Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Baik,” seru Esme lantang, dan aku tahu bahkan Edward pun akan mendengarnya, sejauh apa pun posisinya. “Ke posisi masing-masing.”

Alice berdiri tegak, seolah-olah tak bergerak. Gayanya tampak licik daripada mengancam. Ia memegang bola dengan kedua tangannya setinggi pinggang, dan kemudian, bagai serangan kobra, tangan kanannya mengayun dan bola menghantam tangan Jasper.

“Apakah itu strike?” Aku berbisik kepada Esme.

“Kalau mereka tidak memukulnya, baru disebut strike,” ia memberitahu.

Jasper melempar bolanya kembali pada Alice. Alice tersenyum sebentar. Kemudian tangannya mengayun lagi.

Kali ini entah bagaimana tongkat pemukulnya berhasil memukul bola yang tak tampak itu tepat pada waktunya. Bunyi pukulan itu menggetarkan, menggelegar; menggema hingga ke pegunungan—aku langsung mengerti mengapa mereka memerlukan badai petir.

Bola itu meluncur bagai meteor di atas lapangan, melayang menembus hutan yang mengelilingi.

“Home run,” aku bergumam.

“Tunggu,” Esme mengingatkan, mendengarkan dengan saksama, satu tangan terangkat. Emmett tampak seperti kelebatan dari satu base ke base berikut, Carlisle membayanginya. Aku tersadar Edward menghilang.

“Out!” Esme berteriak lantang. Aku menatap tak percaya ketika Edward melompat keluar dari tepi pepohonan, tangannya yang terangkat menggengam bola, senyumnya yang lebar nyata bahkan olehku.

“Emmett memukul paling keras,” jelas Esme, “tapi Edward berlari paling cepat.”

Inning berlanjut di depan mataku yang keheranan. Mustahil mengikuti kecepatan bola yang melayang dan kecepatan mereka mengelilingi lapangan.

Aku mempelajari alasan lain mengapa mereka menungggu badai petir untuk bermain ketika Jasper, berusaha menghindari tangkapan sempurna Edward, memukul bola mati ke arah Carlisle. Carlisle lari mengejar bola dan kemudian mengejar Jasper ke base pertama. Ketika mereka bertabrakan, suaranya bagai tabrakan dua batu besar. Aku melompat dengan waswas, tapi entah bagaimana mereka sama sekali tidak terluka.

“Safe,” seru Esme dengan suaranya yang tenang.

Tim Emmett memimpin dengan skor satu—Rosalie melayang mengelilingi base demi base setelah Emmett berhasil memukul bola jauh-jauh—ketika Edward menangkap bola ketika. Ia berlari cepat ke sisiku, wajahnya memancarkan rasa senang.

“Bagaimana menurutmu?” tanyanya.

“Yang jelas, aku takkan pernah bisa duduk sepanjang pertandingan Major League Baseball kuno yang membosankan lagi.”

“Dan kedengarannya kau sering melakukannya sebelumnya,” ia tertawa.

“Aku agak kecewa,” godaku.

“Kenapa?” tanyanya, bingung.

“Well, akan menyenangkan kalau aku bisa menemukan satu saja hal yang kaulakukan tak lebih baik daripada siapapun di planet ini.”

Ia menyunggingkan senyumnya yang istimewa, membuatku kehabisan napas.

“Giliranku,” katanya, menuju base.

Ia bermain pintar, menjaga bola tetap rendah, jauh dari jangkauan Rosalie yang tangannya selalu siap di pinggir lapangan, melampaui dua base bagai kilat sebelum Emmett berhasil mengembalikan bolanya dalam permainan. Carlisle membuat sebuah pukulan sangat jauh keluar lapangan—dengan suara dentuman yang menyakitkan telingaku—sehingga dia dan Edward berhasil menyelesaikan putaran. Alice ber-high five dengan mereka.

Skor terus berubah ketika pertandingan berlanjut, dan mereka saling menertawakan layaknya pemain baseball normal saat mereka bergantian memimpin. Kadang-kadang Esme menyuruh mereka tenang. Petir terus bergemuruh, tapi kami tetap kering seperti yang diperkirakan Alice.

Sekarang giliran Carlisle memukul dan Edward menangkap. Tiba-tiba Alice terkesiap. Mataku tertuju pada Edward, seperti biasa, dan aku melihat kepalanya tersentak untuk memandang Alice. Mata mereka bertemu dan dalam sekejap sesuatu terjadi diantara mereka. Edward sudah berada di sisiku sebelum yang lainnya dapat bertanya kepada Alice apa yang terjadi.

“Alice?” suara Esme tegang.

