Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Aku akan baik-baik saja. Apakah Esme bersama Charlie?”

“Ya—si wanita ada di kota. Dia pergi ke rumah Charlie, tapi Charlie sedang di tempat kerja. Dia tidak mendekati Charlie, jadi jangan khawatir. Dia aman dalam pengawasan Rosalie dan Esme.”

“Apa yang dilakukan wanita itu?”

“Barangkali sedang mencoba mengikuti jejak. Dia mengelilingi kota sepanjang malam. Rosalie mengikutinya hingga ke bandara, semua jalanan di kota, sekolah… dia mencari-cari, Bella, tapi tak ada yang bisa ditemukannya.”

“Kau yakin Charlie aman?’

“Ya, Esme takkan membiarkannya luput dari pengawasan. Dan sebentar lagi kami akan tiba disana. Kalau si pemburu berada dekat-dekat Forks, kami akan menghabisinya.”

“Aku merindukanmu,” bisikku.

“Aku tahu, Bella. Percayalah padaku, aku tahu. Rasanya seolah-olah kau telah membawa separuh diriku bersamamu.”

“Kalau begitu datang dan ambillah,” aku menantangnya.

“Segera, begitu aku bisa. Aku akan membuatmu aman dulu.” Suaranya tegang.

“Aku mencintaimu,” aku mengingatkannya.

“Bisakah kau mempercayainya, terlepas dari semua yang telah kau alami karena aku, bahwa aku juga mencintaimu?”

“Ya, sebenarnya aku percaya.”

“Aku akan segera datang padamu.”

“Aku akan menunggu.”

Setelah percakapan selesai, kabut depresi pun menyelimutiku lagi.

Aku berbalik untuk mengembalikan telepon itu kepada Alice dan mendapati ia dan Jasper membungkuk di atas meja. Alice sedang membuat sketsa pada sehelai memo hotel. Aku bersandar di sofa, mengintip dari balik bahunya.

Ia sedang menggambar sebuah ruangan : panjang, persegi, dengan bagian lebih sempit berbentuk segi empat di bagian belakang. Potongan-potongan kayu yang membentuk lantai membentang sepanjang ruangan. Di bawah dinding terdapat garis-garis yang menandakan batasan cermin. Sepanjang dinding, setinggi pinggang, tampak garis yang disebut Alice berwarna emas.

“Itu studio balet,” kataku, tiba-tiba mengenali bentuknya yang tidak asing.

Mereka memandangku, terkejut.

“Kau tahu ruangan ini?” suara Jasper terdengar tenang, tapi di baliknya ada sesuatu yang tak bisa kuduga. Alice menunduk menatap gambarnya, tangannya menyapu kertas itu sekarang, menggambar tangga darurat di dinding belakang, stereo dan TV di meja rendah di sudut kanan depan.

“Kelihatannya seperti tempat yang biasa kukunjungi unutk belajar menari—ketika usiaku delapan atau sembilan tahun. Bentuknya tak berubah.” Kusentuh kertas itu pada bagian yang menonjol kemudian menyempit di bagian belakang ruangan. “Di sana letak kamar mandinya—pintunya bisa menembus ke lantai dansa lainnya. Tapi stereonya tadinya di sini”—aku menunjuk sudut kiri—“sudah lama, dan tidak ada TV. Ada jendela di ruang tunggu—kau akan melihat ruangan itu dari sudut pandang ini kalau kau melihatnya dari jendela itu.”

Alice dan Jasper menatapku.

“Kau yakin ini ruangan yang sama?” Jasper bertanya, masih tenang.

“Tidak, sama sekali tidak—kurasa kebanyakan dari studio tari kelihatannya sama—cermin-cerminnya, palangnya.” Jari-jariku menelusuri palang balet yang terpasang di cermin. “Bentuknya saja yang kelihatannya tidak asing.” Aku menyentuh pintunya, terpasang pada tempat yang sama persis seperti yang kuingat.

“Apa kau punya alasan apa pun untuk pergi ke sana sekarang?” Alice bertanya, membuyarkan lamunanku.

“Tidak, sudah hampir sepuluh tahun aku tak pernah pergi ke sana. Aku penari yang payah—mereka selalu menjadikanku cadangan pada acara resital,” aku mengakui.

“Jadi tak mungkin itu ada hubungannya denganmu?” tanya Alice sungguh-sungguh.

“Tidak, kurasa pemiliknya bahkan bukan orang yang sama. Aku yakin itu hanya studio tari lainnya, entah dimana.”

