladiator dan Pac-Man, pinochle adalah salah satu permainan terbaik yang pernah diciptakan manusia. Aku mengharapkan seorang pemuda yang beradab tahu peraturannya.”

“Aku yakin anak ini bisa belajar,” kata Chiron.

“Tolong,” kataku, “ini tempat apa? Sedang apa saya di sini? Pak Brun—Chiron—kenapa Bapak mau datang ke Akademi Yancy hanya untuk mengajari saya?”

Pak D mendengus. “Aku juga heran soal itu.”

Si direktur perkemahan membagikan kartu. Grover berjengit setiap kali sehelai kartu mendarat di tumpukan miliknya.

Chiron tersenyum kepadaku penuh simpati, sebagaimana yang selalu dilakukannya di kelas bahasa Latin, seolah-olah mengatakan bahwa berapa pun nilai rata-rataku, aku adalah murid bintangnya. Dia mengharapkan aku tahu jawaban yang benar.

“Percy,” katanya. “Ibumu tidak menceritakan apa-apa kepadamu?”

“Dia bilang ….” Aku ingat matanya yang sedih, memandang ke arah lautan. “Katanya, dia takut mengirim saya ke sini, meskipun ayah saya menginginkan itu. Katanya, begitu saya berada di sini, mungkin saya tak akan bisa keluar lagi. Dia ingin saya tetap dekat dengannya.”

“Tipikal,” kata Pak D. “Biasanya gara-gara itulah mereka terbunuh. Anak Muda, kau mau menawar atau tidak?”

“Apa?” tanyaku.

Dengan tidak sabar dia menjelaskan cara menawar dalam pinochle, lalu aku pun menawar.

“Agaknya terlalu banyak yang perlu diceritakan,” kata Chiron. “Sepertinya film orientasi kita yang biasa tak akan memadai.”

“Film orientasi?” tanyaku.

“Tidak,” Chiron memutuskan. “Begini, Percy. Kau tahu temanmu Grover ini seorang satir. Kau tahu”—dia menunjuk tanduk di dalam kotak sepatu—”bahwa kau membunuh Minotaurus. Itu bukan prestasi kecil lho. Yang mungkin tak kauketahui, di dalam hidupmu bekerja kekuatan-kekuatan besar. Dewa-dewi—kekuatan yang disebut dewa-dewi Yunani—masih hidup.”

Aku menatap ketiga orang di sekeliling meja.

Aku menunggu seseorang berseru, Ketipuuu! Tapi Pak D malah berseru, “Oh, pernikahan raja. Trik! Trik!” Dia terkekeh sambil menghitung nilai permainan kartu.

“Pak D,” tanya Grover takut-takut, “kalau nggak akan dimakan, boleh aku minta kaleng Diet Coke punya Bapak?”

“Eh? Boleh.”

Grover menggigit sepotong besar kaleng aluminium kosong, mengunyahnya dengan sendu.

“Tunggu,” kataku kepada Chiron. “Maksud Bapak, Tuhan itu ada?”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca