Baca Novel Online

Harry Potter Dan Tawanan Azkaban

Saat makan siang tiba, mereka turun ke Aula Besar. Keempat meja besar asrama sudah dirapatkan ke dinding lagi, dan sebuah meja yang disiapkan untuk dua belas orang, berdiri di tengah ruangan. Profesor Dumbledore, McGonagall, Snape, Sprout, dan Flitwick ada di sana, begitu juga Filch, si penjaga sekolah, yang telah melepas jas cokelatnya yang biasa dan kini memakai jas-buntut sangat usang dan agak berjamur. Hanya ada tiga murid lain: dua anak kelas satu yang tampak sangat gelisah dan anak Slytherin kelas lima bertampang cemberut.

“Selamat Hari Natal!” kata Dumbledore, ketika Harry, Ron, dan Hermione mendekati meja. “Karena kita cuma bersedikit sekali, tak ada gunanya meng-gunakan meja-meja asrama… duduklah, duduklah!”

Harry, Ron, dan Hermione duduk bersebelahan di ujung meja.

“Petasan!” kata Dumbledore antusias, mengulurkan ujung petasan perak besar kepada Snape, yang meng-ambilnya dengan enggan dan menariknya. Dengan bunyi dor keras seperti letusan senapan, petasan itu meledak dan di dalamnya ternyata ada topi sihir berbentuk kerucut dengan burungburungan nasar di puncaknya.

Harry yang teringat pada Boggart, berpandangan dengan Ron dan keduanya nyengir. Bibir Snape me-nipis. Didorongnya topi itu ke arah Dumbledore, yang langsung mencopot topinya sendiri dan memakainya.

“Ayo mulai!” dia mengajak yang hadir, tersenyum kepada semua.

Ketika Harry sedang menyendok kentang panggang, pintu Aula Besar terbuka lagi. Profesor Trelawney muncul, meluncur ke arah mereka seakan di atas roda. Dia memakai gaun hijau berpayet untuk meng-hormati hari besar ini, membuatnya semakin kelihatan seperti capung besar yang berkilauan.

“Sybill, sungguh kejutan yang menyenangkan!” kata Dumbledore seraya berdiri.

“Aku tadi sedang mengamati bola kristalku, Kepala Sekolah,” kata Profesor Trelawney dengan suaranya yang paling sayup-sayup, “dan betapa herannya aku melihat diriku meninggalkan makan siangku yang kunikmati sendiri dan datang bergabung dengan kalian. Siapakah aku ini sehingga bisa melawan desak-an takdir? Maka aku bergegas meninggalkan menara-ku, dan aku mohon maaf untuk keterlambatanku…”

“Tak apa-apa, tak apa-apa,” kata Dumbledore, matanya berkilauan. “Biar kuambilkan kursi…”

Dan dia menggambar kursi di udara dengan tongkatnya. Kursi itu berputar selama beberapa detik, sebelum jatuh di antara Profesor Snape dan McGonagall. Meskipun demikian, Profesor Trelawney tidak langsung duduk. Matanya yang besar mengitari meja dan mendadak dia memekik pelan.

“Aku tak berani, Kepala Sekolah! Kalau aku ikut duduk di meja ini, kita akan bertiga belas! Tak ada yang lebih sial daripada itu! Jangan lupa bahwa kalau tiga belas orang makan bersama, yang pertama bangkit akan mati lebih dulu!”

“Kita ambil risiko itu, Sybill,” kata Profesor McGonagall habis sabar. “Duduklah, kalkunnya sudah nyaris sedingin batu.”

Profesor Trelawney ragu-ragu, kemudian duduk di kursi kosong itu. Matanya terpejam dan bibirnya terkatup rapat, seakan mengharap kilat akan me-nyambar meja itu. Profesor McGonagall memasukkan sendok besar ke dalam basi besar yang paling dekat dengannya.

“Babat, Sybill?”

Profesor Trelawney mengabaikannya. Matanya kini sudah terbuka lagi. Sekali lagi dia memandang meng-itari meja, dan bertanya, “Tetapi di mana Profesor Lupin yang baik?”

“Sayang sekali dia sakit lagi,” kata Dumbledore, memberi isyarat agar semua orang mulai mengambil makanannya sendiri-sendiri. “Sungguh kasihan, sakit tepat pada Hari Natal.”

“Tapi tentunya kau sudah tahu itu, Sybill?” kata Profesor McGonagall, alisnya terangkat.

Profesor Trelawney melempar pandang sangat dingin kepada Profesor McGonagall.

