Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Terima kasih,” sahutnya ketika aku menghidangkan makanannya di meja.

“Bagimana harimu?” tanyaku, buru-buru. Aku ingin sekali pergi ke kamar.

“Bagus. Acara memancingnya biasa saja… kau? Apakah semua yang kaukerjakan akhirnya selesai?”

“Tidak juga—cuaca di luar terlalu bagus untuk dibiarkan begitu saja.” Aku menyuap lasagna-ku lagi.

“Hari ini memang bagus,” timpalnya. Betapa ironisnya, pikirku.

Begitu lasagna-ku habis, aku mengangkat gelasku dan menandaskan susu yang tersisa.

Charlie membuatku kaget karena ternyata ia memperhatikan. “Sedang terburu-buru?

“Yeah, aku lelah. Aku mau tidur lebih cepat.”

“Kau kelihatan agak tegang,” ujarnya. Mengapa, oh, mengapa ia harus begitu perhatian malam ini?

“Masa sih?” hanya itu yang bisa kukatakan. Aku langsung mencuci piring dan menempatkannya terbalik di pengering.

“Ini hari Sabtu,” sahutnya menerawang.

Aku tak menjawab.

“Tak ada rencana malam ini?” tanyanya tiba-tiba.

“Tidak, Dad, aku hanya mau tidur.”

“Tak satupun cowok di kota ini sesuai tipemu, ya?” Ia curiga, tapi berusaha terdengar biasa saja.

“Tidak, belum ada cowok yang menarik perhatianku.” Aku berhati-hati agar tidak terlalu menekankan kata cowok dalam usahaku bersikap jujur pada Charlie.

“Kupikir Mike Newton itu… katamu dia ramah.”

“Dia hanya teman, Dad.”

“Well, lagi pula kau terlalu baik untuk mereka semua. Tunggu saja sampai kuliah nanti, kalau mau mencari teman istimewa.” Impian setiap ayah adalah putri mereka akan meninggalkan rumah sebelum masalah hormon bermunculan.

“Sepertinya ide bagus,” aku menimpali sambil menaiki tangga.

“Selamat malam, Sayang,” ujarnya. Tak diragukan lagi ia akan memasang telinga semalaman, menungguku mengendap-endap meninggalkan rumah.

“Sampai besok pagi, Dad.” Sampai nanti malam ketika kau mengendap-endap ke kamarku tengah malam nanti untuk memeriksaku.

Aku berusaha agar langkahku sepelan dan selelah mungkin ketika menaiki tangga menuju kamar. Kututup pintunya cukup keras agar bisa didengarnya, kemudian berlari dengan berjingkat menuju jendela. Aku membukanya dan melongok ke luar menembus malam. Mataku mencari-cari dalam kegelapan, ke bayangan pepohonan yang tak dapat ditembus.

“Edward?” bisikku, benar-benar merasa tolol.

Suara tawa pelan menyambut dari belakangku. “Ya?”

Aku berbalik, salah satu tanganku melayang ke leher karena terkejut.

Ia berbaring, tersenyum lebar di tempat tidurku, tangannya menyilang di belakang kepala, kakinya berayun-ayun di ujung tempat tidur. Posisinya sangat santai.

“Oh!” aku mendesah, jatuh lemas ke lantai.

“Maafkan aku.” Ia mengatupkan bibirnya erat-erat, berusaha menyembunyikan perasaan gelinya.

“Beri aku waktu sebentar untuk menenangkan jantungku.”

Perlahan-lahan ia bangkit duduk, supaya tidak mengejutkanku lagi. Kemudian ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengulurkan lengannya yang panjang, mengangkatku, memegang pangkal lenganku seolah aku anak kecil. Ia mendudukanku di tempat tidur di sebelahnya.

“Kenapa kau tidak duduk saja denganku?” ia menyarankan, meletakkan tangannya yang dingin di tanganku. “Bagaimana jantungmu?”

“Kau saja yang bilang—aku yakin kau mendengarnya lebih baik dariku.”

Kurasakan tawanya yang pelan menggetarkan tempat tidur.

Sesaat kami duduk diam disana, sama-sama mendengarkan detak jantungku melambat. Aku berpikir tentang keberadaan Edward di kamarku sementara ayahku ada di rumah.

“Bolehkah aku meminta waktu sebentar untuk menjadi manusia?” pintaku.

“Tentu.” Ia menggerakkan tangan menyuruhku melakukannya.

“Diam disitu,” kataku, mencoba tampak galak.

“Ya, Ma’am.” Dan ia berpura-pura seperti patung di ujung tempat tidurku.

Aku melompat, memungut piamaku dari lantai dan tas perlengkapan mandiku dari meja. Aku membiarkan lampu tidak menyala, meluncur keluar, kemudian menutup pintu. Aku bisa mendengar suara TV menggema hingga ke atas. Aku membanting pintu kamar mandi agar Charlie tidak naik mencariku.

