Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Beberapa menit berlangsung dalam keheningan, kecuali bunyi deru mesin. Lalu Edward berbicara lagi. “Inilah yang akan kita lakukan. Sesampainya di rumah Bella, kalau si pemburu tidak ada disana, aku akan mengantarnya sampai ke pintu. Kemudian dia punya waktu 15 menit.” Ia menatapku geram dari kaca spion. “Emmett, kau berjaga di luar rumah. Alice, kau ambil truk Bella. Aku akan berada di dalam selama dia di sana. Setelah dia keluar, kalian boleh bawa Jeep-nya pulang dan memberitahu Carlisle.

“Tidak akan,” Emmett menyela. “Aku ikut kau.”

“Pikirkan lagi, Emmett. Aku tak tahu berapa lama aku akan pergi.”

“Sampai kami tahu sejauh mana ini bakal berlangsung, aku ikut kau.”

Edward mendesah. “Kalau si pemburu ada disana,” ia melanjutkan perkataannya dengan muram, “kita tidak akan berhenti.”

“Kita akan sampai disana sebelum dia,” kata Alice yakin.

Edward sepertinya setuju. Apapun masalahnya dengan Alice, sekarang ia tak meragukannya lagi.

“Apa yang akan kita lakukan dengan Jeep-nya?” Alice bertanya.

Suaranya terdengar pahit. “Kau akan membawanya pulang.”

“Tidak, aku tidak mau,” kata Alice tenang.

Rangkaian makian yang tak terdengar itu mulai lagi.

“Kalian semua takkan muat di trukku,” aku berbisik.

Sepertinya Edward tidak mendengarku.

“Kurasa kau harus membiarkanku pergi sendiri.” Aku berkata dengan suara yang bahkan lebih pelan.

Ia mendengarnya.

“Bella, kumohon lakukan saja dengan caraku, sekali ini saja,” katanya, mengertakkan giginya.

“Dengar, Charlie bukan orang bodoh,” protesku. “Kalau besok kau tidak tampak di kota, dia bakal curiga.”

“Itu tak ada hubungannya. Kami akan memastikan dia aman, dan itulah yang terpenting.”

“Lalu bagaimana dengan si pemburu ini? Dia melihat bagaimana sikapmu malam ini. Dia akan berpikir kau bersamaku, dimanapun kau berada.”

Emmett melihat ke arahku, terlihat terkejut lagi. “Edward, dengarkan dia,” desaknya. “Kupikir dia benar.”

“Ya, dia memang benar,” Alice menimpali.

“Aku tak bisa melakukannya.” Suara Edward dingin.

“Emmett juga harus tinggal,” aku melanjutkan. “Dia jelas menaruh perhatian pada Emmett.”

“Apa?” Emmett berbalik padaku.

“Kau akan menjadi lawan yang sebanding baginya bila kau tetap tinggal,” timpal Alice.

Edward menatap Alice tak percaya. “Menurutmu, aku harus membiarkan Bella pergi sendirian?”

“Tentu saja tidak,” sahut Alice. “Jasper dan aku akan membawanya.”

“Aku tak bisa melakukannya,” Edward mengulangi kata-katanya, tapi kali ini terselip nada menyerah di balik suaranya. Akal sehatnya mulai bekerja.

Aku mencoba membujuk. “Tetaplah disini selama seminggu—” aku melihat ekspresinya lewat kaca spion dan meralat kata-kataku “—beberapa hari. Biarkan Charlie melihat kau tidak menculikku, dan buat perburuan James ini berantakan. Pastikan dia benar-benar kehilangan jejakku. Lalu datanglah dan temui aku. Tentu saja ambil rute memutar, kemudian Alice dan Jasper bisa pulang.”

Aku bisa melihat Edward mempertimbangkan ideku.

“Menemuimu dimana?”

“Phoenix.” Tentu saja.

“Tidak. Dia akan mendengar bahwa itulah tempat yang kau tuju,” katanya tidak sabar.

“Dan kau akan membuatnya kelihatan seperti jebakan, tentunya. Dia akan tahu kita sengaja membiarkannya mendengarkan percakapan kita. Dia takkan pernah percaya aku sebenarnya akan pergi ke tempat yang kukatakan.”

“Dia licik,” Emmett tergelak.

“Dan kalau itu tidak berhasil?”

“Beberapa juta orang tinggal di Phoenix,” aku memberitahunya.

“Tidak terlalu sulit mendapatkan buku telepon.”

“Aku takkan pulang.”

“Oh?” tanyanya, nada suaranya berbahaya.

“Aku cukup dewasa untuk punya tempat tinggal sendiri.”

“Edward, kami akan menemaninya,” Alice mengingatkan.

