Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Tidak.”

“Aku menyesal mendengarnya. Aku berharap kau bisa lebih kreatif lagi daripada itu. Menurutmu, apakah kau bisa melarikan diri dari mereka bila nyawa ibumu bergantung pada hal itu? Jawab ya atau tidak.”

Entah bagaimana, harus ada cara. Aku ingat kami pernah akan pergi ke Bandara. Sky Harbour International Airport: penuh sesak, memusingkan…

“Ya.”

“Itu lebih baik. Aku yakin takkan mudah, tapi seandainya aku mendapat sedikit saja petunjuk bahwa kau bersama seseorang, well, itu akan sangat buruk bagi ibumu.” Suara ramah itu mengancam. “Saat ini kau pasti sudah mengetahui cukup banyak tentang kami hingga menyadari betapa aku bisa segera tahu jika kau mencoba mengajak seseorang bersamamu. Dan betapa singkatnya waktu yang kubutuhkan untuk membereskan ibumu bila diperlukan. Kau mengerti? Jawab ya atau tidak.”

“Ya.” Suaraku parau.

“Bagus sekali, Bella. Sekarang inilah yang harus kaulakukan. Aku ingin kau pergi ke rumah ibumu. Di sebelah telepon adan sebuah nomor. Teleponlah, dan aku akan memberitahumu kemana kau harus pergi selanjutnya.” Aku sudah tahu kemana aku akan pergi, dan dimana ini akan berakhir. Tapi aku akan mengikuti setiap perintahnya dengan tepat. “Bisakah kau melakukannya? Jawab ya atau tidak.”

“Ya.”

“Sebelum siang, kumohon, Bella. Waktuku tidak banyak,” katanya sopan.

“Dimana Phil?” aku langsung bertanya.

“Ah, hati-hati, Bella. Kumohon, tunggu sampai aku menyuruhmu bicara.”

Aku menunggu.

“Ini penting, nah, jangan buat teman-temanmu curiga saat kau kembali pada mereka. Bilang ibumu menelepon dan kau sudah membujuknya agar tidak pulang ke rumah untuk sementara waktu. Sekarang ulangi kata-kataku ‘ Terima kasih, Mom.’ Katakan sekarang.”

“Terima kasih, Mom.” Air mataku menetes. Aku mencoba menahannya.

“Katakan, ‘Aku mencintaimu, Mom, sampai ketemu.’ Katakan sekarang.”

“Aku mencintaimu, Mom.” Suaraku terdengar dalam. “Sampai ketemu,” aku berjanji.

“Selamat tinggal, Bella. Aku menantikan bertemu denganmu lagi.” Ia menutup telepon.

Aku menempelkan telepon di telingaku. Sendi-sendiku kaku karena rasa takut yang amat sangat—aku tak dapat meregangkan jemariku untuk melepaskan telepon itu.

Aku tahu aku harus berpikir, tapi kepalaku dipenuhi suara panik ibuku. Detik demi detik berlalu saat aku berjuang mengendalikan diri.

Perlahan, amat perlahan, pikiranku mulai menembus dinding sakit. Menyusun rencana. Karena sekarang aku hanya punya 1 pilihan : pergi ke ruang cermin dan mati. Aku tak memiliki jaminan, tak ada yang bisa kuberikan agar ibuku tetap hidup. Aku hanya bisa berharap James akan merasa puas karena memenangkan pertandingan, bahwa mengalahkan Edward cukup baginya. Keputusasaan mencengkramku; tak ada cara untuk bernegosiasi, tak ada yang bisa kutawarkan atau kupertahankan yang bisa mempengaruhinya. Tapi aku masih tidak punya plihan. Aku harus mencoba.

Aku mengesampingkan kekuatanku sebisa mungkin. Keputusanku sudah bulat. Tak ada gunanya membuang-buang waktu meratapi hasilnya. Aku harus berpikir dengan baik, karena Alice dan Jasper menungguku, dan menghindari mereka adalah sangat penting sekaligus sangat mustahil.

Tiba-tiba aku beryukur Jasper sedang keluar. Seandainya dia berada disini dan merasakan kepedihanku selama 5 menit terakhir ini, bagaimana aku bisa mencegah mereka agar tidak curiga? Aku kembali menelan ketakutan dan kekhawatiranku, mencoba mengenyahkannya. Aku tak boleh takut sekarang. Aku tak tahu kapan Jasper akan kembali.

Aku berkonsentrasi pada rencana melarikan diri. Aku harus berharap pengenalanku akan kondisi bandara bakal membantuku. Entah bagimana aku harus menjauhkan Alice.

