Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Ia membukakan pintu untukku.

Bagian dalam rumah itu bahkan lebih mengejutkan lagi, lebih tak bisa diramalkan, daripada bagian luarnya. Sangat terang, sangat terbuka, dan sangat luas. Dulunya ruangan ini pasti kumpulan beberapa kamar, namun dinding-dindingnya disingkirkan untuk menciptakan satu ruangan luas di lantai dasar. Di bagian belakang, dinding yang menghadap selatan telah digantikan seluruhnya dengan kaca, dan di balik bebayangan pohon cedar terbentang rerumputan luas hingga ke sungai. Tangga meliuk yang lebar dan besar mendominasi sisi barat ruangan. Dinding-dindingnya, langit-langitnya yang tinggi, lantainya yang terbuat dari kayu, dan karpet tebal, semuanya merupakan gradasi warna putih.

Tampak menanti menyambut kami, berdiri persis di kiri pintu, pada badian lantai yang lebih tinggi di sisi grand piano yang spektakuler, adalah orangtua Edward.

Aku pernah melihat dr. Cullen sebelumnya, tentu saja, tapi tetap saja aku tak bisa menahan keterkejutanku melihat kemudaannya, kesempurnaannya yang luar biasa. Kurasa perempuan yang berdiri di sisinya adalah Esme, satu-satunya anggota keluarga Cullen yang belum pernah kulihat. Ia memiliki wajah yang pucat dan indah seperti yang lainnya. Wajahnya berbentuk hati, rambutnya berombak dan halus, berwarna cokelat karamel, mengingatkanku pada era film bisu. Tubuhnya mungil, langsing, namun tidak terlalu kurus, lebih berisi dibanding yang lainnya. Mereka mengenakan pakaian kasual berwarna terang yang serasi dengan warna ruangan dalam rumah mereka. Mereka tersenyum menyambut kami, tapi tidak bergerak mendekat. Kurasa mereka tak ingin membuatku takut.

“Carlisle, Esme,” suara Edward memecah keheningan yang terjadi sebentar, “ini Bella.”

“Selamat datang, Bella.” Langkah Carlisle terukur, berhati-hati saat mendekatiku. Ia mengulurkan tangannya dan aku melangkah maju untuk menjabatnya.

“Senang bisa bertemu Anda lagi, dr. Cullen.”

“Tolong panggil saja Carlisle.”

“Carlisle.” Aku tersenyum padanya, kepercayaan diriku yang muncul tiba-tiba mengejutkanku. Aku bisa merasakan Edward merasa lega di sampingku.

Esme tersenyum dan melangkah maju juga, menjabat tanganku. Genggamannya yang kuat dan dingin persis yang kuperkirakan.

“Senang sekali bisa berkenalan denganmu,” sahutnya tulus.

“Terima kasih. Aku juga senang bisa bertemu Anda.” Memang itulah yang kurasakan. Pertemuan itu bagaikan pertemuan dongeng—Putri Salju dalam wujud aslinya.

“Dimana Alice dan Jasper?” Edward bertanya, tapi mereka tidak menjawab, berhubung keduanya muncul di puncak tangga yang lebar.

“Hei, Edward!” Alice memanggilnya bersemangat. Ia berlari menuruni tangga, perpaduan rambut hitam dan kulit putih, sekonyong-konyong berhenti dengan anggun di hadapanku. Carlisle dan Esme memelototinya, tapi aku menyukainya. Lagipula, itu sesuatu yang alami—baginya.

“Hai, Bella!” sapa Alice, dan ia melesat ke depan untuk mengecup pipiku. Bila Carlisle dan Esme sebelumnya tampak berhati-hati, sekarang mereka tampak terkesiap. Mataku juga memancarkan rasa terkejut, tapi aku juga senang bahwa sepertinya ia menerima keberadaanku sepenuhnya. Aku bingung melihat Edward yang mendadak kaku di sebelahku. Aku memandang wajahnya, tapi ekspresinya tak bisa ditebak.

“Kau memang harum, aku belum pernah memperhatikan hal itu sebelumnya,” ia berkomentar, membuatku sangat malu.

Tampaknya tak seorang pun tahu apa yang harus dikatakan, kemudian Jasper ada disana—tinggi bagai singa. Perasaan lega menyeruak dalam diriku, dan tiba-tiba aku merasa nyaman terlepas dimana aku tengah berada. Edward menatap Jasper, salah satu alisnya terangkat, dan aku teringat akan kemampuannya.

“Halo, Bella,” sapa Jasper. Ia tetap menjaga jarak, tidak menawarkan untuk berjabat tangan. Tapi mustahil untuk merasa gugup di dekatnya.

