Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Oh!” dengusku ketika terempas ke tanah yang basah.

Ia menatapku tak percaya, jelas-jelas tak yakin apakah ia masih terlalu marah padaku untuk menganggapku lucu. Tapi ekspresiku yang kebingungan membuatnya santai, dan ia pun tertawa terbahakbahak.

Aku bangkit berdiri, mengabaikannya sambil membersihkan lumpur dan bagian belakang jaketku. Itu hanya membuatnya tertawa lebih keras. Merasa jengkel, aku mulai melangkah ke dalam hutan.

Aku merasakan lengannya memeluk pinggangku.

“Kau mau kemana, Bella?”

“Nonton pertandingan baseball. Kau kelihatannya tidak tertarik lagi bermain, tapi aku yakin yang lain akan bersenang-senang tanpa dirimu.”

“Kau berjalan ke arah yang salah.”

Aku berbalik tanpa melihat ke arahnya, dan berjalan mengentak-entak ke arah sebaliknya. Ia menangkapku lagi.

“Jangan marah, aku tak dapat menahan diri. Kau seharusnya melihat wajahmu sendiri.” Ia tergelak sebelum bisa menahannya.

“Oh, jadi hanya kau yang berhak marah?” tanyaku, alisku terangkat.

“Aku tidak marah padamu.”

“’Bella, kau akan menjadi alasan kematianku’?” aku mengingatkannya dengan nada sinis.

“Itu hanya pernyataan sesungguhnya.”

Aku berusaha menjauhkan diri darinya lagi, tapi ia menangkapku dengan cepat.

“Kau marah,” aku berkeras.

“Ya.”

“Tapi kau baru bilang—”

“Aku tidak marah padamu. Tidak bisakah kau melihatnya, Bella?” Tiba-tiba ia tegang, seluruh selera humornya lenyap. “Tidakkah kau mengerti?”

“Mengerti apa?” tuntutku, bingung dengan perubahan suasana hatinnya yang tiba-tiba, begitu juga kata-katanya.

“Aku takkan pernah marah padamu—bagaimana mungkin bisa? Kau begitu berani, percaya… hangat.”

“Lalu kenapa?” bisikku, mengingat suasana hatinya yang kelam yang menjauhkannya dariku, yang selalu kuinterpretaskan sebagai perasaan frustasi yang rasional—frustasi akan kelemahanku, kelambananku, dan reaksi manusiaku yang tak terkendali…

Hati-hati ia meletakkan tangannya di kedua sisi wajahku. “Aku membangkitkan kemarahanku sendiri,” katanya lembut. “Karena selalu membahayakan dirimu. Eksistensiku sendiri membahayakanmu. Kadangkadang aku benar-benar membenci diriku sendiri. Aku harus lebih kuat, aku harus bisa—”

Kuletakkan tanganku di atas mulutnya. “Jangan.”

Ia meraih tanganku, memindahkannya dari bibirnya, namun meletakkannya di wajahnya.

“Aku mencintaimu,” katanya. “Itu alasan menyedihkan untuk apa yang kulakukan, tapi itu masih benar.”

Itulah pertama kalinya ia menyatakan cintanya padaku—dalam begitu banyak kata-kata. Ia mungkin tidak menyadarinya, tapi aku tentu saja menyadarinya.

“Sekarang, kumohon bersikaplah yang baik,” ia melanjutkan, dan membungkuk untuk menyapukan bibirnya dengan lembut di bibirku.

Aku diam tak bergerak. Lalu mendesah.

“Kau berjanji pada Kepala Polisi Swan akan mengantarku pulang tidak sampai larut, ingat? Sebaiknya kita pergi sekarang.”

“Ya, Ma’am.”

Ia tersenyum sedih dan melepaskanku, kecuali satu tanganku. Ia membimbingku menaiki ketinggian beberapa meter, menembus semak-semak yang basah dan padat, mengitari pohon cemara berdaun yang besar sekali, dan kami pun sampai, di ujung lapangan terbuka yang luas di pangkuan puncak Pegunungan Olympic. Luasnya dua kali stadion baseball.

Aku bisa melihat yang lain semua ada disana; Esme, Emmett, Rosalie yang duduk di atas pecahan batu yang menonjol adalah yang terdekat dengan kami, mungkin jauhnya seratus meter. Lebih jauh lagi aku bisa melihat Jasper dan Alice, setidaknya jaraknya seperempat mil, kelihatannya sedang melempar-lempar sesuatu, tapi aku tak melihat bolanya. Kelihatannya Carlisle sedang menandai base, tapi benarkah base-base itu terpisah sejauh itu?

Ketika kami sampai, Esme, Emmett, dan Rosalie bangkit berdiri. Esme menghampiri kami. Emmett mengikuti setelah lama menatap punggung Rosalie. Rosalie telah bangkit dengan gemulai dan melangkah ke lapangan tanpa melirik ke arah kami. Perutku langsung mual, gelisah.

