Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Dia telah mengendus kami.

Pohon pinus itu tinggal beberapa meter lagi, tetapi bukit itu semakin terjal dan licin, dan Grover tetap saja berat.

Manusia-banteng itu semakin dekat. Beberapa detik lagi dia akan mencapai kami.

Ibuku pasti sudah lelah, tetapi dia mengangkut Grover. “Ayo, Percy! Berpencar! Ingat kata Ibu.”

Aku tak ingin berpisah, tetapi aku mendapat firasat dia benar—ini satu-satunya kesempatan kami. Aku berlari cepat ke kiri, berbalik, dan melihat makhluk itu berlari ke arahku. Mata hitamnya berbinar benc. Baunya seperti daging busuk.

Dia menundukkan kepala dan menyeruduk. Tanduk setajam silet itu diarahkan tepat ke dadaku.

Rasa takut di perutku membuatku ingin kabur, tetapi itu tak ada gunanya. Aku tak akan bisa berlari lebih cepat daripada makhluk ini. Jadi aku bertahan, dan pada saat terakhir, aku melompat ke samping.

Manusia-banteng itu melesat lewat seperti kereta api barang, lalu berteriak frustrasi dan berbalik, tetapi kali ini tidak ke arahku, tetapi ke arah ibuku, yang sedang meletakkan Grover di rumput.

Kami telah mencapai puncak bukit. Di sisi seberang kulihat sebuah lembah, persis seperti yang dikatakan ibuku. Lampu-lampu rumah pertanian bersinar kuning menembus hujan. Tapi itu masih delapan ratus meter lagi. Kami tak mungkin bisa mencapainya.

Si manusia-banteng mendengus, mengais-ngais tanah. Dia terus memandang ibuku, yang sekarang mundur perlahan-lahan menuruni bukit, kembali ke arah jalan, berusaha memancing moster itu menjauhi Grover.

“Lari, Percy!” perintahnya. “Ibu tak bisa masuk lebih jauh. Lari!”

Tapi aku hanya berdiri di situ, membeku ketakutan, sementara monster itu menyeruduknya. Ibuku berusaha menyamping, seperti yang diperintahkannya kepadaku, tetapi si monster sudah memetik pelajaran. Tangannya terjulur dan menyambar leher ibuku saat ibuku berusaha menyingkir. Si manusia-banteng mengangkatnya sementara ibuku meronta, menendang-nendang dan memukul-mukul udara.

“Ibu!”

Dia menatap mataku, berusaha mengeluarkan satu kata terakhir: “Lari!”

Lalu, dengan geram murka, monster itu mempererat cengkeramannya pada leher ibuku, dan ibuku melarut di depan mataku, meleleh ke dalam cahaya, sebuah bentuk keemasan yang berpendar, seolah-olah dia proyeksi hologram. Denyar menyilaukan, dan dia tahu-tahu saja … lenyap.

“Tidak!”

Amarah menggantikan rasa takutku. Kekuatan baru pun membakar kaki dan tanganku—gejolak energy yang sama dengan yang kuperoleh saat Bu Dodds menumbuhkan cakar.

Dengan gaya mengancam si manusia-banteng menghampiri Grover, yang tergeletak tak berdaya di rumput. Monster itu membungkuk, mengendus-endus sahabatku, seolah-olah dia akan mengangkat Grover dan membuatnya melarut juga.

Aku tak mungkin membiarkan itu.

Aku menanggalkan jas hujanku yang berwarna merah.

“Hei!” teriakku sambil melambai-lambaikan jaket itu, sambil berlari ke samping monster itu. “Hei, Bego! Daging cincang!”

“Raaaarrrrr!” Monster itu berputar ke arahku, mengayun-ayunkan kepalannya yang gemuk.

Aku mendapat ide—ide tolol, tetapi lbih baik daripada tak ada ide sama sekali. Aku memunggungi pohon pinus besar itu dan melambaikan jaket merahku di depan si manusia-banteng, berniat melompat menyingkir pada detik terakhir.

Tetapi kejadiannya tidak seperti itu.

Si manusia-banteng menyeruduk terlalu cepat, tangannya terulur untuk menyambarku, ke mana pun aku mencoba mengelak.

Waktu melambat.

Kakiku menegang. Aku tak bisa melompat ke samping, jadi aku meloncat ke atas, menolakkan tubuh dengan menendang kepala makhluk itu, memanfaatkan-nya sebagai papan loncat, berputar di tengah udara, dan mendarat di lehernya.

Bagaimana aku bisa melakukan itu? Aku tak sempat memikirkannya. Satu milidetik kemudian, kepala monster itu menabrak pohon dan benturannya nyaris membuat gigiku tanggal.

