Baca Novel Online

Harry Potter Dan Tawanan Azkaban

“Boggart yang lain,” kata Lupin, seraya membuka mantelnya. “Aku mencari di seluruh kastil sejak Selasa, dan untung sekali, aku menemukan Boggart yang satu ini sembunyi di dalam lemari arsip Mr Filch. Boggart-lah yang bisa menjadi paling mirip dengan Dementor asli. Si Boggart akan berubah men-jadi Dementor begitu melihatmu, jadi kita bisa berlatih dengannya. Aku bisa menyimpannya di dalam kantor-ku kalau sedang tidak kita pakai. Ada lemari di bawah mejaku yang pasti disukainya.”

“Baiklah,” kata Harry, berusaha berbicara seakan dia tidak takut dan malah senang Lupin berhasil menemu-kan pengganti Dementor asli yang begitu bagus.

“Jadi…” Profesor Lupin sudah mengeluarkan tong-katnya dan memberi isyarat agar Harry juga melaku-kan yang sama. “Mantra yang akan kucoba ajarkan padamu adalah sihir tingkat sangat tinggi, Harry—jauh di atas Level Sihir Umum. Namanya Mantra Patronus.”

“Bagaimana cara kerjanya?” tanya Harry gugup.

“Yah, kalau berhasil, dia menghasilkan Patronus,” kata Lupin. “Patronus itu sejenis Anti-Dementor— pelindung yang bertindak sebagai tameng di antara kau dan Dementor.”

Di benak Harry mendadak muncul bayangan diri-nya meringkuk di belakang sosok sebesar Hagrid yang memegangi pentungan besar. Profesor Lupin melanjutkan, “Patronus ini sejenis kekuatan positif, proyeksi hal-hal yang menjadi makanan Dementor— harapan, kebahagiaan, keinginan bertahan hidup— tetapi dia tak bisa merasakan keputusasaan seperti yang dirasakan manusia, maka Dementor tidak bisa menyakitinya. Tetapi aku harus memperingatkanmu, Harry, bahwa mantra ini mungkin terlalu tinggi bagi-mu. Banyak penyihir berkualitas mengalami kesulitan belajar Patronus.”

“Seperti apa Patronus itu?” tanya Harry ingin tahu.

“Masing-masing unik, tergantung penyihir yang me-munculkannya.”

“Dan bagaimana cara memunculkannya?”

“Dengan mantra, yang hanya berhasil jika kau berkonsentrasi, sekhusyuk mungkin, pada satu saja ke-jadian yang sangat menyenangkan.”

Harry mengingat-ingat apa yang bisa dianggapnya kejadian sangat menyenangkan. Jelas, yang dialaminya di rumah keluarga Dursley tak bisa digunakan. Akhir-nya dia memutuskan saat dia pertama kali naik sapu.

“Baiklah,” katanya, berusaha mengingat setepat mungkin

perasaan hangat, melayang, sangat menye-nangkan dalam perutnya.

“Mantranya begini…” Lupin berdeham, “expecto patronum!”

“Expecto patronum,” Harry mengulang perlahan, “expecto patronum.”

“Konsentrasi sepenuhnya pada kejadian yang me-nyenangkan?”

“Oh—yeah…,” kata Harry, cepat-cepat memusatkan kembali pikirannya pada terbang-pertamanya dengan sapu. “Expecto patrono—eh, patronum—maaf—expecto patronum, expecto patronum…”

Sesuatu mendadak mendesau dari ujung tongkat-nya. Kelihatannya seperti gumpalan asap keperakan. “Anda lihat itu?” ujar Harry bergairah.

“Terjadi se-suatu.”

“Bagus sekali,” kata Lupin, tersenyum. “Baiklah— siap mencobanya pada Dementor?”

“Ya,” jawab Harry, menggenggam tongkatnya erat-erat, dan melangkah ke tengah ruang kelas yang kosong. Dia mencoba berkonsentrasi pada perasaan senangnya saat terbang, tetapi berulang-ulang ada yang memecah konsentrasinya… setiap saat, dia bisa mendengar jeritan ibunya lagi… tetapi dia tak boleh memikirkan itu, nanti dia malah benar-benar men-dengarnya lagi, dan dia tak ingin… ataukah sebetul-nya dia ingin?

Lupin meraih tutup kotak dan membukanya. Dementor perlahan muncul dari dalamnya, wajah-nya yang berkerudung menghadap ke arah Harry, salah satu tangan bersisik berkilat mencengkeram jubahnya. Lampu-lampu di sekeliling kelas berkedip lalu padam. Si Dementor melangkah keluar dari dalam kotaknya dan melayang menuju Harry, bunyi napas-nya berkeretekan. Gelombang dingin menusuk menye-limuti Harry…

“Expecto patronum!” teriak Harry. “Expecto patronum! Expecto…”

Tetapi kelas dan si Dementor menjadi samar-samar… Harry terjatuh lagi dalam kabut putih tebal, dan suara ibunya lebih keras dari sebelumnya, ber-gaung dalam kepalanya… “Jangan Harry! Jangan Harry! Saya mohon—saya bersedia melakukan apa saja…”

“Minggir—minggir, perempuan…”

“Harry!” Harry tersentak sadar kembali. Dia menelentang di lantai. Lampu-lampu di dalam kelas sudah menyala lagi. Dia tak perlu bertanya apa yang telah terjadi. “Maaf,” gumamnya, seraya duduk. Dirasakannya keringat dingin menetes di balik kacamatanya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Lupin.

