Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Menurutmu mereka benar-benar aman?”

“Bella, berapa kali kami harus memberitahumu bahwa kami sama sekali tidak terancam bahaya?”

“Meski begitu, maukah kau mengatakan yang sejujurnya?”

“Ya. Aku akan selalu mengatakan yang sejujurnya padamu.” Suaranya tulus.

Aku berpikir sejenak, dan memutuskan ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.

“Kalau begitu ceritakan padaku… bagaimana kau menjadi vampir?”

Pertanyaanku membuatnya kaget. Ia diam. Aku berbalik untuk memandangnya, dan ekspresinya tampak ragu.

“Edward tidak ingin aku memberitahumu,” katanya tegas, tapi aku merasa ia tak sependapat.

“Itu tidak adil. Kurasa aku punya hak untuk mengetahuinya.”

“Aku tahu.”

Aku mentapnya, menunggu.

Ia mendesah. “Dia bakal sangat marah.”

“Itu bukan urusannya. Ini antara kau dan aku. Alice, sebagai teman, aku memohon padamu.” Dan sekarang kami memang teman, entah bagaimana—seperti yang sudah diduganya selama ini.

Ia menatapku dengan matanya yang indah dan bijaksana… mempertimbangkan.

“Aku akan menceritakan cara kerjanya,” akhirnya ia berkata, “tapi aku sendiri tidak ingat, dan aku tidak pernah melakukannya atau melihatnya dilakukan, jadi camkan dalam pikiranmu bahwa aku hanya bisa menceritakan teorinya.”

Aku menunggu.

“Sebagai predator, kami punya banyak sekali senjata dalam gudang senjata fisik kami—sangat, sangat banyak dari yang sebenarnya diperlukan. Kekuatan, kecepatan, pengindraan yang tajam, belum lagi kami yang seperti Edward, Jasper, dan aku, yang mempunyai indra tambahan. Kemudian bagai kantong semar, secara fisik kami menarik bagi mangsa kami.

Aku diam tak bergerak, mengingat betapa jelas Edward menggambarkan konsep yang sama padaku ketika berada di padang rumput.

Senyumnya yang lebar tampak jahat. “Kami juga punya senjata ekstra lain. Kami juga berbisa,” katanya, giginya berkilauan. “Bisa kami tidak mematikan, hanya melumpuhkan. Daya kerjanya lambat, menyebar ke seluruh aliran darah, sehingga begitu tergigit, mangsa kami sangat kesakitan sehingga tak bisa melarikan diri. Kelewat berlebihan, seperti kataku tadi. Bila kami sedekat itu, si mangsa tak bisa melarikan diri. Tentu saja, selalu ada pengecualian. Carlisle misalnya.”

“Jadi… kalau racunnya dibiarkan menyebar…” gumamku.

“Perlu beberapa hari agar perubahannya sempurna, tergantung berapa banyak bisa yang ada dalam aliran darah, seberapa dekat bisa itu memasuki jantung. Selama jantungnya tetap berdetak, bisa itu menyebar, menyembuhkan, mengubah tubuh saat melewatinya. Akhirnya jantungnya berhenti, dan perubahannya pun selesai. Tapi selama waktu itu, setiap menit, si korban akan mengharapkan kematian.”

Aku gemetar mendengarnya.

“Itu tidak menyenangkan, kau tahu.”

“Edward bilang itu sangat sulit dilakukan… aku tidak begitu mengerti,” kataku.

“Di satu sisi kami juga seperti hiu. Begitu kami merasakan darah, atau bahkan menciumnya saja, akan sangat sulit menahan diri untuk memangsa. Terkadang mustahil. Jadi kau tahu, dengan benar-benar menggigit seseorang, mengecap darahnya, itu akan memancing kegilaan. Sulit untuk kedua pihak—yang satu godaan darahnya, yang lain rasa sakit yang luar biasa.”

“Menurutmu, mengapa kau tidak mengingatnya?”

“Aku tidak tahu. Bagi orang-orang lain, rasa sakit akibat transformasi adalah ingatan terkuat yang merka miliki dari masa kehidupan mereka sebagai manusia.” Suaranya terdengar muram.

Kami berbaring tak bersuara, diselimuti pikiran masing-masing.

Detik-demi detik berlalu dan aku nyaris melupakan kehadirannya, aku begitu larut dalam pikiranku.

Kemudian tanpa peringatan apapun, Alice melompat dari tempat tidur dan mendarat mulus di kakinya. Kepalaku tersentak saat aku menatapnya, terkejut.

“Ada yang berubah.” Suaranya mendesak, dan ia tidak sedang berbicara padaku lagi.

