Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Orang-orang mengumpulkan garu dan obor mereka, tentu saja”—tawanya lebih menyeramkan sekarang—“dan menunggu di tempat Carlisle telah melihat para monster itu keluar dari jalanan. Akhirnya salah satu dari mereka muncul.”

Suaranya sangat pelan; aku harus benar-benar berkonsentrasi untuk menangkap kata-katanya.

“Dia pasti makhluk kuno, dan lemah karena kelaparan. Carlisle mendengarnya memanggil yang lain dalam bahasa Latin saat mencium keramaian. Dia berlari ke jalanan dan Carlisle—dia berumur 23 tahun dan sangat tangkas—memimpin pengejaran. Makhluk itu bisa dengan mudah mengalahkan mereka, tapi Carlisle mengira makhluk itu terlalu lapar, jadi dia berbalik dan menyerang. Makhluk itu menjatuhkan Carlisle terlebih dahulu, tapi yang lain ada di belakangnya, dan ia berbalik untuk membela diri. Dia membunuh dua manusia, dan kabur membawa korban ketiganya, meninggalkan Carlisle berdarah-darah di jalanan.”

Edward berhenti. Aku bisa merasakan ia mengedit sesuatu, menyembunyikan sesuatu dariku.

“Carlisle tahu apa yang akan dilakukan ayahnya. Tubuh-tubuh akan dibakar—apa saja yang terinfeksi oleh makhluk itu harus dibakar. Carlisle mengikuti instingnya dan menyelamatkan nyawanya sendiri. Dia merangkak menjauh dari jalan sementara kerumunan pemburu mengikuti makhluk jahat dan korbannya. Dia bersembunyi di gudang bawah tanah, mengubur dirinya sendiri diantara tomat-tomat yang membusuk. Benarbenar mukjizat dia dapat tetap diam, dan tak ditemukan.

“Akhirnya semua itu selesai, dan dia menyadari dirinya telah menjelma sebagai apa.”

Aku tak yakin bagaimana ekspresiku, tapi tiba-tiba ia berhenti.

“Bagaimana perasaanmu?” tanyanya.

“Aku baik-baik saja,” aku menenangkannya. Dan meskipun aku menggigit bibir karena ragu, ia pasti telah melihat rasa penasaran yang membara di mataku.

Ia tersenyum. “Kuharap kau punya beberapa pertanyaan lagi untukku.”

“Beberapa.”

Senyumnya melebar, memamerkan giginya yang sempurna. Ia mulai menyusuri ruang besar itu, sambil menarikku bersamanya. “Kalau begitu, ayo,” ajaknya. “Akan kutunjukkan padamu.”

 

 

16. Carlise

 

Ia menuntunku ke ruangan yang tadi disebutnya sebagai ruang kerja Carlisle. Ia berhenti sebentar di depan

pintu.

“Masuklah,” undang Carlisle.

Edward membuka pintu yang mengantar kami ke ruangan beratap tinggi dengan jendela-jendela tinggi yan menghadap ke barat. Dinding-dindingnya bersekat, kayunya berwarna lebih gelap—di mana saja terlihat. Kebanyakan ruas dinding dipenuhi rak buku yang menjulang di atas kepalaku dan menyimpan lebih banyak buku daripada yang pernah kulihat selain di perpustakaan.

Carlisle duduk di belakang meja mahoni besar, di sebuah kursi kulit. Ia baru saja menyelipkan pembatas buku pada halaman buku tebal yang dipegangnya. Ruangan itu bagaikan ruang dekan yang ada di bayanganku—hanya saja Carlisle terlalu muda untuk menempatinya.

“Apa yang bisa kulakukan untuk kalian?” ia bertanya dengan suara menyenangkan seraya bangkit dari duduk.

“Aku ingin menunjukkan kepada Bella sebagian sejarah kita,” kata Edward. “Well, sejarahmu, sebenarnya.”

“Kami tidak bermaksud mengganggu anda,” kataku meminta maaf.

“Tidak sama sekali. Dari mana kau akan mulai?”

“The Wagonner,” jawab Edward, meletakkan satu tangannya di bahuku, dan memutar tubuhku untuk melihat kembali pintu yang baru kami lalui. Setiap kali ia menyentuhku, bahkan dengan sentuhan paling ringan sekalipun, jantungku langsung berdebar sangat cepat. Kehadiran Carlisle membuatnya lebih memalukan lagi.

Dinding yang kami hadapi sekarang berbeda dengan yang lainnya. Sebagai ganti rak buku, dinding ini dipenuhi gambar berbingkai dalam segala ukuran, beberapa dengan warna terang, yang hitam-putih membosankan. Aku berusaha mencari benang merah yang meghubungkan gambar-gambar itu, tapi pengamatanku yang terburu-buru tidak menghasilkan apapun.

