Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Jam di TV menunjukkan baru lewat pukul 2 pagi. Alice dan Jasper duduk di sofa, Alice membuat sketsa sementar Jasper mengintip dari bahunya. Mereka tidak mendongak saat aku masuk, terlalu asyik memperhatikan gambar yang dibuat oleh Alice.

Aku berjinjit ke sisi Jasper untuk mengintip.

“Apakah dia melihat sesuatu yang baru?” aku bertanya pelan pada Jasper.

“Ya. Sesuatu membawa James kembali ke ruangan ber-VCR, hanya saja kali ini keadaannya terang.”

Aku melihat Alice menggambar ruang persegi dengan balok-balok berwarna gelap pada langit-langitnya yang rendah. Dinding-dindingnya berpanel kayu, agak terlalu gelap, ketinggalan zaman. Lantainya diselimuti karpet berpola warna gelap. Di dinding di sebelah selatan ada jendela besar. Di ambang terbuka di dinding sebelah barat ada ruang tamu. Satu sisi ambang itu terbuat dari batu—perapian dari batu cokelat yang ternuka ke dua ruangan itu. TV dan VCR ditaruh diatas lemari pajang kayu yang kelewat kecil di sudut barat daya ruangan. Sofa panjang kuno terletak di depan TV, meja tamu yang bundar berdiri di depannya.

“Teleponnya di sebelah sana,” bisikku, sambil menunjuk.

Dua pasang mata yang abadi menatapku.

“Itu rumah ibuku.”

Alice telah bangkit dari sofa, telepon di tangan, menekan nomor. Aku menatap ruang keluarga rumah ibuku yang amat tepat itu. Tidak seperti biasa Jasper mendekatiku. Dengan lembut ia menyentuh bahuku, dan kontak fisik itu sepertinya dilakukan untuk membuat kemampuan menenangkannya lebih kuat lagi. Kepanikanku tetap samar, tidak fokus.

Bibir Alice bergetar akibat kecepatan ucapannya, suara dengung pelan itu mustahil ditangkap. Aku tak bisa berkonsentrasi.

“Bella,” kata Alice. Aku menatapnya hampa.

“Bella, Edward akan datang menjemputmu. Dia, Emmett, dan Carlisle akan membawamu ke suatu tempat, menyembunyikanmu untuk sementara waktu.”

“Edward akan datang?” Kata-kata itu bagikan pelampung penyelamat, menjaga kepalaku tetap terapung.

“Ya, dia akan naik penerbangan pertama dari Seattle. Kita akan menemuinya di bandara, dan kau akan pergi bersamanya.”

“Tapi ibuku… dia kesini untuk mengincar ibuku, Alice!” Terlepas dari kemampuan Jasper, kepanikan terdengar jelas dalam suaraku.

“Jasper dan aku akan tinggal sampai ibumu aman.”

“Aku tak bisa menang, Alice. Kau tak bisa menjaga semua orang yang kukenal selamanya. Tidakkah kau mengerti apa yang dilakukannya? Dia sama sekali tidak memburuku. Dia akan menemukan seseorang, dia akan melukai orang yang kucintai… Alice, aku takkan bisa—”

“Kami akan menangkapnya, Bella,” ia meyakinkanku.

“Dan bagaimana kalau kau terluka, Alice? Kaupikir aku bisa menerimanya? Kaupikir hanya keluarga manusiaku yang bisa digunakannya untuk menyakitiku?”

Alice menatap Jasper penuh arti. Kabut tebal kelelahan menyapuku, dan mataku terpejam tanpa bisa kukendalikan. Pikiranku mencoba melawan kabut itu, menyadari apa yang sedang terjadi. Aku memaksa membuka mataku dan berdiri, menjauhkan diri dari tangan Jasper.

“Aku tak ingin tidur lagi,” bentakku.

Aku berjalan ke kamar dan menutup pintu, sebenarnya membantingnya, supaya bisa mengeluarkan semua perasaanku tanpa ada yang melihat. Kali ini Alice tidak mengikutiku. Selama tiga setengah jam aku menatap dinding, meringkuk, bergoyang-goyang. Pikiranku berputar-putar, mencari cara untuk keluar dari mimpi buruk ini. Tak ada jalan keluar, tak ada kompromi. Aku hanya bisa melihat satu-satunya akhir yang menghadang masa depanku. Satu-satunya pertanyaan adalah, berapa banyak lagi orang yang harus terluka sebelum aku mencapainya.

Satu-satunya penghiburan, satu-satunya harapan yang tersisa adalah aku akan segera bertemu Edward. Barangkali, kalau bisa melihatt wajahnya lagi, aku juga bisa melihat pemecahan masalah yang tak terlihat olehku sekarang.

