Baca Novel Online

Harry Potter Dan Tawanan Azkaban

Mungkin Paman Vernon khawatir Harry akan me-lupakan kesepakatan mereka, karena mendadak dia membelokkan pembicaraan.

“Dengar berita pagi ini, Marge? Bagaimana dengan tawanan yang lepas itu, eh?”

Sementara Bibi Marge mulai merasa tinggal di rumah sendiri, Harry merindukan hidup di rumah nomor empat tanpa Bibi Marge. Paman Vernon dan Bibi Petunia biasanya mendorong Harry untuk jauh-jauh dari mereka, yang dilakukan Harry dengan senang hati. Bibi Marge, sebaliknya, menginginkan Harry di bawah pengawasannya sepanjang waktu, supaya dia bisa meneriakkan saran-saran untuk perbaikannya. Dia suka membandingkan Harry dengan Dudley, dan senang sekali membelikan Dudley hadiah mahalmahal seraya mendelik memandang Harry, seakan

menan-tangnya untuk bertanya kenapa dia tidak mendapat hadiah juga. Bibi Marge juga tak henti-hentinya me-lontarkan pendapat-pendapat negatif tentang apa yang membuat Harry menjadi anak yang begitu tidak memuaskan.

“Jangan menyalahkan dirimu kenapa anak ini jadi begini, Vernon,” katanya sewaktu makan siang pada hari ketiga. “Kalau ada yang busuk di dalam, tak ada yang bisa kita lakukan.”

Harry berusaha berkonsentrasi pada makanannya, tetapi tangannya

gemetar dan wajahnya mulai membara saking marahnya. Ingat formulir, dia mengingat-kan dirinya. Pikirkan tentang Hogsmeade. Jangan bilang apa-apa. Jangan bangun…

Bibi Marge meraih gelas anggurnya.

“Itu salah satu prinsip dasar soal keturunan,” kata-nya. “Kau bisa melihatnya setiap kali pada anjing. Kalau ada yang tidak beres dengan induknya, anaknya juga tidak beres…”

Saat itu, gelas anggur yang dipegang Bibi Marge meledak pecah. Serpihan-serpihan gelas beterbangan ke segala arah dan Bibi Marge merepet dan mengejap, wajahnya yang besar kemerahan basah kuyup.

“Marge!” jerit Bibi Petunia. “Marge, kau tak apa-apa?”

“Jangan khawatir,” ujar Bibi Marge, menyeka wajah-nya dengan serbet. “Pasti aku terlalu keras memegang-nya. Beberapa hari yang lalu di rumah Kolonel Fubster juga begitu. Tak perlu ribut, Petunia, peganganku memang kuat sekali….”

Tetapi baik Bibi Petunia maupun Paman Vernon memandang Harry dengan curiga, maka Harry me-mutuskan lebih baik dia tidak usah makan puding dan kabur dari meja secepat dia bisa.

Di luar dapur, Harry bersandar ke dinding, menarik napas dalam-dalam. Sudah lama sekali dia tidak ke-hilangan kendali dan membuat sesuatu meledak. Ja-ngan sampai hal seperti itu terjadi lagi. Formulir Hogsmeade bukan satu-satunya yang jadi taruhan— kalau terjadi lagi, Harry akan berurusan dengan Ke-menterian Sihir.

Harry masih di bawah umur dan menurut undang-undang sihir, dia dilarang menggunakan sihir di luar sekolah. Riwayat masa lalunya juga tidak bisa dibilang bersih. Baru musim panas lalu dia mendapat peringat-an resmi yang jelas-jelas mengatakan bahwa jika Ke-menterian mendengar ada sihir lagi di Privet Drive, Harry akan dikeluarkan dari Hogwarts.

Didengarnya keluarga Dursley meninggalkan meja dan Harry buru-buru menyingkir ke atas.

Harry melewatkan tiga hari berikutnya dengan me-maksa diri memikirkan Buku Panduan untuk Merawat Sendiri Sapumu setiap kali Bibi Marge mengomelinya. Ini berhasil, meskipun rupanya pandangannya jadi kosong menerawang, karena Bibi Marge mulai me-nyuarakan pendapat bahwa Harry menderita lemah mental.

Akhirnya, setelah lama ditunggu, tibalah malam terakhir Bibi Marge di rumah itu. Bibi Petunia me-masak makan malam yang “wah” dan Paman Vernon membuka beberapa botol anggur. Mereka menikmati sup dan ikan salem tanpa satu kali pun menyebut kesalahan Harry. Saat makan pai lemon, Paman Vernon membuat mereka semua bosan dengan ber-cerita panjang-lebar tentang Grunnings, perusahaan bornya. Kemudian Bibi Petunia membuat kopi dan Paman Vernon mengeluarkan sebotol brandy.

