Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Berbaringlah!” desisnya. Aku tak bisa mengatakan dari mana datangnya suara itu dalam kegelapan.

Aku berguling di bawah selimutku, meringkuk miring, seperti biasanya aku tidur. Aku mendengar pintu terkuak saat Charlie mengintip ke dalam, memastikan aku berada di tempat seharusnya. Napasku teratur, aku sengaja melebih-lebihkannya.

Satu menit yang panjang berlalu. Aku mendengarkan, tak yakin apakah aku mendengar pintunya menutup lagi. Kemudian lengan Edward yang sejuk memelukku di bawah selimut, bibirnya di telingaku.

“Kau aktris yang payah—bisa kubilang karier seperti itu tidak cocok untukmu.”

“Sialan,” gumamku. Jantungku berdebar kencang.

Ia menggumamkan lagu yang tidak kukenal; kedengarannya seperti lagi nina bobo.

Ia berhenti. “Haruskah aku meninabobokanmu hingga kau tidur?”

“Yang benar saja,” aku tertawa. “Seolah-olah aku bisa tidur saja sementara kau disini!”

“Kau melakukannya setiap saat,” ia mengingatkanku.

“Tapi aku tidak tahu kau ada disini,” balasku dingin.

“Jadi kau tidak ingin tidur…” ujarnya, mengabaikan kekesalanku. Napasku tertahan.

“Kalau aku tidak ingin tidur..?”

Ia tergelak. “Kalau begitu apa yang ingin kaulakukan?”

Mula-mula aku tak bisa menjawab.

“Aku tidak tahu,” jawabku akhirnya.

“Katakan kalau kau sudah memutuskannya.”

Aku bisa merasakan napasnya yang sejuk di leherku, merasakan hidungnya meluncur sepanjang rahangku, menghirup napas.

“Kupikir kau sudah kebal?”

“Hanya karena aku menolak anggur, tidak berarti aku tak bisa menghargai aromanya,” bisiknya. “Aromamu seperti bunga, mirip lavender… atau freesia,” ujarnya. “Menggiurkan.”

“Ya, ini hari libur ketika aku tidak membuat seseorang mengetahui betapa lezat aromaku.”

Ia tergelak, lalu mendesah.

“Aku telah memuluskan apa yang ingin kulakukan,” aku memberitahunya. “Aku mau mendengar lebih banyak tentangmu.”

“Tanyakan apa saja.”

Aku memilih pertanyaanku hingga yang paling penting. “Kenapa kau melakukannya?” kataku. “Aku masih tidak mengerti bagaimana kau bisa begitu kuat menyangkal dirimu… yang sebenarnya.Tolong jangan salah mengertim tentu saja aku senang kau melakukannya. Aku hanya tidak mengerti kenapa kau mau melakukannya sejak awal.”

Ia sempat ragu sebelum menjawab. “Itu pertanyaan bagus, dan kau bukan yang pertama menanyakannya. Yang lainnya—mayoritas jenis kami yang cukup puas dengan kelompok kami—mereka, juga, bertanya-tanya bagaimana cara kami hidup. Tapi dengar, hanya karena kami telah… mendapatkan satu kemampuan… tak berarti kami tidak bisa memilih untuk mengendalikannya—untuk menaklukkan batasan takdir yang tak diinginkan oleh satupun dari kami. Untuk berusaha sebisa mungkin mempertahankan sisi kemanusiaan apa pun yang kami miliki.”

Aku berbaring tak bergerak, terpukau dalam keheningan.

“Apakah kau tertidur?” ia berbisik setelah beberapa menit.

“Tidak.”

“Cuma itu yang membuatmu penasaran?”

Aku memutar bola mataku. “Tidak juga.”

“Apa lagi yang ingin kau ketahui?”

“Kenapa kau bisa membaca pikiran—kenapa hanya kau? Dan Alice melihat masa depan… kenapa itu terjadi?”

Aku merasakannya mengangkat bahu dalam kegelapan. “Kami tidak benar-benar tahu. Carlisle punya teori… dia yakin kami semua membawa karakteristik manusia kami yang paling kuat ke kehidupan berikutnya, dan karakteristik itu menjadi lebih kuat—seperti pikiran dan indra kami. Menurut dia, aku pasti telah menjadi sangat peka terhadap pikiran orang-orang di sekitarku. dan bahwa Alice memiliki indra keenam, dimana pun ia berada.”

“Apa yang dibawa Carlisle dan lainnya ke kehidupan mereka berikutnya?”

“Carlisle membawa kebaikan hatinya. Esme membawa kemampuannya untuk mencintai sepenuh hati. Emmett membawa kekuatannya, Rosalie… keteguhannya. Atau kau bisa menyebutnya sifat keras kepala,” ia tergelak. “Jasper sangat menarik. Dia cukup memiliki karisma dalam kehidupan awalnya, mampu mempengaruhi orang-orang di sekitarnya untuk melihat lewat sudut pandangnya. Sekarang ia mampu memanipulasi emosi orang-orang di sekelilingnya—menenangkan seruangan penuh orang yang sedang marah, contohnya, atau di sisi lain membuat kerumunan orang yang letih menjadi bersemangat. Karunia yang sangat unik.”

