Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Aku menunggu untuk meyakinkan apakah ia bergurau, tapi tampaknya ia bersungguh-sungguh. Ia tersenyum melihat keraguanku, lalu mengulurkan tangan meraihku. Jantungku bereaksi; meskipun tak bisa mendengar pikiranku, ia tetap bisa mengetahuinya lewat detak jantungku. Kemudian ia mengayunkanku ke punggungnya tanpa aku perlu bersusah payah. Setelah itu aku mengaitkan tangan dan kakiku di tubuhnya begitu erat hingga bisa membuat orang biasa tersedak. Rasanya seperti memeluk batu.

“Aku agak berat daripada tas ranselmu,” aku mengingatkannya.

“Hah!” dengusnya. Aku nyaris bisa mendengar ia memutar bola matanya. Aku tak pernah melihatnya begitu bersemangat sebelumnya.

Ia membuatku terkejut ketika sekonyong-konyong ia meraih tanganku, menekankan telapak tanganku ke wajahnya, dan menghirupnya dalam-dalam.

“Selalu lebih mudah daripada sebelumnya,” gumamnya.

Kemudian ia berlari.

Jika sebelumnya keberadaannyya pernah membuatku mengkhawatirkan kematian, itu tak sebanding dengan yang kurasakan saat ini.

Ia menerobos kegelapan hutan yang lebat bagai peluru, bagai hantu. Tak ada suara, tak ada bukti ia memijakkan kakinya di tanah. Irama napasnya tak pernah berubah, tidak menunjukkan bahwa ia mengerahkan segenap tenaga. Tapi pepohonan di sekitar kami berkelebat sangat cepat, selalu luput menyentuh kami.

Aku terlalu takut untuk memejamkan mata, meskipun hawa hutan yang sejuk menyapu wajahku dan membakarnya. Aku merasa seolah-olah dengan bodoh menjulurkan kepala ke luar jendela pesawat yang sedang mengudara. Dan untuk pertama kali dalam hidupku, aku merasa mabuk.

Kemudian selesai. Kami mendaki berjam-jam tadi pagi untuk mencapai padang rumput Edward, dan sekarang, dalam hitungan menit, kami sudah sampai di truk.

“Asyik, bukan?” Suaranya meninggi, senang.

Ia berdiri tak bergerak, menungguku turun. Aku mencobanya, tapi otot-ototku kaku. Lengan dan kakiku tetap mengunci tubuhnya sementara kepalaku berputar-putar dan membuatku tidak nyaman.

“Bella?” panggilnya, sekarang terdengar waswas.

“Rasanya aku perlu berbaring,” aku menahan napas.

“Oh, maaf.” Ia menungguku, tapi aku masih tetap tak bisa bergerak.

“Sepertinya aku butuh bantuan,” ujarku.

Ia tertawa pelan, dan dengan lembut melepaskan cengkramanku di lehernya. Kupasrahkan diriku. Kemudian ia menarikku menghadapnya, menggendongku seolah-olah aku kanak-kanak. Ia memelukku sebentar, lalu hati-hati menurunkanku ke atas hamparan pakis.

“Bagaimana perasaanmu?” tanyanya.

Aku tak yakin apa yang kurasakan saat kepalaku berputar cepat sekali. “Rasanya pusing.”

“Letakkan kepalamu di antara kedua lututmu.”

Aku mencobanya, dan lumayan membantu. Aku bernapas palan, menjaga kepalaku tetap tenang. Aku merasakan ia duduk di sisiku. Waktu berlalu, dan akhirnya aku dapat mengangkat kepala. Telingaku berdenging.

“Kurasa itu bukan gagasan yang bagus,” gumamnya.

Aku mencoba bersikap positif, namun suaraku lemah. “Tidak, itu tadi sangat menarik.”

“Hah! Wajahmu sepucat hantu begitu—oh bukan, kau sepucat aku!”

“Seharusnya tadi aku memejamkan mata.”

“Lain kali ingat itu.”

“Lain kali!” erangku.

Ia tertawa. Suasana hatinya masih bagus.

“Tukang pamer,” gumamku.

“Buka matamu, Bella,” ujarnya pelan.

Dan disanalah dia, wajahnya sangat dekat denganku. Ketampanannya memukauku—terlalu berlebihan, kelebihan yang belum bisa membuatku terbiasa.

“Aku sedang berpikir, ketika aku berlari…” Ia terdiam.

“Kuharap bukan tentang tidak menabrak pepohonan.”

“Bella, kau lucu,” ia tergelak. “Berlari adalah sesuatu yang alami, bukan sesuatu yang harus kupikirkan.”

“Tukang pamer,” gumamku lagi.

Ia tersenyum.

“Bukan,” lanjutnya, “aku berpikir ada sesuatu yang ingin kucoba.” Dan ia memegangi wajahku dengan tangannya lagi.

Aku tak bisa bernafas.

Ia ragu-ragu—tidak seperti biasanya, seperti cara manusia.

