Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Aku tahu, Bella. Carlisle akan memberimu sesuatu, rasa sakitnya akan berhenti.”

“Tanganku terbakar!” aku berteriak, akhirnya terbebas dari kegelapan, mataku perlahan-lahan membuka. Aku tak dapat melihat wajah Edward, sesuatu yang gelap dan hangat membayangi mataku. Kenapa mereka tidak bisa melihat apinya dan memadamkannya?

Suaranya terdengar ngeri. “Bella?”

“Apinya! Tolong matikan apinya!” aku menjerit saat rasa panas itu membakarku.

“Carlisle! Tanggannya!”

“Dia menggigitnya.” Suara Carlisle tak lagi tenang, melainkan terkejut.

Aku mendengar Edward menghela napas ngeri.

“Edward, kau harus melakukannya.” Itu suara Alice, didekat kepalaku. Jari-jari dingin mengusap kelembapan di kedua mataku.

“Tidak!” ia berteriak.

“Alice,” aku mengerang.

“Mungkin ada kesempatan,” kata Carlisle.

“Apa?” Edward memohon.

“Coba lihat apakah kau bisa mengisap racunnya keluar. Lukanya cukup bersih.” Saat Carlisle bicara, aku bisa merasakan kepalaku semakin tertekan, ada yang berdenyut-denyut di kulit kepalaku. Rasa sakitnya kalah oleh rasa sakit yang ditimbulkan oleh api itu.

“Apakah akan berhasil?” tanya Alice tegang.

“Aku tidak tahu,” sahut Carlisle. “Tapi kita harus bergegas.”

“Carlisle, aku…” Edward ragu. “Aku tak tahu apakah aku bisa melakukannya.” Ada kepedihan dalam suara indahnya lagi.

“Itu keputusanmu, Edward, apa pun itu. Aku tak bisa menolongmu. Aku harus menghentikan pendarahannya, kalau kau akan mengisap darah dari tangannya.”

Aku mengeliat dalam cengkraman rasa sakit yang kuat, membuat rasa sakit di kakiku muncul lagi.

“Edward!” jeritku. Aku tahu mataku kembali terpejam. Aku membukanya, begitu putus asa menemukan wajahnya. Dan aku melihatnya. Akhirnya, aku melihat wajahnya yang sempurna memandangku, pergulatan antara kebimbangan dan kepedihan tampak nyata disana.

“Alice, cari sesuatu untuk menahan kakinya!” Carlisle membungkuk di depanku, membereskan luka di kepalaku. “Edward, kau harus melakukannya sekarang, atau akan terlambat.”

Wajah Edward tampak lelah. Aku memperhatikan matanya saat kebimbangan itu tiba-tiba berganti menjadi tekad yang membara. Rahangnya mengeras. Aku merasakan jemarinya yang kuat dan sejuk di tanganku yang terbakar, menahannya. Kemudian kepalanya menunduk ke atasnya, bibirnya yang dingin menekan kulitku.

Awalnya rasa sakit itu semakin parah. Aku menjerit dan meronta dari cengkraman sejuk yang menahanku. Aku mendengar suara Alice, berusaha menenangkan diri. Sesuatu yang berat menekan kakiku di lantai, dan Carlisle menahan kepalaku dengan tangannya yang keras bagai batu.

Kemudian, perlahan, saat tanganku mati rasa, aku pun tenang. Sengatan terbakar di tanganku mulai berkurang hingga tak lagi terasa.

Aku mulai sadarkan diri saat rasa sakit itu lenyap. Aku takut jatuh lagi ke dalam air yang gelap, takut akan kehilangan dirinya di kegelapan.

“Edward,” aku mencoba bicara, tapi tak dapat mendengar suaraku. Namun mereka bisa.

“Dia disini, Bella.”

“Tinggallah, Edward, tinggallah bersamaku…”

“Ya, aku akan bersamamu.” Suaranya tegang, tapi terselip nada kemenangan disana.

Aku mendesah bahagia. Api itu lenyap, rasa sakit yang lain memudar berganti rasa kantuk yang melanda diriku.

“Sudah keluar semua?” Carlisle bertanya dari jauh.

“Darahnya bersih,” kata Edward pelan. “Aku bisa merasakan obat penghilang sakitnya.”

“Bella?” Carlisle mencoba memanggilku.

Aku berusaha menjawabnya. “Mmmm?”

“Apakah apinya sudah hilang?”

“Ya,” desahku. “Terima kasih, Edward.”

“Aku mencintaimu,” jawabnya.

“Aku tahu,” aku menghela napas, rasanya sangat lelah.

Aku mendengar suara favoritku di dunia ini : tawa pelan Edward, letih karena perasaan lega.

“Bella?” Carlisle bertanya lagi.

Dahiku berkerut, aku ingin tidur. “Apa?”

