Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Tidak, tidak banyak. Tapi kebanyakan tidak akan menetap di satu tempat. Hanya yang seperti kami, yang telah berhenti memburu kalian manusia”—ia mengerling licik padaku—“bisa hidup bersama manusia selama apapun. Kami hanya menemukan satu keluarga yang seperti kami, di desa kecil di Alaska. Kami hidup bersama untuk waktu yang lama, tapi jumlah kami terlalu banyak sehingga manusia mulai menyadari keberadaan kami. Jenis seperti kami yang hidup… secara berbeda cenderung berkumpul bersama.”

“Dan yang lain?”

“Kebanyakan berpindah-pindah. Dari waktu ke waktu kami hidup seperti itu. Seperti yang lainnya, kebiasaan ini mulai membosankan. Kadang-kadang kami bertemu yang lain, karena kebanyakan dari kami lebih menyukai daerah Utara.”

“Kenapa begitu?”

Kami telah sampai di depan rumahku sekarang, dan ia mematikan truk. Suasana sangat tenang dan gelap; tak ada bulan. Lampu teras mati, jadi aku tahu ayahku belum pulang.

“Kau memperhatikan sore tadi?” godanya. “Kupikir aku bisa berjalan bebas di jalanan di bawah sinar matahari tanpa menyebabkan kecelakaan lalu lintas? Ada alasan mengapa kami memilih Semenanjung Olympic, salah satu tempat di dunia dengan sinar matahari paling sedikit. Rasanya menyenangkan bisa keluar di siang hari. Kau takkan percaya betapa membosankannya malam setelah delapan puluh tahun yang aneh.”

“Jadi dari situkah asal-muasal legenda itu?”

“Barangkali.”

“Dan Alice berasal dari keluarga yang lain, seperti Jasper?”

“Tidak, dan itu adalah misteri. Alice tidak ingat kehidupan manusianya sama sekali. Dan dia tidak tahu siapa yang menciptakannya. Dia terbangun sendirian. Siapapun yang menciptakannya telah meninggalkannya, dan tak satupun dari kami mengerti kenapa, atau bagaimana orang itu bisa melakukannya. Seandainya Alice tidak memiliki indra istimewa itu, seandainya dia tidak melihat Jasper dan Carlisle dan tahu suatu hari nanti dia akan menjadi salah satu dari kami, dia barangkali bisa berubah jahat.”

Banyak sekali yang harus dipikirkan, banyak sekali yang masih ingin kutanyakan. Tapi yang membuatku teramat malu, perutku keroncongan. Aku begitu terkesima sehingga bahkan tidak sadar diriku kelaparan. Sekarang aku sadar bahwa aku sangat kelaparan.

“Maaf, aku membuatmu terlambat makan malam.”

“Aku baik-baik saja, sungguh.”

“Aku tak pernah menghabiskan begitu banyak waktu bersama seseorang yang perlu makan. Aku lupa.”

“Aku ingin bersamamu.” Lebih mudah mengatakannya dalam kegelapan, mengetahui bagaimana suaraku bisa mengkhianatiku dan kencanduanku akan dirinya terdengar sangat nyata.

“Tidak bisakah aku masuk?” tanyanya.

“Kau mau?” aku tak bisa membayangkannya, makhluk bagai dewa ini duduk di kursi dapur ayahku yang jelek.

“Ya, kalau tidak merepotkan.” Aku mendengar pintunya menutup pelan, dan nyaris saat itu juga ia telah berada di samping pintuku, membukakannya untukku.

“Sangat manusiawi,” aku memujinya.

“Jelas kebiasaan itu muncul lagi.”

Ia berjalan disisiku dalam kegelapan malam, begitu diamnya sehingga aku harus terus-menerus melirik ke arahnya untuk memastikan ia masih disana. Dalam gelap ia tampak jauh lebih normal. Masih pucat, ketampanannya masih bagai ilusi, tapi bukan lagi makhluk kemilau di bawah matahari seperti sore tadi.

Ia menggapai pintu di depanku dan membukakannya untukku. Aku berhenti di tengah-tengah pintu.

“Pintunya tak terkunci?”

“Bukan, aku menggunakan kunci di bawah daun pintu.”

Aku melangkah masuk, menyalakan lampu teras, dan berbalik menghadapnya dengan alis terangkat. Aku yakin tak pernah menggunakan kunci itu di hadapannya.

“Aku penasaran denganmu.”

“Kau memata-mataiku?” Entah bagaimana aku tak bisa membuat suaraku terdengar marah. Aku tersanjung.

Ia kelihatan tidak menyesal. “Apa lagi yang bisa dilakukan pada malam hari?”

