Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Dia berenang ke Prancis?”

“Orang-orang mengarungi Channell setiap saat, Bella,” Edward mengingatkanku dengan sabar.

“Kurasa itu benar. Hanya saja kedengarannya lucu dalam konteks itu. Lanjutkan.”

“Berenang sesuatu yang mudah bagi kami—”

“Segalanya mudah bagimu,” kataku kagum.

Ia menunggu, wajahnya kesal.

“Aku takkan menyelamu lagi, janji.”

Ia tergelak misterius, dan menyelesaikan kalimatnya. “Karena secara teknis, kami tidak berlu bernapas.”

“Kau—”

“Tidak, tidak, kau sudah janji.” Edward tertawa, dengan lembut meletakkan jarinya yang dingin di bibirku. “Kau mau mendengar ceritanya atau tidak?”

“Kau tak bisa menceritakan sesuatu seperti itu padaku, lalu berharap aku tak mengatakan apa-apa,” gumamku.

Ia mengangkat tangan, memindahkannya ke leherku. Jantungku bereaksi terhadap hal itu, tapi aku berkeras.

“Kau tak perlu bernapas?” desakku.

“Tidak, itu tidak perlu. Hanya masalah kebiasaan.” Ia mengangkat bahu.

“Berapa lama kau tahan… tanpa bernafas?”

“Kurasa untuk waktu yang tak terbatas; entahlah. Lama kelamaan rasanya agak tidak nyaman untuk tidak memiliki indra penciuman.”

“Agak tidak nyaman,” ulangku.

Aku tidak memperhatikan ekspresiku sendiri, tapi sesuatu yang ditunjukkannnya membuat Edward semakin muram. Tangannya terkulai disisinya dan ia berdiri diam tak bergerak, metanya menatap lekat wajahku. Keheningan terus berlanjut. Tubuhnya tak bergerak bagai batu.

“Ada apa?” aku berbisik, menyentuh wajahnya yang membeku.

Wajahnya melembut karena sentuhanku, dan ia mendesah. “Aku terus menunggunya terjadi.”

“Menunggu apa?”

“Aku tahu pada titik tertentu, sesuatu yang kukatakan padamu atau sesuatu yang kaulihat akan sulit diterima. Kemudian kau akan menjauh dariku, lari sambil menjerit-jerit.” Ia setengah tersenyum, tapi tatapannya serius. “Aku takkan menghentikanmu. Aku ingin ini terjadi sebab aku ingin kau aman. Meski begitu, aku juga ingin bersamamu. Dua hasrat yang mustahil dipertemukan…” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya dan hanya memandang wajahku. Menunggu.

“Aku takkan lari kemana-mana,” aku berjanji padanya.

“Kita lihat saja,” katanya, tersenyum lagi.

Aku merengut. “Jadi, lanjutkan—Carlisle berenang ke Prancis.”

Ia berhenti, kembali lagi ke ceritanya. Dengan sendirinya matanya tertuju ke gambar lain, yang bingkainya paling penuh ukiran, dan yang paling besar; lebarnya dua kali pintu di sebelahnya. Kanvasnya sarat dengan sosok-sosok terang dalam jubah panjang, berputar-putar mengelilingi pilar-pilar dan melewati balkon pualam. Aku tak bisa mengatakan apakah gambar itu menggambarkan mitologi Yunani, ataukah karakter yang melawang di atas awan dimaksudkan bersifat ke-alkitab-an.

“Carlisle berenang ke Prancis, dan terus ke Eropa, ke universitas-universitas di sana. Pada malam hari dia belajar musik, ilmu pengetahuan, kedokteran—dan menemukan panggilan hidup dan penebusan dirinya lewat menyelamatkan nyawa manusia.” Ekspresinya penuh kekaguman, hormat. “Aku tak punya cukup katakata untuk menggambarkan perjuangan Carlisle; dia menghabiskan dua abad untuk menyempurnakan pengendalian dirinya dengan susah payah. Sekarang dia sudah kebal dengan bau darah manusia, dan dia mampu melakukan pekerjaan yang dicintainya tanpa tersiksa. Dia menemukan kedamaian yang luar biasa disana, di rumah sakit…” Lama sekali Edward menerawang. Tiba-tiba ia teringat tujuan awalnya. Ia menepukkan tangannya ke lukisan besar di depan kami.

“Dia sedang belajar di Italia ketika menemukan yang lainnya disana. Mereka jauh lebih beradab dan berpendidikan daripada makhluk-makhluk penghuni gorong-gorong di London.”

Ia menyentuh empat sosok yang terlukis di balkon paling tinggi, yang dengan tenang memandang kekacauan di bawah mereka. Aku mengamati sosok-sosok itu dengan saksama, lalu tersadar, seraya tertawa kaget, bahwa aku mengenali pria berambut keemasan itu.