Si manusia-banteng terhuyung-huyung, berusaha membuatku jatuh. Aku mengunci tanganku di sekeliling tanduknya, berusaha agar tidak terlempar. Guntur dan kilat masih menyambar-nyambar. Hujan masuk ke mata. Bau daging busuk menyengat lubang hidung.

Monster itu berguncang-guncang dan melompat-lompat seperti banteng rodeo. Semestinya dia mundur saja ke pohon dan menjepitku hingga gepeng, tetapi aku mulai menyadari bahwa makhluk ini hanya pusat satu gigi persneling: maju.

Sementara itu, Grover mulai mengerang di antara rumput. Aku ingin membentaknya agar tutup mulut, tetapi dalam keadaan terlontar-lontar begini, jika aku membuka mulut, lidahku pasti tergigit.

“Makanan!” erang Grover.

Si manusia-banteng berputar ke arahnya, mengais-ngais tanah lagi, dan bersiap-siap menyeruduk. Aku teringat bagaimana dia mencekik habis nyawa dari tubuh ibuku, membuatnya menghilang dalam denyar cahaya. Murka pun mengisi diriku seperti bahan bakar beroktan tinggi. Aku menggenggam satu tanduk dengan kedua tangan, lalu menarik ke belakang dengan segenap tenaga. Monster itu menegang, mendengus kaget, lalu—tas!

Si manusia-banteng berteriak dan melontarkanku ke udara. Aku terjengkang di rumput. Kepalaku terbentur batu. Ketika aku duduk, pandanganku kabur. Tetapi di tanganku ada tanduk, senjata tulang bergerigi seukuran pisau.

Monster itu menyeruduk.

Tanpa berpikir, aku berguling ke samping dan bangkit berlutut. Sementara monster itu lewat, aku menghunjamkan tanduk patah itu tepat di sisi tubuhnya, di bawah tulang rusuknya yang berbulu.

Manusia-banteng itu menggeram kesakitan. Dia mengayun-ayunkan tangan, mencakar-cakar dadanya, dan mulai hancur—tidak seperti ibuku, dalam denyar cahaya keemasan, tetapi seperti pasir yang buyar, tertiup segumpal-segumpal oleh angin, sama seperti cara Bu Dodds terbuyarkan.

Monster itu hilang.

Hujan sudah berhenti. Badai masih bergemuruh, tetapi hanya di kejauhan. Badanku bau seperti ternak dan lututku gemetar. Kepalaku terasa seperti akan pecah. Aku lemas dan takut dan gemetar akibat duka. Aku baru saja melihat ibuku menghilang. Aku ingin berbaring dan menangis, tetapi masih ada Grover yang perlu bantuanku. Aku berhasil menariknya berdiri dan terhuyung-huyung turun ke lembah, kea rah lampu rumah peternakan. Aku menangis, memanggil-manggil ibuku, tetapi aku tetap memegangi Grover—aku tak akan melepaskannya.

Hal terakhir yang kuingat adalah roboh di beranda kayu, menatap kipas angin di langit-langit yang berputar-putar di atasku, ngengat yang beterbangan mengelilingi cahaya kuning, dan wajah tegas seorang pria berjenggot yang tampak taka sing dan seorang gadis cantik, rambutnya pirang ikal seperti rambut putri raja. Mereka berdua memandangku dari atas, dan si gadis itu berkata, “Dialah orangnya. Pasti dia.”

“Diam, Annabeth,” kata lelaki itu. “Dia masih sadar. Bawa dia masuk.”

5. Aku Bermain Pinochle dengan Seekor Kuda

Aku bermimpi aneh-aneh, penuh hewan ternak. Sebagian besar ingin membunuhku. Sisanya ingin makanan.

Sepertinya aku terbangun beberapa kali, tetapi apa yang kudengar dan kulihat tidak masuk akal, jadi aku pingsan lagi saja. Aku ingat berbaring di kasur yang empuk, disuapi makanan yang rasanya seperti berondong jagung bermentega, tetapi bentuknya pudding. Si gadis berambut pirang ikal itu menunggu di dekatku, menyeringai sambil membersihkan tetesan dari daguku dengan sendok.

Ketika dilihatnya mataku terbuka, dia bertanya, “Apa yang akan terjadi pada titik balik matahari musim panas?”

Aku berhasil menguak, “Apa?”

Dia memandang ke sekeliling, seolah-olah takut ada yang menguping. “Apa yang terjadi? Apa yang dicuri? Kita cuma punya waktu beberapa minggu!”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca