Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Ia ragu-ragu, berpikir sebelum menjawab.

“Aku mendengarkan pikirannya malam ini,” ia memulai dengan suara pelan. “Aku tak yakin ada yang bisa kulakukan untuk menghindari ini, begitu dia melihatmu. Sebagian adalah salahmu.” Suaranya masam. “Seandainya aromamu tidak begitu menggiurkan, dia mungkin saja tidak terusik. Tapi ketika aku membelamu…

well, itu membuat segalanya tambah parah. Dia tak terbiasa dikecewakan, tak peduli betapa tidak pentingnya objek itu. Dia menganggap dirinya pemburu, bukan yang lain. Eksistensinya hanya melulu tentang berburu, dan baginya tantangan adalah satu-satunya hal yang penting. Tiba-tiba kita mempersembahkan tantangan yang indah di hadapannya—satu klan besar yang terdiri atasa pejuang tangguh semua bersatu melindungi satu elemen yang lemah. Kau takkan percaya betapa bergembiranya dia sekarang. Ini permainan favoritnya, dan kita baru saja menjadikannya permainan paling menarik baginya.” Suaranya penuh kejijikan.

Ia berhenti sebentar.

“Tapi seandainya aku tidak membelamu, dia bisa saja membunuhmu saat itu juga,” katanya putus asa.

“Kupikir… aromaku tidak sama bagi yang lain… tidak seperti bagimu,” kataku ragu-ragu.

“Memang tidak. Tapi bukan berarti kau bukan godaan bagi mereka. Seandainya kau telah menarik perhatian si pemburu—atau salah satu dari mereka—dengan cara yang sama seperti terhadapku, pertarungan akan terjadi saat itu juga.”

Aku bergidik ngeri.

“Kurasa, aku tak punya pilihan lain kecuali membunuhnya sekarang,” gumamnya. “Carlisle takkan menyukainya.”

Aku bisa mendengar suara ban melintasi jembatan, meskipun aku tidak bisa melihat sungainya di kegelapan. Aku tahu kami semakin dekat. Aku harus bertanya sekarang.

“Bagaimana kau membunuh vampir?”

Ia melirikku dengan tatapan yang tak bisa kutebak dan suaranya mendadak parau. “Satu-satunya yang bisa memastikan kematiannya adalah dengan menghancurkannya berkeping-keping, lalu membakarnya.”

“Dua vampir lainnya, apakah mereka akan ikut bertarung dengannya?”

“Yang perempuan ya. Aku tak yakin dengan Laurent. Mereka tidak punya ikatan kuat—dia bersama mereka hanya demi kemudahan. James mempermalukannya ketika berada di padang rumput…”

“Tapi James dan wanita itu—mereka akan mencoba membunuhmu?” tanyaku, suaraku gemetar.

“Bella, jangan berani-berani membuang waktumu untuk mengkhawatirkan aku. Satu-satunya yang harus kaupikirkan adalah menjaga dirimu sendiri tetap aman dan—kumohon, kumohon—usahakanlah jangan ceroboh.”

“Apakah dia masih mengikuti?”

“Ya. Meskipun begitu dia takkan menyerang rumah kami. Tidak malam ini.”

Edward membelok ke jalanan yang tak terlihat, Alice mengikuti di belakang.

Kami langsung menuju rumah. Lampu-lampu di dalam menyala terang, tapi nyaris tak dapat menguraikan kegelapan hutan yang rapat. Emmett telah membukakan pintuku sebelum truk berhenti; ia menarikku dari jok, meletakkanku bagai bola rugby di dadanya yang bidang, dan membawaku berlari menuju pintu.

Kami menghambur ke ruangan putih luas, Edward dan Alice berada di sisi kami. Semua ada disana, mereka bangkit berdiri ketika mendengar kami mendekat. Laurent berdiri di tengah mereka. Aku bisa mendengar geraman pelan Emmett saat dia mendudukanku di sisi Edward.

“Dia mengikuti kami,” ungkap Edward, menatap galak pada Laurent.

Wajah Laurent tampak muram. “Aku sudah mengkhawatirkan hal itu.”

Alice bergerak anggun ke sisi Jasper dan berbisik di telinganya, bibirnya bergetar cepat mengucapkan sesuatu yang tak terdengar. Mereka menaiki tangga bersama-sama. Rosalie mengamati mereka, kemudian bergerak cepat ke sisi Emmett. Matanya yang indah penuh cinta dan—ketika beralih enggan menatapku— tampak marah.

“Apa yang akan dilakukannya?” Carlisle bertanya pada Laurent dengan perasaan waswas.

“Maafkan aku,” jawabnya. “Aku khawatir, ketika anak laki-lakimu tadi membelanya, itu justru memicunya.”

“Bisakah kau menghentikannya?”

Laurent menggeleng. “Tak ada yang bisa menghentikan James begitu dia sudah mulai.”

