Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Charlie bilang hari ini bakal hangat.”

“Apakah kau menceritakan rencanamu padanya?” tanyanya.

“Tidak.”

“Tapi Jessica mengira kita pergi ke Seattle bersama-sama?” Ia kelihatannya senang dengan pemikiran itu.

“Tidak, aku bilang kau membatalkan rencana itu—dan itu benar.”

“Tak ada yang tahu kau bersamaku?” Sekarang ia marah.

“Tergantung.. kurasa kau memberitahu Alice?”

“Sangat membantu, Bella,” tukasnya, jengkel.

Aku berpura-pura tidak mendengar.

“Apakah Forks membuatmu begitu tertekan sehingga kau kepingin bunuh diri?” tanyanya ketika aku mengabaikan kata-katanya.

“Katamu kau bisa mendapat masalah… kalau kita terlihat bersama-sama di depan orang banyak,” aku mengingatkannya.

“Jadi kau mengkhawatirkan masalah yang mungkin menimpaku—kalau kau tidak pulang ke rumah?” Ia masih terdengar marah, dan sangat sinis.

Aku mengangguk, pandanganku tetap ke jalan.

Ia menggumamkan sesuatu, berbicara begitu cepat hingga aku tak bisa memahaminya.

Selama sisa perjalanan kami membisu. Aku bisa merasakan gelombang kemarahan dan kekecewaan dalam diriny, dan aku tak tahu harus bilang apa.

Kemudian jalanan berakhir, menyempit menjadi jalan setapak dengan penanda dari kayu kecil.Aku memarkir truk di sisi jalan yang sempit dan melangkah keluar, waswas karena ia marah padaku dan aku tak bisa menjadikan mengemudi sebagai alasan untuk tidak memandangnya. Sekarang di luar terasa hangat, lebih hangat daripada yang pernah kurasakan sejak tiba di Forks, nyaris lembab di bawah selimut awan. Aku melepaskan sweter dan mengikatkannya di pinggang, bersyukur telah mengenakan kaus tipis tanpa lengan di baliknya—apalagi karena aku harus berjalan kaki sejauh lima mil.

Aku mendengarnya menutup pintu, dan melihat apakah ia juga melepas sweternya. Ia tidak sedang memandangku, melainkan hutan tak berujung di sebelah trukku.

“Lewat sini,” katanya sambil menoleh, sorot matanya masih kesal. Ia mulai memasuki hutan gelap itu.

“Jalan setapaknya?” suaraku jelas terdengar panik ketika mengitari truk dan mengejarnya.

“Kubilang ada jalan setapak di ujung jalan, bukan berarti kita akan melaluinya.”

“Tanpa jalan setapak?” tanyaku putus asa.

“Aku takkan membiarkanmu tersesat.” Kemudian ia berbalik, dengan senyum mengejek, dan aku mendengus pelan. Kaus putihnya tanpa lengan dan ia tidak mengancingkannya, sehingga kulit putihnya yang mulus terpapar dari leher hingga ke dada, otot-ototnya yang sempurna tak lagi tampak samar dari pakaian yang membalutnya. Ia terlalu sempurna, pikirku sambil menatap tajam dengan putus asa. Tidak mungkin makhluk menyerupai dewa inii ditakdirkan untukku.

Ia menatapku, keheranan melihat ekspresiku yang tersiksa.

“Kau ingin pulang?” tanyanya tenang, perasaan tersiksa yang sedikit berbeda dariku terdengar dalam suaranya.

“Tidak.” Aku melangkah maju sampai ke dekatnya, tak ingin membuang-buang lagi satu detik atau berapa pun lamanya waktuku bersamanya.

“Ada apa?” tanyanya lembut.

“Aku bukan pendaki yang baik,” sahutku tolol. “Kau harus sangat sabar.”

“Aku bisa sabar—kalau aku berusaha keras.” Ia tersenyum, sambil menatap mataku, berusaha mengangkatku dari kesedihan yang mendadak dan tak bisa dijelaskan.

Aku mencoba membalas senyumnya, tapi senyumku tidak meyakinkan. Ia mengamatik wajahku.

“Aku akan membawamu pulang,” janjinya. Aku tak bisa mengatakan apakah janji itu tanpa syarat, atau artinya ia akan mengantarku lalu pulang ke rumahnya sendiri. Aku tahu ia mengira rasa takutlah yang membuatku sedih, dan sekali lagi aku bersyukur akulah satu-satunya orang dengan pikiran yang tidak terbaca olehnya.

“Kalau kau mau aku menempuh lima mil ke dalam hutan sebelum matahari terbenam, sebaiknya kau mulai menunjukkan arahnya,” kataku dingin. Ia memandang marah padaku, mencoba memahami maksudku.