“Dimana ibumu?”

“Di Florida,” aku mendesah. “Dia mengelabuhiku, Edward. Dia menonton video rekaman kami.” Kemarahan dalam suaraku terdengar lemah.

Tapi itu membuatku teringat.

“Alice.” Aku mencoba membuka mata. “Alice, videonya—dia tahu tentang kau, Alice, dia tahu darimana asalmu.” Aku bermaksud mengatakannya saat itu juga, tapi suaraku lemah. “Aku mencium bau bensin,” aku menambahkan, tersadar dari kabut yang menggelayuti pikiranku.

“Sudah saatnya memindahkannya,” kata Carlisle.

“Tidak, aku ingin tidur,” aku menolak.

“Kau bisa tidur, Sayang, aku akan menggendongmu,” Edward menenangkanku.

Dan akupun berada dalam pelukannya, meringkuk didadanya—melayang-layang, semua sakitnya hilang.

“Sekarang tidurlah, Bella,” adalah kata-kata terakhir yang kudengar.

 

24. Jalan buntu

Ketika terbangun aku melihat cahaya putih terang. Aku berada di ruang yang asing, ruang putih. Dinding di sebelahku tertutup tirai yang memanjang dari atas hingga bawah; di atas kepalaku, cahaya terang menyilaukan pandangan. Aku dibaringkan di tempat tidur keras—dengan besi pengaman. Bantal-bantalnya kempis dan kasar. Ada bunyi bip yang menggangu tak jauh dariku. Aku berharap itu artinya aku masih hidup. Kematian tak seharusnya tidak senyaman ini.

Tangan-tanganku dipenuhi slang infus, dan ada sesuatu direkatkan di wajahku, di bawah hidung. Kuangkat tanganku untuk melepaskannya.

“Jangan, tidak boleh.” Jari-jari dingin menangkap tanganku.

“Edward?” Aku menoleh sedikit, dan wajahnya yang indah hanya beberapa senti darik, ia meletakkan dagunya di ujung bantal. Sekali lagi aku menyadari diriku masih hidup, kali ini dengan perasaan bersyukur dan bahagia. “Oh, Edward, aku benar-benar menyesal!”

“Ssssttt,” ia menyuruhku diam. “Sekarang semuanya baik-baik saja.”

“Apa yang terjadi?” Aku tak bisa mengingat dengan jelas, dan pikiranku memberontak saat mencoba mengingatnya.

“Aku nyaris terlambat. Aku bisa saja terlambat,” ia berbisik, suaranya terdengar menyesal.

“Aku bodoh sekali, Edward. Kupikir dia menyandera ibuku.”

“Dia mengelabuhi kita semua.”

“Aku harus menelepon Charlie dan ibuku,” samar-samar aku ingat untuk melakukannya.

“Alice sudah telepon mereka. Renée ada di sini—well, di sini, di rumah sakit ini. Dia sedang mencari makan.”

“Dia di sini?” Aku mencoba duduk, tapi kepalaku semakin pusing, dan tangannya yang lembut menahanku di bantal.

“Sebentar lagi dia kembali,” Edward berjanji. “Dan kau belum boleh bergerak.”

“Tapi apa yang kau katakan padanya?” tanyaku panik. Aku sama sekali tak ingin ditenangkan. Ibuku ada di sini, dan aku sedang dalam pemulihan setelah serangan vampir. “Kenapa kau memberitahunya aku ada di sini?”

“Kau jatuh dari dua deret tangga lalu dari jendela.” Ia berhenti. “Harus kuakui, itu mungkin saja terjadi.”

Aku mendesah dan rasanya nyeri sekali. Aku memandangi tubuhku di balik selimut, kakiku bengkak.

“Seberapa buruk keadaanku?” aku bertanya.

“Kakimu patah, begitu juga empat rusukmu, beberapa bagian tengkorakmu rusak, memar hampir di sekujur tubuh, dan kau kehilangan banyak darah. Mereka memberimu transfusi. Aku tidak menyukainya— sesaat aromamu jadi berbeda.”

“Itu pasti perubahan yang baik untukmu.”

“Tidak, aku menyukai aromamu yang asli.”

“Bagimana kau melakukannya?” tanyaku pelan. Ia langsung tahu maksudku.

“Aku tak yakin.” Ia memalingkan wajah dari tatapanku yang bertanya-tanya, mengangkat tanganku yang dibalut perban dan menggenggamnya lembut dalam tangannya, berhati-hati agar tidak mengenai kabel yang terhubung dengan salah satu monitor.

Aku menunggu jawabannya dengan sabar.

Ia mendesah tanpa membalas tatapanku. “Rasanya mustahil… untuk berhenti,” ia berbisik. “Mustahil. Tapi aku melakukannya.” Akhirnya ia memandangku, setengah tersenyum. “Aku harus mencintaimu.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.