“Kami akan menghentikannya,” Emmett berjanji. Tak ada keraguan di balik maksud perkataannya.

“Kau takkan bisa menaklukkannya. Aku tak pernah melihat kekuatan seperti yang dimilikinya selama 300 tahun kehidupanku. Dia sangat mematikan. Itu sebabnya aku bergabung dalam kelompoknya.” Kelompoknya tentu saja, pikirku. Pertunjukkan soal siapa sang pemimpin di lapangan tadi hanya pura

pura. Laurent menggeleng. Ia melirikku, bingung, kemudian kembali menatap Carlisle. “Kau yakin ini layak?” Geraman marah Edward menggema di seluruh ruangan, Laurent langsung ciut. Carlisle menatap Laurent dingin. “Aku khawatir kau harus menentukan pilihan.” Laurent mengerti. Ia menimbang-nimbang sebentar. Ia menatap satu per satu setiap wajah disana, dan

akhirnya menyapu seluruh ruangan terang itu.

“Aku tertarik pada kehidupan yang kauciptakan disini. Tapi aku takkan terlibat dalam urusan ini. Aku sama sekali tidak membenci kalian, tapi aku tidak akan menentang James. Kurasa aku akan menuju utara— menemui klan yang ada di Denali.” Ia ragu-ragu. “Jangan remehkan James. Dia memiliki pemikiran yang blirian dan indra yang tak ada tandingannya. Dia sama nyamannya berada dalam dunia manusia seperti kalian, dan dia tidak akan mendatangi kalian dengan terang-terangan… Aku minta maaf atas apa yang terjadi disini. Aku sungguh menyesal.” Ia membungkuk, tapi aku melihatnya melirik bingung lagi ke arahku.

“Pergilah dengan damai,” ujar Carlisle dengan nada formal. Laurent kembali memandang sekelilingnya untuk waktu yang lama, kemudian bergegas keluar. Keheningan hanya bertahan sebentar. “Seberapa dekat?” Carlisle menatap Edward. Esme sudah bergerak; tangannya menekan tombol tak kasatmata di dinding, dan dengan suara

menderu. Dan jendela baja besar mulai menutupi dinding kaca. Aku memandang terkesima. “Sekitar 3 mil dari sungai, dia sedang memutar untuk menemui si wanita.” “Apa rencananya?” “Kita akan mengalihkan perhatiannya, kemudian Jasper dan Alice akan membawanya ke selatan.” “Lalu?” Nada suara Edward terdengar mematikan. “Begitu Bella aman dari bahaya, kita akan memburu James.” “Kurasa tak ada pilihan lain,” Carlisle menimpali, wajahnya kelam. Edward berbalik menghadap Rosalie. “Bawa Bella ke atas dan tukarlah pakaian kalian,” perintah Edward. Rosalie balas menatapnya dengan

tatapan marah dan tak percaya. “Kenapa aku harus melakukannya?” desisnya. “Memangnya dia siapaku? Dia hanya membawa sial—

bahaya yang kaupilih untuk kita semua.” Aku tersentak mendengar kebengisan dalam suaranya. “Rose…” gumam Emmett, sambil meletakkan satu tangan di bahunya. Rosalie menepisnya. Tapi aku mengamati Edward dengan hati-hati, teringat temperamennya yang meledak-ledak,

mengkhawatirkan reaksinya. Ia membuatku terkejut. Ia berpaling dari Rosalie seolah-olah ia tak pernah mengatakan apa-apa, seolah

ia tidak ada. “Esme?” tanyanya tenang. “Tentu saja,” gumam Esme. Tak sampai sedetik Esme sudah berada di sisiku, mengayunkan tubuhku dengan mudah kemudian

menggendongku, dan melompati anak tangga sebelum aku menyadarinya. “Apa yang kita lakukan?” tanyaku terengah-engah saat ia menurunkanku di ruangan gelap entah dimana di lantai 2. “Berusaha mengaburkan aromamu. Tidak akan bertahan lama, tapi mungkin bisa membantumu melarikan diri.” Aku bisa mendengar suara pakaiannya berjatuhan di lantai.

“Kurasa pakaian Anda takkan muat…” aku ragu, tapi tangan-tangannya langsung melepaskan T-shirt-ku. Aku bergegas melepaskan jinsku. Ia memberi sesuatu padaku, rasanya seperti kaus. Aku berjuang memasukkan tanganku te lubang yang tepat. Begitu aku selesai, ia menyerahkan celana panjangnya. Aku mengenakannya, tapi tak bisa mengeluarkan kakiku; terlalu panjang. Dengan mahir ia menggulung ujung lipatannya beberapa kali hingga aku bisa berdiri. Entah bagaimana ia sudah mengenakan pakaianku. Ia menarikku kembali ke tangga, ke tempat Alice berdiri sambil membawa tas kulit kecil. Mereka masing-masing memegang sikuku dan setengah mengangkatku ketika melayang menuruni tangga.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.