Baca Novel Online

Laskar Pelangi

Aku belajar berjiwa besar atas seluruh kejadian dengan A Ling. Sekarang aku memiliki cinta yang baru dalam tas bututku: Edensor, Sudah selama 115 jam, 37 menit, 12 detik aku kehilangan A Ling dan saat ini kuputuskan untuk berhenti mengiba-iba mengenang cinta pertama itu.

Akhirnya, aku mampu melangkah menyeberangi garis ujian tabiat mengasihani diri dan sekarang aku berada di wilayah positif dalam menilai pengalamanku. Aku mulai bangkit untuk menata diri, Aku mempelajari metode-metode ilmiah modern agar dapat bangkit dan keterpunukan. Aku rajin membaca berbagai buku kiat-kiat sukses, pergaulan yang efektif, cara cepat menjadi kaya, langkah-langkah menjadi pribadi magnetik, dan bunga rampai manajemen pengembangan pribadi.

Aku berhenti membuat nencana-rencana yang tidak realistis. Filosofi just do it, itulah prinsipku sekanang, lagi pula bukankah John Lennon mengatakan life is what happens to us while we are busy making plans! Sesuai saran buku-buku psikologi praktis yang mutakhir itu aku mulai menginventanisasi bidang minat, bakat, dan kemampuanku. Dan aku tak pernah ragu akan jawabannya yaitu: aku paling piawai bermain bulu tangkis dan aku punya minat sangat besar dalam bidang tulis-menulis.

Kesimpulan itu kuperoleh karena aku selalu menjadi juara pertama pertandingan bulu tangkis kelurahan U 19 dan pialanya berderet-deret di numahku. Piala itu demikian banyak sampai ada yang dipakai ibuku untuk pemberat tumpukan cucian, ganjal pintu, dan penahan dinding kandang ayam. Ada juga piala yang dipakai menjadi semacam palu untuk memecahkan buah kemiri, dan sebuah piala berbentuk panjang bergerigi dan pertandingan terakhir sering dimanfaatkan ayahku untuk menggaruk punggungnya yang gatal.

Lawan-lawanku selalu kukalahkan dengan skor di bawah setengah. Kasihan mereka, meskipun telah berlatih mati-matian berbulan-bulan dan setiap pagi makan telur setengah masak dicampur jadam dan madu pahit, tapi mereka selalu tak berkutik di depanku. Kadang-kadang aku beraksi dengan melakukan drop shot sambil salto dua kali atau menangkis sebuah smash sambil koprol. Jika aku sedang ingin, aku juga biasa melakukan semacam pukulan straight dan celah-celah kedua selangkangku dengan posisi membelakangi lawan, tak jarang aku melakukan itu dengan tangan kiri! Lawan yang tak kuat mentalnya melihat ulahku akan emosi dan jika ia terpancing marah maka pada detik itulah ia telah kalah. Para penonton bergemuruh melihat hiburan di lapangan bulu tangkis. Jika aku bertanding maka pasar menjadi sepi, warung-warung kopi tutup, sekolah-sekolah memulangkan murid-muridnya Iebih awal, dan kuli-kuli PN membolos. “Si kancil keriting”, demikianlah mereka menjulukiku. Lapangan bulu tangkis di samping kantor desa membludak. Mereka yang tak kebagian tempat berdiri di pinggir lapangan sampai naik ke pohon-pohon kelapa di sekitarnya.

Kukira semua fakta itu Iebih dan cukup bagiku untuk menyebut bulu tangkis sebagai potensi seperti dinyatakan dalam buku-buku pengembangan diri itu, Dan minat besar Iainnya adalah menulis. Tapi memang tak banyak bukti yang mengonfirmasi potensiku di bidang in kecuali komentar A Kiong bahwa surat dan puisiku untuk A Ling sering membuatnya tertawa geli. Tak tahu apa artinya, bagus atau sebaliknya. Maka aku mulai mengonsentrasikan diri untuk mengasah kemampuan kedua bidang in Seperti juga disarankan oleh buku-buku ilmiah itu maka aku membuat program yang jelas, terfokus, dan memantau dengan teliti kemajuanku. Buku itu juga menyarankan agar setiap individu membuat semacam rencana A dan rencana B.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.