Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Aku terus menunduk dan mengintip sekilas dari balik bulu mataku. Tak satupun dari mereka melihat ke arahku. Aku sedikit mengangkat kepala.

Mereka sedang tertawa. Edward, Jasper, dan Emmett rambut mereka berlumur salju yang meleleh. Alice dan Rosalie menjauhkan diri ketika Emmett mengibaskan rambutnya yang basah ke arah mereka. Mereka menikmati hari bersalju, seperti anak-anak lainnya—hanya saja mereka lebih mirip adegan film ketimbang kami.

Tapi terlepas dari tawa dan keceriaan itu, ada sesuatu yang berbeda, dan aku tak dapat mengatakan dengan pasti apa itu. Aku mengamati Edward dengan sangat saksama. Warna kulitnya sudah tidak terlalu pucat—barangkali memerah akibat perang-perangan salju—lingkaran di bawah matanya juga sudah tidak terlalu kentara. Tapi ada sesuatu. Aku memikirkannya lagi sambil memandangi mereka, berusaha menemukan perbedaan itu.

“Kau sedang menatap apa, Bella?” Jessica membuyarkan lamunanku, matanya mengikuti arah pandanganku.

Pada saat bersamaan mata Edward bersirobok dengan mataku.

Aku menunduk, kubiarkan rambutku terurai menutupi wajah. Meski begitu aku yakin, saat sekilas mata kami beradu pandang itu, ia tidak terlihat kasar atau tak bersahabat seperti terakhir kali aku bertemu dengannya. Ia hanya kelihatan penasaran, seperti tidak puas.

“Edward Cullen menatapmu,” Jessica berbisik di telingaku sambill cekikikan.

“Dia tidak kelihatan marah, iya kan?” Aku tidak bisa menahan diri.

“Tidak,” kata Jessica, terdengar bingung dengan pertanyaanku. “Apakah seharusnya dia marah?”

“Sepertinya dia tidak suka padaku,” jawabku jujur. Aku masih gelisah. Ketelungkupkan kepalaku di tangan.

“Keluarga Cullen tidak menyukai siapapun… well, mereka memang tidak mempedulikan siapa-siapa. Tapi dia masih memandangimu.”

“Sudah, jangan dilihat lagi,” desisku.

Jessica mendengus, tapi toh dia mengalihkan pandangan. Kuangkat kepalaku sedikit untuk memastikan, dan bermaksud mengancamnya kalau dia menolak.

Lalu Mike menyela kami—ia merencanakan perang salju di lapangan parkir seusai jam sekolah dan ingin kami bergabung. Dengan penuh semangat Jessica menyetujuinya. Dari caranya menatap Mike, aku ragu ia akan menolak apapun yang disarankan cowok itu. Aku diam saja. Aku harus bersembunyi di gymnasium sampai lapangan parkir sepi.

Selama sisa waktu makan siang, dengan sangat hati-hati kuarahkan pandanganku ke mejaku sendiri. Kuputuskan untuk melaksanakan ideku tadi. Berhubung ia tidak kelihatan marah, aku akan ikut pelajaran Biologi. Perutku sedikit mulas ketika membayangkan akan duduk bersebelahan lagi dengannya.

Aku benar-benar tak ingin berjalan ke kelas bareng Mike seperti biasa—sepertinya ia sasaran empuk para pelempar bola salju— tapi ketika kami berjalan menuju kelas, semua orang kecuali aku serempak mengeluh. Hujan turun, membuat salju disepanjang jalan setapak mencair. Aku menaikkan tudung jaket, menyembunyikan perasaan senangku. Artinya aku bebas, bisa langsung pulang setelah kelas Olahraga.

Mike terus mencerocos, dan mengeluh sepanjang perjalanan menuju gedung 4.

Begitu tiba di kelas, aku lega karena mejaku masih kosong. Mr. Banner sedang berjalan mengelilingi kelas, membagikan mikroskop dan sekotak slide untuk masing-masing meja. Selama beberapa menit pelajaran belum juga dimulai, dan ruangan langsung bergema dengan anak-anak yang mengobrol. Aku terus menjauhkan pandangan dari pintu, iseng-iseng menggambari sampul buku catatanku.

Aku mendengar sangat jelas ketika kursi disebelahku bergeser, tapi mataku tetap terarah pada gambarku.

“Halo,” kudengar suara merdu dan tenang.

Aku mendongak, terkejut karena Edward-lah yang sedang berbicara padaku. Ia duduk sejauh mungkin hingga ujung meja, tetapi kursinya diarahkan padaku. Air menetes dari rambutnya, berantakan—meski begitu ia terlihat seperti baru saja selesai syuting iklan gel rambut. Wajahnya yang mempesona tampak bersahabat, senyum tipis mengembang di bibirnya yang sempurna. Tapi matanya tampak hati-hati.

