Baca Novel Online

Harry Potter Dan Tawanan Azkaban

Tetapi mendadak Bibi Marge berhenti bicara. Sejenak dia seperti kehabisan kata-kata. Kelihatannya dia menggelembung karena kemarahan yang tak bisa di-keluarkan—tetapi dia menggelembung terus. Wajahnya yang besar merah menjadi semakin besar, mata kecil-nya yang merah menjadi menonjol, dan mulutnya tertarik begitu kencang sampai tak bisa bicara. Detik berikutnya, beberapa kancing terlempar lepas dari jaket tweed-nya dan melenting dari dinding—dia menggelembung seperti balon raksasa, perutnya mem-besar sampai ikat pinggangnya lepas, masing-masing jarinya melembung sampai sebesar sosis….

“MARGE!” teriak Paman Vernon dan Bibi Petunia bersamaan, ketika seluruh tubuh Bibi Marge mulai terangkat dari kursinya menuju langit-langit. Dia sudah bulat sekali

sekarang, seperti pelampung besar dengan mata babi, dan tangan serta kakinya mencuat aneh sementara dia melayang ke atas, bersuara seperti orang ayan. Ripper berlari masuk, menggonggong liar ribut sekali.

“TIDAAAAAAAK!”

Paman Vernon menyambar salah satu kaki Bibi Marge dan mencoba menariknya ke bawah, tetapi dia sendiri malah nyaris ikut terangkat. Detik berikut-nya, Ripper sudah melompat menggigit kaki Paman Vernon.

Harry kabur dari ruang makan sebelum ada yang bisa mencegahnya, menuju lemari di bawah tangga. Pintu lemari terbuka secara gaib ketika Harry tiba di depannya. Dalam sekejap saja dia sudah menarik kopernya ke pintu depan. Dia berlari ke atas dan melempar diri ke bawah tempat tidurnya, menarik papan yang lepas dan menyambar sarung bantal berisi buku-buku dan hadiah ulang tahunnya. Harry keluar dari kolong tempat tidur, menyambar sangkar kosong Hedwig, dan kembali berlari menuruni tangga menuju kopernya, tepat ketika Paman Vernon muncul dari ruang makan, kaki celananya robek dan berdarah.

“KEMBALI KE SINI!” raungnya. “KEMBALI DAN SEMBUHKAN MARGE!”

Tetapi kemarahan luar biasa menguasai Harry. Dia menendang kopernya sampai terbuka, menarik keluar tongkatnya, dan mengacungkannya kepada Paman Vernon.

“Dia pantas menerimanya,” kata Harry, napasnya tersengal. “Dia pantas begitu. Paman jangan dekat-dekat aku.”

Tangannya meraba ke belakang, mencari gerendel pintu.

“Aku mau pergi,” kata Harry. “Aku sudah tak ta-han.”

-oO0Oo-

Bab 3: Bus Ksatria

HARRY sudah melewati beberapa jalan sebelum akhirnya dia terpuruk di atas tembok rendah di Mag-nolia Crescent, terengah-engah kelelahan menyeret kopernya. Dia duduk diam, kemarahan masih meme-nuhi dirinya, mendengarkan jantungnya yang ber-degup kencang.

Tetapi setelah sepuluh menit di jalan yang gelap, emosi baru menguasainya: panik. Dari sudut mana pun dia memandangnya, belum pernah dia dalam kesulitan sebesar ini. Dia terdampar, sendirian, di dunia Muggle yang gelap, tak tahu mau ke mana. Dan yang paling parah, dia baru saja menyihir, yang berarti sudah hampir pasti dia akan dikeluarkan dari Hogwarts. Dia jelas telah melanggar Dekrit Pembatas-an bagi Penyihir di Bawah Umur, dia heran petugas Kementerian Sihir belum muncul untuk menangkap-nya di situ.

Harry bergidik dan memandang sepanjang jalan Magnolia Crescent. Apa yang akan terjadi padanya? Akankah dia ditangkap, atau hanya sekadar dicampak-kan dari dunia sihir? Dia teringat Ron dan Hermione, dan hatinya semakin berat. Harry yakin bahwa, kriminal atau bukan, Ron dan Hermione pasti bersedia mem-bantunya sekarang, tetapi mereka berdua ada di luar negeri, dan karena Hedwig tak ada, dia tak bisa menghubungi mereka.