Untuk sementara aku mengabaikannya dan menyusuri lorong menuju dapur. Ia sudah disana, sama sekali tak perlu diarahkan. Ia duduk di kursi yang sma dengan yang kubayangkan akan didudukinya. Ketampanannya membuat dapurku bersinar-sinar. Lama baru aku bisa berpaling.

Aku berkonsentrasi menyiapkan makan malamku, mengambil lasagna sisa semalam dari dapur, menempatkan sebagian di piring, kemudiam memanaskannya di microwave. Piringnya berputar, menyebarkan aroma tomat dan oregano ke seluruh dapur. Aku tetap menatap piring ketika bicara.

“Seberapa sering?” tanyaku kasual.

“Hmmm?” Ia terdengar seolah-olah aku telah menariknya keluar dari lamunannya.

Aku masih tidak berpaling. “Seberapa sering kau datang kemari?”

“Aku datang ke sini hampir setiap malam.”

Aku berputar, terperangah. “Kenapa?”

“Kau menarik ketika sedang tidur.” Nada suaranya datar. “Kau mengigau.”

“Tidak!” sahutku menahan napas, wajahku memanas hingga ke garis rambut. Aku meraih meja dapur untuk menjaga keseimbangan. Aku tahu aku suka mengigau ketika tidur, tentu saja; ibuku selalu menggodaku soal ini. Meski begitu aku tidak menyangka aku perlu mengkhawatirkannya disini.

Ekspresinya langsung berubah kecewa. “Apa kau sangat marah padaku?”

“Tergantung!” Aku merasa dan terdengar seolah kehabisan napas.

Ia menanti. “Pada?” desaknya.

“Apa yang kaudengar!” erangku.

Saat itu juga, tanpa suara, ia sudah pindah ke sisiku, tangannya meraih tanganku dengan hati-hati.

“Jangan sedih!” ia memohon. Ia menurunkan wajahnya hingga sejajar dengan mataku, kemudian menatapnya. Aku merasa malu. Aku mencoba memalingkan wajah.

“Kau merindukan ibumu,” bisiknya. “Kau mengkhawatirkannya. Dan ketika hujan turun, suaranya membuatmu gelisah. Kau juga sering mengigau tentang rumahmu, tapi sekarang sudah jauh berkurang. Kau pernah mengatakan sekali, ‘Terlalu hijau’.” Ia tertawa lembut, berharap aku bisa melihatnya, dan tidak membuatku tersinggung lagi.

“Ada lagi?” desakku.

Ia tahu maksudku. “Kau memanggil namaku,” ia mengakui.

Aku mendesah kalah. “Sering?”

“Seberapa sering yang kaumaksud dengan ‘sering’, tepatnya?”

“Oh tidak!” Kepalaku terkulai.

Ia menarikku lembut ke dadanya. Gerakannya sangat alami.

“Jangan malu,” ia berbisik di telingaku. “Seandainya bisa bermimpi, aku pasti akan memimpikanmu. Dan aku tidak merasa malu.”

Kemudian kami mendengar suara ban mobil melintasi jalanan, melihat lampu sorotnya menyinari jendela depan, terus ke lorong menuju kami. Tubuhku kaku dalam pelukannya.

“Haruskah ayahmu tahu aku disini?” tanyanya.

“Aku tidak yakin…” Aku memikirkannya dengan cepat.

“Kalau begitu lain waktu saja…”

Dan akupun sendirian.

“Edward!” desisku tertahan.

Aku mendengar suara tawa yang samar, lalu lenyap.

Terdengar suara Dad membuka kunci pintu.

“Bella?” panggilnya. Sebelumnya hal ini menggangguku, siapa lagi yang ada di rumah kalau bukan aku? Tapi tiba-tiba saja ia tidak kelihatan kelewat menyebalkan.

“Disini.” Kuharap ia tidak mendengar nada histeris dalam suaraku. Aku mengambil makan malamku dari microwave dan duduk di meja ketika ia masuk. Langkah kakinya terdengar berisik setelah aku melewatkan seharian bersama Edward.

“Maukah kau mengambilkan lasagna untukku juga? Aku lelah sekali.” Ia menginjak bagian tumit sepatunya untuk melepaskannya, sambil berpegangan dengan sandaran kursi yang tadi diduduki Edward.

Aku membawa makananku, mengunyahnya sambil mengambil mengambilkan makan malamnya. Aku kepedasan. Kutuangkan dua gelas susu sementara memanaskan lasagna Charlie,d an meminum susuku untuk menghilangkan pedas. Ketika aku meletakkan gelasku, susunya bergetar. Aku baru menyadari tanganku gemetaran. Charlie duduk di kursi, dan perbedaan antara dirinya dan orang yang duduk disana sebelum dia, benar-benar menggelikan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.