Baca Novel Online

Harry Potter Dan Tawanan Azkaban

Tetapi Harry tetap menatap sampul depan buku itu. Sampul itu menampilkan gambar anjing hitam sebesar beruang, dengan mata berkilat. Aneh sekali, rasanya gambar itu tak asing….

Si manajer menyerahkan buku Menyingkap Kabut Masa Depan ke tangan Harry.

“Ada lagi yang lain?” tanyanya.

“Ya,” kata Harry, mengalihkan pandangannya dari si anjing dan dengan bingung membaca daftarnya. “Eh—saya perlu Transfigurasi Tingkat Menengah dan Kitab Mantra Standar, Tingkat Tiga.”

Harry meninggalkan Flourish and Blotts sepuluh me-nit kemudian dengan mengepit buku-buku barunya, dan berjalan pulang ke Leaky Cauldron, nyaris tidak memperhatikan jalan dan menabrak beberapa orang.

Dia menaiki tangga ke kamarnya, masuk, dan me-naruh buku-bukunya di atas tempat tidur. Sudah ada yang merapikan kamarnya. Jendela-jendelanya terbuka dan sinar matahari menyorot masuk. Harry bisa men-dengar bus-bus menderu lewat di jalan Muggle yang tak kelihatan di belakangnya, dan suara orang-orang yang lewat tak kelihatan di bawah di Diagon Alley. Dia melihat tampangnya sendiri di cermin di atas wastafel.

“Tak mungkin itu pertanda kematian,” katanya me-nantang kepada bayangannya. “Aku panik waktu me-lihatnya di Magnolia Crescent. Mungkin dia cuma anjing yang tersesat….”

Secara otomatis dia mengangkat tangan dan men-coba meratakan rambutnya. “Percuma saja, pasti berantakan lagi,” kata cermin-nya dengan suara berdesis.

Hari demi hari berlalu. Setiap kali keluar, Harry mulai mencari-cari Ron dan Hermione. Banyak mu-rid Hogwarts yang sudah muncul di Diagon Alley sekarang, karena sebentar lagi sudah masuk sekolah. Harry bertemu Seamus Finnigan dan Dean Thomas, sesama teman asrama di Gryffindor, di toko Peralatan Quidditch Berkualitas. Mereka berdua juga mengagumi Firebolt. Harry juga bertemu Neville Longbottom yang asli, seorang anak laki-laki pelupa bermuka bundar, di depan Flourish and Blotts. Harry tidak menyapanya. Neville rupanya kehilangan daftar bukunya dan se-dang ditegur oleh neneknya yang kelihatan galak. Harry berharap nenek Neville tidak akan pernah tahu dia menyamar jadi Neville ketika sedang melarikan diri dari Kementerian Sihir.

Harry terbangun pada hari terakhir liburan, berpikir bahwa paling tidak dia akan bertemu Ron dan Hermione besok pagi, di Hogwarts Express. Dia bangun, berpakaian, pergi melihat Firebolt untuk terakhir kali-nya, dan sedang berpikir-pikir enaknya makan siang di mana, ketika ada yang meneriakkan namanya dan dia berpaling.

“Harry! HARRY!”

Kedua sahabatnya. Mereka duduk di luar toko es krim Florean Fortescue. Bintik-bintik di wajah Ron tampak jelas sekali, sedang kulit Hermione sangat cokelat. Keduanya melambai-lambai penuh semangat ke arahnya.

“Akhirnya!” kata Ron, nyengir kepada Harry ketika Harry ikut duduk. “Kami ke Leaky Cauldron, tapi mereka bilang kau sudah pergi, dan kami ke Flourish and Blotts, dan Madam Malkin, dan…”

“Aku sudah beli semua keperluan sekolahku ming-gu lalu,” Harry menjelaskan. “Dan bagaimana kau tahu aku tinggal di Leaky Cauldron?”

“Dad,” kata Ron singkat.

Mr Weasley, yang bekerja di Kementerian Sihir, tentu saja telah mendengar seluruh kisah tentang apa yang terjadi pada Bibi Marge.

“Apakah kau benar-benar telah menggelembungkan bibimu, Harry?” tanya Hermione sangat serius.

“Aku tidak sengaja,” kata Harry, sementara Ron terbahakbahak. “Aku—kehilangan kendali.”

“Tidak lucu, Ron,” kata Hermione tajam. “Terus terang saja, aku heran Harry tidak dikeluarkan.”

“Aku juga heran,” Harry mengaku. “Lupakan soal dikeluarkan. Kukira aku akan ditangkap.” Dia me-mandang Ron. “Ayahmu tidak tahu kenapa Fudge membebaskariku, kan?”

