Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Hanya butuh beberapa tahun sampai aku kembali pada Carlisle dan berkomitmen pada visinya. Kupikir aku akan terbebas dari… depresi… yang menyertai hati nurani. Karena aku mengetahui pikiran mangsaku, aku dapat mengabaikan yang tak bersalah dan mengejar hanya yang jahat. Kalau aku mengikuti seorang pembunuh di lorong tempat dia membunuh seorang gadis muda—kalau aku menyelamatkan gadis itu, maka tentunya aku tidak sejahat itu.”

Aku gemetaran, membayangkan terlalu jelas apa yang digambarkannya—lorong pada malam hari, gadis yang ketakutan, laki-laki di belakangnya. Dan Edward, Edward yang sedang berburu, menyeramkan sekaligus mengagumkan bagai dewa muda, tak terhentikan. Apakah gadis itu berterima kasih, ataukah lebih ketakutan daripada sebelumnya?

“Tapi sejalan dengan waktu, aku mulai melihat monster dalam diriku. Aku tak dapat melarikan diri dari begitu banyak kehidupan manusia yang telah kuambil, tak peduli apapun alasannya. Dan akupun kembali kepada Carlisle dan Esme. Mereka menyambutku secara berlebihan. Lebih daripada yang layak kudapatkan.”

Kami berhenti di depan pintu terakhir di lorong itu.

“Kamarku,” ia memberitahu, membuka dan menarikku masuk.

Kamarnya menghadap ke selatan, dengan jendela seluas dinding seperti ruangan besar di bawah. Seluruh bagian belakang rumah ini pasti terbuat dari kaca. Pemandangan disini menyajikan Sungai Sol Duc yang meliuk-liuk melintasi hutan tak terjamah hingga ke deretan Pegunungan Olympic. Pegunungan itu jauh lebih dekat dari yang kuduga.

Dinding sebelah barat sepenuhnya tertutup rak demi rak CD. Koleksi CD di kamarnya jauh melebihi yang dimiliki toko musik. Di sudut ada satu set sound system yang tampak canggih, jenis yang tak akan kusentuh karena yakin bakal merusaknya. Tidak ada tempat tidur, hanya sofa kulit hitam yang lebar dan mengundang. Lantainya dilapisi karpet tebal berwarna keemasan, dan dindingnya dilapisi bahan tebal yang bernuansa lebih gelap.

“Perlengkapan audio yang bagus?” aku mencoba menebak.

Ia tergelak dan mengangguk.

Ia mengambil remote dan menyalakan stereonya. Suaranya pelan, namun musik jazz lembut itu terdengar seolah-olah dimainkan secara live di ruangan ini. Aku melihat-lihat koleksi musiknya.

“Bagaimana kau menyusunnya?” aku bertanya.

Ia tidak mendengarkan.

“Mmmm, berdasarkan tahun, lalu berdasarkan pilihan pribadi dalam rentang waktu itu,” katanya setengah melamun.

Aku berbalik, dan ia sedang memandangku dengan ekspresi aneh di matanya.

“Apa?”

 

“Aku tahu aku akan merasa… lega. Setelah kau mengetahui semuanya, aku tak perlu lagi menyimpan rahasia darimu. Tapi aku tak berharap merasakan lebih dari itu. Ternyata aku menyukainya. Ini membuatku… bahagia.” Ia mengangkat bahu, tersenyum samar.

“Aku senang,” kataku, balas tersenyum. Aku khawatir ia menyesal telah mengatakan semua ini padaku. Senang mengetahui bukan itu masalahnya.

Tapi kemudian, ketika tatapannya memilah-milah ekspresiku, senyumnya memudar dan dahinya berkerut.

“Kau masih menungguku berlari dan menjerit-jerit, kan?” aku menebak.

Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, dan ia mengangguk.

“Aku benci menghancurkan harapanmu, tapi kau benar-benar tidak semenakutkan yang kukira. Sebenarnya, aku sama sekali tidak menganggapmu menakutkan,” aku berbohong.

Ia berhenti, alisanya terangkat, jelas-jelas tidak percaya. Kemudian ia tersenyum lebar dan licik.

“Kau seharusnya tidak mengatakan itu,” ia tergelak.

Ia mengeram dengan suara pelan; bibirnya ditarik dan memamerkan giginya yang sempurna. Sekonyong-konyong ia menggeser posisinya, setengah membungkuk, tegang seperti singa yang siap menerjang.

Aku mundur darinya, menatapnya nanar.

“Kau tidak akan melakukannya.”