“Kaukah yang kami dengar tadi, Edward?” Esme bertanya sambil mendekati kami.

“Kedengarannya seperti beruang tersedak,” Emmett membenarkan.

Aku tersenyum ragu-ragu kepada Esme. “Itu memang dia.”

“Bella tahu-tahu melakukan sesuatu yang lucu,” Edward menjelaskan, cepat-cepat membalasku.

Alice telah meninggalkan posisinya dan sedang berlari, atau menari ke arah kami. Ia meluncur cepat dan berhenti dengan luwes di dekat kami. “Sudah waktunya,” ia mengumumkan.

Begitu ia berbicara, gemuruh petir yang menggelegar mengguncang hutan, kemudian pecah di barat kota.

“Menyeramkan, bukan?” kata Emmett dengan nada akrab, sambil mengedip padaku.

“Ayo.” Alice meraih tangan Emmett dan mereka berlari ke lapangan yang luas. Alice berlari bagai rusa. Emmet juga nyaris seanggun dan secepat Alice—mesli begitu ia takkan pernah bisa dibandingkan dengan rusa.

“Kau siap bermain?” Edward bertanya, tatapannya bersemangat, berkilat-kilat.

Aku mencoba terdengar bersemangat. “Ayo, tim!”

Ia mengejek dan, setelah mengacak-acak rambutku, mengejar kedua saudaranya. Larinya lebih agresif, lebih mirip cheetah daripada rusa, dan dengan cepat ia mendahului mereka. Keanggunan dan kekuatan itu mempesonaku.

“Mau ikut turun?” Esme bertanya dengan suaranya yang lembut dan merdu, dan aku menyadari aku telah melongo menatap Edward. Dengan cepat kubenahi ekspresiku dan mengangguk. Esme tetap menjaga jarak beberapa meter di antara kami, dan aku bertanya-tanya apakah ia masih berhati-hati agar tidak membuatku takut. Ia menyamakan langkah kami tanpa terlihat tidak sabar.

“Anda tidak bermain bersama mereka?” tanyaku malu-malu.

“Tidak, aku lebih suka menjadi wasit—aku suka menjaga mereka tetpa jujur,” ia menjelaskan.

“Kalau begitu, apakah mereka suka bermain curang?”

“Oh ya—kau harus dengar agrumentasi mereka! Sebenarnya, kuharap kau tak perlu mendengarnya, kau akan berpikir mereka dibesarkan sekawanan serigala.”

“Anda terdengar seperti ibuku,” aku tertawa, terkejut.

“Ia juga tertawa. “Well, aku memang menganggap mereka anak-anakku dalam banyak hal. Aku tak pernah bisa menghilangkan naluri keibuanku—apakah Edward bilang bahwa aku kehilangan seorang anak?”

“Tidak,” gumamku, terkejut, berusaha memahami kehidupan mana yang sedang diingatnya.

“Ya, bayi pertamaku dan satu-satunya. Dia meninggal hanya beberapa hari setelah dilahirkan, makhluk kecil yang malang,” ia mendesah. “Itu menghancurkan hatiku—itu sebabnya aku melompat dari tebing, kau tahu,” tambahnya terus terang.

“Edward hanya bilang Anda j-jatuh,” ujarku terbata-bata.

“Selalu sang pria sejati.” Ia tersenyum. “Edward putra baruku yang pertama. Aku selalu menganggapnya begitu, meskipun dia lebih tua dariku, setidaknya dalam satu cara.” Ia tersenyum hangat padaku. “Itu sebabnya aku senang dia menemukanmu, Sayang.” Ungkapan sayang itu terdengar sangat alami meluncur dari bibirnya. “Dia sudah terlalu lama menjadi laki-laki aneh, aku sedih melihatnya sendirian.”

“Kalau begitu, Anda tidak keberatan?” aku bertanya, kembali ragu-ragu. “Bahwa aku… sangat tidak tepat untuknya?”

“Tidak.” Ia tampak bersimpati. “Kaulah yang diinginkannya. Entah bagaimana, pasti akan ada jalan keluarnya, katanya, meskipun dahinya berkerut waswas. Gelegar petir terdengar lagi.

Esme menghentikan langkah; rupanya kami telah sampai di ujung lapangan. Kelihatannya mereka telah membentuk tim. Edward berada jauh di sisi kiri lapangan, Carlisle berdiri diantara base pertama dan kedua, dan Alice memegang bola, berada di titik yang pasti merupakan posisi pitcher.

Emmett mengayunkan tongkat aluminium; suaranya berdesis nyaris tak terdengar di udara. Aku menunggunya menghampiri home base, tapi saat ia mengambil posisi, aku baru menyadari bahwa ia sudah disana—lebih jauh dari posisi pitcher yang kupikir mungkin. Jasper berdiri beberapa meter di belakangnya, sebagai anggota tim lawan. Tentu saja tak satupun dari mereka memakai sarung tangan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.