Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Akan kusampaikan,” gumamku.

Jacob terkejut. “Kita sudah mau pergi?”

“Charlie akan pulang larut,” Billy menjelaskan sambil meluncur melewati Jacob.

“Oh,” Jacob tampak kecewa. “Well, kurasa sampai ketemu nanti, Bella.”

“Tentu,” timpalku.

“Jaga dirimu,” Billy mengingatkanku. Aku tak menyahut.

Jacob membantu ayahnay melewati pintu. Aku melambai sebentar, sambil melirik trukku yang sekarang sudah kosong, kemudian menutup pintu sebelum mereka berlalu.

Aku berdiri di lorong sebentar, mendengarkan suara mobil mereka menjauh meninggalkan pekarangan. Aku diam di tempat, menunggu kejengkelan dan kekhawatiranku lenyap. Setelah ketegangan itu sedikit memudar, aku pergi ke lantai atas untuk mengganti pakaian.

Aku mencoba beberapa atasan berbeda, tak yakin apa yang menantiku malam ini. Saat aku berkomunikasi pada apa yang akan terjadi, yang baru saja lewat jadi tidak penting. Sekarang setelah tak lagi dibawah pengaruh Jasper dan Edward, aku mulai bersiap-siap untuk tidak merasa takut sebelumnya. Segera saja aku menyerah memilih pakaian—kukenakan atasan flanel usang dan jins—lagipula aku toh bakal mengenakan jas hujan semalaman.

Telepon berbunyi dan aku lari menuruni tangga untuk mengangkatnya. Hanya ada satu suara yang ingin kudengar; yang lainnya akan membuatku kecewa. Tapi aku tahu kalau ia ingin berbicara denganku, barangkali ia langsung muncul saja di kamarku.

“Halo?” tanyaku, terengah-engah.

“Bella? Ini aku,” kata Jessica.

“Oh, hei, Jess.” Sejenak kukerahkan diriku untuk kembali ke dunia nyata. Rasanya seperti berbulanbulan bukannya berhari-hari sejak terakhir aku berbicara dengan Jessica. “Bagaimana pesta dansanya?”

“Asyik banget!” sembur Jessica. Tak perlu dipancing lagi, ia langsung menceritakan detail demi detail tentang malam sebelumnya. Aku menggumamkan mmm dan ahh pada saat yang tepat, tapi tidak mudah untuk berkonsentrasi. Jessica, Mike, pesta dansa, sekolah—semuanya terdengar sangat tidak sesuai dengan

saat ini. Mataku terus menatap jendela, mencoba mengukur cahaya di balik awan tebal itu.

“Kaudengar apa yang kukatakan, Bella?” tanya Jess jengkel.

“Maaf, apa?”

“Kubilang, Mike menciumku! Kau percaya?”

“Itu bagus, Jess,” kataku.

“Jadi, apa yang kaulakukan kemarin?” tantang Jessica, masih jengkel karena aku kurang menyimak. Atau mungkin ia kecewa karena aku tidak menanyakan detailnya.

“Tidak ada, sungguh. Aku hanya berjalan-jalan di luar menikmati matahari.”

Aku mendengar suara mobil Charlie di garasi.

“Apa kau pernah mendengar kabar lagi dari Edward Cullen?”

Pintu depan dibanting, dan aku bisa mendengar Charlie menimbulkan suara gedebak-gedebuk di bawah tangga, meletakkan peralatannya.

“Mmm.” Aku tagu, tak yakin apa lagi yang harus kuceritakan.

“Hai, Nak!” seru Charlie saat berjalan ke dapur. Aku melambai padanya.

Jess mendengar suara Charlie. “Oh, ayahmu ada. Tak apa—kita ngobrol besok. Sampai ketemu di kelas Trigono.”

“Sampai ketemu, Jess.” Aku menutup telepon.

“Hei, Dad,” kataku. Ia sedang menggosok-gosok tangannya di bak cuci piring. “Mana ikannya?”

“Aku meletakkannya di freezer.”

“Akan kuambil beberapa sebelum membeku—Billy mengantar beberapa ikan goreng Harry Clearwater sore ini.” Aku berusaha terdengar bersemangat.

“Oh ya?” Mata Charlie berbinar-binar. “Itu kesukaanku.”

Charlie membersihkan diri sementara aku menyiapkan makan malam. Dalam waktu singkat kami sudah duduk di meja, makan dalam diam. Charlie menikmati makanannya. Dengan putus asa aku membayangkan bagaimana melaksanakan tugasku, berjuang memikirkan cara untuk mengangkat masalah itu.

“Apa yang kaulakukan hari ini?” tanyanya, membuyarkan lamunanku.

