Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Bella,” ralatku sambil tersenyum.

“Aku Mike.”

“Hai, Mike.”

“Kau butuh bantuan mencari kelasmu selanjutnya?”

“Sebenarnya aku mau ke gymnasium. Kurasa aku bisa menemukannya.”

“Itu juga kelasku berikutnya.” Ia tampak senang, meskipun itu bukan kebetulan yang luar biasa di sekolah sekecil ini.

Kami berjalan bareng ke gymnasium; ia ternyata cowok yang senang mengobrol—kebanyakan topik pembicaraan kami berasal darinya, memudahkan segalanya buatku. Ia tinggal di California sampai umur 10 tahun, jadi ia tahu bagaimana perasaanku tentang matahari. Dari pembicaraan kami, aku jadi tahu ia juga sekelas denganku di bahasa Inggris. Ia orang paling ramah yang kutemui hari ini.

Tapi ketika kami memasuki gymnasium, ia bertanya, “Jadi, kau menusuk Edward Cullen dengan pensil atau apa? Aku tak pernah melihatnya bersikap seperti itu.”

Aku menciut. Jadi, aku bukan satu-satunya yang memperhatikan hal ini. Dan itu rupanya bukan perilaku Edward yang biasanya. Aku memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu.

“Maksudmu cowok yang duduk di sebelahku di kelas Biologi?” tanyaku polos.

“Ya,” katanya. “Dia tampaknya kesakitan atau apa.”

“Aku tidak tahu,” timpalku. “ Aku tidak pernah berbicara dengannya.”

“Dia aneh.” Bukannya menuju kamar ganti, Mike malah terus bersamaku. “Kalau aku cukup beruntung bisa duduk denganmu, aku bakal mengobrol denganmu.”

Aku tersenyum padanya sebelum melangkah ke kamar ganti cewek. Ia cukup bersahabat dan mempesona. Tapi itu tak cukup mengobati sakit hatiku.

Guru senam kami, Pelatih Clapp, memberikan seragam buatku. Ia tidak menyuruhku mengganti pakaian dengan seragamku untuk kelas hari ini. Di tempat asalku, pelajaran olahraga hanya selama 2 tahun. Disini pelajaran olahraga wajib selama 4 tahun. Secara harfiah, Forks bagiku adalah neraka di bumi.

Berturut-turut aku menyaksikan 4 pertandingan voli. Mengingat jumlah cedera yang telah menimpaku—dan yang kutimbulkan—ketika bermain voli aku merasa agak mual.

Akhirnya bel terakhir berbunyi. Aku berjalan pelan ke kantor Tata Usaha untuk mengembalikan kertaskertas yang sudah ditandatangani. Hujan sudah reda, tapi angin bertiup kencang dan lebih dingin. Aku memeluk diriku sendiri.

Ketika melangkah ke ruang Tata Usaha yang hangat, aku nyaris langsung berbalik dan melarikan diri.

Edward Cullen berdiri di meja di depanku. Aku mengenali rambut berwarna perunggu yang bernatakan itu. Sepertinya ia tidak memperhatikan kedatanganku. Aku berdiri merapat ke dinding belakang, menunggu petugas resepsionis selesai.

Edward sedang berdebat dengannya, nada suaranya rendah dan indah. Dengan cepat aku menangkap inti perdebatan mereka. Ia sedang berusaha menukar pelajaran Biologi dari jam keenam ke jam lain—jam mana saja.

Aku sama sekali tak percaya keinginnannya memindahkan kelas Biologi-nya ada hubungannya denganku. Pasti sesuatu yang lain, sesuatu yang terjadi sebelum aku memasuki kelas itu. Raut wajahnya tadi pasti karena ia sedang jengkel semata. Tak mungkin orang asing ini bisa tiba-tiba sangat tidak menyukaiku.

Pintunya terbuka lagi, dan angin dingin tiba-tiba berhembus ke dalam ruangan, meniup kertas-kertas di meja, meniup rambutku hingga menutupi wajah. Cewek yang masuk langsung melangkah ke meja, meletakkan catatan di keranjang kawat, lalu keluar lagi. Tapi punggung Edward Cullen menegang, dan perlahan ia berbalik menatapku—wajahnya luar biasa tampan—tatapannya menghujam dan sarat kebencian. Seketika aku merasakan ketakutan yang amat sangat, hingga bulu kuduk di tanganku meremang. Tatapannya hanya sedetik, tapi membuatku membeku lebih dari angin yang dingin. Ia berbalik lagi ke resepsionis.

