Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Ayo, Bella.” Suara Edward pelan dan lemah.

Selama itu aku berdiri kaku tak bergerak di tempat yang sama, begitu ketakutannya hingga sama sekali tidak bergerak. Edward sampai harus meraih sikuku dan menyentakku hingga aku tersadar. Alice dan Emmett berada dekat di belakang kami, menyembunyikan diriku. Aku berjalan tersandung-sandung di sebelah Edward, masih terkejut karena ngeri. Aku tak bisa mendengar apakah yang lain sudah pergi atau belum. Ketidaksabaran Edward begitu kentara ketika kami bergerak dengan kecepatan manusia menuju tepi hutan.

Sesampainya di bawah naungan pepohonan, Edward mengayunkanku ke punggungnya tanpa menghentikan langkah. Aku berpegangan erat-erat saat ia bergerak, yang lain tak mau menjauh darinya. Aku terus menundukkan kepala, tapi mataku yang membelalak ketakutan tak mau terpejam. Bagai hantu mereka melesat menembus hutan yang kini kelam. Perasaan senang yang biasanya menyelimuti Edward ketika berlari kini lenyap sepenuhnya, digantikan amarah yang merasuki dan membuatnya bergerak lebih cepat. Bahkan denganku di punggungnya, yang lain tak bisa mendahuluinya.

Kami tiba di Jeep dalam waktu teramat singkat, Edward nyaris tidak memperlambat gerakannya keika menaruhku di jok belakang.

“Pasangkan sabuk pengamannya,” ia memerintahkan Emmett, yang menyelinap masuk ke sebelahku.

Alice telah berada di jok depan, dan Edward menyalakan mesin. Kemudian mesinya menderu dan kami bergerak mundur, berputar menghadapi jalanan yang berliku.

Edward menggeramkan sesuatu yang terlalu cepat untuk bisa kumengerti, tapi kedengerannya jelas seperti serangkaian makian.

Perjalanan yang berguncang-guncang itu membuatnya lebih buruk saat ini, dan kegelapan hanya membuatnya semakin mengerikan. Emmett dan Alice memandang saksama keluar jendela.

Kami tiba di jalan utama, dan meskipun laju kami bertambah cepat, aku bisa melihat jauh lebih baik kemana tujuan kami. Dan kami menuju ke selatan, menjauh dari Forks.

“Kita mau kemana?” aku bertanya.

Tak ada yang menjawab. Bahkan tak seorangpun melihat ke arahku.

“Sialan, Edward! Kemana kau membawaku?”

“Kami harus membawamu pergi dari sini—jauh sekali—sekarang.” Ia tidak menoleh ke belakang, matanya terpaku ke jalan. Spidometer menunjukkan kecepatan 105 mil per jam.

“Kembali! Kau harus membawaku pulang!” aku berteriak. Aku memberontak, berusaha melepaskan kaitan tolol sabuk pengaman ini.

“Emmett,” kata Edward dingin.

Dan Emmett mengamankan tanganku dalam genggamannya yang kuat.

“Tidak! Edward! Tidak, kau tidak boleh melakukan ini.”

“Aku harus, Bella, sekarang kumohon diamlah.”

“Tidak akan! Kau harus membawaku pulang—Charlie akan menelepon FBI! Mereka akan mengejar keluargamu—Carlisle dan Esme! Mereka terpaksa harus pergi, bersembunyi selamanya!”

“Tenanglah, Bella.” Suaranya dingin. “Kami sudah pernah mengalami itu sebelumnya.

“Tidak demi aku, tidak akan! Kau tidak akan menghancurkan segalanya demi aku!” Aku memberontak habis-habisan, dan sama sekali saia-sia.

Alice berbicara untuk pertama kali. “Menepilah, Edward.”

Edward menatapnya marah, kemudian menambah kecepatan.

“Kau tidak mengerti,” ia mengerang frustasi. Aku belum pernah mendengar suaranya selantang ini, begitu memekakan di dalam Jeep yang sempit. Jarum spidometer nyaris mendekati angka 115. “Dia pemburu, Alice, tidakkah kau melihatnya? Dia pemburu!”

Aku merasakan Emmett menegang di sebelahku, dan aku mempertanyakan reaksinya terhadap kata itu. Kata itu memiliki arti lebih bagi mereka bertiga daripada bagiku; aku ingin memahaminya, tapi tak ada celah bagiku untuk bertanya.

“Menepilah, Edward.” Nada suara Alice tenang, namun terselip wibawa di dalamnya yang belum pernah kudengar sebelumnya.

Jarum spidometer bergerak melewati 120.

“Lakukan, Edward.”

