Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Sangat masuk akal,” timpalnya.

“Dan apakah kau sama sekali tidak terpengaruh?” tanyaku jengkel. “Oleh kehadiranku?”

Lagi-lagi ekspresinya yang mudah berubah berganti lagi, menjadi lembut dan hangat. Awalnya ia tidak menjawab; hanya menundukkan wajahnya ke arahku, dan mengusapkan bibirnya perlahan sepanjang rahangku, mulai dari telinga ke dagu, berulang-ulang. Aku gemetaran.

“Bagaimanapun,” akhirnya ia bergumam, “refleksku lebih baik.”

 

 

14. Tekad yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik

Harus kuakui ia bisa mengemudi dengan baik saat ia menjaga kecepatannya tetap wajar. Seperti banyak hal, tampaknya itu mudah baginya. Meskipun ia nyaris tak melihat ke jalanan, ban trukku tak pernah keluar satu sentipun dari batas jalur. Ia mengemudi dengan satu tangan, tangan yang lain menggenggam tanganku yang bersandari di kursi. Kadang-kadang ia memandang matahari yang mulai terbenam, kadang-kadang menatapku—wajahku, rambutku yang berkibaran dari jendela yang terbuka, tangan kami yang bertaut.

Ia menyetel saluran radio yang menyiarkan lagu-lagu lama, dan ikut menyanyikan lagu yang tak pernah kudengar. Ia hafal setiap barisnya.

“Kau suka musik ’50-an?” tanyaku.

“Musik ’50-an bagus. Jauh lebih bagus daripada musik ’60-an, atau ’70-an, uhh!” Ia bergidik. “Delapan puluhan masih bisa diterima.”

“Apakah kau akan pernah memberitahuku berapa usiamu?” tanyaku, ragu-ragu, tak ingin merusak selera humornya yang ceria.

“Apakah itu sangat penting?” Untungnya senyumnya tetap mengembang.

“Tidak juga, tapi aku masih bertanya-tanya…” aku nyengir. “Misteri tak terpecahkan selalu bisa membuatmu terjaga sepanjang malam.”

“Aku membayangkan apakah itu akan membuatmu kecewa,” ia bergumam pada dirinya sendiri. Ia memandang matahari, menit demi menit berlalu.

“Coba saja,” kataku akhirnya.

Ia mendesah, kemudian mentap mataku, seolah-olah benar-benar melupakan jalanan selama beberapa saat. Apapun yang dilihatnya pasti telah membangkitkan keberaniannya. Ia melihat ke arah matahari—cahaya benda langit bundar yang terbenam itu membuat kulitnya bercahaya dalam kilauan butir-butir kemerahan— lalu berkata,

“Aku lahir di Chicago tahun 1901.” Ia berhenti sejenak dan melirikku dari sudut matanya. Dengan hatihati kujaga wajahku agar tetap tenang, sabar menantikan penjelasan selanjutnya. Ia tersenyum simpul dan melanjutkan, “Carlisle menemukanku di rumah sakit pada tahun 1918. Usiaku tujuh belas saat itu, sekarat akibat flu Spanyol.”

Ia mendengarku terkesiap, meskui bagiku sendiri nyaris tak terdengar. Ia menunduk menatap mataku lagi.

“Aku tak mengingatnya dengan baik—sudah lama sekali, dan ingatan manusia memudar.” Sesaat ia larut dalam ingatannya sebelum melanjutkan lagi, “Tapi aku ingat bagaimana rasanya, ketika Carlisle menyelamatkanku. Bukan hal mudah, bukan sesuatu yang bisa kaulupakan.”

“Orangtuamu?”

“Mereka sudah meninggal lebih dulu akibat penyakit itu. Aku sebatang kara. Itu sebabnya dia memilihku. Di tengah-tengah kekacauan bencana epidemik itu, tak seorangpun bakal menyadari bahwa aku menghilang.”

“Bagaimana dia… menyelamatkanmu?”

Beberapa detik berlalu sebelum ia menyahut. Sepertinya ia memilih kata-katanya dengan hati-hati.

“Sulit. Tak banyak dari kami memiliki kendali diri yang diperlukan untuk menyelesaikannya. Tapi Carlisle selalu menjadi yang paling manusiawi, yang paling berbelas kasih di antara kami… Kurasa kau tak bisa menemukan yang setara dengannya sepanjang sejarah.” Ia terdiam. “Bagiku, rasanya amat, sangat menyakitkan.”

 

 

Dari garis bibirnya aku tahu ia tidak akan mengatakan apa-apa lagi mengenai masalah ini. Kutekan rasa penasaranku, meskipun nyaris tak mungkin. Banyak yang perlu kupikirkan mengenai hali ini, hal-hal yang baru saja muncul dalam benakku. Tak diragukan lagi benaknya yang berputar cepat telah mengetahui setiap aspek yang tidak kumengerti.