Edward menarikku ke ujung sisi kiri, memposisikanku di depan lukisan cat minyak persegi kecil yang dibingkai kayu sederhana. Yang satu ini tidak mencolok dibanding dengan lukisan-lukisan yang lebih besar dan cerah; dilukis dengan beragam gradiasi warna coklat, menggambarkan kota yang sarat dengan atap yang amat landai, dengan puncak menara tipis di atas beberapa menara yang terserak. Sungai lebar mengaliri bagian muka, dilintasi jembatan penuh bangunan yang tampak seperti katedral kecil.

“London pada tahun 1650-an,” kata Edward.

“London pada masa mudaku,” Carlisle menambahkan beberapa meter di belakangku. Aku tersentak, tidak mendengarnya mendekat. Edward meremas tanganku.

“Maukah kau menceritakannya?” pinta Edward. Aku menoleh sedikit untuk melihat reaksi Carlisle.

Kami bertemu pandang dan ia tersenyum. “Aku mau,” jawabnya. “Tapi sebenarnya aku sudah agak terlambat. Rumah sakit menelepon tadi pagi—dr. Snow tidak masuk karena sakit. Lagi pula, kau mengetahui ceritanya sebaik aku,” tambahnya, tersenyum pada Edward sekarang.

Sungguh perpaduan yang aneh—dokter kota yang sibuk dengan masalah sehari-hari, terjebak dalam pembahasan mengenai masa mudanya pada abad ke-17 di London.

Aku juga waswas, mengetahui ia mengatakannya dengan lantang hanya demi kepentinganku.

Setelah tersenyum hangat ke arahku, Carlisle meninggalkan ruangan.

Lama sekali aku menatap gambar kecil kampung halaman Carlisle itu.

“Lalu apa yang terjadi?” akhirnya aku bertanya, mendongak menatap Edward, yang sedang mengamatiku. “Ketika dia menyadari apa yang terjadi padanya?”

Edward kembali memandang lukisan-lukisan itu, dan aku memperhatikan utuk melihat gambar mana yang menarik perhatiannya sekarang. Ternyata gambar pemandangan berukuran lebih besar dalam warnawarna musim gugur yang muram—padang rumput kosong dan berbayang di sebuah hutan, dengan puncak gunung di kejauhan.

“Ketika tahu dirinya telah menjelma menjadi apa,” kata Edward pelan, “dia melawannya. Dia berusaha menghancurkan dirinya sendiri. Tapi itu tidak mudah.”

“Bagaimana?” Aku tak bermaksud mengatakannya keras-keras, tapi kata itu meluncur begitu saja.

“Dia melompat dari ketinggian yang amat sangat,” Edward memberitahuku, suaranya datar. “Dia berusaha menenggelamkan dirinya di lautan… tapi dia masih baru untuk kehidupan barunya, dan sangat kuat. Sungguh mengagumkan bahwa ia mampu menolak… memangsa… padahal ia masih begitu baru. Sejalan dengan waktu, nalurinya bertumbuh makin kuat, mengambil alih segalanya. Tapi dia begitu jijik dengan dirinya sendiri hingga memiliki kekuatan untuk mencoba bunuh diri dengan membiarkan dirinya kelaparan.”

“Apakah itu mungkin?” suaraku terdengar samar.

“Tidak, hanya ada sangat sedikit cara untuk membunuh kami.”

Mulutku membuka hendak bertanya, tapi ia menduluiku.

“Akhirnya dia sangat kelaparan, dan menjadi lemah. Dia pergi sejauh mungkin dari manusia, sadar tekadnya mulai melemah. Berbulan-bulan dia berkeliaran pada malam hari, mencari tempat paling sepi, membenci dirinya sendiri.

“Suatu malam sekawanan rusa melintas di tempat persembunyiannya. Dia begitu haus hingga menyerang tanpa berpikir lagi. Kekuatannya pulih dan dia menyadari ada cara lain untuk mengelakkan dirinya menjadi monster jahat yang selama ini dikhawatirkannya. Pernahkah dia memakan daging rusa pada kehidupan silamnya? Beberapa bulan kemudian filosofi barunya pun tercipta. Dia dapat hidup tanpa menjadi makhluk jahat. Dia menemukan jati dirinya lagi.

“Dia mulai menggunakan waktunya sebaik-baiknya. Dia pandai dan selalu ingin belajar. Sekarang dia memiliki waktu tak terbatas. Dia belajar pada malam hari, bekerja di siang hari. Dia berenang ke Prancis dan—”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.