Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Yang mana di antara mereka yang bermarga Cullen?” tanyaku. “Mereka tidak kelihatan seperti satu keluarga…”

“Oh, memang tidak. Dr. Cullen masih sangat muda, kira-kira 20-an atau awal 30-an. Mereka semua anak adopsi. Yang bermarga Hale adalah sepasang kembaran laki-laki dan perempuan—yang pirang—mereka anak angkat.”

“Mereka kelihatannya agak terlalu tua untuk menjadi anak angkat.”

“Sekarang memang. Jasper dan Rosalie umurnya 18, tapi mereka sudah hidup bersama-sama Mrs. Cullen sejak masih 8 tahun. Mrs. Cullen bibi mereka atau seperti itulah.”

“Mereka baik sekali—mau memelihara semua anak-anak itu, ketika mereka masih kecil dan segalanya.”

“Kurasa begitu,” ujar Jessica enggan, dan aku mendapat kesan ia tidak menyukai sang dokter dan istrinya untuk alasan tertentu. Dari caranya memandang anak-anak adopsi itu, aku menduga alasannya adalah iri. “Kurasa Mrs. Cullen tidak bisa punya anak,” Jessica menambahkan, seolah-oleh komentarnya mengurangi kebaikan hati mereka.

Sepanjang percakapan mataku mengerjap lagi dan lagi ke meja tempat keluarga aneh itu duduk.Mereka terus memandang dinding dan tidak makan.

“Apa sejak dulu mereka tinggal di Forks?” tanyaku. Aku yakin pernah melihat mereka di salah satu kunjungan musim panasku disini.

“Tidak,” kata Jessica, nadanya mengindikasikan bahwa itu seharusnya sudah jelas, bahkan bagi pendatang baru seperti aku. “Mereka baru saja pindah ke sini 2 tahun yang lalu dari sekitar Alaska.”

Aku merasakan sebersit rasa iba, sekaligus lega. Iba karena betapapun cantik dan tampannya mereka, mereka adalah pendatang, dan jelas tidak diterima. Dan lega karena aku bukan satu-satunya pendatang baru di sini, dan sudah pasti bukan yang paling menarik bila dilihat dari standar apapun.

Saat aku mengamati mereka, yang paling muda, salah satu yang bermarga Cullen, mendongak dan beradu pandang denganku, kali ini ekspresinya memancarkan rasa penasaran yang nyata. Ketika pelan-pelan aku mengalihkan pandangan, tampak olehku bahwa tatapannya mencerminkan semacam harapan yang tak terpuaskan.

“Cowok berambut coklat kemerahan itu siapa?” tanyaku. Aku mengintip ke arahnya lewat sudut mata, dan ia masih menatapku, tapi tidak melongo seperti murid-murid lain seharian ini—ekspresinya sedikit gelisah. Aku kembali menunduk.

“Itu Edward. Dia tampan, tentu saja, tapi jangan buang-buang waktu. Dia tidak berkencan. Kelihatannya tak satupun cewek disini cukup cantik baginya.” Jessica mendengus, sikapnya jelas pahit. Aku membayangkan kapan Edward menampiknya.

Aku menggigit bibir untuk menyembunyikan senyumku. Lalu aku kembali memandang Edward. Ia sudah memalingkan wajah, tapi rasanya pipinya seperti tertarik, seolah-olah dia juga tersenyum.

Beberapa menit kemudian mereka berempat meninggalkan meja bersama-sama. Tak diragukan lagi mereka sangat anggun—bahkan yang bertubuh besar dan berotot. Aku kecewa menyaksikan kepergian mereka. Yang bernama Edward tidak menoleh ke arahku lagi.

Aku duduk di meja bersama Jessica dan teman-temannya lebih lama daripada kalau aku duduk sendirian. Aku tidak ingin terlambat tiba di kelas pada hari pertamaku tiba di sekolah. Salah satu kenalan baruku, yang dengan baik hati mau mengingatkan lagi bahwa namanya Angela, juga mengambil kelas Biologi II bersamaku pada jam berikutnya. Kami berjalan ke kelas bersama-sama tanpa bicara. Ia juga pemalu.

Ketika kami memasuki kelas, Angela duduk di meja lab yang bagian atasnya berwarna hitam, persis yang dulu sering kutempati. Ia sudah punya teman sebangku. Malah sebenarnya semua meja telah terisi, kecuali satu yang masih kosong. Di sisi gang tengah, aku mengenali Edward Cullen dari rambutnya yang tidak biasa, duduk di sebelah kursi yang kosong.