Aku membayangkan kemustahilan yang digambarkannya, mencoba memahaminya. Ia menunggu dengan sabar sementara aku berpikir.

“Jadi, dari mana ini semua bermula? Maksudku, Carlisle mengubahmu, dan seseorang pasti telah mengubahnya, dan seterusnya…”

“Well, dari mana asalmu? Evolusi, penciptaan? Tidak mungkinkah kami berkembang dengan cara yang sama seperti spesies lainnya, entah itu pemangsa atau mangsanya? Atau kalau kau tidak percaya dunia ini mungkin saja terjadi dengan sendirinya, yang mana aku sendiri sulit mempercayainya, apakah begitu sulit untuk mempercayai bahwa kekuatan yang sama yang menciptakan angelfish juga hiu, bayi anjing laut, dan paus pembunuh, juga bisa menciptakan kedua jenis kita?”

“Biar kuluruskan—aku bayi anjing lautnya, kan?”

“Benar.” Ia tertawa, dan sesuatu menyentuh rambutku—bibirnya?

Aku ingin berbalik menghadapnya, untuk memastikan apakah benar bibirnya yang menyentuh rambutku. Tapi aku harus bersikap tenang; aku tak ingin membuat ini lebih sulit baginya daripada sekarang.

“Kau sudah siap tidur?” tanyanya, menyela keheningan singkat di antara kami. “Atau kau punya pertanyaan lagi?”

“Hanya sejuta atau dua.”

“Kita memiliki hari esok, dan hari berikutnya lagi, dan selanjutnya…” ia mengingatkanku. Aku tersenyum bahagia mendengarnya.

“Kau yakin tidak akan menghilang besok pagi?” Aku menginginkan kepastian. “Lagipula, kau ini makhluk legenda.”

“Aku takkan meninggalkanmu.” Suaranya memancarkan kesungguhan.

“Kalau begitu, satu lagi malam ini…” Dan akupun merona. Kegelapan sama sekali tidak membantu—aku yakin ia bisa merasakan kehangatan kulitku yang tiba-tiba.

“Apa itu?”

“Tidak, lupakan. Aku berubah pikiran.”

“Bella, kau bisa bertanya apapun padaku.”

Aku tak menyahut, dan ia mengerang.

“Aku terus berpikir, akan lebih tidak membuat frustasi bila tidak mendengar pikiranmu. Tapi kenyataannya justru semakin parah dan lebih parah lagi.”

“Aku senang kau tak dapat membaca pikiranku. Sudah cukup buruk bahwa kau menguping saat aku mengigau.”

“Please?” Suaranya begitu membujuk, begitu mustahil untuk kutolak.

Aku menggeleng.

“Kalau kau tidak bilang padaku, aku hanya tinggal menyimpulkan itu sesuatu yang lebih buruk dari seharusnya,” ancamnya licik. “Please?” Lagi-lagi, suara penuh bujuk rayu itu.

“Well,” aku memulainya, senang ia tak bisa melihat wajahku.

“Katamu Rosalie dan Emmett akan segera menikah… Apakah… pernikahan itu… sama seperti pernikahan manusia?”

Ia tertawa terbahak sekarang, menangkap maksudku. “Apakah itu arah pembicaraanmu?”

Aku gelisah, tak mempu menjawab.

“Ya, kurasa kurang-lebih sama,” katanya. “Sudah kubilang kebanyakan hasrat manusia ada dalam diri kami, hanya saja tersembunyi di balik hasrat yang lebih kuat lagi.”

Aku hanya bisa menggumamkan “Oh.”

“Apakah ada maksud di balik rasa penasaranmu?”

“Well, aku memang membayangkan… kau dan aku… suatu hari…”

Ia langsung berubah serius, aku bisa mengatakannya dari tubuhnya yang mendadak kaku. Aku juga membeku, bereaksi dengan sendirinya.

“Aku tidak berpikir itu… itu… akan mungkin bagi kita.”

“Karena itu akan sangat sulit bagimu, seandainya kita… sedekat itu?”

“Itu jelas masalah. Tapi bukan itu yang kupikirkan. Kau sangat lembut dan rapuh. Aku harus memperhitungkan setiap tindakanku setiap kali kita bersama-sama, supaya aku tak melukaimu. Aku bisa membunuhmu dengan sangat mudah, Bella, hanya dengan tidak sengaja.” Suaranya hanya tinggal gumaman. Ia menggerakkan telapak tangannya yang dingin dan menaruhnya di pipiku. “Kalau aku terlalu gegabah… seandainy satu detik saja aku tak cukup memperhatikan, aku bisa saja mengulurkan tanganku, maksudnya ingin menyentuh wajahmu namun malah menghancurkan tengkorakmu karena khilaf. Kau tak tahu betapa sangat rapuhnya dirimu. Aku takkan sanggup kehilangan kendali apa pun saat aku bersamamu.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.