Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Tidak,” desahku. “Bilang padanya aku berterima kasih. Aku tahu dia bermaksud baik.”

Musiknya berhenti, dan kulepaskan lenganku dari lehernya.

Tangannya masih di pinggangku, dan ia memandang kakiku yang digips. “Kau mau berdansa lagi? Atau bisakah aku membantumu bergerak ke suatu tempat?”

Edward menjawabnya untukku. “Tidak apa-apa, Jacob. Aku yang mengambil alih.”

Jacob berjengit dan dengan mata terbelalak menatap Edward yang tahu-tahu muncul di sebelah kami.

“Hei, aku tidak melihatmu di situ,” gumam Jacob. “Kalau begitu, sampai ketemu, Bella.” Ia melangkah mundur, melambai dengan setengah hati.

Aku tersenyum. “Yeah, sampai ketemu.”

“Maaf,” katanya lagi sebelum berbalik menuju pintu.

Lengan Edward telah memelukku saat lagu berikut mulai dimainkan. Iramanya sedikit cepat untuk berdansa lambat, tapi sepertinya itu tidak mengganggunya. Kusandarkan kepalaku di dadanya, merasa senang.

“Merasa lebih baik?” godaku.

“Tidak juga,” katanya singkat.

“Jangan marah pada Billy,” desahku. “Dia hanya mengkhawatirkan diriku demi kebaikan Charlie. Bukan apa-apa.”

“Aku tidak marah pada Billy,” ia meralat tajam. “Tapi anak laki-lakinya membuatku jengkel.”

Aku menarik tubuhku agar bisa memandangnya. Wajahnya sangat serius.

“Kenapa?”

“Pertama-tama dia membuatku mengingkari janjiku sendiri.”

Aku menatapnya tidak mengerti.

Ia setengah tersenyum. “Aku sudah berjanji takkan melepaskanmu malam ini,” ia menjelaskan.

“Oh. Well, aku memaafkanmu.”

“Terima kasih. Tapi ada hal lain.” Wajah Edward cemberut.

Aku menunggu dengan sabar.

“Dia menyebutmu cantik,” akhirnya ia meneruskan kata-katanya, kerutan di wajahnya semakin nyata. “Mengingat penampilanmu saat ini, itu bisa dibilang menghina. Kau lebih dari sekedar cantik.”

Aku tertawa. “Kau mungkin sedikit memihak.”

“Kurasa tidak. Lagi pula, aku punya daya lihat yang sempurna.”

Kami kembali berdansa, kakiku di atas kakinya saat ia menarikku lebih dekat.

“Jadi, apakah kau akan menjelaskan alasan untuk semua ini?” aku bertanya-tanya.

Ia menunduk menatapku, bingung, dan aku memandang pita kertas krep dengan penuh arti.

Ia berpikir sebentar kemudian mengubah arah, memutar tubuhku melewati keramaian menuju pintu belakang gym. Sekilas aku sempat melihat Jessica dan Mike yang sedang berdansa sambil memandangiku penasaran. Jessica melambai, dan aku balas tersenyum padanya. Angela juga aga di sana, tampak luar biasa bahagia dalam pelukan si kecil Ben Cheney; Angela tak pernah melepaskan pandangannya dari Ben, yang sedikit lebih pendek daripadanya. Lee, Samantha, Lauren, dan Conner menatap kami geram; aku bisa menyebutkan semua orang yang menari melewatiku. Kemudian kami sampai di luar, di bawah cahaya temaram matahari terbenam serta udara sejuk.

Begitu kami sendirian, ia menggendong dan membawaku melintasi halaman yang gelap ke bangku di bawah bayangan pepohonan madrone. Ia duduk di sana, sambil terus memelukku erat di dadanya. Bulan telah muncul di langit, tampak jelas di antara awan-awan tipis, dan wajahnya bertambah ppucat dalam cahaya putih. Mulutnya tegang, matanya resah.

“Intinya?” aku memulai dengan lembut.

Ia mengabaikanku, menatap bulan.

“Twilight, lagi,” gumamnya. “Akhir yang lain. Tak peduli bertapa sempurna sebuah hari, toh harus berakhir juga.”

“Beberapa hal tak perlu berakhir,” gumamku setengah mendesis, langsung tegang.

Ia mendesah.

“Aku membawamu ke prom,” katanya pelan, akhirnya menjawab pertanyaanku, “karena aku tak ingin kau kehilangan momen apa pun. Aku tak ingin kehadiranku menjauhkanmu dari segala peluang, kalau aku bisa membuatnya terjadi. Aku ingin kau menjadi manusia. Aku ingin hidupmu berjalan seperti seharusnya seandainya aku mati pada tahun 1918.”