Sesaat akhirnya ia menyerah dan mulai berjalan ke dalam hutan.

Ternyata tidak sesulit yang kukhawatirkan. Jalan yang kami lalui kebanyakan datar, dan ia menahan dahan-dahan basah dan juntaian lumut supaya aku bisa lewat. Ketika jalan lurus yang dilaluinya terhalang pohon tumbang, atau bebatuan besar, ia membantuku, mengangkatku dengan memegangi sikuku, dan langsung melepasku begitu selesai melewati rintangan. Sentuhan dingn kulitnya selalu membuat jantungku berdebar tak keruan. Ketika terjadi untuk kedua kali, aku sempat melihat wajahnya dan yakin entah bagaimana ia bisa mendengar detak jantungku.

Aku berusaha mengalihkan pandanganku dari kesempurnaannya sebisa mungkin, tapi sering kali aku gagal. Setiap kali ketampanannya menusukku dengan kepedihan.

Kami lebih sering berjalan dalam diam. Kadang-kadang ia melontarkan pertanyaan asal yang belum ditanyakannya dua hari yang lalu ketika menginterogasiku. Ia menanyakan hari ulang tahunku, guru-guru sekolah dasarku, hewan peliharaanku semasa kecil—dan harus kuakui setelah tiga ekor ikan yang kuperlihara berturut-turut mati, aku menyerah, tak ingin lagi memiliki hewan peliharaan. Ia menertawaiku, lebih keras dari biasanya—gema yang seperti lonceng memantul ke arah kami dari hutan yang kosong.

Pendakian itu nyaris memakan waktu sepagian, tapi tak sekalipun ia menunjukkan tanda-tanda tidak sabar. Hutan itu membentang di sekeliling kami, dipenuhi jaring pepohonan kuno, dan aku mulai merasa gugup bahwa kami takkan menemukan jalan keluar lagi. Sebaliknya ia merasa sangat tenang, merasa nyaman berada di tengah-tengah jaring hijau, tak pernah tampak ragu tentang arah yang kami tuju.

Setelah beberapa jam cahaya menyusup di antara dedaunan berubah, warna kehijauan yang suram berganti jadi hijau cerah. Hari telah berubah cerah, tepat seperti yang diramalkannya. Untuk pertama kali sejak kami memasuki hutan aku merasa gembira—yang dengan cepat berubah menjadi tidak sabar.

“Apakah kita sudah sampai?” godaku, pura-pura kesal.

“Hampir.” Ia tersenyum melihat suasana hatiku yang sudah ceria lagi. “Kaulihat cahaya terang di depan sana?”

Mataku menyipit memandang hutan lebat itu. “Apakah seharusnya aku bisa melihatnya?”

Ia nyengir. “Barangkali belum kasat oleh matamu.”

“Waktunya mengunjungi dokter mata,” gumamku. Ia nyengir semakin lebar.

Tapi kemudian, setelah melangkah seratus meter lagi, aku bisa melihat jelas cahaya di pepohonan di depan kami. Cahaya itu kuning, bukan hijau. Aku mempercepat langkah, hasratku semakin bertambah di setiap langkahku. Ia membiarkanku berjalan di depan sekarang, dan mengikutiku tanpa suara.

Aku mencapai ujung kolam cahaya dan melangkah menembus tumbuhan pakis menuju tempat terindah yang pernah kulihat. Padang rumput itu kecil, melingkar sempurna, dan ditumbuhi bunga-bunga liar—biru keunguan, kuning, dan putih lembu. Tak jauh dari tempatku berdiri, aku bisa mendengar senandung sungai.

Matahari tepat bersinar di atas kami, menyinari lingkaran itu dengan kabut kekuningan. Aku berjalan pelan, terpesona, melintasi rumput halus, bunga-bunga yang melambai-lambai, serta udara hangat dan keemasan. Aku setengah membalikan badan, ingin berbagi ini semua dengannya, tapi ia tak ada di belakangku seperti yang kukira. Aku memandang berkeliling, dengan ketakutan mencari-carinya. Akhirnya aku menemukannya, berdiri di bawah bayangan pepohonan lebar di tepi kegelapan hutan, memperhatikanku dengan tatapan waswas.

Aku kembali melangkah ke arahnya, sorot mataku sarat oleh rasa ingin tahu. Tatapannya hati-hati, enggan. Aku tersenyum menyemangati, mengulurkan tangan, sambil terus melangkah ke arahnya. Ia mengangkat tangan mengingatkan, dan aku pun ragu, lalu berhenti.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.