Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Bella?” Charlie sedang bersantai di ruang tamu, dan sekarang ia bangkit berdiri.

”Jangan ganggu aku!” aku berteriak padanya, air mataku mengalir deras sekarang. Aku berlari menaiki tangga menuju kamar, membanting pintu dan menguncinya. Aku berlari ke tempat tidur, mengempaskan diri di lantai untuk mengambil tasku. Aku langsung mengulurkan tangan ke bawah kasur dan mengambil kaus kaki usang tempatku menyimpan uangku.

Charlie mengedor-gedor pintu kamar.

“Bella, kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?” Suaranya waswas.

“Aku mau pulang,” aku berteriak, memberi tekanan pada kata yang tepat.

“Apakah dia melukaimu?” suaranya hampir marah.

“Tidak!” jeritku. Aku berbalik ke lemari pakaian, dan Edward sudah ada disana, tanpa suara meraup asal-asalan pakaianku, lalu melemparkannya padaku.

“Apakah dia mencampakkanmu?” Charlie benar-benar bingung.

“Tidak!” jeritku, agak terengah-engah saat menjejalkan semuanya kedalam tas. Edward melempar beberapa helai pakaian lagi padaku. Sekarang tasnya sudah lumayan penuh.

“Apa yang terjadi, Bella?” seru Charlie dari balik pintu sambil mengedor-gedor lagi.

“Aku mencampakkannya!” aku balas berteriak, sambil menarik-narik resleting tasku. Tangan Edward yang sedang tidak melakukan apa-apa mendorong tanganku dan menutup risleting itu dengan mulus. Dengan hati-hati ia menaruh talinya di bahuku.

“Aku akan menunggu di truk—pergi!” ia berbisik, dan mendorongku ke pintu. Ia menghilang lewat jendela.

Aku membuka pintu dan menghambur melewati Charlie, berjuang keras membawa tasku yang berat menuruni tangga.

“Apa yang terjadi?” ia berteriak. Ia berada tepat di belakangku. “Kupikir kau menyukainya?”

Ia menangkap sikuku ketika kami sampai di dapur. Meskipun ia masih bingung, cengkramannya kuat.

Ia memutar tubuhku menghadapnya, dan aku bisa melihat ekspresi di wajahnya, bahwa ia tak berniat membiarkanku pergi. Aku hanya bisa memikirkan satu cara untuk melepaskan diri, dan ini akan sangat melukai hatinya hingga aku membenci diriku sendiri bahkan ketika memikirkannya. Tapi aku tak punya waktu, dan aku harus memikirkan keselamatannya.

Aku menatap geram pada ayahku, air mata kembali menggenangi mataku memikirkan apa yang akan segera kulakukan.

“Aku memang menyukainya—itulah masalahnya. Aku tak bisa melakukan ini lagi! Aku tak bisa hidup disini lebih lama lagi! Aku tak mau terjebak di kota tolol dan membosankan ini seperti Mom! Aku tidak akan membuat kesalahan bodoh yang saam seperti yang dilakukan Mom. Aku benci—aku tak bisa tinggal disini lebih lama lagi!”

Ia melepaskan lenganku seolah-olah aku telah menyetrumnya. Aku berpaling dari wajahnya yang terkejut dan terluka, lalu bergegas ke pintu.

“Bells, kau tak bisa pergi sekarang. Sudah malam,” bisiknya dibelakangku.

Aku tidak menoleh. “Aku akan tidur di truk bila mengantuk.”

“Tunggu 1 minggu lagi,” ia memohon, masih terkejut setengah mati. “Renée akan kembali pada saat itu.”

Ia benar-benar membuatku kesal. “Apa?”

Charlie melanjutkan dengan bersemangat, hampir meracau lega ketika melihat keraguanku. “Dia menelepon ketika kau sedang keluar. Kehidupannya di Florida tidak berjalan baik, dan kalau Phil tidak mendapatkan kontrak hingga akhir pekan, mereka akan kembali ke Arizona. Asisten pelatih Sidewinders bilang mereka masih punya posisi sementara untuknya.”

Aku menggeleng, berusaha mengumpulkan pikiranku yang sedang berantakan. Setiap detik yang berlalu akan semakin membahayakan nyawa Charlie.

“Aku punya kunci,” gumamku, memutar kenop pintu. Ia berdiri terlalu dekat, satu tangannya terulur ke arahku, wajahnya syok. Aku tak bisa membuang waktu dan berdebat dengannya lagi. Aku harus membuatnya lebih sakit lagi.

