Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Berteduh dari hujan di teras depan yang beratap rendah, tampak Jacob Black berdiri di belakang kursi roda ayahnya. Wajah Billy diam bagai patung ketika Edward memarkir trukku. Jacob mengawasi, ekspresinya mematikan.

Suara Edward yang dalam terdengar marah. “Ini sudah kelewatan.”

“Dia datang untuk memperingatkan Charlie?” aku menebak, lebih ketakutan daripada marah.

Edward hanya mengangguk, membalas tatapan Billy yang menembus hujan dengan mata menyipit.

Aku merasa lemas dan sekaligus lega bahwa Charlie belum pulang.

“Biar aku yang mengurusnya,” usulku. Tatapan tajam Edward membuatku waswas.

Aku terkejut karena ia menyetujuinya. “Barangkali itu yang terbaik. Meskipun begitu, berhati-hatilah. Anak itu tidak tahu apa-apa.”

Aku sedikit kesal karena ia menyebut Jacob anak. “Jacob tidak jauh lebih muda daripadaku,” aku mengingatkan.

Ia memandangku, kemarahannya langsung lenyap. “Oh, aku tahu,” ia meyakinkanku dengan senyuman.

Aku mendesah dan meletakkan tanganku di pegangan pintu.

“Ajak mereka masuk,” perintahnya, “jadi aku bisa pergi. Aku akan kembali sekitar senja.”

“Kau mau membawa trukku?” aku menawarkan, sambil membayangkan bagaimana caranya menjelaskan kepada Charlie dimana trukku berada.

Ia memutar bola matanya. “Aku bisa berjalan pulang lebih cepat daripada truk ini.”

“Kau tidak perlu pergi,” kataku sedih.

Ia tersenyum melihat ekspresiku yang muram. “Sebenarnya memang tidak perlu. Setelah kau menyingkirkan mereka”—ia melemparkan tatapan kelam ke arah Jacob dan Billy—” kau masih harus mempersiapkan Charlie untuk bertemu pacar barumu.” Ia tersenyum lebar, memamerkan seluruh giginya.

Aku mengerang. “Terima kasih banyak.”

“Ia menyunggingkan senyumnya yang kusuka. “Aku akan segera kembali,” ia berjanji. Matanya kembali melirik teras, kemudian ia membungkuk, sekilas mengecup pangkal rahangku. Jantungku melompat tak keruan, dan aku memandang ke teras. Wajah Billy tak lagi datar, dan ia mencengkeram sandaran tangan kursi rodanya.

“Segera,” aku menekankan kata itu sambil membuka pintu dan berdiri di bawah hujan.

Aku bisa merasakan tatapannya di punggungku ketika aku setengah berlari menembus gerimis menuju teras.

“Hei, Billy. Hai, Jacob.” Aku menyapa mereka seceria mungkin. “Charlie pergi seharian—kuharap kalian belum terlalu lama menunggu.”

“Belum lama,” sahut Billy tenang. Mtanya yang berwarna hitam memandangku tajam. “Aku hanya mau mengantar ini.” Ia menunjuk kantong cokelat di pangkuannya.

“Terima kasih,” kataku, meskipun tak tahu apa isinya. “Masuklah sebentar dan keringkan dirimu.”

Aku berpura-pura tidak menyadari tatapannya yang tajam saat membuka pintu, dan menyuruh mereka berjalan menduluiku.

“Mari, biar kusimpankan untukmu,” aku menawarkan diri, berbalik untuk menutup pintu. Kubiarkan diriku memandang ke arah Edward sekali lagi. Ia sedang menunggu, diam, matanya serius.

“Masukkan ke kulkas,” Billy mengingatkan ketika menyerahkan bungkusan itu padaku. “Isinya beberapa potong ikan goreng buatan Harry Clearwater—kesukaan Charlie. Kulkas akan membuatnya lebih kering.” Ia mengangkat bahu.

“Terima kasih,” aku mengulanginya, namun kali ini bersungguh-sungguh. “Aku kehabisan cara baru untuk mengolah ikan, dan ia bertekad membawa lebih banyak ikan malam ini.”

“Memancing lagi?” Billy bertanya, matanya berbinar. “Di tempat memancing yang biasa? Barangkali aku akan kesana menemuinya.”

“Bukan,” aku cepat-cepat berbohong, wajahku menegang. “Dia ke tempat baru… Tapi aku tidak tahu dimana.”

Ia menyadari perubahan ekspresiku, dan itu membuatnya berpikir.

“Jake,” katanya, masih mengamatiku. “Mengapa kau tidak mengambil gambar Rebecca yang baru di mobil? Aku juga ingin memberikannya pada Charlie.”

“Dimana?” Jacob bertanya, suaranya murung. Aku memandangnya, tapi ia menunduk menatap lantai, alisnya bertaut.