“Di mana letak studio yang biasa kau datangi?” Jasper bertanya dengan nada kasual.

“Di sekitar sudut rumah ibuku. Aku biasa berjalan kaki ke sana sepulang sekolah…” kataku, suaraku menghilang. Aku melihat mereka bertukar pandang.

“Kalau begitu di sini, di Phoenix?” Suara Jasper masih santai.

“Ya,” bisikku. “58th Street dan Cactus.”

Kami duduk terdiam, memandangi gambar Alice.

“Alice, apakah telepon itu aman?”

“Ya,” ia menyakinkanku. “Nomornya hanya akan terdeteksi ke Washington.”

“Kalau begitu aku bisa menggunakannya untuk menelepon ibuku.”

“Kupikir dia di Florida.”

“Memang—tapi dia akan segera pulang, dan dia tak bisa kembali ke rumah itu sementara…” Suaraku gemetar. Aku sedang memikirkan sesuatu yang dikatakan Edward, tentang wanita berambut merah yang mendatangi rumah Charlie, sekolah, dimana catatan tentang diriku berada.

“Bagaimana kau akan menghubunginya?”

“Mereka tidak punya nomor tetap kecuali di rumah—dia seharusnya memeriksa mesin penjawabnya secara teratur.”

“Jasper?” tanya Alice.

Ia mempertimbangkannya. “Kurasa itu tidak mungkin berbahaya—pastikan kau tidak menyebutkan di mana kau berada, tentu saja.”

Dengan bersemangat aku meraih telepon genggam Alice dan memutar nomor yang sudah tidak asing lagi. Terdengar nada sambung sebanyak empat kali, kemudian aku mendengar suara ibuku yang mendesah memberitahukan untuk meninggalkan pesan.

“Mom,” kataku setelah bunyi bip, “ini aku. Dengar, aku mau kau melakukan sesuatu. Ini penting. Begitu kau sudah menerima pesan ini, hubungi aku di nomor ini.” Alice sudah di sisiku, menuliskan nomornya untukku di bagian bawah gambar. Aku membacanya perlahan, dua kali. “Kumohon jangan pergi kemana-mana sampai kau berbicara denganku. Jangan khawatir, aku baik-baik saja, tapi aku harus bicara denganmu secepatnya, tak peduli kapan pun kau menerima pesan ini, oke? Aku mencintaimu, Mom. Bye.” Aku memejamkan mata dan berdoa sepenuh hati agar tak ada perubahan rencana tiba-tiba yang membawanya pulang sebelum ia mendengar pesanku.

Aku duduk di sofa, mengunyah buah-buahan yang tersisa di piring, mengantisipasi malam yang panjang. Aku berpikir untuk menelepon Charlie, tapi tak yakin apakah ia sudah pulang atau belum. Aku berkonsentrasi menonton berita, mencari berita tentang Florida, atau tentang pelatihan musim semi—aksi demo atau badai topan atau serangan teroris—apa pun yang mungkin membuat mereka pulang lebih awal.

Keabadian pasti melahirkan kesabaran yang tiada habisnya. Baik Jasper maupun Alice tidak merasa perlu melakukan sesuatu sama sekali. Selama beberapa waktu Alice membuat sketsa samar ruangan gelap itu berdasarkan penglihatannya, sebanyak yang dapat dilihatnya dengan mengandalkan cahaya yang berasal TV. Tapi ketika selesai ia hanya duduk, menatap dinding-dinding kosong tanpa berkedip. Jasper juga kelihatan tidak terdorong untuk mondar-madir atau mengintip dari balik tirai, atau menghambur ke pintu sambil berteriak-teriak, seperti yang kurasakan.

Aku pasri tertidur di sofa, menantikan telepon berbunyi lagi. Sentuhan tangan Alice yang dingin membangunkanku sebentar saat ia menggendongku ke tempat tidur, tapi aku kembali pulas sebelum kepalaku menyentuh bantal.

***

 

 

21. Telepon

Aku bisa merasakan hari-hari lagi masih terlalu dini ketika aku terbangun. Aku tahu siang dan malamku perlahan-lahan terbalik. Aku berbaring di tempat tidur dan mendengarkan suara Alice dan Jasper yang pelan dari ruangan yang lain. Kenyataan bahwa suara mereka cukup keras untuk bisa kudengar adalah aneh. Aku berguling hingga kakiku menyentuh lantai, lalu tertatih-tatih menuju ruang tamu.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.