Baca Novel Online

Harry Potter Dan Tawanan Azkaban

“Salahku,” kata Ron mendadak. “Aku yang mem-bujukmu untuk pergi. Lupin benar, tindakan kita bodoh, kita seharusnya tidak melakukannya…”

Ron mendadak diam. Mereka telah tiba di koridor tempat para satpam troll mondar-mandir dan Hermione berjalan ke arah mereka. Dengan sekilas memandang wajahnya saja Harry yakin bahwa Hermione sudah mendengar apa yang terjadi. Hatinya mencelos—sudah-kah Hermione memberitahu Profesor McGonagall?

“Mau nyukurin kami?” kata Ron galak, ketika Hermione berhenti di depan mereka.

“Tidak,” kata Hermione. Dia memegang sepucuk surat dan bibirnya bergetar. “Hanya menurutku kalian harus tahu… Hagrid kalah. Buckbeak akan dibantai.”

-oO0Oo-

Bab 15: Final Quiditch

“Mereka tak boleh melakukan ini,” kata Harry “Tak boleh. Buckbeak tidak berbahaya.”

“Ayah Malfoy sudah membuat Komite ketakutan sehingga memutuskan begitu,” kata Hermione, me-nyeka matanya. “Kau tahu dia seperti apa. Anggota Komite itu orang-orang tua bodoh dan mereka ketakut-an. Tapi akan ada naik banding, selalu ada. Hanya saja aku tak melihat ada harapan… tak akan ada yang berubah.”

“Ada,” kata Ron garang. “Kau tak harus mengerja-kan semuanya sendiri sekarang, Hermione. Aku akan membantu.”

“Oh, Ron!”

Hermione merangkul leher Ron dan menangis ter-sedusedu. Ron, yang tampak ketakutan, membelai kepala Hermione dengan amat canggung. Akhirnya Hermione melepaskan diri.

“Ron, aku sungguh minta maaf soal Scabbers…,” dia terisak.

“Oh—yah—dia toh sudah tua,” kata Ron, yang tampak lega sekali Hermione sudah melepaskannya. “Dan dia agak tak berguna. Siapa tahu Mom dan Dad akan membelikan burung hantu untukku sekarang.”

Tindakan pengamanan yang diterapkan kepada anak-anak setelah Black berhasil masuk untuk kedua kali-nya membuat tak mungkin bagi Harry, Ron, dan Hermione mengunjungi Hagrid di malam hari. Satu-satunya kesempatan bicara dengan Hagrid adalah selama pelajaran Pemeliharaan Satwa Gaib.

Hagrid tampak shock dengan keputusan pengadilan.

“Semua salahku. Lidahku terkunci. Mereka semua duduk di sana pakai jubah hitam dan aku berkali-kali jatuhkan catatanku dan lupa semua tanggal penting yang telah kaucarikan untukku, Hermione. Dan kemu-dian Lucius Malfoy berdiri dan bacakan tuduhannya, dan Komite lakukan persis seperti yang dia suruh…”

“Masih ada naik banding!” kata Ron tegas. “Jangan menyerah dulu, kami sedang menggarapnya!”

Mereka berjalan kembali ke kastil bersama yang lain. Mereka bisa melihat Malfoy berjalan di depan bersama Crabbe dan Goyle. Malfoy berkali-kali me-noleh ke belakang, tertawa kesenangan.

“Tak ada gunanya, Ron,” kata Hagrid sedih saat mereka tiba di undakan kastil. “Komite itu ada dalam cengkeraman Lucius Malfoy. Aku cuma akan pastikan sisa waktu Beaky jadi waktu yang paling menyenang-kan baginya. Aku berutang padanya…”

Hagrid berbalik dan bergegas kembali ke pondok-nya, wajahnya dibenamkan dalam saputangannya.

“Lihat, dia menangis!”

Malfoy Crabbe, dan Goyle tadi berdiri di balik pintu kastil, mencuri dengar.

“Pernahkah kau melihat sesuatu yang sekonyol itu?” kata Malfoy. “Mana bisa orang konyol begitu jadi guru kita.”

Harry dan Ron bergerak cepat mendekati Malfoy, tetapi Hermione lebih cepat dari mereka—PLAK!

Dia telah menampar Malfoy dengan sekuat tenaga. Malfoy terhuyung. Harry, Ron, Crabbe, dan Goyle berdiri terperangah sementara Hermione mengangkat tangannya lagi.

“Jangan berani-berani kau mengatai Hagrid konyol lagi, kau anak brengsek—jahat…” “Hermione!” kata Ron lemah, dan dia mencoba me-nyambar tangan Hermione yang sudah terayun lagi.

“Minggir kau, Ron!”

Hermione mencabut tongkatnya. Malfoy mundur. Crabbe dan Goyle memandangnya minta petunjuk, keduanya tampak kebingungan.