“Tidak…” Harry bertumpu pada salah satu meja dan berdiri, lalu bersandar ke meja itu.

“Ini…” Lupin menyodorkan Cokelat Kodok. “Makanlah ini dulu sebelum kita mencoba lagi. Aku memang tidak mengharap kau bisa melakukannya dengan sekali coba. Aku malah akan heran sekali kalau kau bisa.”

“Lebih parah dari biasanya,” gumam Harry meng-gigit kepala Cokelat Kodok-nya. “Saya bisa mendengar ibu saya lebih keras dari biasanya—dan dia— Voldemort…”

Lupin tampak lebih pucat dari biasanya. “Harry, jika kau tak mau meneruskan, aku paham sekali…”

“Saya ingin meneruskan!” kata Harry tegas, men-jejalkan sisa Cokelat Kodok ke dalam mulutnya. “Saya harus meneruskannya! Bagaimana kalau Dementor-dementor muncul dalam pertandingan kami melawan Ravenclaw? Saya tak boleh jatuh lagi. Kalau kami kalah dalam pertandingan ini, kami kehilangan Piala Quidditch!”

“Baiklah kalau begitu…,” kata Lupin. “Kau mung-kin ingin memilih kejadian menyenangkan yang lain, maksudku untuk dipakai berkonsentrasi… yang tadi rupanya tidak cukup kuat…”

Harry berpikir keras, dan memutuskan perasaannya ketika Gryffindor memenangkan Piala Asrama tahun lalu jelas bisa dikualifikasikan sebagai sangat bahagia. Dia menggenggam erat-erat lagi tongkatnya, dan berdiri di tengah ruangan.

“Siap?” kata Lupin, memegang tutup kotak.

“Siap,” kata Harry, berusaha memenuhi pikirannya dengan kenangan saat Gryffindor menang, dan bukan pikiran mengerikan tentang apa yang akan terjadi jika kotak itu terbuka.

“Mulai!” kata Lupin, menarik tutup kotak. Ruangan sekali lagi berubah gelap dan sedingin es. Si Dementor melayang maju, menarik napas berkeretakan; salah satu tangan busuknya terjulur ke arah Harry…

“Expecto patronum!” teriak Harry. “Expecto patronum! Expecto pat…”

Kabut hitam mengaburkan indranya… sosok-sosok besar tak jelas bergerak di sekitarnya… kemudian terdengar suara baru, suara laki-laki, berteriak panik…

“Lily, bawa Harry pergi! Itu dia! Pergilah! Lari! Akan kucoba menahannya…”

Bunyi orang yang terhuyung bergegas meninggalkan ruangan—pintu yang terbuka dengan keras—tawa nyaring terbahak…

“Harry! Harry… bangun…”

Lupin menepuk-nepuk keras wajah Harry. Kali ini, baru semenit kemudian Harry paham kenapa dia terbaring di lantai ruang kelas yang berdebu.

“Saya mendengar ayah saya,” Harry komat-kamit. “Itu pertama kalinya saya mendengarnya—dia men-coba menghadapi Voldemort sendirian, untuk memberi ibu saya kesempatan lari…”

Harry mendadak menyadari ada air mata di wajah-nya, bercampur keringat. Dia menundukkan wajahnya serendah mungkin, menyeka air matanya dengan jubahnya, berpurapura membetulkan tali sepatunya, agar Lupin tidak melihat.

“Kau mendengar James?” kata Lupin, dengan suara janggal.

“Yeah…” Wajahnya sudah kering, Harry men-dongak. “Kenapa—Anda tidak kenal ayah saya, kan?”

“Ke—kenal, sebetulnya,” kata Lupin. “Kami ber-teman di Hogwarts. Dengar, Harry—mungkin sebaik-nya kita berhenti di sini malam ini. Mantra ini tingkat-nya tinggi sekali… aku seharusnya tidak menyarankan kau mempelajarinya…”

“Tidak!” kata Harry. Dia bangkit lagi. “Saya mau mencoba sekali lagi. Kejadian-kejadian yang saya ingat tidak cukup membahagiakan, itulah sebabnya… tung-gu…”

Harry mengorek ingatannya. Peristiwa yang betul-betul luar biasa menyenangkan… yang bisa berubah menjadi Patronus bagus yang kuat…

Saat dia pertama kali tahu dia penyihir dan akan meninggalkan keluarga Dursley untuk masuk Hogwarts! Kalau itu bukan kenangan indah, dia tak tahu lagi bagaimana yang indah itu… berkonsentrasi penuh pada bagaimana perasaannya ketika dia sadar akan meninggalkan Privet Drive, Harry berdiri dan menghadapi kotak itu sekali lagi.

Categories:   Fantasi

Comments