“Kalau begitu lupakan saja,” katanya terburu-buru dengan nada selembut beledu. “Aku mengerti ini tak mungkin. Terima kasih banyak atas bantuan Anda.” Dan ia berbalik tanpa memandangku lagi, lalu lenyap di balik pintu.

Aku berjalan pelan ke meja, wajahku pucat dan bukannya memerah. Kuserahkan kertas yang sudah ditandatangani.

“Bagaimana hari pertamamu, Nak?” tanya resepsionis lembut.

“Baik,” aku berbohong, suaraku lemah. Ia kelihatan tidak percaya.

Ketika tiba di lapangan parkir, hanya tinggal beberapa mobil disana. Truk itu rasanya seperti tempat perlindungan, nyaris mirip rumah yang kumiliki di lubang hijau yang lembab ini. Aku duduk sebentar di dalamnya, hanya menerawang ke luar kaca depan. Tapi ketika aku kedinginan dan membutuhkan kehangatan, kuselipkan kuncinya dan mesin pun menyala. Aku pulang ke rumah Charlie sambil menahan air mata sepanjang perjalanan ke sana.

 

 

2. Buku yang Terbuka

Keesokan harinya lebih baik… tapi juga lebih buruk.

Lebih baik karena hujan belum turun, meski langit sudah tebal oleh mendung. Itu lebih mudah karena aku jadi tahu apa yang kuharapkan. Mike duduk bersamaku di kelas bahasa Inggris, dan mengantarku ke kelasku berikutnya. Eric si anggota Klub Catur memelototinya sepanjang waktu, membuatku tersanjung. Orang-orang tidak memandangiku seeperti kemarin. Aku duduk dalam kelompok besar saat makan siang, bersama Mike, Eric, Jessica, dan beberapa anak lainnya yang nama dan wajahnya bisa kuingat sekarang. Aku mulai merasa seperti air yang mengalir tenang, bukan tenggelam.

Lebih buruk karena aku lelah. Aku masih tak bisa tidur karena angin yang terus bergema di sekeliling rumah. Lebih buruk karena Mr. Vanner memanggilku di pelajaran Trigono padahal aku tidak mengacungkan tangan dan jawabanku salah. Menyedihkan karena aku harus bermain voli, dan sekalinya tidak terhantam bola, aku malah melemparkannya ke teman sereguku. Dan lebih buruk karena Edward Cullen sama sekali tidak terlihat di sekolah.

Sepagian aku sangat menghawatirkan saat makan siang, waswas terhadap tatapan anehnya. Sebagian diriku ingin mengonfrontasinya dan menuntut ingin mengetahui apa masalahnya. Ketika terbaring nyalang di ranjang, aku bahkan membayangkan apa yang bakal kukatakan. Tapi aku mengenal diriku terlalu baik, tak mungkin aku punya nyali melakukannya. Aku membuat Singa Pengecut terlihat seperti sang pemusnah.

Tapi ketika aku berjalan ke kafetaria bersama Jessica—mencoba menjaga mataku agar tidak nanar mencari sosok Edward dan gagal total—aku melihat keempat saudaranya duduk bareng di meja yang sama, tapi ia sendiri tak ada.

Mike menghadang dan mengajak kami ke mejanya. Jessica sepertinya senang dengan perhatian Mike, dan teman-teman Jessica langsung bergabung dengan kami. Tapi sementara aku berusaha mendengarkan obrolan santai mereka, aku merasa sangat tidak nyaman, gelisah menantikan kedatangan Edward. Aku berharap ia akan mengabaikan aku kalau muncul nanti, dan membuktikan kecurigaanku keliru.

Ia tidak datang, dan dengan berlalunya waktu, akupun semakin tegang.

Aku menuju kelas Biologi dengan lebih percaya diri. Sampai waktu makan siang berakhir tadi, Edward masih belum muncul juga. Mike, yang mirip Golden Retriever, melangkah setia disisiku menuju kelas. Sesampainya di pintu aku menahan napas, tapi Edward Cullen juga tidak berada disana. Aku menghembuskan napas dan pergi ke kursi. Mike mengikuti sambil terus membicarakan rencana jalan-jalan ke pantai. Ia tetap di mejaku sampai bel berbunyi. Lalu ia tersenyum sedih dan beranjak duduk dengan cewek berkawat gigi yang rambutnya keriting dan jelek. Sepertinya aku harus melakukan sesuatu tentang cowok itu, dan ini takkan mudah. Di kota seperti ini, tempat orang-orang selalu ingin tahu apa yang terjadi atas orang lain, diplomasi sangatlah penting. Aku tak pernah pandai berdiplomasi, aku tak pernah berpengalaman menghadapi teman cowok yang kelewat ramah.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.