Ia sampai ke pintu bersamaan dengan Jasper. Jelas ia telah mendengarkan pembicaraan kami dan seruan Alice yang tiba-tiba. Jasper meletakkan tangannya di bahu Alicedan membimbingnya kembali ke tempat tidur, mendudukannya di ujung tempat tidur.

“Apa yang kaulihat?” tanyanya hati-hati, menatap ke dalam mata Alice. Mata Alice terpusat pada sesuatu yang sangat jauh. Aku duduk di dekatnya, mencondongkan tubuh untuk menangkap suaranya yang pelan dan cepat sekali.

“Aku melihat sebuah ruangan. Panjang, ada cermin di mana-mana. Lantainya dari kayu. Dia di ruangan itu, dan dia menunggu. Ada emas… garis emas di seberang cermin-cermin itu.”

“Di mana kamar itu?”

“Aku tidak tahu. Ada yang hilang—keputusan yang lain belum dibuat.”

“Berapa lama lagi?”

“Segera. Dia akan berada di ruang cermin hari ini, atau barangkali besok. Tergantung. Dia menunggu sesuatu. Dan sekarang dia berada dalam kegelapan.”

Suara Jasper tenang, teratur, saat ia menayainya dengan cara terlatih. “Apa yang dilakukannya?”

“Dia menonton televisi… tidak, dia menyalakan VCR, di kegelapan, di tempat lain.”

“Bisakah kau melihat dimana dia berada?”

“Tidak, terlalu gelap.”

“Dan ruangan cermin itu, apa lagi yang ada disana?”

“Hanya cermin, dan emas itu. Itu garis, mengelilingi ruangan. Dan ada meja hitam dengan stereo besar, juga sebuah televisi. Dia menyentuh VCR itu, tapi dia tidak menonton seperti yang dilakukannya di ruangan gelap. Ini adalah ruangan tempatnya menunggu.” Pandangan Alice menerawang, kemudian terpusat di wajah Jasper.

“Tak ada yang lainnya?”

Alice menggeleng. Mereka berpandangan, tak bergerak.

“Apa maksudnya?” aku bertanya.

Sesaat tak satu pun dari mereka menyahut, kemudian Jasper menatapku.

“Itu artinya si pemburu mengubah rencananya. Dia telah membuat keputusan yang akan membimbingnya ke ruangan cermin, dan ruangan gelap.”

“Tapi kita tidak tahu dimana ruangan-ruangan itu.”

“Tidak.”

“Tapi kita tahu dia takkan berada di pegunungan Washington, diburu. Dia akan kabur dari mereka.” Suara Alice terdengar putus asa.

“Haruskah kita menelepon?” tanyaku. Mereka bertukar pandangan dengan serius, ragu-ragu.

Telepon berbunyi.

Alice sudah menyeberangi kamar sebelum aku sempat mendongak.

Ia menekan sebuah tombol dan mendekatkan telepon itu di telinganya, tapi ia tidak bicara lebih dulu.

“Carlisle,” desahnya. Ia tidak tampak terkejut atau lega, seperti yang kurasakan.

“Ya,” katanya, menatapku. Ia mendengarkan untuk waktu yang lama.

“Aku baru saja melihatnya.” Ia menggambarkan lagi apa yang dilihatnya. “Apapun yang membuatnya naik ke pesawat itu, yang membimbingnya ke ruangan-ruangan itu.” Alice terdiam. “Ya,” ia berbicara di telepon, kemudian ia berbicara padaku. “Bella?”

Ia menyodorkan teleponnya. Aku berlari menghampirinya.

“Halo?” desahku.

“Bella,” kata Edward.

“Oh, Edward! Aku sangat khawatir.”

“Bella,” ia mendesah frustasi, “sudah kubilang jangan mengkhawatirkan hal lain kecuali dirimu sendiri.” Tak kusangka rasanya senyaman ini mendengar suaranya. Kurasakan kebut keputusasaan menipis dan lenyap saat ia bicara.

“Kau dimana?”

“Kami berada di luar Vancouver. Bella, maafkan aku—kami kehilangan jejaknya. Dia kelihatannya curiga—dia berhati-hati, menjaga jarak sejauh mungkin sehingga aku tak bisa mendengar apa yang dipikirkannya. Tapi dia sudah pergi sekarang—sepertinya naik pesawat. Kami kira dia kembali lagi ke Forks untuk memulai lagi dari awal.” Aku bisa mendengar Alice menggantikan Jasper di belakangku, kata-katanya yang cepat terdengar bagai gumaman.

“Aku tahu. Alice melihat dia berhasil kabur.”

“Meski begitu kau tak perlu khawatir. Dia takkan menemukan apa pun yang akan membawanya padamu. Kau hanya perlu tetap disana dan menunggu sampai kami menemukannya lagi.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.