Harry juga tak punya uang Muggle. Ada sedikit emas sihir di dalam kantong uang di dasar kopernya, tetapi sisa harta peninggalan orangtuanya tersimpan di ruangan besi di Bank Sihir Gringotts di London. Dia tak akan sanggup menyeret kopernya sampai ke London. Kecuali…

Dia menunduk menatap tongkatnya, yang masih dipeganginya. Kalau dia sudah dikeluarkan (jantungnya sekarang berdegup kencang menyakitkan), sedikit sihir lagi tak apa-apa. Dia punya Jubah Gaib yang diwarisi-nya dari ayahnya—bagaimana kalau dia menyihir kopernya, membuatnya seringan bulu, mengikatkannya ke sapunya, mengerudungi tubuhnya dengan Jubah Gaib, dan terbang ke London? Dengan begitu dia bisa mengambil sisa uangnya di ruangan besi dan… memulai hidupnya sebagai orang yang terbuang. Masa depan yang mengerikan, tetapi dia tidak bisa duduk di tembok ini berlama-lama, kalau tidak dia harus men-jelaskan kepada polisi Muggle kenapa dia berkeliaran di tengah malam buta membawa koper penuh buku sihir dan sapu.

Harry membuka kopernya lagi dan mendorong isi-nya ke pinggir, mencari Jubah Gaib-nya—tetapi se-belum berhasil menemukannya, mendadak dia me-negakkan diri, sekali lagi melihat berkeliling.

Tadi tengkuknya merinding aneh, membuatnya me-rasa sedang diawasi, tetapi jalan itu kosong, dan tak ada lampu yang menyala di salah satu rumah-rumah besar itu.

Dia membungkuk di atas kopernya lagi, tetapi sekali lagi langsung bangun, tangannya mencengkeram tong-katnya. Dia merasakan, bukannya mendengar: ada orang atau sesuatu yang berdiri di celah sempit di ajitara garasi dan pagar di belakangnya. Harry me-nyipit memandang gang gelap itu. Kalau saja benda itu bergerak, dia akan tahu apakah itu cuma kucing atau—makhluk lain.

“Lumos,” gumam Harry dan ada cahaya muncul di ujung tongkatnya, membuatnya silau. Diangkatnya tongkatnya tinggi-tinggi di atas kepala, dan dinding-kerikil rumah nomor dua mendadak bercahaya, pintu garasinya berkilau, dan di antaranya, Harry melihat, cukup jelas, garis bentuk makhluk yang besar sekali, dengan mata lebar berkilat-kilat.

Harry melangkah mundur. Kakinya menabrak kopernya dan dia terhuyung. Tongkatnya melayang ketika dia menjulurkan tangan berusaha menahan jatuhnya, dan tubuhnya mendarat, keras, di selokan.

Terdengar bunyi DUAR keras dan Harry meng-angkat tangan menutupi matanya dari cahaya me-nyilaukan yang mendadak muncul….

Sambil berteriak dia berguling naik lagi di trotoar, tepat pada waktunya. Sedetik kemudian, sepasang ban dan lampu luar biasa besar berdecit berhenti tepat di tempatnya tergeletak tadi. Ketika mendongak, Harry melihat ban dan lampu itu milik bus ungu cerah bertingkat tiga yang muncul begitu saja entah dari mana. Huruf-huruf emas di kaca depannya ber-bunyi The Knight Bus—Bus Ksatria.

Sejenak Harry mengira jangan-jangan dia jadi sinting garagara jatuh tadi. Kemudian seorang kondektur memakai seragam ungu melompat turun dari bus dan mulai berteriakteriak.

“Selamat datang di Bus Ksatria, transportasi darurat untuk para penyihir yang tersesat. Julurkan saja tangan-pemegangtongkatmu, naiklah ke atas, dan kami bisa membawamu ke mana saja kau ingin pergi. Namaku Stan Shunpike, dan akulah kondekturmu malam ini…”

Si kondektur mendadak berhenti. Dia baru saja melihat Harry yang masih duduk di trotoar. Harry menyambar tongkatnya dan terhuyung bangkit. Se-telah dekat, dilihatnya Stan Shunpike hanya beberapa tahun lebih tua darinya, delapan atau sembilan belas tahun paling banyak, dengan telinga lebar mencuat dan beberapa jerawat.

“Ngapain kau di bawah situ?” tanya Stan, mening-galkan gayanya yang profesional.

“Jatuh,” kata Harry.

“Kenapa pakai jatuh segala?” Stan terkikik.

“Memangnya aku sengaja?” kata Harry, jengkel. Salah satu

lutut celana jinsnya robek, dan tangan yang dipakainya menahan jatuhnya berdarah. Dia mendadak ingat kenapa dia sampai jatuh, dan buru-buru berbalik memandang gang di antara garasi dan pagar. Lampu depan bus menyinarinya terang bende-rang, dan gang itu kosong.

Categories:   Fantasi

Comments