Aku tidak melihatnya melompat ke arahku—terlalu cepat. Sekonyong-konyong aku mendapati diriku melayang, kemudian kami mendarat di sofa yang menyentak keras sampai ke dinding. Lengannya membentuk sangkar baja di sekeliling tubuhku, nyaris menyentuhku. Tapi aku toh terengah-enga saat mencoba memperbaiki posisiku.

Ia tidak membiarkanku. Digulungnya tubuhku menyerupai bola ke dadanya, dicengkramnya diriku lebih erat daripada rantai besi. Aku menatapnya ngeri, tapi sepertinya ia dapat mengendalikan dirinya dengan baik, rahangnya melemas ketika ia tersenyum, matanya berkilat-kilat penuh canda.

“Apa katamu tadi?” ia berpura-pura mengeram.

“Kau monster yang sangat, sangat menakutkan,” kataku, kesinisanku sedikit melunak karena terengahengah.

“Jauh lebih baik,” ia menyetujuinya.

“Mmm.” Aku berusaha bangkit. “Boleh aku bangun sekarang?”

Ia hanya tertawa.

“Boleh kami masuk?” terdengar suara lembut dari lorong.

Aku berjuang melepaskan diri, tapi Edward hanya menggeser posisiku hingga aku duduk sopan di pangkuannya. Aku bisa melihat bahwa itu Alice, dan Jasper berdiri di belakangnya, di pintu masuk. Pipiku merah padam, tapi Edward nampak santai.

“Silahkan.” Edward masih menahan tawa.

Alice sepertinya tidak menemukan sesuatu yang aneh melihat kami berpelukan seperti itu; ia berjalan— nyaris menari, gerakkannya sangat anggun—ke tengah ruangan, disana ia duduk bersila dengan luwes di lantai. Sebaliknya Jasper berhenti di pintu, ekspresinya agak terkejut. Ia menatap wajah Edward, dan aku bertanyatanya apakah ia sdang merasakan suasana dengan kepekaannya yang luar biasa.

“Kedengarannya kau akan memangsa Bella untuk makan siang, dan kami datang untuk melihat apakah kau mau berbagi,” ujar Alice.

Tubuhku langsung kaku, sampai aku menyadari Edward tersenyum—entah karena komentar Alice atau reaksiku, aku tak dapat mengatakannya.

“Maaf, rasanya aku tak ingin berbagi,” jawabnya, dengan seenaknya memelukku lebih dekat.

“Sebenarnya,” kata Jasper, tersenyum sambil memasuki ruangan. “Alice bilang akan ada badai besar malam ini, dan Emmett ingin bermain baseball. Kau mau ikut?”

Ucapannya terdengar cukup biasa, tapi konteksnya membuatku bingung. Meskipun kusimpulkan Alice lebih bisa diandalkan daripada ramalan cuaca.

Mata Edward berkilat-kilat, tapi ia ragu.

“Tentu saja kau harus mengajak Bella,” seru Alice. Sepertinya aku melihat Jasper melirik ke arahnya.

“Apa kau ingin ikut?” Edward bertanya padaku, kelihatan senang, wajahnya bersemangat.

“Tentu.” Aku tak mungin mengecewakannya. “Mmm, kita akan kemana?”

“Kami harus menunggu petir untuk bermain baseball—kau akan tahu kenapa,” ia berjanji.

“Apakah aku akan memerlukan payung?”

Mereka tertawa keras.

“Perlukah?” Jasper bertanya pada Alice.

“Tidak.” Alice terdengar cukup yakin. “Badai akan menghantam kota. Akan cukup kering di hutan.”

“Kalau begitu, bagus.” Seperti biasa, semangat dalam suara Jasper menular. Aku mendapati diriku bersemangat, bukannya ketakutan.

“Ayo kita lihat apakah Carlisle mau ikut.” Alice melompat-lompat menuju pintu dalam balutan pakaian yang akan membuat iri ballerina manapun.

“Seperti kau tidak tahu saja,” goda Jasper, dan mereka langsung berlalu. Jasper berhasil menutup pintu tanpa bersuara.

“Kita akan main apa?” tanyaku.

“Kau akan menonton,” Edward meralat. “Kami yang akan bermain baseball.”

Aku memutar bola mataku. “Vampir suka baseball?”

“Itu permainan bangsa Amerika di masa lampau,” ejeknya.

 

 

17. Permainan

Gerimis baru saja mulai ketika Edward berbelok menuju jalanan rumahku. Hingga saat itu aku sama sekali tidak ragu ia akan terus menemaniku semantara aku menghabiskan waktu sebentar di dunia nyata.

Kemudian aku melihat mobil hitam, Ford using, diparkir di pelataran parkir Charlie—dan mendengar Edward menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, suaranya pelan dan parau.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.