Baca Novel Online

Harry Potter Dan Tawanan Azkaban

Harry menuruni tangga perak dan tangga spiral, bertanyatanya dalam hati… apakah yang baru saja didengarnya tadi benar-benar ramalan? Ataukah itu hanyalah ide Profesor Trelawney untuk mengakhiri ujiannya dengan penuh kesan?

Lima menit kemudian dia sudah berlari melewati satpam troll di depan jalan masuk ke Menara Gryffindor, kata-kata Profesor Trelawney masih ter-ngiang di telinganya. Anak-anak berpapasan dengan-nya, menuju ke arah yang berlawanan, tertawa-tawa dan bergurau, menuju ke halaman dan kebebasan yang sudah lama ditunggu. Saat Harry tiba di lubang lukisan dan memasuki ruang rekreasi, ruang itu sudah nyaris kosong. Tetapi di salah satu sudutnya, duduk Ron dan Hermione.

“Profesor Trelawney,” Harry tersengal, “baru saja memberitahuku…”

Dia berhenti mendadak melihat wajah mereka.

“Buckbeak kalah,” kata Ron lesu. “Hagrid baru saja mengirim ini.”

Harry membenamkan kepala ke dalam tangannya, berpikir. “Kalau saja Jubah Gaib ada pada kita…” “Di mana jubah itu?” tanya Hermione. Harry bercerita bagaimana dia meninggalkannya di lorong di bawah patung nenek sihir bermata satu.

“…kalau Snape melihatku berada dekat-dekat patung itu, habis deh aku,” dia menyelesaikan cerita-nya.

“Betul,” kata Hermione, bangkit. “Kalau dia melihat-mu… bagaimana tadi cara membuka punuk si nenek sihir?”

“Ke—ketuk saja dan bilang, ‘Dissendium’,” kata Harry. “Tapi…”

Hermione tidak menunggu Harry menyelesaikan kalimatnya. Dia menyeberangi ruangan, mendorong lukisan si Nyonya Gemuk sampai terbuka, dan lenyap dari pandangan.

“Dia tidak pergi mengambilnya, kan?” kata Ron, masih memandang ke arah Hermione pergi.

Ternyata Hermione mengambilnya. Dia muncul lagi seperempat jam kemudian dengan jubah keperakan itu terlipat tersembunyi di balik jubahnya.

“Hermione, aku tak mengerti kau kerasukan apa belakangan ini!” kata Ron, tercengang. “Mula-mula kau menampar Malfoy, kemudian begitu saja me-ninggalkan kelas Profesor Trelawney…”

Hermione tampak agak tersanjung.

Mereka turun untuk makan malam bersama yang lain, tetapi tidak kembali ke Menara Gryffindor se-sudahnya. Harry sudah menyembunyikan Jubah Gaib di balik jubahnya. Dia harus menyilangkan tangan di depan dada untuk menyamarkan bagian depan jubah-nya yang menggelembung. Mereka bersembunyi dalam ruangan kosong di seberang Aula Depan, men-dengarkan, sampai mereka yakin aula sudah sepi. Mereka mendengar dua anak terakhir bergegas menye-berangi aula dan pintu yang terbanting. Hermione menjulurkan kepala dari pintu.

“Oke,” dia berbisik, “tak ada orang lagi—pakai jubahnya…”

Berjalan sangat rapat agar tak ada yang melihat, mereka berjingkat menyeberangi aula di bawah lindungan Jubah Gaib, kemudian menuruni undakan batu dan melangkah ke halaman. Matahari sudah terbenam di balik Hutan Terlarang, menyepuh keemas-an dahan-dahan pepohonan yang paling atas.

Mereka tiba di pondok Hagrid dan mengetuknya.

Semenit kemudian baru Hagrid membuka pintu. Hagrid memandang berkeliling mencari-cari tamunya, wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar.

“Ini kami,” desis Harry. “Kami memakai Jubah Gaib. Biarkan kami masuk supaya bisa melepasnya.”

“Seharusnya kalian tidak datang!” bisik Hagrid, tetapi dia melangkah mundur, dan mereka bertiga masuk. Hagrid cepatcepat menutup pintu dan Harry menarik terbuka Jubah Gaibnya.

Hagrid tidak menangis, dia pun tidak menghambur memeluk mereka. Dia tampak seperti orang yang tak tahu di mana dia berada atau apa yang harus dilaku-kannya. Ketidakberdayaan ini lebih mengenaskan daripada air mata.

“Mau teh?” dia menawari. Tangannya yang besar gemetar ketika menjangkau ketel. “Di mana Buckbeak, Hagrid?” tanya Hermione ragu-ragu.