“Solimena sangat terinspirasi oleh teman-teman Carlisle. Dia sering melukiskan mereka sebagai dewa,” Edward tertawa. “Aro, Marcus, Caius,” katanya, memperkenalkan tiga lainnnya, dua berambut hitam, yang satu lagi berambut putih bagai salju. “Penjaga malam di gedung seni.”

“Apa yang terjadi pada mereka?” tanyaku lantang, ujung jariku hanya satu sendti dari figur-figur di kanvas itu.

“Mereka masih disana.” Ia mengangkat bahu. “Seperti selama entah siapa yang tahu berapa ribu tahun ini. Carlisle tinggal hanya sebentar bersama mereka, hanya beberapa dekade. Dia sangat mengagumi keberadaban mereka, kehalusan budi bahasa mereka, tapi mereka tetap berusaha memulihkan ketidaksukaan Carlisle terhadap ‘makanan utamanya’, begitulah mereka menyebutnya. Mereka mencoba membujuknya, dan dia berusaha mempengaruhi mereka, keduanya sama-sama tidak berhasil. Karena itu Carlisle memutuskan untuk mencoba Dunia Baru. Dia berkhayal menemukan yang lain seperti dirinya. Dia sangat kesepian, kau tahu.

“Dia tidak menemukan siapa-siapa untuk waktu yang lama. Tapi mengingat monster telah menjelma menjadi makhluk dongeng, dia mendapati dirinya dapat berinteraksi dengan manusia, seolah-olah dia salah satu dari mereka. Dia mulai menerapkan metode pengobatan. Dan meskipun hasratnya untuk menjalin persahabatan tak terelakkan lagi; dia tak dapat mempertaruhkan identitasnya.

“Ketika epidemi influenza merebak, dia bekerja bermalam-malam di sebuah rumah sakit di Chicago. Bertahun-tahun dia telah mempertimbangkan sebuah gagasan dalam benaknya, dan dia nyaris memutuskan untuk melakukannya—berhubung dia tak bias mendapatkan teman, dia akan menciptakannya. Dia tak sepenuhnya yakin terjadinya perubahan dalam dirinya, jadi dia merasa ragu. Dan dia benci mengambil hidup seseorang seperti hidupnya telah diambil. Dalam pemikiran itu dia menemukanku. Tak ada harapan untukku; aku dibiarkan berbaring di bangsal bersama orang-orang sekarat. Dia telah merawat orangtuaku, dan tahu aku sebatang kara. Dia memutuskan untuk mencobanya…”

Suara Edward, nyaris berbisik sekarang, memelan. Diam-diam matanya menerawang ke jendela-jendela di sebelah barat. Aku bertanya-tanya apa yang mengisi pikirannya sekarang, kenangan Carlisle ataukah ingatannya sendiri. Aku menungguu dalam diam.

Ketika ia kembali padaku, senyuman malaikat yang lembut menghiasi wajahnya.

“Dan sejak itu hidup kami sempurna,” ia menyimpulkan.

“Apakah sejak saat itu kau selalu tinggal bersama Carlisle?” tanyaku.

“Hampir selalu.” Ia meletakkan tangannya di pinggangku dan menarikku bersamanya sambil berjalan ke arah pintu. Aku menoleh memandang dinding yang dipenuhi gambar itu, bertanya-tanya apakah aku akan pernah mendengarkan kisah yang lainnya.

Edward tidak mengatakan apa-apa lagi ketika kami berjalan menyusuri lorong, jadi aku bertanya, “Hampir selalu?”

Ia mendesah, tampak enggan menjawabnya. “Well, aku memiliki jiwa pemberontak khas remaja— sekitar sepuluh tahun setelah aku… dilahirkan… diciptakan, terserah bagaimana kau menyebutnya. Aku tidak menyukai caranya berpantang, dan aku marah padanya karena telah membatasi seleraku. Jadi aku pergi seorang diri selama beberapa waktu.”

“Sungguh?” Aku terpancing, bukannya ketakutan, seperti yang seharusnya kurasakan.

Ia bisa merasakannya. Aku samar-samar menyadari kami sedang menuju rangkaian anak tangga selanjutnya, tapi aku tidak terlalu memperhatikan sekelilingku.

“Itu tidak membuatmu takut?”

“Tidak.”

“Kenapa tidak?”

“Kurasa… kedengarannya masuk akal.”

Ia tertawa, lebih keras daripada sebelumnya. Kami sekarang berada di anak tangga teratas, di lorong berpanel lainnya.

“Sejak kelahiran baruku,” gumamku, “aku memiliki kemampuan mengetahui apa yang dipikirkan orang-orang di sekitarku, baik manusia maupun bukan manusia. Itu sebabnya perlu sepuluh tahun bagiku untuk menentang Carlisle—aku bisa mengetahui ketulusannya yang sempurna, mengerti benar mengapa dia hidup seperti itu.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.