“Ayo,” Malfoy bergumam, dan saat berikutnya, me-reka bertiga telah menghilang ke dalam lorong bawah tanah.

“Hermione!” kata Ron lagi, kedengarannya heran sekaligus kagum.

“Harry, sebaiknya kau mengalahkannya di Final Quidditch!” kata Hermione nyaring. “Jangan sampai kau kalah, sebab aku tak tahan kalau Slytherin menang!”

“Sudah pelajaran Jimat dan Guna-guna nih,” kata Ron, masih terkagum-kagum pada Hermione. “Sebaik-nya kita berangkat sekarang.”

Mereka bergegas menaiki tangga pualam menuju ke kelas Profesor Flitwick.

“Kalian terlambat, anak-anak!” kata Profesor Flitwick mencela, ketika Harry membuka pintu kelas. “Cepat masuk, keluarkan tongkat, kita mencoba Jampi Jenaka hari ini. Yang lain sudah dibagi berpasang-pasangan…”

Harry dan Ron bergegas ke tempat duduk paling belakang dan membuka tas mereka. Ron menoleh ke belakang.

“Ke mana si Hermione?”

Harry ikut mencari. Hermione tidak masuk kelas, padahal Harry tahu Hermione berada di sebelahnya ketika dia membuka pintu kelas. “Aneh sekali,” kata Harry, menatap Ron. “Mungkin— mungkin dia ke toilet atau apa?” Tetapi Hermione tidak muncul sampai pelajaran berakhir.

“Dia perlu Jampi Jenaka juga,” kata Ron, ketika anak-anak meninggalkan kelas untuk makan siang, semua nyengir lebar—Jampi Jenaka membuat mereka semua merasa puas dan senang.

Hermione juga tidak muncul untuk makan siang. Saat mereka menghabiskan pai apel mereka, pengaruh Jampi Jenaka sudah mulai pudar, dan Harry serta Ron sudah agak cemas.

“Menurutmu mungkinkah Malfoy melakukan se-suatu kepadanya?” tanya Ron cemas, ketika mereka bergegas ke Menara Gryffindor.

Mereka melewati satpam troll dan menyebutkan kata kunci kepada si Nyonya Gemuk (“Flibbertigibbet”) lalu memanjat lubang lukisan, masuk ke ruang rekreasi.

Hermione duduk di depan salah satu meja, tidur pulas, kepalanya terbaring di atas buku Arithmancy yang terbuka. Harry dan Ron duduk di sebelah kanan-kirinya. Harry menjawilnya untuk membangunkannya.

“A-apa?” kata Hermione, terbangun kaget dan me-mandang berkeliling dengan panik. “Sudah waktunya berangkat? P-pelajaran apa kita sekarang?”

“Ramalan, tapi masih dua puluh menit lagi,” kata Harry. “Hermione, kenapa kau tidak ikut Jimat dan Guna-guna?”

“Apa? Oh, tidak!” pekik Hermione. “Aku lupa ikut Jimat dan Guna-guna!” “Tapi bagaimana kau bisa lupa?” kata Harry. “Kau bersama kami sampai kita tiba di depan kelas!”

“Aku tak percaya!” Hermione meratap. “Apakah Profesor Flitwick marah? Oh, gara-gara Malfoy, aku memikirkan dia dan lupa segalanya.”

“Tahu tidak, Hermione?” kata Ron, menunduk me-natap buku Arithmancy besar yang digunakan Hermione sebagai bantal. “Menurutku kau kecapekan. Kau bekerja terlalu keras.”

“Tidak!” kata Hermione, menyibakkan rambut dari matanya dan memandang berkeliling dengan putus asa, mencari tasnya. “Aku cuma teledor, cuma itu! Sebaiknya aku menemui Profesor Flitwick dan minta maaf… Sampai ketemu di Ramalan!”

Hermione bergabung dengan mereka di kaki tangga yang menuju kelas Profesor Trelawney dua puluh menit kemudian. Dia tampak sangat resah.

“Aku tak mengerti bagaimana aku bisa tidak ikut Jampi Jenaka! Berani taruhan pasti nanti keluar waktu ujian. Profesor Flitwick memberi isyarat ini mungkin keluar!”

Bersama-sama mereka menaiki tangga memasuki ruang menara yang remang-remang dan pengap. Di atas setiap meja kecil ada bola kristal penuh kabut putih berkilau bagai mutiara. Harry, Ron, dan Hermione duduk di meja reyot yang sama.

“Kupikir kita baru akan belajar bola kristal semes-ter yang akan datang,” gumam Ron, memandang berkeliling dengan waspada, siapa tahu Profesor Trelawney ada di dekat situ.

Categories:   Fantasi

Comments