Suaranya yang lembut membuyarkan lamunanku. “Kesendirianlah yang menggerakkannya. Biasanya itulah alasan di balik pilihan tersebut. Aku adalah yang pertama dalam keluarga Carlisle, meski tak lama setelah itu dia menemukan Esme. Dia terjatuh dari tebing. Mereka langsung membawanya ke rumah sakit, meski entah bagaimana jantungnya masih berdenyut.”

“Kalau begitu kau harus dalam kondisi sekarat untuk menjadi…” Kami tak pernah mengucapkan kata itu, dan aku tak dapat mengucapkannya sekarang.

“Tidak, itu hanya Carlisle. Dia takkan pernah melakukannya pada orang yang memiliki pilihan lain.” Rasa hormat yang sangat dalam terpancar dalam suaranya setiap kali ia membicarakan orang yang menjadi figur ayah baginya itu. “Meski begitu, katanya lebih mudah bila aliran darahnya lemah,” lanjutnya. Ia memandang jalanan yang sekarang telah menggelap, dan aku bisa merasakan topik ini telah berakhir.

“Emmett dan Rosalie?”

“Carlisle membawa Rosalie ke keluarga kami setelah Esme. Lama setelahnya barulah aku menyadari bahwa dia berharap Rosalie akan menjadi seseorang bagiku seperti Esme baginya—Carlisle berhati-hati dengan pikirannya yang menyangkut diriku.” Ia memutar bola matanya. “Tapi Rosalie tak pernah lebih daripada seorang adik. Dua tahun kemudian dia menemukan Emmett. Rosalie sedang berburu—waktu itu kami sedang di Applachia—dan mendapati seekor beruang nyaris menghabisi Emmett. Rosalie membawanya kepada Carlisle, menempuh jarak lebih dari seratus mil, khawatir ia tak dapat melakukannya sendiri. Aku hanya menduga-duga bagaimana sulitnya perjalanan itu baginya.” Ia menatapku dalam-dalam, dan mengangkat tangan kami, masih terjalin, lalu mengusap pipiku dengan punggung tangannya.

“Tapi dia berhasil,” aku mendorongnya, berpaling dari keindahan matanya yang tak tertahankan.

“Ya,” gumamnya. “Dia melihat sesuatu di wajah Emmett yang membuatnya cukup kuat. Dan sejak itu mereka selalu bersama-sama. Kadang-kadang mereka tinggal terpisah dari kami, sebagai suami-istri. Semakin muda umur yang kami pilih sebagai identitas kami, semakin lama kami bisa tinggal dimana pun. Forks kelihatannya sempurna, jadi kami semua mendaftar di SMA.” Ia tertawa. “Kurasa kami harus menghadiri pernikahan mereka dalam beberapa tahun, lagi.”

“Alice dan Jasper?”

“Alice dan Jasper dua makhuk yang sangat langka. Mereka mengembangkan kesadaran, begitu kami menyebutnya, tanpa bimbingan dari luar. Jasper berasal dari keluarga… lain, jenis keluarga yang sangat berbeda. Dia tertekan, dan akhirnya memilih mengembara sendirian. Alice menemukannya. Seperti aku, Alice memiliki bakat khusus di atas dan melampaui rata-rata jenis kami.”

“Sungguh?” selaku, terkesima. “Tapi katamu, kau satu-satunya yang bisa mendengarkan pikiran orang lain.”

“Memang benar. Alice mengetahui hal lain. Dia melihat hal-hal—hal-hal yang mungkin terjadi, hal-hal yang akan datang. Tapi itu sangat subjektif. Masa depan tidak terukir di atas batu. Segala sesuatu berubah.”

Rahangnya mengeras ketika mengatakan hal itu, dan matanya tertuju padaku, lalu berlalu begitu cepat sehingga aku tak yakin bahwa aku hanya mengkhayalkannya.

“Hal-hal apa yang dilihatnya?”

“Dia melihat Jasper dan tahu dia mencari dirinya bahkan sebelum Jasper sendiri mengetahui hal itu. Dia melihat Carlisle dan keluarga kami, dan mereka datang bersama-sama menemui kami. Alice paling sensitif dengan makhluk bukan manusia. Dia selalu melihat, contohnya, ketika kelompok lain mendekat. Dan ancaman apapun yang mungkin ditimbulkan.”

“Apakah jenis kalian… ada banyak?” Aku terkejut. Berapa banyakkah dari mereka yang bisa berjalan diantara manusia tanpa terdeteksi.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.