Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Carlisle, Emmett, dan yang lain berpaling ke arah yang sama, mendengarkan suara langkah yang kelewat samar bagi telingaku.

 

 

18. Perburuan

Mereka muncul satu per satu dari tepi hutan, terpisah-pisah sejauh 12 meter. Laki-laki yang pertama langsung mundur, membiarkan laki-laki yang lain yang berdiri di depan, menempatkan dirinya di dekat laki-laki tinggi berambut gelap yang sikapnya jelas menunjukkan dialah pemimpin mereka. Yang ketiga wanita, dari jarak ini aku hanya bisa melihat bahwa rambutnya bernuansa kemerahan yang mengagumkan

Mereka bergerak saling mendekat sebelum dengan hati-hati menghampiri keluarga Edward, memperlihatkan rasa hormat alami sekelompok predator ketika bertemu jenisnya sendiri dalam kelompok yang lebih besar dan asing.

Ketika mereka mendekat, bisa kulihat betapa berbedanya mereka dengan keluarga Cullen. Langkah mereka pelan, anggun, langkah yang secara konstan nyaris berubah siap menerkam. Mereka berpakaian ala backpacker pada umumnya: jins dan atasan kasual berkancing yang terbuat dari bahan tebal dan tahan lama. Namun pakaian mereka tampak usang karena sering dipakai, dan mereka bertelanjang kaki. Kedua laki-laki itu berambut cepak, tapi rambut si wanita yang berwarna jingga terang dipenuhi dedaunan dan serpih-serpihan hutan.

Mata mereka yang tajam dengan hati-hati mengamati postur Carlisle yang elegan dan sempurna. Ia berdiri diapit Emmett dan Jasper. Para pendatang itu melangkah hati-hati menghampiri mereka, dan tanpa komunikasi yang kentara, mereka masing-masing menyesuaikan diri dan bersikap lebih santai dan berwibawa.

Laki-laki yang berdiri di depan jelas yang paling tampan, kulitnya bernuansa hijau di balik warna pucat yang sama, rambutnya hitam mengkilap. Postur tubuhnya sedang, ototnya kekar, tapi kalah jauh dari Emmett. Ia tersenyum ramah, memamerkan gigi putihnya.

Si perempuan lebih liar, dengan resah ia memandang bergantian menatap para laki-laki di depannya serta yang berdiri di sekitarku, rambutnya yang berantakan berkibaran dalam angin yang bertiup pelan. Lakilaki kedua berdiri diam di belakang mereka, tubuhnya lebih ramping daripada si pemimpin, rambutnya yang coklelat muda serta bagian-bagian lainnya biasa-biasa saja. Matanya, meskipun diam, entah mengapa tampak paling waspada.

Mata mereka juga berbeda. Bukan warna emas atau hitam seperti yang kuharapkan, tapi warna burgundy gelap yang keji dan mengancam.

Sambil masih tersenyum, laki-laki berambut gelap melangkah maju ke arah Carlisle.

“Kami kira kami mendengar permainan,” katanya santai dengan sedikit logat Prancis. “Aku Laurent, ini Victoria dan James.” Ia menunjuk vampir-vampir di sebelahnya.

“Aku Carlisle. Ini keluargaku, Emmett dan Jasper, Rosalie, Esme dan Alice, Edward dan Bella.” Ia sengaja tidak menunjuk kami satu per satu. Aku terkejut ia menyebut namaku.

“Ada ruang untuk beberapa pemain lagi?” tanya Laurent ramah.

Carlisle membalas dengan sama ramahnya. “Sebenarnya, kami baru saja selesai. Tapi lain kali kami jelas tertarik mengajak kalian bermain. Apakah kalian berencana untuk tinggal lama di daerah ini?”

“Kami sedang menuju ke utara, tapi kami penasaran ingin melihat siapa yang ada di sekitar sini. Sudah lama kami belum berjumpa dengan siapa-siapa.”

“Tidak, wilayah ini biasanya kosong kecuali kami dan terkadang beberapa pengunjung seperti kalian.”

Suasana tegang perlahan berganti menjadi pembicaraan santai, kurasa Jasper menggunakan bakatnya yang tidak biasa untuk mengendalikan situasi.

“Jangkauan berburu kalian mencakup mana saja?” Laurent bertanya dengan sikap santai.

Carlisle mengabaikan maksud di balik pertanyaan itu. “Disini, di Olympic Range, di sekitar Coast Ranges untuk waktu tertentu. Kami mempunyai tempat tinggal permanen di dekat sini. Ada lagi yang menetap permanen seperti kami di dekat Denali.”