Bukan seperti pria yang ragu-ragu sebelum mencium wanita, untuk mengira-ngira bagaimana reaskinya, untuk melihat bagaimana wanita itu menerimanya. Barangkali ia ingin mengulur-ulur waktu, saat penantian yang tepat terkadang lebih baik daripada ciuman itu sendiri.

Edward ragu untuk menguji dirinya sendiri, untuk mengetahui apakah ini aman, untuk memastikan dirinya masih dapat mengendalikan hasratnya.

Kemudian bibir pualamnya yang dingin menekan lembut bibirku.

Tapi kami sama sekali tidak siap dengan reasksiku.

Darahku mendidih dan membara di bibirku. Napasku terengah-engah. Jariku meremas rambutnya, mencengkeram tubuhnya di tubuhku. Bibirku membuka saat kuhirup aroma tubuhnya yang keras.

Tiba-tiba kurasakan ia mematung di bawah bibirku. Dengan lembut dan tegas tangannya mendorong wajahku. Aku membuka mata dan melihat ekspresinya yang waspada.

“Ups,” desahku.

“Itu namanya melecehkan.”

Tatapannya liar, rahangnya menegang, meski begitu artikulasinya tetap sempurna. Ia memegang wajahku hanya beberapa senti dari wajahnya. Aku terpana dibuatnya.

“Haruskah aku…?” Aku mencoba menahan diri, memberinya sedikit ruang.

Tangannya tidak mengizinkanku bergerak sedikitpun.

“Tidak, aku bisa mentolerirnya. Tolong tunggu sebentar.” Suaranya sopan, terkendali.

Aku terus menatap matanya, memperhatikan hasrat yang berkobar-kobar di dalamnya mulai memudar dan melembut.

Kemudian ia tersenyum, dan senyumnya tak disangka-sangka nakal.

“Nah,” katanya, jelas puas dengan dirinya sendiri.

“Bisa ditolerir?” tanyaku.

Ia tertawa keras. “Aku lebih kuat daripada yang kuduga. Senang mengetahuinya.”

“Kuharap aku bisa mengatakan hal yang sama. Maafkan aku.”

“Kau toh hanya manusia biasa.”

“Terima kasih banyak,” sahutku getir.

Dalam satu gerakan luwes dan cepat ia sudah berdiri. Ia mengulurkan tangan padaku, gerakan yang tak kusangka-sangka. Aku begitu terbiasa berhati-hati agar kami tidak bersentuhan. Kugenggam tangannya yang dingin, memerlukannya lebih dari dugaanku. Keseimbanganku belum kembali sepenuhnya.

“Apa kau masih mau pingsan akibat lari kita tadi? Atau karena ciumanku yang menghanyutkan?” Betapa ceria, betapa manusianya dia ketika sedang tertawa sekarang ini, wajah manusianya tampak tenang. Ia adalah Edward yang berbeda dari yang kukenal. Dan aku merasa lebih tergila-gila lagi padanya. Akan menyakitkan bila harus berpisah darinya sekarang.

“Aku tidak yakin, aku masih pening,” akhirnya aku berhasi menyahut. “Kurasa gabungan keduanya.”

“Kurasa kau harus membiarkanku mengemudi.”

“Kau gila ya?” protesku.

“Aku bisa mengemudi lebih baik darimu bahkan pada hari terbaikmu,” godanya. “Refleksmu jauh lebih lambat.”

“Aku yakin itu benar, tapi kurasa keberanianku, atau trukku, bisa menerimanya.”

“Percayalah, Bella, sedikit saja.”

Kuselipkan tanganku di saku celana, menggenggam kunci mobilku erat-erat.

“Tidak. Tidak sedikitpun.”

Alisnya terangkat tidak percaya.

Aku mulai mengitarinya, menuju sisi pengemudi. Ia mungkin membiarkanku lewat kalau saja aku tidak terhuyung. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ia mungkin tidak akan membiarkanku lewat sama sekali. Lengannya menciptakan perangkap tak tertembus di sekeliling pinggangku.

“Bella, aku telah mengerahkan segenap usaha yang kubisa untuk menjagamu tetap hidup. Aku takkan membiarkanmu mengemudi ketika berjalan luruspun kau tidak bisa. Lagipula, seorang teman takkan membiarkan temannya mengemudi dalam keadaan mabuk,” kutipnya sambil tergelak. Aku bisa mencium aroma manis yang tak tertahankan dari dadanya.

“Mabuk?” timpalku keberatan.

“Kau mabuk oleh kehadiranku.” Ia memamerkan senyumnya yang menggoda lagi.

“Aku tak bisa menyangkal yang satu itu,” desahku. Tak ada jalan keluar, aku tak bisa menolaknya untuk apapun. Aku mengangkat kunci trukku tinggi-tinggi dan menjatuhkanya, mengamati tangannya berkelebat bagai kilat dan menyambarnya tanpa suara. “Santai saja—trukku sudah cukup tua.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.