“Biarkan aku pergi, Carlie.” Aku mengulangi kata-kata terakhir ibuku ketika ia melewati pintu yang sama ini bertahun-tahun yang lalu. Aku mengucapkannya semarah mungkin, lalu membuka pintu, lalu mengempaskannya. “Semuanya kacau, oke? Aku sungguh, sungguh membenci Forks!”

Ucapanku yang jahat berhasil—Charlie bergeming di ambang pintu, terpana, sementara aku berlari menembus malam. Aku amat sangat ketakutan berada di pekarangan yang kosong. Aku berlari seperti kerasukan menuju trukku, membayangkan bayangan gelap di belakangku. Kulempar tasku ke jok dan menarik pintunya hingga terbuka. Kuncinya sudah menggantung di lubang starter.

“Besok aku akan menelepon!” aku berteriak, berharap melebihi apapun bahwa aku bisa menjelaskan semua ini padanya saat itu, namun sadar aku takkan pernah sanggup. Kunyalakan mesin truk dan melesat meninggalkan halaman rumah.

Edward meraih tanganku.

“Menepi,” katanya begitu rumahku, dan Charlie, telah lenyap di belakang kami.

“Aku bisa mengemudi,” kataku di balik air mata yang mengalir ke pipi.

Tahu-tahu tangannya yang panjang mencengkeran pinggangku, dan kakinya mendorong kakiku hingga lepas dari pedal gas. Ia menarikku ke pangkuannya, melepaskan tanganku dari kemudi, dan tiba-tiba saja ia sudah pindah ke jok pengemudi. Trukku tidak oleng sedikitpun.

“Kau takkan bisa menemukan rumahnya,” ia menjelaskan.

Tiba-tiba lampu menyorot terang di belakang kami. Aku memandang lewat kaca belakang, mataku membelalak ketakutan.

“Itu cuma Alice,” ia menenangkanku. Ia memegang tanganku lagi.

Benakku dipenuhi sosok Charlie yang berdiri di ambang pintu. “Si Pemburu?”

“Dia mendengar akhir sandiwaramu,” kata Edward geram.

“Charlie?” tanyaku ngeri.

“Si pemburu mengikuti kita. Sekarang ia berlari di belakang kita.”

Tubuhku langsung membeku.

“Bisakah kita meninggalkannya?”

“Tidak.” Tapi Edward mempercepat mesin trukku sambil berbicara. Mesin truk menggeram.

Rencanaku tiba-tiba tidak terasa brilian lagi.

Aku menoleh ke belakang menatap lampu Alice ketika truk bergetar dan bayangan gelap meluncur di luar jendela.

Darahku bergejolak sesaat sebelum Edward membekap mulutku.

“Itu Emmett!”

Ia melepaskan tangannya dari mulutku, dan memeluk pinggangku.

“Semuanya baik-baik saja, Bella,” ia berjanji. “Kau akan aman.”

Kami melesat melalui kota yang sepi, menuju jalan tol utara.

“Aku tak tahu kau masih bosan dengan kehidupan kota kecil,” katanya berbasa-basi, dan aku tahu ia berusaha mengalihkan perhatianku. “Sepertinya kau menyesuaikan diri dengan sangat baik—terutama akhirakhir ini. Barangkali aku hanya menyanjung diriku sendiri karena telah membuat hidupmu jauh lebih menarik.”

“Aku benar-benar bukan anak yang baik,” aku mengaku, mengabaikan perhatianku, sambil menunduk memandangi lutut. “Itu tadi hal yang sama yang diucapkan ibuku saat dia meninggalkan Dad. Bisa dibilang itu sangat kejam dan tidak adil.”

“Jangan khawatir. Dia akan memaafkanmu.” Ia tersenyum sedikit, meskipun matanya tidak.

Aku menatapnya putus asa, dan ia melihat kepanikan di mataku.

“Bella, semuanya akan baik-baik saja.”

“Tapi tidak akan baik-baik saja saat aku tidak bersamamu,” bisikku.

“Kita akan bersama-sama lagi dalam beberapa hari,” katanya seraya mempererat pelukannya. “Jangan lupa, ini idemu.”

“Ini ide terbaik—tentu saja ini ideku.”

Senyumnya pucat dan langsung lenyap.

“Kenapa ini terjadi?” tanyaku, suaraku melengking. “Kenapa aku?”

Ia menatap marah ke jalanan di depan kami. “Ini salahku—aku bodoh sekali mengeksposmu seperti itu.” Kemarahan dalam suaranya ditujukan untuk dirinya sendiri.

“Bukan itu maksudku,” aku berkeras. “Aku ada disana, memangnya kenapa? Kehadiranku tidak mengganggu 2 yang lain. Kenapa si James ini memutuskan untuk membunuhku? Ada orang dimana-mana, kenapa aku?”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.