“Tentu saja aku tahu, Minerva,” katanya tenang. “Tapi orang kan tidak memamerkan kenyataan bahwa dia tahu segalanya. Aku sering bersikap seakan aku tidak memiliki Mata Batin, agar orang lain tidak cemas.”

“Pantas saja,” kata Profesor McGonagall masam. Suara Profesor Trelawney mendadak tidak sayup-sayup lagi.

“Kalau kau harus tahu, Minerva, aku sudah melihat bahwa Profesor Lupin yang malang tidak akan lama bersama kita. Rupanya dia sendiri menyadari, bahwa waktunya singkat. Dia benar-benar

kabur waktu aku menawarkan untuk melihat nasibnya dalam bola kristal…”

“Wah, wah, kenapa ya,” komentar Profesor McGonagall hambar.

“Aku meragukan,” kata Dumbledore, dengan suara riang tapi bernada agak tinggi, mengakhiri percakapan antara Profesor McGonagall dan Profesor Trelawney, “bahwa Profesor Lupin dalam bahaya. Severus, kau sudah membuatkan Ramuan untuknya lagi?”

“Sudah, Kepala Sekolah,” jawab Snape.

“Bagus,” kata Dumbledore. “Kalau begitu tak lama lagi dia pasti sembuh… Derek, kau sudah pernah mencicipi chipolata ini? Enak sekali lho.”

Wajah anak kelas satu itu langsung merah padam karena disapa oleh Dumbledore dan dia mengambil sepiring sosis dengan tangan gemetar.

Profesor Trelawney bersikap nyaris normal sampai menjelang akhir santap Natal itu, dua jam kemudian. Dengan perut kenyang sekali oleh hidangan Natal yang lezat-lezat dan masih memakai topi petasan mereka, Harry dan Ron bangkit lebih dulu dari kursi mereka dan Profesor Trelawney menjerit nyaring.

“Astaga. Siapa dari kalian yang bangkit lebih dulu dari kursi kalian? Siapa?” “Entahlah,” kata Ron, memandang Harry dengan salah tingkah.

“Kurasa tak akan banyak bedanya,” kata Profesor McGonagall dingin, “kecuali ada orang gila membawa kapak menunggu di luar pintu untuk membantai orang pertama yang muncul di Aula Depan.”

Bahkan Ron pun tertawa. Profesor Trelawney tam-pak sangat tersinggung.

“Ikut?” Harry bertanya kepada Hermione.

“Tidak,” gumam Hermione. “Aku perlu bicara sebentar dengan Profesor McGonagall.”

“Mungkin mau tahu apa dia bisa ambil pelajaran lebih banyak lagi,” kata Ron seraya menguap ketika mereka masuk Aula Depan, yang sama sekali tak ada orang-gilaberkapaknya.

Ketika tiba di lubang lukisan, ternyata Sir Cadogan sedang asyik berpesta Natal dengan dua rahib, bebe-rapa mantan kepala sekolah Hogwarts, dan kuda poninya yang gemuk. Dia mengangkat visor ketopong-nya dan menyalami mereka dengan mengangkat botol gemuk berleher pendek berisi arak.

“Selamat—hik—Hari—hik—Natal! Kata kunci?”

“Anjing kudisan,” jawab Ron.

“Untukmu juga, Sir!” teriak Sir Cadogan ketika lukisan mengayun ke depan membuat jalan masuk bagi mereka.

Harry langsung ke kamarnya, mengambil Firebolt dan perangkat Peralatan Perawatan Sapu hadiah ulang tahunnya dari Hermione, membawa keduanya ke ruang rekreasi, dan berusaha mencari-cari sesuatu yang bisa dilakukannya pada sapunya. Meskipun demikian, tak ada ranting bengkok yang perlu dirapi-kan, dan gagangnya sudah amat berkilau sehingga tak ada gunanya lagi menggosoknya. Maka dia dan Ron cuma duduk mengagumi sapu itu dari segala sudut, sampai lubang lukisan terbuka, dan Hermione masuk, diikuti Profesor McGonagall.

Meskipun Profesor McGonagall kepala asrama Gryffindor, hanya satu kali Harry pernah melihatnya di ruang rekreasi, dan itu untuk menyampaikan peng-umuman yang sangat penting. Harry dan Ron me-mandangnya keheranan, keduanya memegangi Firebolt. Hermione berjalan menghindari mereka, duduk, mengambil buku yang paling dekat dengan-nya, dan menyembunyikan wajah di baliknya.

“Jadi, ini sapunya?” kata Profesor McGonagall seraya berjalan mendekati perapian dan mengawasi Firebolt itu dengan tajam. “Miss Granger baru saja memberitahuku bahwa kau mendapat kiriman sapu, Potter.”

Categories:   Fantasi

Comments