Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Ia menungguku bereaksi, dan semakin waswas saat aku tetap diam. “Kau takut?” tanyanya.

Aku menunggu sebentar sebelum menjawab, sehingga ucapanku jujur. “Tidak, aku baik-baik saja.”

Ia seperti berpikir selama sesaat. “Meski begitu, sekarang aku penasaran,” katanya, suaranya kembali ringan. “Kau sudah pernah…” ia sengaja tidak menyelesaikan ucapannya.

“Tentu saja belum.” Wajahku memerah. “Sudah kubilang, aku belum pernah merasa seperti ini terhadap orang lain, sedikitpun tidak.”

“Aku tahu. Hanya saja aku tahu pikiran orang lain. Aku tahu cinta dan nafsu tidak selalu sejalan.”

“Bagiku ya. Paling tidak sekarang keduanya nyata bagiku,” aku mendesah.

“Bagus. Setidaknya kita punya persamaan.” Ia terdengar puas.

“Naluri manusiamu…” aku memulai. Ia menanti. “Well, apakah kau menganggapku menarik dari segi itu, sama sekali?”

Ia tertawa dan dengan lembut mengusap-usap rambutku yang hampir kering.

“Aku mungkin bukan manusia, tapi aku laki-laki,” ia meyakinkanku.

Aku menguap tanpa sengaja.

“Aku telah menjawab pertanyaanmu, sekarang kau harus tidur,” ia bersikeras.

“Aku tak yakin apakah aku bisa.”

“Kau mau aku pergi?”

“Tidak!” seruku terlalu lantang.

Ia tertawa, kemudian mulai menggumamkan senandung yang sama lagi, nina bobo yang asing, suara malaikat, lembut di telingaku.

Lebih letih daripada yang kusadari, lelah karena tekanan mental dan emosi yang tak pernah kurasakan sebelumnya, aku tertidur dalam pelukan tangannya yang dingin.

 

 

15. Keluarga Cullen

Cahaya suram dari satu lagi hari mendung akhirnya membangunkanku. Aku berbaring, lengan menutupi mata, mengantuk dan pusing. Sesuatu, sebuah mimpi yang coba kuingat, mencoba menyusup masuk kedalam kesadaranku. Aku mengerang dan berguling ke sisi, berharap bisa tertidur lagi. Lalu bayangan hari kemarin membanjiri kesadaranku.

“Oh!” Aku bangun dan duduk begitu cepat hingga kepalaku pusing.

“Rambutmu terlihat seperti tumpukan jerami… tapi aku menyukainya.” Suaranya yang tenang terdengar dari kursi goyang di sudut kamar.

“Edward! Kau tidak pergi!” Aku berseru gembira, dan tanpa berpikir langsung menghambur ke pangkuannya. Begitu menyadari apa yang kulakukan, aku membeku, terkejut karena semangatku yang menggebu. Aku menatapnya, khawatir tindakanku telah melewati batas.

Tapi ia tertawa.

“Tentu saja,” jawabnya kaget, tapi kelihatan senang melihat reaksiku. Tangannya mengusap-usap punggungku.

Aku membaringkan kepalaku hati-hati di bahunya, menghirup aroma kulitnya.

“Aku yakin itu mimpi.”

“Kau tidak sekreatif itu, lagi,” dengusnya.

“Charlie!” Aku teringat, tanpa berpikir melompat menuju pintu.

“Dia pergi sejam yang lalu—setelah memasang kembali kabel akimu, kalau boleh kutambahkan. Harus kuakui, aku kecewa. Benarkah hanya itu yang diperlukan untuk menghentikanmu, seandainya kau berniat pergi?”

Aku menimbang-nimbang dari tempatku berdiri, ingin sekali kembali padanya, tapi khawatir napasku bau.

“Kau tidak sebiasanya sebingung ini di pagi hari,” ujarnya. Ia merentangkan lengannya untuk menyambutku lagi. Undangan yang nyaris tak sanggup kutolak.

“Aku butuh waktu sebentar untuk menjadi manusia,” aku mengakuinya.

“Kutunggu.”

Aku melompat ke kamar mandi, sama sekali tak memahami emosiku. Aku tak mengenali diriku, di dalam maupun di luar. Wajah yang ada di cermin praktis asing—matanya terlalu ceria, bintik-bintik merah menyebar di tulang pipiku. Setelah menggosok gigi aku merapikan rambutku yang berantakan. Kupercikan air dingin ke wajahku, dan berusaha bernapas secara normal, tapi nyaris gagal. Setengah berlari aku kembali ke kamar.

Rasanya seperti mukjizat bahwa ia masih disana, lengannya masih menantiku. Ia meraihku, dan jantungku berdebar tak keruan.

“Selamat datang lagi,” gumamnya, membawaku ke dalam pelukannya.

