Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Tidak, tidak,” gumamku, berusaha menghilangkan kepedihan dari suaraku. “Aku tidak membutuhkan apa-apa.” Aku tak bisa memejamkan mata sekarang.

“Tak perlu berpura-pura berani, Sayang. Sebaiknya kau tidak terlalu tegang; kau perlu beristirahat.” Ia menunggu, tapi aku hanya menggeleng.

“Baiklah,” ia mendesah. “Tekan saja tombol bantuan kalau kau sudah siap.”

Ia memandang Edward serius, dan sekali lagi melirik waswas mesin-mesin itu, lalu pergi.

“Sssstt, Bella, tenanglah.”

“Jangan tinggalkan aku,” aku memohon, suaraku parau.

“Aku takkan meninggalkanmu,” ia berjanji. “Sekarang tenanglah sebelum aku memanggil perawat untuk memberimu obat penenang.”

Tapi jantungku tak mau tenang.

“Bella.” Ia membelai wajahku hati-hati. “Aku takkan kemana-mana. Aku akan ada di sini selama kau membutuhkanku.”

“Kau bersumpah takkan meninggalkanku?” bisikku. Setidaknya aku mencoba mengendalikan napasku yang tersengal-sengal. Rusukku nyeri.

Ia meletakkan tangannya di kedua sisi wajahku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Matanya lebar dan serius. “Aku bersumpah.”

Aroma napasnya menenangkan. Sepertinya meringankan rasa nyeri yang muncul ketika aku bernapas. Ia terus menatapku sementara tubuhku pelan-pelan rileks dan suara bip mesin kambali normal. Matanya berwarna gelap, lebih mendekati hitam daripada keemasan.

“Lebih baik?” tanyanya.

“Ya,” sahutku hati-hati.

Ia menggeleng dan menggumamkan sesuatu yang tak kumengeri. Kurasa aku memilih kata ‘overreaction’—bereaksi berlebihan.

“Mengapa kau bilang begitu?” aku berbisik, menjaga suaraku agar tidak gemetaran. “Apakah kau lelah menyelamatkanku setiap saat? Kau ingin aku pergi?”

“Tidak, aku tak ingin tanpa dirimu, Bella, tentu saja tidak. Yang benar saja. Dan aku juga senang-senang saja menyelamatkanmu—jika bukan karena fakta bahwa akulah yang justru menempatkanmu dalam bahaya… bahwa akulah alasan kau berada di sini.”

“Ya, kaulah penyebabnya.” Aku merengut. “Alasan aku berada di sini—hidup-hidup.”

“Nyaris,” ia berbisik. “Dibalut perban dan plester dan nyaris tak bisa bergerak.”

“Maksudku bukan pengalaman nyaris mati yang baru saja kualami ini,” kataku, mulai jengkel. “Aku sedang memikirkan yang lain—kau boleh pilih. Kalau bukan karena kau, aku sudah membusuk di pemakaman Forks.”

Ia meringis mendengar kata-kataku, tapi raut khawatir tak juga enyah dari wajahnya.

“Meski begitu, itu bukan yang terburuk,” ia melanjutkan berbisik, seolah-olah aku tak pernah mengatakan apa-apa. “Yang terburuk bukanlah saat melihatmu di sana, terbaring di lantai… meringkuk dan terluka.” Suaranya tercekat. “Yang terburuk bukanlah berpikir bahwa aku terlambat. Bahkan bukan mendengarmu menjerit kesakitan—semua ingatan mengerikan itu akan kubawa bersamaku sepanjang masa. Bukan, yang paling parah adalah merasa… mengetahui bahwa aku tak bisa berhenti. Percaya aku sendirilah yang akan membunuhmu.”

“Tapi kau tidak membunuhku.”

“Aku bisa saja. Semudah itu.”

Aku tahu aku harus tetap tenang… tapi ia mencoba membujuk dirinya sendiri untuk meninggalkanku, dan rasa panik mencekat paru-paruku, mencoba melepaskan diri.

“Berjanjilah padaku,” aku berbisik.

“Apa?”

“Kau tahu maksudku.” Aku mulai marah sekarang. Ia benar-benar bersikeras untuk terus berpikir negatif.

Ia mendengar perubahan pada nada suaraku. Tatapannya tajam. “Sepertinya aku tak cukup kuat untuk berada cukup jauh darimu, jadi kurasa kau akan menemukan caranya… entah itu akan membunuhmu atau tidak,” ia menambahkan dengan kasar.

“Bagus.” Meski begitu ia tidak berjanji—fakta itu tak terlewatkan olehku. Kepanikanku nyaris tak terbendung; tak ada lagi kekuatan yang tersisa dalam diriku untuk mengendalikan amarahku. “Kau memberitahuku bagaimana kau berhenti… sekarang aku mau tahu kenapa,” desakku.