Ketika telepon berbunyi aku kembali ke ruang depan, merasa sedikit malu dengan sikapku. Kuharap aku tak menyinggung perasaan mereka, bahwa mereka tahu betapa aku bersyukur atas pengorbanan yang mereka lakukan untukku.

Alice berbicara dengan sangat cepat seperti biasa, tapi yang menarik perhatianku adalah, untuk pertama kalinya Jasper tak ada di ruangan itu. Aku melihat jam—pukul 5.30.

“Mereka baru saja lepas landas,” Alice memberitahu. “Mereka akan mendarat pukul 09.45.” Hanya beberapa jam lagi sebelum Edward tiba disini.

“Dimana Jasper?”

“Dia pergi untuk check out.”

“Kalian tidak menginap disini?”

“Tidak, kami akan pindah ke tempat yang lebih dekat dengan rumah ibumu.”

Perutku melilit mendengar kata-katanya.

Tapi telepon berbunyi lagi, mengalihkan perhatianku. Alice tampak terkejut, tapi aku telah melangkah maju, menggapai telepon sambil berharap-harap cemas.

“Halo?” sapa Alice. “Tidak, dia ada disini.” Ia menyodorkan teleponnya padaku. Ibumu, katanya tanpa suara.

“Halo?”

“Bella? Bella?” Itu suara ibuku, dalam nada familier yang telah kudengar ribuan kali pada masa kecilku, setiap kali aku berjalan terlalu dekat dengan tepian trotoar atau menghilang dari pandangannya ketika berada di keramaian. Suaranya panik.

Aku mendesah. Aku sudah menduganya, meskipun aku telah berusaha sebisa mungkin agar pesanku tidak mengagetkan tanpa mengurangi urgensinya.

“Tenang, Mom,” kataku dengan suaraku yang paling menenangkan, seraya berjalan pelan menjauhi Alice. Aku tak yakin apakah aku bisa berbohong dengan meyakinkan sementara matanya mengawasiku. “Semua baik-baik saja, oke? Beri aku waktu 1 menit dan aku akan menjelaskan semuanya, aku janji.”

Aku diam, terkejut karena ia belum menyela kata-kataku.

“Mom?”

“Berhati-hatilah, jangan katakan apa-apa sebelum aku menyuruhmu.” Suara yang kudengar sekarang sama asing dan mengejutkannya. Itu suara tenor laki-laki, suara yang amat menyenangkan dan umum—jenis suara yang menjadi narator pada iklan mobil mewah. Ia berbicara sangat cepat.

“Nah, aku tak perlu melukai ibumu, jadi tolong lakukan sesuai yang kuperintahkan, maka dia akan baikbaik saja.” Ia berhenti sebentar sementara aku mendengarkan dalam keheningan mencekam. “Bagus sekali,” ia memujiku. “Sekarang ulangi kata-kataku, dan cobalah mengatakannya sewajar mungkin. Tolong katakan, ‘Tidak, Mom, tetaplah di tempatmu.’”

“Tidak, Mom, tetaplah di tempatmu.” Suaraku tak lebih dari bisikan.

“Bisa kulihat ini bakalan sulit.” Suara itu terdengar senang, masih ringan dan ramah. “Kenapa kau tidak pertgi ke ruangan sebelah sehingga wajahmu tidak mengacaukan segalanya? Tak ada alasan ibumu untuk menderita. Sambil berjalan, tolong katakan, ‘Mom, tolong dengarkan aku.’ Katakan sekarang.”

“Mom, tolong dengarkan aku,” aku memohon. Aku berjalan sangat pelan ke kamar tidur, merasakan tatapan waswas Alice di belakangku. Aku menutup pintu, berusaha berpikir jernih dalam ketakutan yang mencengkram benakku.

“Nah, bagus, kau sendirian? Jawab saja ya atau tidak.”

“Ya.”

“Tapi mereka masih bisa mendengarmu. Aku yakin itu.”

“Ya.”

“Baik, kalau begitu,” suara menyenangkan itu melanjutkan, “katakan, ‘Mom, percayalah padaku.’”

“Mom, percayalah padaku.”

“Ini berjalan lebih baik dari yang kuperkirakan. Aku sedang bersiap-siap menunggu, tapi ibumu pulang lebih awal. Lebih mudah begini, ya kan? Tidak terlalu menegangkan, kau jadi tidak terlalu khawatir.

Aku menunggu.

“Sekarang aku mau kau mendengarkan dengan saksama. Aku ingin kau meninggalkan teman-temanmu; menurutmu, kau bisa melakukannya? Jawab ya atau tidak.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.