Laurent mengetuk-ngetukkan kakinya perlahan.

“Permanen? Bagaimana kalian mengaturnya?” Ada rasa penasaran yang murni dalam suaranya.

“Kenapa kalian tidak ikut ke rumah kami dan kita bisa mengobrol dengan nyaman?” undang Carlisle. “Ceritanya agak panjang.”

James dan Victoria bertukar pandang kaget mendengar kata ‘rumah’, tapi Laurent lebih pandai mengendalikan ekspresinya.

“Kedengarannya sangat menarik dan bersahabat.” Senyumnya ramah. “Kami telah berburu sepanjang perjalanan dari Ontario, dan sudah lama belum sempat membersihkan diri.” Ia mengagumi penampilan Carlisle yang beradab.

“Kumohon jangan tersinggung, tapi kami akan menghargai bila kalian tidak berburu di sekitar daerah ini. Kalian mengerti, kami harus menjaga agar eksistensi kami tetap terjaga,” Carlisle menjelaskan.

“Tentu saja.” Laurent mengangguk. “Kami tentu tidak akan melanggar teritori kalian. Lagipula, kami baru saja bersantap di luar Seattle.” Ia tertawa. Rasa ngeri menjalar di tulang punggungku.

“Akan kami tunjukkan jalannya kalau kalian ingin lari bersama kami—Emmett dan Alice, kalian bisa pergi bersama Edward dan Bella ke Jeep,” Carlisle menambahkan dengan tenang.

Tiga hal tampaknya terjadi secara bersamaan ketika Carlisle bicara. Rambutku berantakan ditiup angin, tubuh Edward menegang, dan laki-laki kedua, James, tiba-tiba memutar kepalanya, mengamatiku, hidungnya mengendus-endus.

Tubuh mereka langsung menegang ketika James maju selangkah dan siap menerkam. Edward memperlihatkan giginya, balas siap menerkam, menggeram penuh ancaman. Sama sekali bukan geraman main-main yang kudengar tadi pagi, melainkan hal yang paling mengerikan yang pernah kudengar. Rasa ngeri pun menjalar dari ujung rambut hingga ke ujung kakiku.

“Apa ini?” Lauren blak-blakan menunjukkan rasa terkejutnya. Baik Edward maupun James tidak mengubah pose agresif mereka. James bergerak sedikit ke samping, dan sebagai jawabannya Edward sedikit bergeser.

“Dia bersama kami.” Jawaban Carlisle yang tegas diarahkan langsung pada James. Laurent sepertinya tidak mencium aroma tubuhku setajam James, tapi tampaknya sekarang dia sudah menyadarinya.

“Kalian membawa snack?” tanyanya, ekspresinya keheranan saat ia melangkah enggan ke depan.

Edward menggeram bahkan lebih menakutkan lagi, bengis, bibirnya terangkat tinggi memamerkan giginya yang berkilauan.

“Tapi dia manusia,”protes Laurent. Ucapannya sama sekali tidak bernada agresif, semata-mata hanya terkejut.

“Ya.” Emmett jelas-jelas membela Carlisle, matanya tertuju pada James. Perlahan James menegakan tubuhnya, tapi tatapannya tak pernah lepas dariku, cuping hidungnya masih mengembang. Edward tetap tegang bagai singa di hadapanku.

Ketika Laurent bicara, nada suaranya lembut—mencoba menenangkan permusuhan yang tiba-tiba muncul. “Kelihatannya banyak yang harus kita pelajari tentang satu sama lain.”

“Tentu.” Suara Carlisle masih tenang.

“Tapi kami ingin menerima undanganmu.” Matanya bergantian menatap Carlisle dan aku. “Dan, tentu saja, kami takkan melukai perempuan manusia ini. Seperti kataku, kami takkan berburu dalam wilayah buruanmu.

James memandang tak percaya dan kesal kepada Laurent. Sekali lagi ia bertukar pandang sekilas dengan Victoria, yang matanya menatap gelisah dari satu wajah ke wajah yang lain.

Sesaat Carlisle mempelajari ekspresi wajah Laurent yang gamblang sebelum berbicara. “Akan kami tunjukkan jalannya. Jasper, Rosalie, Esme?” panggilnya. Mereka mendekat, menghalangiku dari pandangan saat mereka berkumpul. Serta merta Alice sudah berada di sisiku, dan Emmett mundur perlahan, tatapannya terkunci pada James saat ia berjalan membelakangi kami.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.