“Kau tergoda, Marge?” Bibi Marge sudah minum agak terlalu banyak anggur. Mukanya yang besar sudah sangat merah. “Sedikit saja kalau begitu,” katanya terkekeh. “Se-dikit lagi… tambah lagi sedikit… nah, begitu.”

Dudley sedang makan potongan painya yang ke-empat. Bibi Petunia menyeruput kopi dengan ke-lingking mencuat. Harry sebetulnya ingin menghilang ke dalam kamarnya, tetapi mata kecil Paman Vernon menatapnya marah dan dia tahu dia harus ikut duduk di situ sampai acara makan malam berakhir.

“Aah,” kata Bibi Marge, mendecakkan bibir dan meletakkan gelas brandy-nya yang sudah kosong. “Makan malamnya enak sekali, Petunia. Biasanya aku cuma menggoreng sesuatu untuk makan malam, dengan dua belas anjing yang harus diurus…” Dia bersendawa keras dan membelai perutnya yang besar. “Maaf saja, tapi aku suka melihat anak yang berukuran sehat,” dia meneruskan, mengedip kepada Dudley. “Kau akan jadi laki-laki berukuran-layak, Dudders, seperti ayahmu. Ya, aku mau brandy sedikit lagi, Vernon….

“Kalau anak yang satu ini…”

Dia mengedikkan kepala ke arah Harry, yang lang-sung merasa perutnya kencang. Buku Panduan, pikir-nya cepatcepat.

“Yang ini mukanya kejam dan kerdil. Anjing juga ada yang begitu. Tahun lalu Kolonel Fubster kusuruh menenggelamkan satu anjing macam itu. Anjing jembel. Lemah. Turunan kelas rendah.”

Harry berusaha mengingat halaman dua belas buku-nya: Mantra untuk Menyembuhkan Sapu yang Malas Berbalik.

“Asalnya dari darah, seperti yang kukatakan ke-marin dulu. Darah buruk pasti kelihatan. Bukannya aku menjelek-jelekkan keluargamu, Petunia,”—dia mengelus tangan kurus Bibi Petunia dengan tangan-nya sendiri yang seperti sekop, “tapi adikmu telur yang busuk. Mereka selalu ada dalam keluargake-luarga terbaik. Kemudian dia kabur dengan orang kelas rendah tak berguna, dan ini hasilnya di depan kita.”

Harry menatap piringnya, dering aneh memenuhi telinganya. Pegang sapumu erat-erat pada ujungnya, pikir-nya. Tetapi dia tak bisa ingat apa kelanjutannya. Suara Bibi Marge seakan menusuk masuk ke dalam dirinya seperti bor Paman Vernon.

“Si Potter ini,” kata Bibi Marge keras-keras, me-nyambar botol brandy dan menuang lagi ke dalam gelasnya, dan ke atas taplak meja, “kalian tidak per-nah cerita padaku apa kerjanya?”

Paman Vernon dan Bibi Petunia tampak tegang sekali. Dudley bahkan mendongak dari painya, me-longo menatap orangtuanya.

“Dia—tidak bekerja,” kata Paman Vernon, setengah melirik Harry. “Tak punya pekerjaan.”

“Seperti yang kuduga!” kata Bibi Marge, meneguk brandy

nya banyak-banyak dan menyeka dagu dengan lengan bajunya. “Pemalas, pengangguran, yang tak bisa apa-apa…”

“Bukan,” kata Harry tiba-tiba. Meja langsung sunyi senyap. Sekujur tubuh Harry gemetar. Belum pernah dia semarah itu.

“TAMBAH BRANDY-NYA!” teriak Paman Vernon, yang sudah pucat pasi. Dia mengosongkan botol brandy ke gelas Bibi Marge. “Kau,” dia menggertak Harry. “Pergi tidur sana…”

“Jangan, Vernon,” Bibi Marge cegukan, mengacung-kan tangan mencegah, matanya yang kecil merah menatap Harry. “Ayo, terus, Nak, terus. Bangga akan orangtuamu, ya? Mereka mati dalam kecelakaan mo-bil. Mabuk kukira…”

“Mereka tidak meninggal dalam kecelakaan mobil!” kata Harry, yang sudah berdiri.

“Mereka meninggal dalam kecelakaan mobil, pem-bohong kecil, dan meninggalkanmu untuk jadi beban saudara mereka yang terhormat dan rajin bekerja!” teriak Bibi Marge, menggelembung saking marahnya. “Kau anak kurang ajar tak tahu terima kasih, yang…”

Categories:   Fantasi

Comments