“Kenapa?” ulangnya hati-hati.

“Kenapa kau melakukannya. Kenapa kau tak membiarkan racunnya menyebar? Saat ini aku akan sama seperti dirimu.”

Mata Edward sepertinya berubah hitam, dingin, dan aku ingat, ia tak ingin aku mengetahui hal seperti ini. Alice pasti terlalu disibukkan oleh hal-hal tentang dirinya yang baru diketahuinya… atau ia sangat berhatihati dengan pikirannya ketika ia berada di sekitar Edward—jelas Edward tidak tahu Alice telah memberitahuku tentang penciptaan vampir. Ia terkejut, marah. Lubang hidungnya kembang-kempis, mulutnya seolah dipahat dari batu.

Ia tidak akan menjawan, itu sangat jelas.

“Aku akan menjadi yang pertama mengakui bahwa aku tak berpengalaman menjalin hubungan,” kataku. “Tapi kelihatannya masuk akal… seorang laki-laki dan perempuan seharusnya sederajat… salah satu dari mereka tak bisa selalu menghambur dan menyelamatkan yang lain. Mereka harus saling menyelamatkan satu sama lain.”

Ia melipat tangan dan meletakkannya di sisi tempat tidurku, lalu meletakkan dagunya di sana. Raut wajahnya lembut, kemarahannya mereda. Sepertinya ia telah memutuskan ia tidak marah padaku. Kuharap aku punya kesempatan untuk mengingatkan Alice sebelum Edward menemuinya.

“Kau telah menyelamatkanku,” katanya pelan.

“Aku tidak bisa selalu menjadi Lois Lane,” aku berkeras. “Aku juga ingin jadi Superman.”

“Kau tidak tahu apa yang kauminta.” Suaranya lembut; ia menatap lekat-lekat ujung sarung bantal.

“Kurasa aku tahu.”

“Bella, kau tidak tahu. Aku telah melewati hampir sembilan puluh tahun memikirkan hal ini, dan aku masih tidak yakin.”

“Apakah kau berharap Carlisle tidak menyelamatkanmu?”

“Tidak, aku tidak berharap begitu.” Ia berhenti sebelum melanjutkan, “tapi hidupku sudah berakhir. Aku tidak menyerahkan apa pun.”

“Kaulah hidupku. Hanya kehilangan dirimu yang bisa menyakitiku.” Aku semakin baik dalam hal ini. Mudah rasanya mengakui betapa aku sangat membutuhkannya.

Meski begitu ia sangat tenang. Yakin.

“Aku tak bisa melakukannya, Bella. Aku takkan melakukannya padamu.”

“Kenapa tidak?” Tenggorokanku tercekat dan ucapanku tak selantang yang kuinginkan. “Jangan bilang padaku itu terlalu sulit untukmu! Setelah hari ini, atau kurasa beberapa hari yang lalu… setelah itu ,seharusnya bukan apa-apa.”

Ia menatap geram padaku.

Dan rasa sakitnya?” tanyanya.

Wajahku memucat. Aku tak bisa menahannya. Tapi aku berusaha menjaga ekspresiku hingga tak kelihatan bertapa jelas aku mengingat rasanya… api dalam nadiku.

“Itu masalahku,” kataku. “Aku bisa mengatasinya.”

“Sangat mungin untuk bersikap berani hingga pada titik keberanian itu berubah jadi kegilaan.”

“Bukan masalah. Tiga hari. Sama sekali bukan masalah.”

Edward meringis lagi saat kata-kataku mengingatkannya bahwa aku tahu lebih banyak daripada yang mungkin diharapkannya. Aku melihatnya berusaha menekan amarah, memperhatikan saat matanya mulai bertanya-tanya.

“Charlie?” tanyanya tiba-tiba. “Renée?”

Waktu berlalu dalam keheningan saat aku berusaha menjawab. Aku membuka mulut, tapi tak ada suara yang keluar. Aku menutupnya lagi. Ia menunggu, kemudian ekspresinya berganti menjadi kemenangan karena tahu aku tidak mengetahui jawabannya.

“Begini saja, itu juga bukan masalah,” gumamku akhirnya; suaraku terdengar sama sekali tidak meyakinkannya seperti setiap kalu aku berbohong. “Renée selalu membuat keputusan yang menurut dia benar—dia ingin aku melakukan yang sama. Dan Charlie lebih fleksibel, dia terbiasa hidup sendirian. Aku tak bisa menjaga mereka selamanya. Aku punya kehidupan sendiri yang harus kujalani.”

“Tepat sekali,” tukasnya. “Dan aku tak ingin mengakhirinya.”

“Kalau kau menungguku hingga sekarat, ada kabar baik untukmu! Aku baru saja mengalaminya!”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.