Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Ia memandangku muram, kami mengingat saat-saat itu. “Kau pasti menduga aku kerasukan.”

“Aku tidak mengerti alasannya. Bagaimana kau bisa membenciku secepat itu…”

“Bagiku rasanya kau seperti semacam roh jahat yang dikirim dari nerakaku sendiri untuk menghancurkanku. Aroma yang menguar dari kulitmu… Kupikir akan membuatku gila pada hari pertama itu. Dalam satu jam itu aku memikirkan seratus cara berbeda untuk memancingmu keluar dari ruangan itu bersamaku, agar aku bisa berdua saja denganmu. Dan aku terus melawan keinginan itu, memikirkan keluargaku, apa yang akan menimpa mereka akibat kebodohanku. Aku harus pergi, menghilang, sebelum aku mengucapkan kata-kata yang bisa membuatmu mengikutiku…”

Ia menatap ekspresiku yang gentar ketika mencoba memahami ingatannya yang pahit. Matanya yang keemasan membara di balik bulu matanya, menghipnotis dan mematikan.

“Kau pasti datang,” ujarnya.

Aku mencoba berkata dengan tenang, “Tak diragukan lagi.”

Dahinya mengerut ketika ia menatap tanganku, membebaskanku dari kekuatan tatapannya. “Kemudian, ketika aku sia-sia berusaha mengatur jadwalku agar bisa menghindarimu, kau ada disana—di ruangan kecil itu, begitu dekat. Aroma tubuhmu membuatku sinting. Saat itu aku nyaris menculikmu. Hanya ada satu manusia lemah disana—sangat mudah untuk diatasi.”

Tubuhku gemetar di bawah hangatnya matahari, ingatanku diperbaharui lewat matanya, hanya saja sekarang aku menyadari bahayanya. Mrs. Cope yang malang; aku bergidik lagi mengingat betapa aku nyaris menjadi penyebab kematiannya.

“Tapi aku menolaknya. Aku tidak tahu bagaimana. Aku memaksa diriku agar tidak menunggumu, tidak mengikutimu dari sekolah. Bagiku di luar lebih mudah, karena disana aku tak bisa mencium aromamu. Aku bisa berpikir lebih jernih, membuat keputusan yang tepat. Aku meninggalkan yang lain di dekat rumah—aku kelewat malu memberitahu mereka betapa lemahnya diriku, mereka hanya tahu ada sesuatu yang sangat salah—lalu aku pergi menemui Carlisle, di rumah sakit, untuk memberitahunya aku akan pergi.”

Aku menatapnya terpana.

“Aku bertukar mobil dengannya—bahan bakar mobilnya penuh dan aku tak ingin berhenti. Aku tidak berani pulang menemui Esme. Dia tidak akan tinggal diam sampai mengetahui apa yang terjadi. Dia akan mencoba meyakinkanku bahwa itu tidak penting…

“Keesokan paginya aku sudah berada di Alaska.” Ia terdengar malu, seolah-olah mengakui betapa pengecut dirinya. “Dua hari aku disana, bersama beberapa kenalan lama… tapi aku rindu rumah. Aku benci karena telah mengecewakan Esme, dan yang lainnya, keluarga adopsiku. Dalam udara bersih pegunungan, sulit mempercayai betapa sangat menggodanya dirimu. Aku meyakinkan diriku sendiri, bahwa melarikan diri menunjukkan betapa lemah diriku. Sebelumnya aku juga pernah menghadapi cobaan, tidak sebesar ini, dekat pun tidak, tapi aku kuat. Siapa kau ini, gadis kecil yang tak penting”—tiba-tiba ia nyengir—“yang mengusirku dari tempat yang ingin kutinggali? Jadi aku pun kembali…” Pandangannya menerawang.

Aku tak sanggup berkata-kata.

“Aku melakukan tindakan pencegahan, berburu, makan lebih banyak daripada biasa sebelum bertemu lagi denganmu. Aku yakin aku cukup kuat untuk memperlakukanmu seperti manusia lainnya. Aku sombong mengenai hal ini.

“Kenyataan bahwa aku tak dapat membaca pikiranmu untuk mengetahui reaksimu terhadapku benarbenar menggangguku. Aku tak terbiasa melakukannya lewat perantara, mendengarkan pikiranmu melalui pikitan Jessica… pikirannya tidak terlalu orisinal, dan sangat mengganggu harus merendahkan diri seperti itu. Lagipula aku tidak tahu apakah kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu. Sangat menyebalkan.” Ia cemberut mengingatnya.

