Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Sepertinya segala sesuatu di bawah telah beres saat kami pergi tadi. Edward dan Emmett sudah siap berangkat, Emmett menyampirkan ransel yang kelihatannya berat di bahunya. Carlisle menyerahkan sesuatu yang kecil kepada Esme. Ia berbalik dan menyerahkan benda yang sama kepada Alice—ponsel kecil berwarna perak.

“Esme dan Rosalie akan membawa trukmu, Bella,” ia memberitahu saat melewatiku. Aku mengangguk, melirik cemas ke arah Rosalie. Ia sedang menatap geram ke arah Carlisle.

“Alice, Jasper—kalian bawa Mercedes-nya. Warna gelapnya akan berguna bagi kalian ketika berada di Selatan.”

Mereka juga mengangguk.

“Kami naik Jeep.”

Aku terkejut mengetahui Carlisle berniat pergi bersama Edward. Tiba-tiba aku menyadari, dengan ngeri, bahwa mereka akan ikut meramaikan perburuan.

“Alice,” Carlisle bertanya, “apakah mereka akan memakan umpannya?”

Semua memperhatikan Alice ketika ia memejamkan mata dan bergeming.

Akhirnya matanya membuka. “James akan memburumu. Si wanita akan mengikuti truk. Kita seharusnya bisa pergi setelah itu.” Suaranya yakin.

“Ayo kita pergi.” Carlisle berjalan menuju dapur.

Tapi Edward serta merta telah berdiri di sisiku. Ia menangkapku dalam genggamannya yang kuat, memelukku erat-erat. Ia sepertinya tidak menyadari keluarganya memperhatikan saat ia meraih wajahku dan mendekatkannya ke wajahnya, mengangkat tubuhku dari lantai. Dalam waktu sekejap bibirnya yang dingin dan keras mencium bibirku. Kemudian semuanya selesai. Ia menurunkanku ke lantai, masih memegangi wajahku, matanya yang indah membara menatapku.

Sorot matanya berubah hampa, mematikan, ketika ia berpaling dariku.

Dan merekapun pergi.

Kami berdiri disana, yang lain memalingkan pandangan dariku saat air mata mulai menetes tanpa suara di wajahku.

Keheningan terus berlanjut, kemudian ponsel Esme bergetar. Ia langsung mendengarkan.

“Sekarang,” katanya. Rosalie berjalan sambil mengentak-entakkan kaki menuju pintu depan tanpa melihat lagi ke arahku, tapi Esme menyentuh pipiku ketika melewatiku.

“Jaga dirimu.” Bisikannya menggema di belakang mereka saat mereka menyelinap keluar. Aku mendengar suara trukku menderu, lalu lenyap.

Jasper dan Alice menunggu. Ponsel Alice sepertinya sudah menempel di telinganya sebelum sempat bergetar.

“Edward bilang si wanita membuntuti Esme. Aku akan ambil mobil.” Ia lenyap ke dalam kegelapan seperti ketika Edward pergi.

Jasper dan aku berpandang-pandangan. Ia berdiri agak jauh di pintu masuk… berhati-hati.

“Kau salah, kau tahu itu,” katanya pelan.

“Apa?” aku terkesiap.

“Aku bisa merasakan apa yang kaurasakan sekarang—dan kau memang layak.”

“Tidak,” gumamku. “Kalau terjadi sesuatu pada mereka, pengorbanan mereka bakal sia-sia.”

“Kau keliru,” ia mengulanginya, tersenyum ramah padaku.

Aku tak mendengar apa-apa, tapi kemudian Alice melangkah melalui pintu depan dan menghampiriku dengan tangan terentang.

“Bolehkah?” tanyanya.

“Kau yang pertama yang meminta izin.” Aku tersenyum pahit.

Tangannya yang ramping mengangkatku semudah yang dilakukan Emmett, memelukku dengan sikap melindungi, meninggalkan cahaya terang di belakang kami.

 

 

20. Ketidaksabaran

Ketika terbangun, aku bingung. Pikiranku kabur, masih antara tak sadar dan mimpi buruk. Butuh waktu lebih lama dari seharusnya untuk menyadari dimana aku berada.

Ruangan ini terlalu biasa untuk berada dimana pun, kecuali di hotel. Lampu tidur yang disekrupkan ke meja memastikan dugaanku tepat, begitu juga tirai panjang yang terbuat dari bahan yang sama dengan penutup tempat tidurnya, serta dindingnya yang bercorak umum.

