Baca Novel Online

Harry Potter Dan Tawanan Azkaban

“Baiklah,” kata Profesor Lupin. “Bisakah kau membayangkan dandanan itu dengan jelas, Neville? Bisa-kah kau melihatnya dalam pikiranmu?”

“Ya,” kata Neville bingung. Jelas sekali dia ingin tahu apa yang akan terjadi berikutnya.

“Ketika Boggart itu keluar dari lemari ini, Neville, dan melihatmu, dia akan mengambil bentuk Profesor Snape,” kata Lupin. “Dan kau akan mengangkat tong-katmu—begini—dan berseru ‘Riddikulus’—dan berkon-sentrasi penuh pada dandanan nenekmu. Jika semua berjalan lancar, Profesor Boggart Snape akan dipaksa memakai topi burung nasar, gaun hijau, tas tangan merah besar.”

Anak-anak tertawa gelak-gelak. Lemari berguncang semakin keras.

“Kalau Neville berhasil, si Boggart kemungkinan akan mengalihkan perhatiannya kepada kita berganti-an,” kata Profesor Lupin. “Kuminta kalian semua memikirkan sebentar, apa yang paling menakutkan kalian, dan bayangkan bagaimana kalian bisa me-maksanya berubah menjadi konyol…”

Kelas hening. Harry berpikir… Apa yang paling menakutkannya di dunia ini?

Yang pertama terpikir olehnya adalah Lord Voldemort— Voldemort yang kekuatannya pulih se-penuhnya. Tetapi bahkan sebelum dia merencanakan kontra-serangan kepada si Boggart-Voldemort, ada bayangan mengerikan muncul di benaknya…

Tangan busuk yang mengilap, menyusup kembali ke dalam jubah hitam… napas panjang berkeretakan dari mulut yang tak kelihatan… kemudian hawa di-ngin yang begitu menusuk dan membuatnya seakan tenggelam…

Harry bergidik, kemudian memandang berkeliling, berharap tak ada yang memperhatikannya. Banyak anak yang memejamkan mata rapat-rapat.

Ron ber-gumam sendiri, “Potong kaki-kakinya.”

Harry yakin dia tahu apa yang diinginkan Ron. Ron paling takut pada labah-labah.

“Semua siap?” tanya Profesor Lupin.

Harry dilanda ketakutan. Dia belum siap. Bagai-mana kau bisa membuat Dementor tidak menakutkan? Tetapi dia tak mau minta tambahan waktu. Teman-temannya semua mengangguk dan menggulung lengan jubah mereka.

“Neville, kami akan mundur,” kata Profesor Lupin. “Supaya kau sendirian dan tampak jelas, oke? Aku akan memanggil anak berikutnya maju nanti… semua mundur sekarang, supaya Neville bisa menyerang dengan leluasa…”

Mereka mundur sampai ke dinding, meninggalkan Neville sendirian di sebelah lemari. Dia kelihatan pucat dan ketakutan, tetapi dia sudah menggulung lengan jubahnya dan tongkatnya terangkat siap me-nyerang.

“Pada hitungan ketiga, Neville,” kata Profesor Lu-pin, yang mengacungkan tongkatnya sendiri ke pegangan pintu lemari. “Satu—dua—tiga—sekarang!”

Semburan bunga api meluncur dari ujung tongkat Profesor Lupin dan mengenai pegangan pintu. Pintu lemari terbuka dengan keras. Profesor Snape yang berhidung bengkok melangkah keluar, matanya ber-kilat memandang Neville penuh ancaman.

Neville mundur, tongkatnya terangkat, mulutnya mengucap tanpa kata. Snape mendekatinya, merogoh sakunya.

“R-r-riddikulus!” Neville mencicit.

Terdengar bunyi seperti lecutan cemeti. Snape ter-huyung. Tiba-tiba saja dia sudah memakai gaun pan-jang berenda, topi tinggi yang di atasnya ada burung nasar yang sudah dimakan ngengat, dan melambai-lambaikan tas tangan besar merah.

Tawa meledak. Si Boggart berhenti, kebingungan, dan Profesor Lupin berteriak, “Parvati! Maju!”

Parvati ke depan, wajahnya penuh tekad. Snape berbalik mendekatinya. Terdengar bunyi lecutan lagi, dan di tempat Snape berdiri sekarang tampak mumi yang bebatannya berdarah-darah, wajahnya yang ter-bebat menoleh memandang Parvati, lalu dia berjalan ke arahnya, pelan-pelan sekali, menyeret kakinya, tangannya yang kaku teracung ke depan…

“Riddikulus!” teriak Parvati.

Bebatan di kaki mumi terurai, si mumi terbelit kain bebatannya sendiri, jatuh terjerembap mencium lantai dan kepalanya berguling lepas.

“Seamus!” seru Profesor Lupin.