“Well, sore ini aku di rumah saja…” Bukan sepanjang sore, sebenarnya. Aku berusaha menjaga suaraku tetap ceria, tapi perutku seperti berlubang. “Dan pagi ini aku bertamu ke rumah keluarga Cullen.”

Charlie menjatuhkan garpunya.

“Rumah dr. Cullen?” ia bertanya, kaget.

Aku berpura-pura tidak memperhatikan reaksinya. “Yeah.”

“Apa yang kaulakukan disana?” Ia tidak mengambil garpunya lagi.

“Well, bisa dibilang aku punya kencan dengan Edward Cullen malam ini, dan ia ingin memperkenalkan aku dengan orangtuanya… Dad?”

Kelihatannya Charlie mengalami penyempitan pembuluh darah.

“Dad, kau baik-baik saja?”

“Kau berkencan dengan Edward Cullen?” gelegar Charlie.

O-Oh. “Kupikir kau menyukai keluarga Cullen?”

“Dia terlalu tua untukmu,” serunya marah.

“Kami sama-sama murid junior,” aku meralatnya, meskipun ia lebih benar dari yang diduganya.

“Tunggu…” Ia berhenti. “Edwin itu yang mana, ya?”

“Edward adalah yang paling muda, yang rambutnya cokelat kemerahan.” Yang tampan, yang seperti dewa…

“Oh, well, itu” –ia berusaha keras mengucapkan kata-katanya—“lebih baik, kurasa. Aku tidak suka tampang yang bertubuh besar. Aku yakin dia anak laki-laki yang baik dan semuanya, tapi dia kelihatan terlalu… dewasa untukmu. Apakah Edwin ini pacarmu?”

“Namanya Edward, Dad.”

“Ya, tidak?”

“Kurasa bisa dibilang begitu.”

“Semalam katamu kau tidak tertarik dengan anak laki-laki mana pun di kota ini.” Tapi ia mengambil garpunya lagi, jadi aku tahu yang terburuk telah berlalu.

“Well, Edward tidak tinggal di kota, Dad.”

Ia menatapku jengkel saat mengunyah.

“Lagipula,” lanjutku, “ini baru tahap awal, kau tahu. Jangan membuatku malu dengan semua omongan soal pacar, oke?”

“Kapan dia akan kemari?”

“Dia akan tiba sebentar lagi.”

“Dia akan mengajakmu ke mana?”

Aku mengeram keras-keras. “Kuharap kau singkirkan kecurigaan berlebihan dari pikiranmu sekarang. Kami akan bermain baseball bersama keluarganya.”

Wajahnya cemberut, kemudian akhirnya tergelak. “Kau bermain baseball?”

“Well, barangkali kebanyakan aku menonton.”

“Kau pasti benar-benar menyukai laki-laki ini,” ia mengamatiku curiga.

“Aku mendesah dan memutar bola mataku.

Aku mendengar deruman mobil diparkir di depan rumah. Aku melompat dan mulai membersihkan piring bekas makanku.

“Tinggalkan saja piring-piring itu, aku bisa mencucinya malam ini. Kau sudah terlalu memanjakanku.”

Bel pintu berbunyi, dan Charlie berjalan terhuyung-huyung untuk membukanya. Aku hanya beberapa jengkal di belakangnya.

Aku tidak menyadari betapa derasnya hujan di luar sana. Edward berdiri di bawah bias lampu teras, tampak seperti model pria dalam iklan jas hujan.

“Ayo masuk, Edward.”

Aku mendesah lega ketika Charlie menyebut namanya dengan benar.

“Terima kasih, Kepala Polisi Swan,” sahut Edward dengan suara penuh hormat.

“Oh, panggil saja aku Charlie. Sini, kusimpankan jaketmu.”

“Terima kasih, Sir.”

“Silahkan duduk, Edward.”

Aku meringis.

Edward dengan luwes duduk di kursi satu dudukan, memaksaku duduk di sofa, di sebelah Charlie. Aku cepat-cepat melirik jengkel padanya. Ia mengedip di belakang Charlie.

“Jadi, kudengar kau mau mengajak putriku menonton pertandingan baseball.” Faktanya, hanya di Washington-lah pertandingan olahraga luar ruangan tetap berjalan tak peduli hujan deras atau tidak.

“Ya, Sir, begitulah rencananya.” Ia tidak tampak terkejut bahwa aku mengatakan yang sebenarnya pada ayahku. Lagipula, ia mungkin saja mendengarkan.

“Well, kurasa kau lebih punya kekuatan untuk itu.”

Charlie tertawa, dan Edward ikut tertawa.

“Oke.” Aku bangkit berdiri. “Sudah cukup menertawakanku. Ayo kita pergi.” Aku kembali menyusuri lorong dan mengenakan jaket. Mereka mengikuti.

“Jangan pulang terlalu larut, Bell.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.