Aku berusaha mengingat-ingat bagaimana aku sampai disini, tapi awalnya tidak berhasil.

Aku ingat mobil hitam mengkilat, kaca jendelanya lebih gelap daripada kaca limusin. Suara mesinnya nyaris tak terdengar, meskipun kami melaju melebihi dua kali batas kecepatan yang diijinkan di jalan tol.

Dan aku ingat Alice duduk bersamaku di jok belakang yang terbuat dari kulit berwarna gelap. Entah bagaimana sepanjang malam yang panjang kepalaku bersandar di lehernya yang bagai granit. Kedekatan ini sepertinya tidak mengganggunya sama ekali, dan anehnya kulitnya yang dingin dan keras membuatku merasa nyaman. Bagian depan kaus katunnya yang tipis terasa dingin, lembab karena air mataku yang mengalir deras hingga mataku bengkak dan memerah, dan air mataku habis terkuras.

Kantuk meninggalkanku, mataku yang perih membuka dengan susah payah meskipun malam akhirnya berakhir dan fajar pecah di puncak yang rendah entah di bagian mana California. Cahaya kelabu memancar di langit tak berawan, menyengat mataku. Tapi aku tak bisa memejamkannya; ketika aku melakukannya bayangan-bayangan yang berkelebat tampak kelewat nyata, bagaikan slide yang tertanam di balik pelupuk mataku, tak tertahankan. Ekspresi sedih Charlie—geraman brutal Edwad yang memamerkan deretan giginya— tatapan marah Rosalie—tatapan mengebu-gebu si pemburu—tatapan Edward yang mematikan setelah ia terakhir kali menciumku… Aku tak tahan melihat semua itu. Jadi aku melawan kelelahanku dan mataharipun semakin tinggi.

Aku masih terjaga ketika kami melintasi gunung yang rendah, dan matahari berada di belakang sekarang, sinarnya memantulkan bubungan atap keramik Valley of the Sun. Aku tak memiliki cukup emosi untuk merasa terkejut menyadari kami telah melakukan perjalanan tiga hari hanya dalam sehari. Aku menatap hampa lahan luas yang membentang di hadapanku. Phoenix—pohon-pohon palem, semak belukarnya, garisgaris tak beraturan di persimpangan jalan bebas hambatan, bentangan luas lapangan golf yang hijau, dan bercak turquoise kolam-kolam renang, semua kabur di balik kabut asap yang tipis dan dikelilingi bukit berbatu pendek yang tak cukup besar untuk disebut pegunungan.

Bayangan pepohonan palem menaungi jalan bebas hambatan—jelas, lebih tajam dari yang kuingat, lebih pucat dari seharusnya. Tak ada yang bisa bersembunyi dari balik bayangan ini. Jalan bebas hambatan yang terbuka dan terang tampak cukup aman. Tapi aku tidak merasa lega sedikitpun, tak ada perasaan seperti pulang ke rumah.

“Jalan mana yang menuju ke bandara, Bella?” tanya Jasper. Aku terkejut, meskipun suaranya cukup lembut dan tenang. Itu adalah suara pertama, selain deruman mesin mobil, yang memecah keheningan malam yang panjang.

“Ikuti terus rute I-sepuluh,” jawabku otomatis. “Kita akan melewatinya.”

Pikiranku bekerja lebih lambat akibat kurang tidur.

“Apakah kita akan terbang ke suatu tempat?” aku bertanya pada Alice.

“Tidak, tapi lebih baik berada di dekat bandara, hanya untuk berjaga-jaga.”

Aku ingat memulai putaran di sekitar Sky Harbor Internationa… tapi tidak ingat telah mengakhirinya. Kurasa pasti saat itulah aku tertidur.

Meskipun sekaranga ku telah melupakan ingatanku, samar-samar aku ingat telah meninggalkan mobil— matahari baru saja terbenam—lenganku di bahu Alice dan lengannya melingkar kuat di pinggangku, membawaku bersamanya saat aku tersandung-sandung menembus kegelapan yang kering dan hangat.

Aku tak ingat ruangan ini.

Aku memandang jam digital di meja sisi tempat tidur. Angkat yang berwarna merah menunjukkan pukul tiga, tapi tak ada indikasi apakah ini malam atau siang. Tak sedikitpun cahaya menembus tirai yang tebal, tapi ruangan benderang karena cahaya lampu.

Aku bangkit dengan tubuh kaku dan berjalan tertatih-tatih ke jendela, menyingkap tirainya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.