“Aku—kubawa keluar,” kata Hagrid. Susu bercecer-an di atas meja ketika Hagrid menuangnya ke dalam teko. “Dia kutambatkan di kebun labuku. Kupikir dia harus lihat pohonpohon dan—dan hirup udara segar—sebelum…”

Tangan Hagrid bergetar begitu kerasnya sehingga teko susu terlepas dari pegangannya dan pecah ber-keping-keping di lantai.

“Biar aku saja, Hagrid,” kata Hermione cepat-cepat. Dia bergegas mendekati Hagrid dan membersihkan lantai.

“Masih ada satu lagi di dalam lemari,” kata Hagrid, seraya duduk dan menyeka dahi dengan lengan jubah-nya. Harry mengerling Ron, yang balas memandang-nya tak berdaya.

“Apa tak ada yang bisa dilakukan, Hagrid?” tanya Harry penasaran, duduk di sebelah Hagrid. “Dumbledore…”

“Dia sudah coba,” kata Hagrid. “Dia tak punya kekuasaan untuk tolak Komite. Dia sudah beritahu mereka Buckbeak tak apa-apa, tapi mereka takut… kalian tahu seperti apa Lucius Malfoy… ancam me-reka, kukira… dan si algojo, Macnair, dia teman lama Malfoy… tapi prosesnya akan cepat… dan aku akan temani dia…”

Hagrid menelan ludah. Pandangannya berpindah-pindah cepat mengelilingi ruangan, seakan mencari seserpih harapan atau penghiburan.

“Dumbledore akan datang sementara… sementara itu dilaksanakan. Tulis padaku pagi ini. Bilang dia mau—mau bersamaku. Orang hebat, Dumbledore…”

Hermione, yang sedang mencari-cari teko di dalam lemari Hagrid, terisak, tapi buru-buru ditahannya. Dia bangkit dengan teko baru di tangannya, menahan jatuhnya air matanya.

“Kami juga akan menemanimu, Hagrid,” katanya, tetapi Hagrid menggelengkan kepalanya yang be-rambut lebat.

“Kalian harus kembali ke kastil. Aku sudah bilang, aku tak mau kalian lihat. Dan kalian harusnya tak boleh ke sini… kalau sampai ketahuan Fudge atau Dumbledore, Harry, kau akan repot.”

Air mata sekarang membanjiri wajah Hermione, tetapi dia menyembunyikannya dari Hagrid, me-nyibukkan diri membuat teh. Kemudian, ketika meng-ambil botol susu untuk menuang isinya ke dalam teko, dia memekik.

“Ron! Astaga—mana mungkin—ini Scabbers!”

Ron terpana memandangnya.

“Kau bicara apa?”

Hermione membawa teko susu itu ke meja dan membaliknya. Dengan cicit panik dan geragapan ber-usaha masuk lagi ke dalam teko, Scabbers si tikus meluncur jatuh ke atas meja.

“Scabbers!” kata Ron bengong. “Scabbers, ngapain kau di sini?”

Ron menangkap tikus yang memberontak itu dan mengangkatnya ke arah lampu. Scabbers kelihatannya merana sekali. Dia lebih kurus dari sebelumnya, bulu-nya banyak yang rontok, meninggalkan petak-petak botak lebar, dan dia meronta liar di tangan Ron, seakan panik mau melepaskan diri.

“Jangan takut, Scabbers!” kata Ron. “Tak ada kucing! Tak ada yang akan melukaimu di sini!”

Hagrid mendadak bangkit, matanya terpaku ke jendela. Wajahnya yang biasanya kemerahan kini se-pucat perkamen.

Harry, Ron, dan Hermione berbalik. Serombongan laki-laki sedang menuruni undakan kastil di kejauhan. Di depan tampak Albus Dumbledore, jenggot perak-nya berkilau tertimpa sinar mentari yang tersisa. Di sebelahnya berjalan Cornelius Fudge. Di belakang mereka si anggota Komite yang tua dan lemah dan si algojo, Macnair.

“Kalian harus pergi,” kata Hagrid. Sekujur tubuhnya gemetar.

“Mereka tak boleh temukan kalian di sini… pergilah, sekarang…” Ron menjejalkan Scabbers ke dalam sakunya dan Hermione memungut Jubah Gaib.

“Kuantar kalian keluar lewat pintu belakang,” kata Hagrid.

Mereka mengikutinya ke pintu yang membuka ke halaman belakang pondok. Harry merasa sedang ber-mimpi, lebih-lebih lagi ketika dia melihat Buckbeak beberapa meter di kejauhan, tertambat di pohon di belakang kebun labu kuning Hagrid. Buckbeak tam-paknya tahu sesuatu sedang berlangsung. Dia me-nolehkan kepalanya yang tajam ke kanan dan ke kiri, dan kakinya mengais-ngais tanah dengan cemas.

Categories:   Fantasi

Comments