“Rasanya aku melihatnya di bagasi,” jawab Billy. “Kurasa kau perlu mencari-cari di bagian bawah.”

Jacob kembali menembus hujan.

Billy dan aku berhadap-hadapan dalam hening. Setelah beberapa saat, keheningan itu mulai terasa menjengahkan, jadi aku berbalik menuju dapur. Aku bisa mendengar decit roda kurisnya yang basah di atas lantai linoleum ketika mengikutiku.

Kumasukkan kantong itu ke rak teratas kulkas yang sudah penuh, dan berbalik menghadapnya. Wajahnya yang keriput tak dapat ditebak.

“Charlie pulang larut.” Suaraku nyaris kasar.

Ia mengangguk setuju, tapi tidak mengatakan apa-apa.

“Sekali lagi terima kasih untuk ikan gorengnya,” ujarku memberi isyarat.

Ia terus mengangguk. Aku mendesah dan melipat tanganku di dada.

Ia sepertinya bisa merasakan bahwa aku sudah tak ingin berbasa-basi lagi. “Bella,” katanya, kemudian ragu-ragu.

Aku menunggu.

“Bella,” katanya lagi. “Charlie salah satu sahabatku.”

“Ya.”

Hati-hati ia mengucapkan setiap kata dengan suara bergemuruh. “Keperhatikan kau menghabiskan waktumu dengan salah satu anak keluarga Cullen.”

“Ya,” kembali aku menjawab dengan ketus.

Matanya menyipit. “Barangkali ini bukan urusanku, tapi menurutku itu bukan ide yang bagus.”

“Kau benar,” timpalku. “Itu memang bukan urusanmu.”

Alisnya yang beruban terangkat mendengar nada suaraku. “Barangkali kau tidak mengetahuinya, tapi keluarga Cullen punya reputasi yang tidak bagus di reservasi kami.”

“Sebenarnya, aku mengetahuinya,” ujarku tegas. Ia terkejut. “Tapi reputasi itu tidak bisa dibenarkan, bukan begitu? Karena keluarga Cullen tidak pernah menginjakkan kaki di reservasi, ya kan?” Bisa kulihat ucapanku yang mengingatkannya pada kesepakatan yang mengikat dan melindungi sukunya telah membuatnya bungkam.

“Memang benar,” ia menyetujuinya, matanya waspada. “Kau kelihatannya… cukup tahu tentang keluarga Cullen. Lebih tahu daripada yang kuduga.”

Aku menatapnya. “Bahkan mungkin lebih tahu daripadamu.”

Ia mengerucutkan bibirnya yang tebal sambil memikirkannya. “Mungkin,” ia mengalah, tapi sorot matanya tajam. “Apakah Charlie sama tahunya seperti dirimu?”

Ia sudah menemukan kelemahan pertahananku.

“Charlie sangat menyukai keluarga Cullen,” sahutku membentengi diri. Ia jelas memahami bahwa aku berkelit. Ekspresinya tidak senang, tapi tidak terkejut.

“Itu bukan urusanku,” katanya. “Tapi mungkin urusan Charlie.”

“Meskipun lagi-lagi itu adalah urusanku, entah aku menganggap itu urusan Charlie atau tidak, ya kan?”

Aku bertanya-tanya apakah ia bahkan mengerti pertanyaan yang membingungkan itu selagi aku berusaha untuk tidak mengatakan apapun yang mencurigakan. Tapi sepertinya ia mengerti. Ia mempertimbangkannya sementara hujan mengguyur atap, satu-satunya suara yang memecah keheningan.

“Ya,” akhirnya ia menyerah. “Kurasa itu urusanmu juga.”

Aku mendesah lega. “Terima kasih, Billy.”

“Pikirkan saja apa yang kau lakukan, Bella,” desaknya.

“Oke,” aku buru-buru menimpali.

Wajahnya menekuk. “Maksudku, jangan lakukan apa yang sedang kaulakukan.”

Aku menatap matanya, di dalamnya tak lain hanya rasa peduli terhadapku, dan tak ada yang bisa kukatakan.

Saat itu juga pintu depan terbanting keras, dan aku melompat mendengarnya.

“Gambar itu tak ada dimanapun di mobil.” Keluhan Jacob mencapai kami sebelum dirinya sendiri. Ketika ia berbelok di sudut, bagian pundak bajunya tampak basah kuyup karena hujan dan air menetes-netes dari rambutnya.

“Hmm,” Billy bergumam, tiba-tiba mengalihkan pandangannya dan memutar kursi menghadap anaknya. “Kurasa aku meninggalkannya di rumah.”

Jacob memutar-mutar bola matanya secara dramatis. “Hebat.”

“Well, Bella, beritahu Charlie”—Billy berhenti sebelum melanjutkan kata-katanya—“bahwa kami mampir, maksudku.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.