Aku bergidik mendengar kata-katanya, lalu menggeleng marah. “Dalam dimensi paralel aneh manakah aku bakal pernah mau pergi ke prom atas keinginanku sendiri? Seandainya kau tidak seribu kali lebih kuat dariku, aku takkan pernah membiarkanmu membawaku kemari.

Ia tersenyum sekilas, tapi senyum itu tidak menyentuh matanya. “Kau sendiri yang bilang ini tidak terlalu buruk.”

“Itu karena aku bersamamu.”

Beberapa saat kami terdiam. Ia menatap bulan dan aku menatapnya. Kuharap ada cara untuk menjelaskan betapa aku sama sekali tidak tertarik pada kehidupan manusia yang normal.

“Maukah kau memberitahuku sesuatu?” tanyanya, menunduk, menatapku seraya tersenyum simpul.

“Bukankah aku selalu melakukannya?”

“Berjanjilah kau akan memberitahuku,” desaknya, tersenyum.

Aku tahu aku bakal langsung menyesalinya. “Baiklah.”

“Kau sepertinya benar-benar terkejut saat mengetahui aku akan membawamu ke sini,” ia memulai.

“Memang,” selaku.

“Tepat,” ia menyetujui. “Tapi kau pasti sudah punya teori lain… aku penasaran—kaupikir kenapa aku mendandanimu seperti ini?”

Benar, aku langsung menyesal. Kucibirkan bibirku, ragu-ragu. “Aku tidak ingin memberitahumu.”

“Kau sudah berjanji,” tukasnya keberatan.

“Aku tahu.”

“Apa masalahnya?”

Aku tahu ia mengira perasaan malulah yang menahanku. “Kurasa itu akan membuatmu marah—atau sedih.”

Alisnya bertaut di atas matanya saat ia memikirkannya. “Aku masih ingin tahu. Kumohon.”

Aku mendesah. Ia menunggu.

“Well… aku menduga itu semacam… acara istimewa. Tapi aku tidak berpikir ini kegiatan manusia biasa… prom!” ejekku.

“Manusia?” tanyanya datar. Ia memilih kata kuncinya.

Aku memandangi gaunku, memainkan chiffon-nya. Ia menunggu dalam diam.

“Oke,” aku buru-buru mengaku. “Aku berharap kau mungkin berubah pikiran… bahwa kau akan merubahku, akhirnya.”

Berbagai emosi muncul bergantian di wajahnya. Aku mengenali beberapa di antaranya : amarah… sedih… kemudian ia tampak senang.

“Kaupikir itu sejenis acara resmi, ya?” godanya sambil menyentuh kerah tuksedonya.

Aku cemberut untuk menyembunyikan rasa maluku. “Aku kan tidak tahu. Setidaknya bagiku ini lebih masuk akal daripada prom.” Ia masih nyengir. “Tidak lucu tahu,” kataku.

“Tidak, kau benar, ini tidak lucu,” ia menimpali, senyumnya memudar. “Meskipun begitu aku lebih suka menganggapnya lelucon, daripada percaya bahwa kau serius.”

“Tapi aku memang serius.”

Ia menghela napas dalam. “Aku tahu. Dan kau benar-benar menginginkannya?”

Kepedihan itu kembali tampak di matanya. Kugigit bibirku dan mengangguk.

“Kau siap mengakhiri ini semua,” gumamnya, nyaris kepada dirinya sendiri, “siap menjadikan ini akhir hidupmu, meskpun hidupmu bahkan belum dimulai. Kau siap merelakan semuanya.”

“Ini bukan akhir, ini baru permulaan,” sergahku, suaraku berbisik.

“Aku tidak pantas mendapatkannya,” katanya sedih.

“Kau ingat waktu kaubilang aku tidak melihat diriku sendiri dengan jelas?” tanyaku, satu alisku terangkat. “Kau sama butanya denganku.”

“Aku tahu siapa diriku.”

Aku mendesah.

Tapi suasana hatinya yang berubah-ubah mempengaruhiku. Ia mengerutkan bibir dan matanya mencari-cari. Ia mengamati wajahku lama sekali.

“Kalau begitu, kau sudah siap?” tanyanya.

“Mmm.” Kutelan liurku. “Ya?”

Ia tersenyum, lalu perlahan-lahan menunduk hingga bibirnya yang dingin menyapu kulitku tepat di sudut rahang.

“Sekarang juga?” ia berbisik, napasnya terasa sejuk di kulitku. Tanpa sadar aku gemetar.

“Ya,” bisikku, jadi suaraku tidak terdengar parau. Kalau di pikirnya aku cuma menggertak, ia bakal kecewa. Aku sudah membuat keputusan ini, dan aku yakin. Tak peduli tubuhku kaku seperti papan, kedua tanganku mengepal, napasku tak beraturan…

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.