Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Apa itu enak?” tanyanya, tiba-tiba berbalik menghadapku dan menatap sarapanku dengan pandangan menggoda. “Jujur, makananmu tidak terlalu mengundang selera.”

“Well, sama sekali bukan beruang pemarah…” gumamku, mengabaikan tatapan marahnya. Aku masih bertanya-tanya mengapa ia bereaksi seperti itu saat aku menyebut soal Alice. Aku buru-buru menghabiskan serealku, sambil berspekulasi.

Ia berdiri di tengah dapur, mirip patung Adonis lagi, menerawang ke luar jendela belakang.

Kemudian tatapannya kembali padaku, dan ia memamerkan senyumnya yang menawan.

“Dan kurasa kau juga harus mengenalkanku pada ayahmu.”

“Dia sudah mengenalmu,” aku mengingatkannya.

“Maksudku sebagai pacarmu.”

Aku menatapnya curiga. “Kenapa?”

“Bukankah begitu kebiasaannya?” tanyanya polos.

“Aku tidak tahu,” aku mengakui. Pengalaman berkencanku yang minim tidak cukup bagiku untuk mengetahui kebiasaan itu. Bukan berarti aturan berkencan yang normal berlaku disini. “Itu tidak perlu, kau tahu. Aku tidak berharap kau… maksudku, kau tak perlu berpura-pura demi aku.”

Senyumnya penuh kesabaran. “Aku tidak berpura-pura.”

Aku mengumpulkan sisa serealku ke ujung mangkuk, menggigit bibir.

“Kau akan memberitahu Charlie bahwa aku pacarmu atau tidak?”

“Apakah kau boyfriendku?” Kutekan ketakutanku membayangkan Edward dan Charlie dan kata ‘boyfriend’ dalam ruangan yang sama pada waktu yang bersamaan.

“Kuakui itu pengertian bebas mengenai kata ‘boy’.”

“Aku mendapat kesan sebenarnya kau tahu lebih dari itu,” aku mengaku, memandangi meja.

“Well, aku tidak tahu apakah kita perlu memberitahunya semua detail mengerikan itu.” Ia meraih ke seberang meja, mengangkat daguku dengan jarinya yang dingin dan lembut. “Tapi dia akan memerlukan penjelasan mengapa aku sering kemari. Aku tak ingin Kepala Polisi Swan menetapkan larangan untukku.”

“Benarkah?” aku sekonyong-konyong waswas. “Benarkah kau akan berada disini?”

“Selama yang kauinginkan,” ia meyakinkanku.

“Aku akan selalu menginginkanmu,” aku mengingatkannya. “Selamanya.”

Perlahan ia mengelilingi meja, setelah beberapa senti dariku ia menghentikan langkah, mengulurkan tangan untuk menyentuhkan ujung jarinya ke pipiku, ekspresinya penuh makna.

“Apa itu membuatmu sedih?” tanyaku.

Ia tidak menyahut. Lama sekali ia menatap ke dalam mataku.

“Kau sudah selesai?” ia akhirnya bertanya.

Aku melompat berdiri. “Ya.”

“Berpakaianlah—aku akan menunggu disini.”

Sulit memutuskan apa yang harus kukenakan. Aku ragu ada buku etika yang menjelaskan bagaimana seharusnya berpakaian ketika kekasih vampirmu hendak memperkenalkanmu kepada keluarga vampirnya. Lega rasanya bisa berpikir begitu. Aku tahu aku sengaja tak mau memikirkannya.

Akhrinya aku mengenakan satu-satunya rok yang kumiliki—rok panjang, berwarna khaki, masih kasual. Aku mengenakan blus biru tua yang pernah dipujinya. Lirikan singkat di cermin memberitahu rambutku benarbenar berantakan, jadi aku menguncirnya jadi ekor kuda.

“Oke.” Aku melompat-lompat menuruni tangga. “Aku sudah pantas bepergian.”

Ia menunggu di ujung tangga, lebih dekat dari yang kukira, dan aku langsung menghambur ke arahnya. Ia memegangiku beberapa saat sebelum tiba-tiba menarikku lebih dekat.

“Kau salah lagi,” gumamnya di telingaku. “Kau sangat tidak pantas—tak seorangpun boleh terlihat begitu menggoda, itu tidak adil.”

“Menggoda bagaimana?” tanyaku. “Aku bisa mengganti…”

Ia mendesah, menggeleng-gelengkan kepala. “Kau sangat konyol.” Dengan lembut ia menempelkan bibirnya yang sejuk di dahiku, dan ruangan pun berputar. Aroma napasnya membuatku mustahil bisa berpikir.

“Haruskah aku menjelaskan bagaimana kau membuatku tergoda?” katanya. Jelas itu pertanyaan retoris. Jemarinya perlahan menyusuri tulang belakangku, napasnya makin menderu di permukaan kulitku. Tanganku membeku di dadanya, dan aku kembali melayang. Ia memiringkan kepala perlahan, dan menyentuhkan bibir dinginnya ke bibirku untuk kedua kalinya, dengan sangat hati-hati membukanya.