Aku bermaksud buru-buru. Kugosok gigiku keras-keras, berusaha menyeluruh sekaligus cepat, menyingkirkan sisa-sisa lasagna. Tapi air panas dari pancuran tak bisa mengalir cepat. Siramannya melemaskan otot-otot punggungku, menenangkan denyut nadiku. Aroma khas shampoku membuatku merasa aku mungkin saja orang yang sama seperti tadi pagi. Aku mencoba tidak memikirkan Edward, yang sedang duduk di kamarku, menunggu, karena kalau begitu aku harus mengulangi proses menenangkan diri dari awal lagi. Akhirnya aku tak bisa menunda lagi. Kumatikan keran air, handukan sekenanya, terburu-buru lagi. Kukenakan T-shirt lusuhku dan celana joging abu-abuku. Terlambat untuk menyesal karena tidak membawa piama sutra Victoria Secret yang diberikan ibuku pada ulang tahunku dua tahun yang lalu, yang masih ada label harganya dan tersimpan di suatu tempat di lemari pakaianku di rumah.

Kukeringkan rambutku lagi dengan handuk, kemudian menyisirnya cepat-cepat. Kulempar handuknya ke keranjang, lalu melembar sikat dan pasta gigi ke tasku. Kemudian aku melunc=ur turun supaya Charlie bisa melihatku mengenakan piama dan habis mandi.

“Selamat malam, Dad.”

“Selamat malam, Bella.” Ia tampak terkejut dengan kemunculanku. Barangkali itu mencegahnya memeriksaku malam ini.

Aku menaiki anak tangga dua-dua, berusaha tetap tenang, dan meluncur ke kamar, menutup pintu rapat-rapat.

Edward tak bergerak sedikitpun dari posisi semula, bagai ukiran Adonis yang bertengger di selimutku yang lusuh. Aku tersenyum dan bibirnya bergerak-gerak, patungnya menjadi hidup.

Matanya mengamatiku, rambutku yang basah, T-shirt yang sudah berlubang-lubang. Salah satu alisnya terangkat. “Bagus.”

Aku nyengir.

“Sungguh, pakaian itu tampak bagus padamu.”

“Terima kasih,” bisikku. Aku kembali ke sisinya, duduk menyilangkan kaki di sebelahnya. Aku memandang garis-garis lantai kayu kamarku.

“Untuk apa kau mandi dan sebagainya itu?”

“Charlie pikir, aku bakal menyelinap keluar.”

“Oh.” Ia memikirkannya. “Kenapa?” Seolah-olah ia tidak dapat membaca pikiran Charlie lebih jelas daripada yang kuduga.

“Sepertinya aku tampak agak terlalu bersemangat.”

Ia mengangkat daguku, mengamati wajahku.

“Sebenarnya kau tampak hangat sekali.”

Perlahan-lahan ia menundukkan wajahnya ke wajahku, meletakkan pipinya yang dingin ke kulitku. Aku sama sekali tak bergerak.

“Mmmmmmm…” desahnya.

Saat ia menyentuhku, sangat sulit memikirkan pertanyaan yang masuk akal. Saat konsentrasiku buyar, butuh beberapa menit bagiku untuk memulai.

“Sepertinya… sekarang lebih mudah bagimu berada di dekatku.”

“Begitukah yang kaulihat?” gumamnya, hidungnya meluncur ke sudut rahangku. Aku merasakan tangannya, lebih ringan dari sayap ngengat, menyibak rambut basahku ke belakang sehingga bibirnya bisa menyentuh lekukan di bawah daun telingaku.

“Amat sangat lebih mudah,” kataku mencoba menghembuskan napas.

“Hmm.”

“Jadi, aku bertanya-tanya…” aku memulai lagi, tapi jari-jarinya perlahan menelusuri tulang selangkaku, dan aku kehilangan akal sehatku.

“Ya?” desahnya.

“Kenapa,” suaraku bergetar, membuatku malu, “seperti itu menurutmu?”

Kurasakan getaran napasnya di leherku saat ia tertawa. “Tekad yang kuat mengalahkan segala hambatan fisik.”

Aku menarik diri; dan ia membeku—dan aku tak lagi mendengar suara napasnya.

Sesaat kami bertatapan dengan hati-hati, kemudian, bersamaan dengan rahangnya yang mulai rileks, ekspresinya tampak bingung.

“Apa aku melakukan kesalahan?”

“Tidak—justru sebaliknya. Kau membuatku sinting,” paparku.

Ia memikirannya sebentar, dan ketika berbicara ia terdengar senang. “Benarkah?” Senyum kemenangan perlahan menyinari wajahnya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.