Ia menggoyang-goyangkan tubuhku sebentar dalam keheningan, sampai aku menyadari ia telah berganti pakaian, dan rambutnya sudah rapi.

“Kau pergi?” tuduhku, sambil menyentuh kerah kausnya yang baru.

“Aku tak bisa pergi mengenakan pakaian yang sama dengan ketika aku datang—apa yang akan dipikirkan para tetangga?”

Aku mencibir.

“Kau tidur sangat pulas semalam; aku tak melewatkan apapun.” Matanya berkilat-kilat. “Kau mengigau lebih awal.”

Aku menggerutu. “Apa yang kaudengar?”

Mata keemasannya melembut. “Kaubilang kau mencintaiku.”

“Kau sudah tahu itu,” aku mengingatkannya, menyusupkan kepalaku.

“Tapi toh aku senang mendengarnya.”

Kesembunyikan wajahku di bahunya.

“Aku mencintaimu,” bisikku.

“Kau hidupku sekarang,” jawabnya sederhana.

Tak ada lagi yang perlu dikatakan saat itu. Ia bergerak maju-mundur sementara ruangan semakin terang.

“Saatnya sarapan,” akhirnya ia berkata, dengan kasual—untuk membuktikan, aku yakin, bahwa ia mengingat semua kelemahan manusiaku.

Jadi aku mencekik tenggorokanku dengan kedua tangan dan mataku membelalak ke arahnya. Ia terperanjat.

“Bercanda!” aku nyengir. “Padahal katamu aku tidak bisa berakting!”

Ia mengerutkan dahi, jijik. “Tidak lucu.”

“Itu sangat lucu, dan kau tahu itu.” Tapi hati-hati aku mengamati mata emasnya, memastikan ia memaafkanku. Dan tampaknya aku dimaafkan.

“Boleh kuulangi?” tanyaku. “Saatnya sarapan untuk manusia.”

“Oh, baiklah.”

Ia mengusungku di bahunya yang kokoh, dengan lembut, namun dengan kecepatan yang membuatku menahan napas. Aku memprotes saat ia dengan mudah membawaku menuruni tangga, tapi ia mengabaikanku. Ia mendudukanku di kursi.

Ruang dapur terang, ceria, seolah-olah menyerap suasana hatiku.

“Apa menu sarapannya?” tanyaku riang.

Pertanyaanku membuatnya berpikir sebentar.

“Mm, aku tak yakin. Kau mau apa?” Alis pualamnya berkerut.

Aku tersenyum, melompat berdiri.

“Tidak apa-apa, aku bisa mengurus diriku sendiri dengan cukup baik. Perhatikan caraku berburu.”

Aku mengambil mangkuk dan sekotak sereal. Bisa kurasakan tatapannya ketika aku menuang susu dan mengambil sendok. Kuletakkan makananku di meja, lalu berhenti.

“Kau mau sesuatu?” tanyaku, tak ingin bersikap tidak sopan.

Ia memutar bola matanya. “Makan saja, Bella.”

Aku duduk di meja makan, memperhatikannya sambil menyuap sereal. Ia memandangiku, mempelajari setiap gerakanku. Itu membuatku tidak nyaman. Aku berdeham untuk bicara, mengalihkan perhatiannya.

“Apa acara hari ini?” tanyaku.

“Hmmm…” Aku melihatnya berhati-hati memikirkan jawabannya. “Bagaimana menurutmu kalau kita bertemu keluargaku?”

Aku menelan liurku.

“Apa sekarang kau takut?” Ia terdengar berharap.

“Ya,” aku mengakui; bagaimana mungkin aku menyangkalnya—ia bisa melihatnya di mataku.

“Jangan khawatir.” Ia mencibir. “Aku akan melindungimu.”

“Aku tidak takut pada mereka,” jelasku. “Aku khawatir mereka takkan… menyukaiku. Tidakkah mereka akan, well, terkejut kau membawa seseorang… seperti aku… ke rumah menemui mereka? Tahukah mereka aku tahu tentang mereka?”

“Oh, mereka sudah mengetahui semuanya. Kau tahu, kemarin mereka bertaruh”—ia tersenyum, tapi suaranya parau—“Apakah aku membawamu kembali, meski aku tak mengerti mereka mau bertaruh melawan Alice. Bagaimanapun kami sekeluarga tak pernah menyimpan rahasia, terutama dengan kemampuanku membaca pikiran dan Alice melihat masa depan, dan semuanya.”

“Dan Jasper membuat kalian semua nyaman untuk menumpahkan kegelisahan kalian, jangan lupa itu.”

“Kau menyimak,” ia tersenyum senang.

“Aku cukup dikenal akan hal ini kadang-kadang.” Aku meringis. “Jadi, apakah Alice sudah melihat kedatanganku?”

Reaksinya aneh. “Kira-kira begitu,” katanya jengah, berpaling sehingga aku tak bisa melihat matanya. Aku menatapnya penasaran.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.