“Mungkin karena kau adalah kau, kan?” jawab Ron, masih tertawa-tawa. “Harry Potter yang terkenal. Aku tak berani membayangkan apa yang akan di-lakukan Kementerian Sihir padaku kalau aku yang menggelembungkan bibiku, meskipun mereka harus menggaliku dulu, soalnya Mum akan membunuhku duluan. Tapi kau bisa tanya Dad sendiri nanti malam. Kami juga menginap di Leaky Cauldron malam ini! Jadi kau bisa berangkat ke King’s Cross bersama kami besok. Hermione juga menginap di sana!”

Hermione mengangguk, wajahnya berseri-seri. “Mum dan Dad mengantarku ke sana pagi ini dengan semua keperluan Hogwarts-ku.”

“Bagus sekali!” kata Harry senang. “Jadi, kalian sudah membeli semua buku dan keperluan lain?”

“Lihat ini,” kata Ron, menarik keluar kotak panjang tipis dari dalam tas dan membukanya. “Tongkat baru. Tiga puluh lima senti, dedalu, de-ngan sehelai bulu ekor unicorn. Dan kami sudah membeli semua buku…” Dia menunjuk tas besar di bawah kursinya. “Bagaimana dengan Buku Monster, eh? Pelayan toko nyaris menangis waktu kami bi-lang mau beli dua.”

“Apa itu,

Hermione?” Harry bertanya, menunjuk tidak hanya satu, melainkan tiga tas besar mengge-lembung penuh isi di atas kursi di sebelah Hermione.

“Aku kan mengambil lebih banyak pelajaran baru daripada kalian berdua,” kata Hermione. “Itu buku-bukuku untuk Arithmancy, Pemeliharaan Satwa Gaib, Ramalan, Telaah Rune Kuno, Telaah Muggle…”

“Buat apa kau ikut Telaah Muggle?” kata Ron, memutarmutar bola mata kepada Harry. “Kau kan kelahiran-Muggle! Ayah dan ibumu Muggle! Kau sudah tahu segalanya tentang Muggle!” “Tapi kan akan menarik sekali mempelajarinya dari sudut pandang penyihir,” kata Hermione bergairah.

“Apa kau berencana makan dan tidur tahun ini, Hermione?” tanya Harry, sementara Ron terkikik-kikik. Hermione tidak mengacuhkan mereka.

“Aku masih punya sepuluh Galleon,” katanya, me-meriksa dompetnya. “Ulang tahunku bulan Septem-ber, dan Mum dan Dad memberiku uang untuk mem-beli sendiri hadiah ulang tahunku lebih awal.”

“Bagaimana kalau buku yang bagus?” kata Ron tanpa dosa.

“Tidak, kurasa tidak,” kata Hermione tenang. “Aku kepingin sekali punya burung hantu. Maksudku, Harry punya Hedwig dan kau punya Errol…”

“Tidak,” kata Ron. “Errol itu burung hantu keluarga. Yang aku punya hanyalah Scabbers.” Dia menarik keluar tikus peliharaannya dari dalam sakunya. “Dan aku akan memeriksakan dia,” Ron menambahkan se-raya meletakkan Scabbers di atas meja di depan me-reka. “Kurasa Mesir tidak cocok untuknya.”

Scabbers tampak lebih kurus dari biasanya, dan kumisnya jelas menjuntai.

“Ada toko satwa gaib di seberang situ,” kata Harry, yang sekarang sudah hafal betul Diagon Alley. “Siapa tahu mereka punya obat untuk Scabbers, dan Hermione bisa membeli burung hantunya.”

Maka mereka membayar es krim dan menyeberang jalan ke Magical Menagerie.

Sempit sekali di dalam. Setiap senti dinding tertutup sangkar. Toko itu bau dan bising sekali, karena semua penghuni kandang berkuak, mencicit, mengoceh, atau mendesis. Penyihir wanita penjaga toko di belakang meja pajang sedang menasihati seorang penyihir pria tentang bagaimana memelihara kadal air berkepala-dua, maka Harry, Ron, dan Hermione menunggu, sambil melihat-lihat sangkarsangkar.

Sepasang kodok besar ungu duduk, asyik melahap bangkai lalat. Seekor kura-kura raksasa dengan punggung bertatahkan permata duduk berkilau dekat jendela. Siput-siput jingga beracun merayap pelan di dinding tangki kaca mereka, dan seekor kelinci putih gemuk berkali-kali berubah menjadi topi sutra dan kembali ke sosok kelinci lagi dengan bunyi plop keras. Lalu ada juga kucing dengan segala warna, satu kandang penuh burung gagak cerewet, sekeranjang bola-bulu berwarna aneh yang bersenandung keras, dan di atas meja pajang ada kandang besar penuh tikus-tikus hitam berkilau yang beberapa di antaranya sedang bermain semacam lompat tali dengan meng-gunakan ekor mereka yang licin tak berbulu.

Categories:   Fantasi

Comments