“Halo, Jasper.” Aku tersenyum malu-malu padanya, dan pada yang lainnya juga. “Senang bisa bertemu kalian semua—rumah kalian sangat indah,” tambahku apa adanya.

“Terima kasih,” sahut Esme. “Kami senang sekali kau datang.” Ia berbicara penuh perasaan, dan aku menyadari ia pasti menganggapku berani.

Aku juga menyadari bahwa Rosalie dan Emmett tak terlihat dimanapun di rumah itu, dan aku ingat penyangkalan Edward yang terlalu polos ketika aku bertanya padanya apakah keluarganya yang lain tidak menyukaiku.

Ekspresi Carlisle mengalihkanku dari pikiran ini; ia memandang Edward penuh makna, ekspresinya mendalam. Dari sudut mata aku melihat Edward mengangguk sekali.

Aku mengalihkan pandangan, berusaha terlihat sopan. Mataku kembali menatap instrumen indah di dekat pintu. Tiba-tiba aku teringat khayalan masa kecilku, seandainya aku menenangkan lotere, aku akan membeli grand piano untuk ibuku. Ia tidak terlalu pintar memainkan piano—ia hanya memainkan piano upright bekas kami untuk dirinya sendiri—tapi aku suka melihatnya memainkan piano. Ia terlihat bahagia, begitu tenggelam—bagiku ia kelihatan seperti sosok misterius yang baru, seseorang di luar sosok ‘ibu’ yang kukenal selama ini. Ia mengajariku cara bermain piano, tentu saja, tapi seperti kebanyakan anak, aku terus mengeluh hingga ia membiarkanku berhenti berlatih.

Esme memperhatikan keprihatinanku.

“Kau bisa main piano?” tanyanya, menunjuk piano dengan kepalanya.

Kugelengkan kepalaku. “Tidak sama sekali. Tapi piano itu indah sekali. Apakah itu milik anda?”

“Tidak,” ia tertawa. “Edward tidak memberitahumu dia pandai bermain musik?”

“Tidak.” Dengan marah kutatap Edward yang memasang ekspresi tak berdosa. “Kurasa seharusnya aku tahu.”

Alis Esme yang lembut terangkat, bingung.

“Edward bisa melakukan segalanya, bukan begitu?” kataku menjelaskan.

Jasper tertawa sinis dan Esme menatap Edward tak setuju.

“Kuharap aku tidak pamer pada Bella—itu tidak sopan,” bentaknya.

“Hanya sedikit,” Edward tertawa lepas. Wajah Esme melembut mendengar suara itu, dan sesaat mereka saling menatap—tatapan yang tidak kumengerti—meskipun wajah Esme tampak nyaris puas.

“Sebenarnya, dia terlalu rendah hati,” aku meralatnya.

“Kalau begitu, bermainlah untuknya,” bujuk Esme.

“Kau baru saja bilang memamerkan diri tidak sopan,” sergah Edward keberatan.

“Selalu ada pengecualian terhadap setiap peraturan,” balas Esme.

“Aku ingin mendengarmu bermain piano,” sahutku.

“Kalau begitu sudah diputuskan.” Esme mendorong Edward menuju piano. Edward menarikku bersamanya, mendudukkanku di kursi di sampingnya.

Lama sekali ia menatapku putus asa, sebelum beralih pada tuts-tuts pianonya.

Kemudian jari-jarinya dengan lincah menekan tuts-tuts gading itu, dan ruangan itu pun dipenuhi irama yang begitu rumit, begitu kaya, mustahil hanya dimainkan dengan sepasang tangan. Aku merasakan mulutku menganga terkesima karena permainannya, dan mendengar tawa pelan di belakangku, menertawakan reaksiku.

Edward menatapku santai, musik masih melingkupi kami tanpa henti, dan ia berkedip. “Kau menyukainya?”

“Kau menciptakannya?” Aku terperangah menyadarinya.

Ia mengangguk. “Kesukaan Esme.”

Aku memejamkan mata sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Ada apa?”

“Aku merasa amat sangat tidak berguna.”

Irama musik memelan, berubah jadi lebih lembut, dan aku terkejut menemukan melodi nina bobonya mengalun di antara sekumpulan not yang dimainkannya.

“Kau yang menginspirasi ini,” katanya lembut. Musiknya berkembang menjadi sesuatu yang teramat manis.

Aku tak sanggup berkata-kata.

“Mereka menyukaimu, kau tahu,” katanya. “Terutama Esme.”

Aku melirik ke belakang, tapi ruangan besar itu kosong sekarang.

“Mereka kemana?”

“Kurasa mereka ingin memberi kita privasi.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.