“Namaku Edward Cullen,” lanjutnya. “Aku tidak sempat memperkenalkan diri minggu lalu. Kau pasti Bella Swan.”

Saking bingungnya, kepalaku sampai pusing. Apakah aku selama ini berkhayal? Sekarang ia sangat sopan. Aku harus bicara, ia menunggu. Tapi aku tak bisa mengatakan apapun yang wajar.

“Bagaimana kau tahu namaku?” tanyaku terbata-bata.

Ia tertawa lembut, tawa yang menyenangkan.

“Oh, kurasa semua orang tahu namamu. Seluruh kota telah menantikan kedatanganmu.”

Aku nyengir. Sudah kuduga jawabannya akan seperti ini.

“Tidak,” bantahku bodoh. “Maksudku, kenapa kau memanggilku Bella?”

Ia tampak bingung. “Kau mau dipanggil Isabella?”

“Tidak, aku lebih suka Bella,” kataku. “Tapi kupikir Charlie—maskudku ayahku—pasti memanggilku Isabella di belakangku—pasti itulah yang diketahui orang-orang sini,” aku mencoba menjelaskan, benar-benar merasa seperti orang bodoh.

“ Oh,” ia tidak meneruskan. Aku memalingkan wajah malu-malu.

Untungnya Mr. Banner memulai pelajaran saat itu juga. Aku mencoba berkonsentrasi mendengarkan saat dia mencoba menjelaskan tentang apa yang akan kami lakukan hari ini. Slide dalam kotak tak dapat digunakan. Bersama partner masing-masing, kita harus memisahkan slide akar bawang merah dengan tahapan mitosis yang mereka repretansikan dan diberi label sesuai identitas mereka. Kami tidak diperbolehkan membaca buku. Dalam 20 menit ia akan berkeliling untuk melihat siapa yang melakukannya dengan benar.

“Mulai!” perintahnya.

“Kau duluan, partner?” tanya Edward. Aku mengangkat kepala dan kulihat ia tersenyum lebar begitu menawannya sampai-sampai aku hanya memandanginya seperti orang idiot.

“Atau aku bisa memulainya kalau kau mau.” Senyum itu memudar, jelas ia mengira aku tidak kompeten melakukannya.

“Tidak,” kataku, wajahku merah padam. “Aku akan memulainya.”

Aku memamerkan kemampuanku, hanya sedikit. Aku pernah melakukan percobaan ini, dan tahu apa yang harus kucari. Seharusnya mudah. Aku menaruh slide pertama di bawah mikroskop dan langsung menyesuaikan pembesarannya menjadi 40x. Kupelajari slide-nya sebentar.

Aku yakin dengan pengamatanku. “Profase.”

“Boleh aku melihatnya?” pintanya ketika aku mulai memindahkan slide-nya. Edward mencoba menghentikannya dengan memegang tanganku. Jari-jarinya dingin bagai es, seolah ia baru saja menggengam tumpukan salju sebelum kelas dimulai. Tapi bukan itu yang membuatku buru-buru menarik tangan. Ketika ia menyentuhku, jarinya menyengatku bagai aliran listrik.

“Maaf,” gumamnya pelan, langsung meraih tangannya. Bagaimanapun, ia tetap meraih mikroskop. Meski masih kaget, aku memperhatikannya mengamati slide lebih cepat daripada yang kulakukan tadi.

“Profase,” dia setuju, dan menuliskannya dengan rapi pada halaman pertama lembar kerja kami. Ia langsung mengganti slide pertama dengan yang kedua, lalu melihatnya sepintas lalu.

“Anafase,” gumamnya, sambil menulis.

Aku berusaha terdengar tidak peduli. “Boleh kulihat?”

Ia tertawa mengejek, dan mendorong mikroskop ke arahku.

Aku mengamati lewat lubang mikroskop dengan penasaran, dan merasa kecewa karena dugaanku salah. Sial, ia benar.

“Slide 3?” Kuulurkan tanganku tanpa memandangnya.

Ia menyerahkannya padaku, sepertinya berhati-hati untuk tidak menyentuhku lagi.

Aku berusaha mengenalinya secepat aku bisa.

“Interfase.” Aku mengoper mikroskop sebelum ia memintanya. Ia mengintip sebentar, lalu menuliskannya. Aku bisa saja menuliskannya selagi ia mengamati, tapi tulisan tangannya jelas rapi dan membuatku minder. Aku tak ingin merusak lembar kerja kami dengan tulisan cakar ayamku.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.