Kemudian aku tak sadarkan diri.

“Bella?” suaranya terdengar kaget ketika ia menangkap dan memegangiku.

“Kau… membuatku… jatuh pingsan,” aku meracau.”

“Apa yang akan kulakukan denganmu?” ia menggerutu, putus asa. “Kemarin aku menciummu, dan kau menyerangku! Hari ini kau pingsan di hadapanku!”

Aku tertawa lemah, membiarkan lengannya menahanku sementara kepalaku masih berputar-putar.

“Dan katamu aku bisa melakukan segalanya,” ia mendesah.

“Itulah masalahnya.” Aku masih pusing. “Kau terlalu pintar melakukannya. Amat sangat terlalu pintar.”

“Kau merasa sakit?” ia bertanya; ia pernah melihatku seperti ini sebelumnya.

“Tidak—pingsanku kali ini berbeda. Aku tak tahu apa yang terjadi.” Aku menggeleng menyesalinya. “Kurasa aku lupa bernapas.”

“Aku tak bisa membawamu kemana-mana dalam keadaaan seperti ini.”

“Aku baik-baik saja,” aku bersikeras. “Lagipula keluargamu toh bakal menganggapku gila, jadi apa bedanya?”

Ia mengamati ekspresiku beberapa saat. “Aku sangat menyukai warna kulitmu,” ujarnya tak disangkasangka. Wajahku memerah senang, dan berpaling.

“Begini, aku berusaha sangat keras untuk tidak memikirkan apa yang akan kulakukan, jadi bisakah kita berangkat sekarang?” tanyaku.

“Dan kau khawatir, bukan karena kau akan pergi ke rumah yang isinya vampir semua, tapi karena kaupikir vampir-vampir itu takkan menerimaku, betul?”

“Betul,” aku langsung menjawabnya, menyembunyikan keterkejutanku pada kata-katanya yang terdengar wajar.

Ia menggeleng. “Kau sulit dipercaya.”

Aku menyadari, saat ia mengemudikan trukku meninggalkan pusat kota, aku sama sekali tak tahu dimana ia tinggal. Kami melewati jembatan di Sungai Calawah, jalanan membentang ke utara, rumah-rumah yang kami lalui semakin jarang, dan semakin besar. Kemudian kami meninggalkan rumah-rumah yang kami lalui semakin jarang, dan semakin besar. Kemudian kami meninggalkan rumah-rumah, dan memasuki hutan berkabut. Aku mencoba memutuskan untuk bertanya atau tetap bersabar, ketika ia tiba-tiba membelok ke jalanan tak beraspal. Jalanan itu tak bertanda, nyaris tak tampak diantara tumbuh-tumbuhan pakis. Hutan menyelimuti kedua sisinya, hingga jalanan di depan kami hanya kelihatan sejauh beberapa meter, meliuk-liuk seperti ular di sekeliling pepohonan kuno.

Kemudian, setelah beberapa mil, hutan mulai menipis, dan tiba-tiba kami berada di padang rumput kecil, atau sebenarnya halaman rumput sebuah rumah? Meski begitu kemuraman hutan tidak memudar, karena ada enam pohon cedar tua yang menaungi tempat itu dengan cabang-cabangnya yang lebar. Bayangan pepohonan itu menaungi dinding rumah yang berdiri di antaranya, membuat serambi yang mengitari lantai dasar tampak kuno.

Aku tak tahu apa yang kuharapkan, tapi jelas bukan yang seperti ini. Rumah itu tampak abadi, elegan, dan barangkali berusia beberapa tahun. Cat putih yang membalutnya lembut dan nyaris pudar, berlantai pudar, berlantai tiga, berbentuk persegi dan proporsional. Jendela-jendela dan pintu-pintunya entah merupakan struktur asli atau hasil pemugaran yang sempurna. Trukku satu-satunya kendaraan yang tampak disana. Aku bisa mendengar suara aliran sungai di dekat kami, tersembunyi di kegelapan hutan.

“Wow.”

“Kau menyukainya?” Ia tersenyum.

“Bangunan ini memiliki pesona tersendiri.”

Ia menarik ujung ekor kudaku dan tergelak.

“Siap?” ia bertanya sambil membukakan pintuku.

“Sama sekali tidak—ayo.” Aku mencoba tertawa, tapi sepertinya tenggorokanku tercekat. Aku merapikan rambut dengan gugup.

“Kau cantik.” Ia menggenggamtanganku dengan luwes, tanpa ragu.

Kami berjalan menembus bayangan pepohonan menuju teras rumah. Aku tahu ia bisa merasakan keteganganku; ibu jarinya membuat gerakan lingkaran yang menenangkan di punggung tanganku.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.