“Dengar, Alice. Aku melihat pikirannya. Berburu adalah hasratnya, obsesinya—dan dia menginginkan Bella, Alice—Bella, secara spesifik. Dia memulai perburuannya malam ini.”

“Dia tak tahu kemana—”

Edward menginterupsi. “Pikirmu berapa lama waktu yang diperlukannya untuk menemukan baunya di kota? Rencananya bahkan sudah matang sebelum Laurent bicara.”

Aku terkesiap, menyadari kemana aroma tubuhku akan membawanya. “Charlie! Kau tidak bisa meninggalkannya disana! Kau tak boleh meninggalkannya!” Aku meronta-ronta di balik ikatan sabuk.

“Dia benar,” kata Alice.

Jeep sedikit melambat.

“Mari kita pertimbangkan pilihan kita sejenak,” bujuk Alice.

Jeep kembali melambat, lebih drastis, dan tiba-tiba kami berhenti sambil berdecit di bahu jalan tol. Aku terdorong ke depan, dan terhempas lagi ke jok.

“Tidak ada pilihan,” desis Edward.

“Aku tidak akan meninggalkan Charlie!” teriakku.

Ia benar-benar mengabaikanku.

“Kita harus membawanya kembali,” Emmett akhirnya berbicara.

“Tidak,” sahut Edward mantap.”

“Dia bukan tandingan kita, Edward. Dia takkan bisa menyentuhnya.”

“Dia akan menunggu.”

Emmett tersenyum. “Aku juga bisa menunggu.”

“Kau tidak mengerti. Sekali memutuskan untuk berburu, dia tak tergoyahkan. Kita harus membunuhnya.”

Emmett kelihatan setuju-setuju saja dengan ide itu. “Itu sebuah pilihan.”

“Dan yang perempuan. Dia bersamanya. Bila nantinya berubah menjadi perseteruan, si pemimpin akan turun tangan juga.”

“Jumlah kita cukup banyak.”

“Itu pilihan lain,” kata Alice pelan.

Edward berbalik padanya, murka, suaranya mengeram. “Tidak—ada—pilihan—lain!”

Emmett dan aku memandangnya terkejut, tapi Alice kelihatannya biasa-biasa saja. Keheningan berlangsung panjang sementara Edward dan Alice saling menatap.

Aku memecahkannya. “Tidakkah kalian ingin mendengar rencanaku?”

“Tidak,” geram Edward. Alice memelototinya, akhirnya terpancing juga.

“Dengar,” aku memohon. “Bawa aku kembali.”

“Tidak,” potong Edward.

Aku memandang marah dan melanjutkan. “Bawa aku kembali, akan kubilang pada ayahku bahwa aku ingin pulang ke Phoenix. Kukemasi barang-barangku. Kita tunggu sampai si pemburu memperhatikan, baru kita lari. Dia akan mengikuti kita dan tidak mengganggu Charlie. Charlie takkan melaporkan keluargamu pada FBI. Lalu kau bisa membawaku kemana pun kau mau.”

Mereka menatapku, terkesiap.

“Bukan ide yang buruk, sungguh.” Keterkejutan Emmett jelas penghinaan.

“Bisa saja berhasil—dan kita tak bisa membiarkan ayahnya begitu saja tanpa perlindungan. Kalian tahu itu,” kata Alice.

Semua menatap Edward.

“Terlalu berbahaya—aku tak menginginkannya berada dalam radius 100 mil dari Bella.”

Emmett tampak sangat percaya diri. “Edward, dia takkan bisa mengalahkan kita.”

Alice berpikir sebentar. “Aku tidak melihatnya menyerang. Dia akan mencoba menunggu kita meninggalkannya sendirian.”

“Takkan perlu waktu lama baginya untuk menyadari itu takkan terjadi.”

“Aku memerintahkanmu untuk membawaku pulang.” Aku berusaha terdengar tegas.

Edward menekan jemarinya di pelipis dan memejamkan mata.

“Kumohon,” kataku, suaraku jauh lebih pelan.

Ia tidak mendongak. Ketika bicara, suaranya terdengar terluka.

“Kau akan pergi malam ini, tak peduli apakah si pemburu melihat atau tidak. Katakan pada Charlie, kau tak tahan lagi berada di Forks. Ceritakan apa saja agar dia percaya. Kemasi apapun yang bisa kau ambil, kemudian masuk ke trukmu. Aku tak peduli apa yang dikatakannya padamu. Kau punya waktu 15 menit. Kau dengar aku? 15 menit setelah kau keluar dari pintu.”

Jeep menderu menyala, dan ia memutarnya, bannya berdecit-decit. Jarum spidometer mulai bergerak sesuai kecepatan.

“Emmett?” Aku bertanya, menatap lurus tanganku.

“Oh, maaf.” Ia melepaskannya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.