Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Di luar gelap. Kalau begitu sekarang pukul tiga dini hari. Kamarku menghadap bagian jalan bebas hambatan yang terbengkalai dan areal parkir jangka panjang bandara yang baru. Rasanya sedikit nyaman bisa mengenali waktu dan tempat.

Aku memandang diriku sendiri. Aku masih mengenakan pakaian Esme yang kebesaran. Aku mengedarkan pandang, senang menemukan tas pakaianku di atas lemari pakaian yang pendek.

Aku baru saja akan mencari pakaian baru ketika ketukan pelan di pintu membuatku kaget.

“Boleh aku masuk?” tanya Alice.

Aku menghela napas panjang. “Tentu.”

Ia melangkah masuk dan memandangiku hati-hati. “Sepertinya kau butuh tidur lebih lama,” katanya.

Aku hanya menggeleng.

Ia bergerak tanpa suara ke jendela dan menutup tirai rapat-rapat sebelum berbalik lagi padaku.

“Kita harus tinggal di kamar,” ia memberitahuku.

“Oke.” Suaraku serak, parau.

“Haus?” ia bertanya.

Aku mengangkat bahu. “Aku baik-baik saja. Kau bagaimana?”

“Tak ada yang tak bisa diatasi.” Ia tersenyum. “Aku memesan makanan untukmu, ada di ruang depan. Edward mengingatkanku bahwa kau harus makan lebih sering daripada kami.”

Aku langsung lebih waspada. “Dia menelepon?”

“Tidak,” katanya, dan melihatku kecewa. “Dia mengatakannya sebelum kita pergi.”

Hati-hati ia meraih tanganku dan membimbingku melewati pintu menuju ruang tamu suite yang kami tempati. Aku bisa mendengar suara pelan yang datangnya dari arah TV. Jasper duduk diam di meja di sudut, menonton berita tanpa gairah sedikit pun.

Aku duduk di lantai di sebelah meja tamu. Di atasnya sudah tersedia makanan dalam nampan. Aku mulai makan tanpa menyadari apa yang kumakan.

Alice bertengger di lengan sofa dan menatap hampa ke TV seperti yang dilakukan Jasper.

Aku makan dengan pelan, mengamati Alice dan sesekali melirik Jasper. Aku mulai menyadari bahwa mereka terlalu diamm. Mereka tak pernah berpaling dari layar, meskipun sekarang sedang jeda iklan. Aku mendorong nampannya, perutku langsung mulas. Alice menatapku.

“Ada apa, Alice?” aku bertanya.

“Tidak ada apa-apa.” Matanya lebar, jujur… dan aku tidak mempercayainya.

“Apa yang kita lakukan sekarang?”

“Kita tunggu sampai Carlisle menelepon.”

“Dan apakah seharusnya dia sudah menelepon sekarang?” Aku tahu pertanyaanku nyaris benar. Tatapan Alice beralih dariku ke telepon diatas tas kulit kemudian menatapku lagi.

“Apa artinya?” suaraku bergetar, dan aku berusah mengendalikannya. “Kalau dia belum menelepon?’

“Itu artinya tak ada yang perlu mereka beritahukan kepada kita.” Tapi suaranya kelewat datar, dan semakin sulit rasanya untuk bernapas.

Jasper tiba-tiba sudah berada di sebelah Alice, lebih dekat denganku daripada biasanya.

“Bella,” kata Jasper dengan suara menenangkan yang mencurigakan. “Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa. Kau benar-benar aman disini.”

“Aku tahu itu.”

“Lalu kenapa kau ketakutan?” tanyanya, bingung. Ia mungkin merasakan perubahan emosiku, tapi ia tak bisa menebak maksud di balik itu semua.

“Kaudengar apa yang dikatakan Laurent.” Suaraku hanya bisiskan, tapi aku yakin mereka bisa mendengarnya. “Katanya James sangat berbahaya. Bagaimana kalau sesuatu berjalan tidak semestinya, dan mereka terpisah? Kalau sesuatu terjadi pada salah satu dari mereka, Carlisle, Emmett, Edward…” Aku menelan liurku. “Kalau si wanita liar itu melukai Esme…” Suaraku meninggi, kecemasan mulai mewarnainya. “Bagaimana aku bisa terus hidup sementara semua itu adalah salahku? Tak satupun dari kalian seharusnya membahayakan hidup kalian demi aku—”

“Bella, Bella, hentikan,” Jasper menyelaku, kata-katanya mengalir begitu cepat hingga sulit untuk dimengerti. “Kau mengkhawatirkan hal yang salah, Bella. Percayalah padaku untuk yang satu ini—tak satu pun dari kami berada dalam bahaya. Kau hanya terlalu tegang, itu saja; jangan ditambah lagi dengan kekhawatiran yang tidak penting ini. Dengankan aku!” perintahnya, karena aku telah memalingkan wajah. “Keluarga kami kuat. Ketakutan kami satu-satunya adalah kehilangan dirimu.”