Saat aku menyusuri gang untuk memperkenalkan diri kepada guru dan memintanya menandatangani kertasku, aku diam-diam memperhatikan Edward. Ketika aku melewatinya, tiba-tiba duduknya menjadi kaku. Ia menatapku lagi, mataku bertemu mata dengan sepasang mata dengan ekspresi paling aneh—tidak bersahabat, gusar. Bergegas aku memalingkan wajah, terkejut, wajahku merah padam. Aku tersandung buku dan nyaris terjembab hingga tanganku meraih ujung meja. Cewek yang duduk disitu terkekeh.

Saat itulah aku memperhatikan bahwa matanya berwarna hitam—hitam legam.

Mr. Banner menandatangani kertasku dan menyerahkan sebuah buku tanpa berbasa-basi tentang perkenalan. Bisa kukatakakan kami bakal cocok. Tentu saja dia tak punya pilihan kecuali menyuruhku menempati kursi yang kosong di tengah kelas. Aku terus menunduk ketika menempatkan diriku di sisinya, bingung oleh tatapan antagonis yang dilemparkannya padaku.

Tanpa mengangkat wajah, kuatur bukuku di meja lalu duduk, tapi dari sudut mata bisa kulihat posturnya berubah. Ia menjauh dariku, duduk di ujung kursi, memalingkan wajah seakan-akan mencium bau yang tidak enak. Diam-diam aku mengendus rambutku. Aromanya seperti stroberi, aroma shampo kesukaanku. Sepertinya baunya cukup enak. Kubiarkan rambutku tergerai di bahu kanan, sebagai penghalang diantara kami, dan mencoba berkonsentrasi pada pelajaran.

Tapi sialnya pelajaran saat itu mengenai anatomi sekuler, sesuatu yang sudah pernah kupelajari. Meski begitu aku tetap mencatat dengan teliti, dan selalu menunduk.

Aku tak bisa menahan diri dan sesekali mengintip lewat celah rambutku ke cowok aneh di sebelahku. Sepanjang pelajaran ia tak pernah duduk santai di kursinya, sejauh mungkin dariku. Aku bisa melihat tangannya yang mengepal diletakkan di paha kiri, otot-ototnya menyebul di balik kulit pucatnya. Untuk yang satu ini, dia juga tak pernah santai. Lengan panjang kaus putihnya digulung sampai siku, dan mengejutkan karena lengannya yang kekar dan berotot di balik kulitnya yang pucat. Ia tidak pernah kelihatan sekurus itu ketika berdampingan dengan kakaknya yang berperawakan gagah dan besar.

Pelajaran kali ini kelihatannya lebih lama daipada yang lain. Apa itu karena sekolah sudah hampir usai, atau karena aku sedang menunggu kepalan tangannya mengendur? Tangannya terus terkepal, ia duduk tak bergeming sampai-sampai ia seolah-olah tidak bernapas. Apa yang salah dengannya? Apakah ini juga perilaku normalnya? Aku mempertanyakan penilaian Jessica yang ketus siang tadi. Barangkali cewek itu tidak sebenci yang kupikir.

Tak mungkin ada hubungannya denganku. Ia sama sekali tidak mengenalku.

Sekali lagi aku mengintip, dan menyesalinya. Ia sedang menatapku, matanya yang hitam penuh rasa jijik. Ketika aku mengalihkan pandang, menciut di kursiku, tiba-tiba frase bila rupa bisa membunuh melintas di benakku.

Bel berbunyi keras, membuatku terperanjat. Edward Cullen bangkit dari tempat duduk. Dengan luwes dia berdiri—ia lebih tinggi daripada yang kukira—memunggungiku, dan ia sudah keluar dari pintu sebelum yang lain beranjak dari kursi mereka.

Aku duduk membeku, menatapnya tanpa berkedip. Ia jahat sekali. Ini tidak adil. Perlahan-lahan aku mulai membereskan barang-barangku, mencoba mengenyahkan kemarahan yang menyelimutiku, sebab khawatir air mataku bakal menggenang. Untuk beberapa alasan emosiku melekat erat dengan saluran air mataku. Kalau marah aku biasanya menangis, kebiasaan memalukan.

“Apa kau Isabella Swan?” terdengar suara cowok bertanya.

Aku mengangkat kepala dan melihat seorang cowok bertampang imut dan tampan, rambutnya yang pirang pucat di-gel berbentuk spike yang teratur. Ia tersenyum ramah. Ia jelas tidak menganggap bauku tidak enak.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.