Seamus berlari melewati Parvati. Tar! Si mumi berubah menjadi perempuan kurus-kering dengan rambut sepanjang lantai, wajahnya yang menyerupai kerangka pucat kehijauan—banshee, hantu perempuan yang memberitahukan kematian anggota keluarga dengan menampakkan diri atau menangis melolong di bawah jendela semalam atau dua malam sebelum hari kematian tiba. Si banshee membuka mulutnya lebar-lebar, dan lolong panjang mengerikan memenuhi ruangan, membuat rambut di kepala Harry tegak berdiri…

“Riddikulus!” teriak Seamus.

Si banshee mengeluarkan bunyi parau, dia men-cengkeram lehernya. Suaranya lenyap.

Tar! Si banshee berubah menjadi tikus besar yang berputar-putar mengejar ekornya sendiri, kemudian— tar!— menjadi ular berbisa, yang melata dan meng-geliat sebelum— tar!—menjadi bola mata berlumur da-rah.

“Dia bingung!” teriak Lupin. “Kita hampir berhasil! Dean!”

Dean bergegas maju.

Tar! Bola mata berubah menjadi potongan tangan mengerikan, yang langsung membalik, dan mulai me-rangkak di lantai seperti kepiting.

“Riddikulus!” teriak Dean.

Terdengar bunyi lecutan, dan tangan itu terjepit perangkap tikus. “Bagus sekali! Ron, giliranmu!” Ron melompat maju.

“Tar!”

Cukup banyak anak yang menjerit. Seekor labah-labah raksasa, setinggi dua meter dan dipenuhi bulu, merayap ke arah Ron, mengatup-ngatupkan capitnya dengan mengancam. Sekejap Harry mengira Ron membeku ketakutan. Kemudian…

“Riddikulus!” raung Ron, dan kedelapan kaki si labah-labah lenyap. Dia berguling-guling. Lavender Brown menjerit dan berlari menyingkir dan labah-labah itu berhenti di depan kaki Harry. Harry meng-angkat tongkatnya, siap menyerang, tetapi…

“Sini!” teriak Profesor Lupin yang bergegas men-dekat.

Tar!

Labah-labah tak berkaki itu lenyap. Sedetik anak-anak memandang berkeliling mencarinya. Kemudian mereka melihat bola putih keperakan melayang di udara, di depan Lupin yang berkata, “Riddikulus!” nyaris ogah-ogahan.

Tar!

“Maju, Neville, dan habisi dia!” kata Lupin, ketika si Boggart terjatuh ke lantai sebagai kecoak. Tar! Snape muncul lagi. Kali ini Neville menyerbu ke depan dengan mantap.

“Riddikulus!” dia berteriak, dan. selama sepersekian detik mereka melihat sekilas Snape bergaun berenda sebelum Neville terbahak keras “Ha-ha-ha!” dan si Boggart meletus

menjadi seribu gumpalan kecil asap lalu lenyap.

“Hebat sekali!” seru Profesor Lupin, ketika anak-anak bertepuk riuh. “Luar biasa, Neville. Bagus, anak-anak. Coba kupikirkan… lima angka untuk Gryffindor bagi setiap anak yang menangani si Boggart, sepuluh untuk Neville karena dia menghadapinya dua kali— dan masing-masing lima untuk Hermione dan Harry.”

“Tetapi saya tidak melakukan apa-apa,” kata Harry.

“Kau dan Hermione menjawab pertanyaanku de-ngan betul pada awal pelajaran, Harry,” kata Lupin enteng. “Baik, anakanak, pelajaran yang bagus sekali. PR, kalian baca bab tentang Boggart dan buat ring-kasannya untukku… dikumpulkan hari Senin. Cukup sampai di sini dulu.”

Berceloteh penuh semangat, anak-anak meninggal-kan ruang guru. Meskipun demikian Harry tidak gembira. Profesor Lupin dengan sengaja menghalangi-nya menangani Boggart. Kenapa? Apakah karena dia pernah melihat Harry pingsan di kereta api, dan mengira Harry tidak berani? Apakah dia mengira Harry akan pingsan lagi?

Tetapi anak-anak lain tampaknya tidak memper-hatikan hal ini. “Kalian melihatku menyerang banshee?” teriak Seamus.

“Dan tangan mengerikan!” kata Dean, melambaikan tangannya sendiri.

“Dan Snape memakai topi konyol itu!”

“Dan mumi-ku!”

“Aku heran kenapa Profesor Lupin takut pada bola kristal?” tanya Lavender merenung.

“Tadi itu pelajaran Pertahanan terhadap Ilmu Hitam paling asyik yang pernah kita terima, ya?” kata Ron bergairah, ketika mereka kembali ke kelas untuk mengambil tas.

“Kelihatannya dia guru yang baik sekali,” kata Hermione memuji. “Tapi sayang sekali aku tidak men-dapat kesempatan menangani si Boggart…”

Categories:   Fantasi

Comments