Aku tahu Alice berada di ruangan lain menungguku, penasaran. Tapi aku harus membereskan 1 hal lagi selagi sendirian, sebelum Jasper kembali.

Aku harus menerima kanyataan bahwa aku takkan bertemu Edward lagi, takkan ada pertemuan terkahir sebelum aku ke ruangan cermin. Aku akan menyakitinya, dan aku tak bisa mengucapkan selamat tinggal. Kubiarkan gelombang penyiksaan menyapu diriku sebentar, kemudian aku mengesampingkannya juga, dan pergi menemui Alice.

Satu-satunya ekspresi yang bisa kuperlihatkan adalah muram. Aku melihatnya waswas, dan aku tidak menunggunya bertanya. Aku hanya punya 1 skenario dan sekarang aku takkan bisa berimprovisasi.

“Ibuku khawatir, ia ingin pulang. Tapi tenang saja, aku berhasil meyakinkannya untuk tetap disana.” Suaraku lemas.

“Kami akan memastikan dia baik-baik saja, Bella, jangan khawatir.”

Aku berpaling, aku tak bisa membiarkannya melihat wajahku.

Mataku tertuju pada lembaran kosong memo hotel di atas meja. Perlahan-lahan aku menghampirinya, sebuah rencana mulai tesusun di benakku. Disana juga ada amplop. Bagus.

“Alice,” kataku pelan, tanpa berbalik, menjaga suaraku tetap tenang. “Kalau aku menulis surat untuk ibuku, maukah kau memberikannya padanya? Maksudku, meninggalkan suratnya di rumahnya?”

“Tentu saja, Bella.” Suaranya terdengar hati-hati. Ia bisa melihat kegelisahanku. Aku harus bisa lebih menguasai emosiku.

Aku masuk lagi ke kamar, dan berlutut di sebelah meja kecil disisi tempat tidur untuk menulis surat.

“Edward,” tulisku. Tanganku gemetaran, tulisanku nyaris tak terbaca

Aku mencintaimu. Aku sangat menyesal. Ia menyandera ibuku, dan aku harus berusaha. Aku ta

hu ini mungkin tak berhasil. Aku teramat menyesal.

Jangan marah pada Alice dan Jasper. Kalau aku bisa kabur dari pengawasan mereka, itu namanya

mukzizat. Sampaikan rasa terima kasihku kepaada mereka.Terutama pada Alice, kumohon…

Dan kumohon dengan sangat jangan mengejarnya. Kurasa, itulah yang ia inginkan. Aku takkan tah

an bila ada yang harus menderita karena aku, apalagi kau. Kumohon, hanya ini yang bisa kuminta dari

mu saat ini. Demi aku.

Aku mencintaimu. Maafkan aku.

Bella

Kulipat surat itu dengan hati-hati, dan memasukkannya ke amplop. Akhirnya Edward toh akan menemukannya juga. Aku hanya berharap dia mengerti, dan mau mendengarku sekali ini saja.

Kemudian dengan hati-hati kututup hatiku.

 

 

22. Petak umpet

Butuh waktu jauh lebih sedikit dari yang kuduga—semua ketakutan, keputusasaan, kehancuran hatiku. Detik demi detik berlalu lebih lambat daripada biasanya. Jasper belum kembali ketika aku akhirnya menghampiri Alice. Aku takut berada satu ruangan dengannya, takut ia akan menebaknya… tapi juga takut bersembunyi darinya untuk alasan yang sama.

Seharusnya aku tahu aku takkan mungkin sanggup terkejut, pikiranku begitu tersiksa dan labil, tapi aku toh terkehut juga saat melihat Alice membungkuk di meja, mencengkeram tepiaannya dengan kedua tangan.

“Alice?”

Ia tidak bereaksi ketika aku memanggil namanya, tapi kepalanya perlahan bergerak dari satu sisi ke sisi yang lain, dan aku melihat wajahnya. Tatapannya hampa, terpana… Pikiranku melayang pada ibuku. Apakah aku sudah terlambat?”

Aku bergegas ke sisinya, otomatis menyentuh tangannya.

“Alice!” seru Jasper, muncul tepat di belakang Alice, kedua tangannya memeluk tangan Alice, melepaskan cengkramannya dari meja. Dari seberang ruangan, pintu menutup dengan bunyi klik pelan.

“Ada apa?” desak Jasper.

Alice memalingkan wajah dariku dan membenamkannya di dada Jasper. “Bella,” katanya.

“Aku di sini,” balasku.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.