“Aku tidak melihat—aku tak bisa mengatakannya,” bisiknya.

Semua sudah berkumpul.

“Ada apa, Alice?” Carlisle bertanya dengan suara tenang berwibawa.

“Mereka melesat jauh lebih cepat daripada yang kukira. Bisa kulihat penglihatanku sebelumnya keliru,” gumamnya.

Jasper mendekati Alice, posturnya protektif. “Apa yang berubah?” tanyanya.

“Mereka mendengar kita bermain, dan itu membuat mereka berbelok,” katanya menyesal, seolah-olah ia bertanggung jawab atas apa pun yang membuatnya ketakutan.

Tujuh pasang mata yang gesit menandang wajahku, kemudian berpaling.

“Seberapa cepat?” Carlisle bertanya, bebalik menghadap Edward.

Ketegangan menyelimuti wajahnya.

“Kurang dari lima menit. Mereka berlari—mereka ingin bermain.” Wajah Edward geram.

“Kau bisa melakukannya?” Carlisle bertanya padanya, matanya kembali berkilat-kilat memandangku.

“Tidak, tidak sambil menggendong—” Ia terdiam. “Lagipula, hal terakhir yang kita butuhkan adalah mereka mencium aromanya dan mulai berburu.”

“Berapa banyak?” tanya Emmett pada Alice.”

“Tiga,” jawab Alice singkat.

“Tiga!” sahut Emmett meremehkan. “Biarkan mereka datang.” Otot lengannya yang kekar tampak tegang.

Selama sesaat yang tampaknya lebih lama daripada yang sesungguhnya, Carlisle berpikir. Hanya Emmett yang tampak tenang; yang lain menatap wajah Carlisle dengan tatapan gelisah.

“Mari kita lanjutkan saja permainan ini,” akhirnya Carlisle memutuskan. Suaranya tenang dan datar. “Alice bilang, mereka hanya penasaran.”

Semua ini diucapkan dalam curahan kata-kata yang hanya berlangsung beberapa detik. Aku mendengarkan dengan saksama dan menangkap sebagian besar maksudnya, meskipun aku tak bisa mendengar apa yang sekarang Esme tanyakan pada Edward dengan getaran bibirnya yang tak bersuara. Aku

hanya melihat Edward menggeleng samar dan wajah Esme tampak lega.

“Kau yang menangkap, Esme,” katanya. “Cukup untukku.” Dan dia pun berdiri di depanku.

Yang lain kembali ke lapangan, dengan waswas menyapu hutan yang gelap dengan mata mereka yang tajam. Alice dan Esme tampak memfokuskan pandangan ke sekitar tempatku berdiri.

“Uraikan rambutmu,” Edward berkata dengan nada suara rendah dan datar.

Aku mematuhinya, melepaskan ikat rambutku dan mengibaskan rambutku hingga tergerai.

Aku mengatakan apa yang tampak di depan mataku. “Yang lain berdatangan sekarang.”

“Ya, kumohon diamlah, jangan bersuara, jangan bergerak dari sisiku.” Ia menyembunyikan dengan baik ketegangan dalam suaranya, tapi toh aku dapat menangkapnya. Ia menarik rambut panjangku ke depan, menutupi wajah.

“Itu takkan membantu,” kata Alice lembut. “Aku dapat mencium baunya dari seberang lapangan.”

“Aku tahu.” Sekelumit perasaan putus asa mewarnai nada suaranya.

Carlisle berdiri di base, dan yang lain iktu bermain dengan setengah hati.

“Apa yang Esme tanyakan padamu?” bisikku.

Ia ragu-ragu sesaat sebelum menjawab. “apakah mereka haus,” gumamnya enggan.

Detik-demi detik berlalu; sekarang permainan berlanjut tanpa semangat. Tak seorang pun berani memukul lebih keras dari pukulan asal-asalan, dan Emmett, Rosalie, dan Jasper berdiri di tengah lapangan. Ketika sesekali terlepas dari ketakutan yang membuat buntu pikiranku, aku menyadari mata Rosalie tertuju padaku. Tatapannya tanpa ekspresi, tepi sesuatu dari bentuk mulutnya membuatku berpikit ia marah.

Edward sama sekali tidak memperhatikan permainan, mata dan pikirannya menerawang ke hutan.

“Maafkan aku, Bella,” gumamnya marah. “Sungguh bodoh dan tak bertanggung jawab telah mengeksposmu seperti ini. Aku sungguh menyesal.”

Aku mendengar napasnya berhenti, matanya menatap hampa sisi kanan lapangan. Ia setengah melangkah, memposisikan diri di antara aku dan apa yang bakal datang.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.