“Aku ingin kau melupakan sikapku pada hari pertama itu, bila mungkin, jadi aku mencoba berbicara denganmu seperti yang akan kulakukan dengan siapapun. Sebenarnya aku sangat ingin, aku berharap dapat menguraikan sebagian pikiranmu. Tapi kau terlalu menarik, aku mendapati diriku tertawan dalam ekspresimu… dan sesekali kau mengibas-ibaskan tangan atau rambutmu, dan aroma yang menguar membuatku terkesima lagi…

“Tentu saja, kemudian kau nyaris mati tepat di hadapanku. Baru setelahnya aku menemukan alasan yang sangat tepat mengapa aku beraksi saat itu—karena jika aku tidak menyelamatkanmu, jika darahmu tercecer di sana di depanku, kurasa aku takkan bisa menghentikan diriku mengungkapkan siapa diri kami sebenarnya. Tapi aku baru memikirkan alasan itu setelahnya. Saat itu, yang bisa kupikirkan hanya, ‘Jangan dia’.”

Ia memejamkan mata, larut dalam pengakuannya yang menyiksa. Aku mendengarkan, lebih antusias daripada rasional. Akal sehatku mengingatkan seharusnya aku takut. Tapi sebagai ganti aku lega akhirnya bisa mengerti. Aku sangat bersimpati atas penderitaannya, bahkan sekarang, ketika ia mengakui hasratnya untuk menghabisi nyawaku.

Akhirnya aku bisa bicara, meski suaraku samar-samar. “Di rumah sakit?”

Matanya berkilat-kilat menatapku. “Aku kaget. Aku tak percaya aku telah membahayakan diri kami, menaruh diriku dalam kuasamu—dirimu, dari semua orang yang ada. Seolah-olah aku memerlukan alasan lain untuk membunuhmu.” Kami beringsut menjauh ketika kata itu terucap. “Tapi efeknya justru kebalikannya,” ia bergegas melanjutkan. “Aku bertengkar dengan Rosalie, Emmett, dan Jasper ketika mereka bilang sekaranglah waktunya… pertengkaran terburuk kami. Carlisle membelaku, begitu juga Alice.” Ia meringis ketika menyebut nama itu. Aku tak bisa menebak alasannya. “Esme menyuruhku melakukan apa saja yang harus kulakukan untuk tetap tinggal.” Ia menggeleng tulus.

“Sepanjang keesokan harinya, aku membaca pikiran setiap orang yang berbicara denganmu, dan aku terkejut kau memegang kata-katamu. Aku sama sekali tidak memahami dirimu. Tapi aku tahu aku tak bisa terlibat lebih jauh lagi denganmu. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menjauhimu. Dan setiap hari aroma kulitmu, napasmu, rambutmu… memukulku sama kerasnya seperti hari pertama.”

Mata kami kembali bertemu, dan aku terkejut melihat betapa lembut tatapannya.

“Karenanya,” lanjutnya, “akan lebih baik jika aku mengungkapkan siapa kami pada saat pertama itu, daripada sekarang, disini—tanpa saksi dan apa pun yang bisa menghentikanku—seandainya aku akan menyakitimu.”

Cukup manusiawi bagiku untuk bertanya, “Kenapa?”

“Isabella.” Ia mengucapkan nama lengkapku dengan hati-hati, kemudian mengacak-acak rambutku dengan tangannya. Sentuhan ringannya membuat sekujur tubuhku tegang. “Bella, aku takkan bisa memaafkan diriku jika aku sampai menyakitimu. Kau tak tahu betapa itu menyiksaku.” Ia menunduk, kembali malu-malu. “Bayangan dirimu, kaku, putih, dingin… tak bisa melihatmu merona lagi, tak bisa melihat kelebatan intuisi di matamu ketika mengetahui kepura-puraanku… rasanya tak tertahankan.” Ia menatapku dengan matanya yang indah, namun tersiksa. “Kau yang terpenting bagiku sekarang. Terpenting bagiku sampai kapan pun.”

Kepalaku berputar karena betapa cepatnya pembicaraan kami berubah-ubah. Dari topik menyenangkan tentang kematianku, sekonyong-konyong kami mengungkapkan perasaan kami. Ia menunggu, dan meskipun aku menunduk mengamati tangan kami, aku tahu matanya yang keemasan mengawasiku.

“Kau sudah tahu bagaimana perasaanku, tentu saja,” kataku akhirnya. “Aku ada disini… yang secara kasar berarti aku lebih baik mati daripada harus menjauh darimu.” Wajahku muram. “Bodohnya aku.”

“Kau memang bodoh,” ia menimpaliku sambil tertawa. Tatapan kami bertemu, dan aku ikut tertawa. Kami sama-sama menertawakan kebodohan dan kemustahilan situasi itu.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.