“Tapi kenapa kalian harus merasa seperti itu—”

Alice menyela kali ini, menyentuh pipiku dengan jemarinya yang dingin. “Hampir satu abad lamanya Edward seorang diri. Sekarang Edward telah menemukanmu. Kau tidak bisa melihat perubahan yang kami lihat, kami telah bersama dengannya untuk waktu yang lama. Kau pikir kami tega melihat ke dalam matanya selama ratusan tahu yang akan datang bila dia kehilangan dirimu?”

Rasa bersalahku perlahan surut saat aku memandang matanya yang gelap. Tapi meskipun ketenangan menyelimutiku, aku tahu aku tak bisa mempercayai perasaanku selama Jasper ada disana.

Hari itu berlangsung sangat lama.

Kami tetap di kamar. Alice menelepon front office dan meminta mereka tidak membereskan kamar kami untuk saat ini. Jendela tetap tertutup, televisi menyala, meski tak seorangpun menonton. Secara teratur mereka mengantar makanan untukku. Telepon perak di atas tas Alice sepertinya tumbuh semakin besar sejalan dengan berlalunya waktu.

Para pengasuhku menghadapi ketegangan lebih baik dariku. Saat aku mondar-mandir dengan gelisah, mereka hanya bertambah kaku, dua patuh yang matanya tanpa kentara mengikuti gerakanku. Aku menyibukkan diri dengan menghafal ruangan tempatku berada; pola sofa yang bergaris-garis, cokelat, peach, krem, emas kusam, dan cokelat lagi. Kadang-kadang aku memandangi cetakan bermotif yang abstrak, secara acak mencari bentuk-bentuk disana, seperti aku mencari bentuk di awan ketika masih kecil. Aku menemukan tangan biru, wanita menyisir rambutnya, dan kucing meregangkan tubuhnya. Tapi ketika lingkaran merah pucat itu membentuk mata yang menatap, aku memalingkan wajah.

Ketika petang berganti malam, aku naik ke tempat tidur, hanya untuk mencari sesuatu yang bisa kulakukan. Aku berharap dengan berada sendirian dalam kegelapan, aku bisa menyerah pada rasa takut luar biasa yang menanti di ujung kesadaranku, tak mampu melepaskan diri dari pengawasan Jasper yang tajam.

Tapi Alice mengikutiku dengan sikap santai, seolah-olah ia kebetulan juga bosan berada di ruang depan. Aku mulai bertanya-tanya instruksi seperti apakah yang tepatnya diberikan Edward padanya. Aku berbaring di tempat tidur, dan ia duduk dengan kaki terlipat di sebelahku. Awalnya aku mengabaikannya, tiba-tiba merasa cukup lelah untuk tertidur. Tapi setelah beberapa menit, perasaan panik yang tadinya lenyap karena berada di dekat Jasper, kini mulai unjuk gigi. Dengan cepat aku melupakan ide untuk tidur, lalu meringkuk sambil memeluk kakiku.

“Alice?” aku bertanya.

“Ya?”

Aku menjaga suaraku tetap tenang. “Menurutmu apa yang sedang mereka lakukan?”

“Carlisle ingin membimbing si pemburu sejauh mungkin ke utara, menunggunya mendekat, kemudian berbalik dan menjebaknya. Esme dan Rosalie seharusnya menuju barat sejauh si wanita tetap mengikuti mereka. Kalau wanita itu berbalik, merka akan kembali ke Forks dan mengawasi ayahmu. Jadi, aku membayangkan segalanya akan berjalan baik bial mereka tidak bisa menelepon. Itu artinya si pemburu berada cukup dekat sehingga mereka tidak ingin dia menguping pembicaraan di telepon.

“Dan Esme?”

“Kurasa dia pasti sudah kembali di Forks. Dia takkan menelepon bila ada kemungkina si wanita bisa mendengar. Aku menduga merka semua hanya ingin berhati-hati.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.