“Apa yang akan kalian lakukan di Phoenix?” ia bertanya pada Alice.

“Tetap di dalam ruangan.”

“Aku sepertinya menyukainya.” Emmett sedang memikirkan tentang menghabisi James, tak diragukan lagi.

“Diam, Emmett.”

“Dengar, kalau kita mencoba membunuhnya sementara Bella masih disini, kemungkinan besar akan ada yang terluka—dia akan terluka, atau kau karena mencoba melindunginya. Nah, kalau kita menyerang disaat dia sendirian…” dia tidak menyelesaikan kalimatnya, senyumnya mengembang perlahan. Aku benar.

Sekarang Jeep melaju pelan saat kami memasuki kota. Meskipun ucapanku terdengar berani, bisa kurasakan bulu kudukku meremang. Aku memikirkan Charlie, sendirian di rumah, dan mencoba untuk berani.

“Bella.” Suara Edward terdengar sangat lembut. Alice dan Emmett memandang keluar jendela. “Kalau kau membiarkan sesuatu terjadi padamu—apapun—aku akan menuntut tanggung jawab darimu. Kau mengerti?”

“Ya,” sahutku, menelan ludah.

Ia berpaling pada Alice.

“Apakah Jasper bisa menanganinya?”

“Percayalah padanya, Edward. Dia telah bekerja dengan sangat, sangat baik, dalam segala hal.”

“Bisakah kau menanganinya?” ia bertanya.

Dan si kecil Alice yang anggun menarik bibirnya lalu meringis mengerikan sambil mengeram parau. Aku langsung meringkuk ketakutan.

Edward tersenyum padanya. “Tapi simpan opinimu untuk dirimu sendiri,” gumamnya tiba-tiba.

 

 

19. Perpisahan

Charlie menungguku. Semua lampu di rumah menyala. Pikiranku kosong ketika aku mencoba memikirkan cara agar ia mau membiarkanku pergi. Ini tidak bakal menyenangkan.

Perlahan Edward menepikan Jeep, memarkirnya tepat di belakang trukku. Mereka bertiga sangat waspada, duduk tegak di kursi mereka, mendengarkan setiap suara di hutan, mengamati setiap bayangan, menghirup setiap aroma, mencari sesuatu yang tidak pada tempatnya. Mesin dimatikan, dan aku duduk tak bergerak ketika mereka terus mendengarkan.

“Dia tidak disini,” kata Edward tegang. “Ayo.”

Emmett meraih ke sisiku untuk membantuku melepaskan sabuk pengaman. “Jangan khawatir, Bella,” katanya pelan namun ceria, “kami akan membereskan semuanya disini dalam waktu singkat.”

Aku merasakan mataku nyaris berkaca-kaca saat memandang Emmett. Aku nyaris tak mengenalnya, namun bagaimanapun juga, tidak mengetahui kapan aku bisa bertemu lagi dengannya setelah malam ini, membuatku sedih. Aku tahu ini hanyalah rasa perpisahan yang harus kutahankan selama 1 jam ke depan, dan pikiran itu membuat air mataku mulai turun.

“Alice, Emmett.” Suara Edward memerintah. Mereka menyelinap tanpa suara menembus kegelapan, langsung menghilang. Edward membukakan pintuku dan memegang tanganku, kemudian menarikku dalam pelukkannya yang melindungi. Ia mengantarku dengan cepat ke rumah, matanya selalu menjelajahi kegelapan malam.

“Lima belas menit,” ia mengingatkanku dengan berbisik.

“Aku bisa melakukannya,” isakku. Air mata memberiku inspirasi.

Aku berhenti di teras dan menggenggam wajahnya dengan kedua tanganku. Aku menatap matanya lekat-lekat.

“Aku mencintaimu,” kataku, suaraku pelan dan dalam. “Aku akan selalu mencintaimu, tak peduli apa yang terjadi sekarang.”

“Takkan terjadi apa-apa padamu, Bella,” katanya, sama tajamnya.

“Jalankan saja rencananya, oke? Jaga Charlie untukku. Dia takkan menyukaiku lagi setelah ini, dan aku ingin punya kesempatan untuk meminta maaf nantinya.”

“Masuklah, Bella. Kita harus bergegas.” Suaranya mendesak.

“Satu lagi,” aku berbisik penuh hasrat. “Jangan dengarkan kata-kataku malam ini.” Ia mencondongkan tubuhnya, jadi yang perlu kulakukan hanya berjingkat untuk mencium bibirnya yang beku dan terkejut sekuat mungkin. Kemudian aku berbalik dan menendang pintu hingga terbuka.

“Pergilah, Edward!” Aku berteriak padanya, berlari masuk dan membanting pintu hingga tertutup di hadapan wajahnya yang masih terkejut.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.