Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Mengikuti insting sama yang telah membuatku berbohong pada Mike, aku menelepon Jessica untuk berpura-pura mendoakan semoga pesta dansanya berjalan lancar. Ketika ia menyampaikan harapan yang sama untuk hariku bersama Edward, aku memberitahunya tentang pembatalan itu. Sebagai pihak ketiga yang tak ada hubungannya sama sekali, ia terdengar lebih kecewa dari seharusnya. Aku langsung mengakhiri pembicaraan setelah itu.

Sepanjang makan malam Charlie melamun, mengkhawatirkan sesuatu tentang pekerjaannya, kurasa, atau mungkin pertandingan basket, atau mungkin ia hanya benar-benar menikmati lasagna yang kubuat—sulit menebak apa yang dipikirkan Charlie.

“Kau tahu, Dad…” aku memulai, membuyarkan lamunannya.

“Ada apa, Bell?”

“Kurasa kau benar tentang Seattle. Kurasa aku akan menunggu sampai Jessica atau orang lain bisa pergi bersamaku.”

“Oh,” katanya, terkejut. “Oh, oke. Jadi kau ingin aku menemanimu di rumah?”

“Tidak, Dad, jangan ubah rencanamu. Aku punya banyak hal yang harus kulakukan… PR, mencuci… Aku perlu ke perpustakaan, dan ke toko kelontong. Aku akan pergi kesana kemari seharian… kau pergi saja dan bersenang-senanglah.”

“Kau yakin?”

“Tentu, Dad. Lagipula, persediaan ikan kita sudah menipis—persediaan kita tinggal cukup untuk dua atau tiga tahun barangkali.”

“Mudah sekali hidup bersamamu, Bella.” Ia tersenyum.

“Kau juga, Dad,” kataku, tertawa. Tawaku reda, tapi sepertinya Dad tidak memperhatikan. Aku merasa sangat bersalah telah membohonginya, sampai-sampai aku nyaris mengikuti nasihat Edward dan mengatakan yang sebenarnya. Nyaris.

Setelah makan malam aku melipat pakaian dan memindahkan sebagian lagi ke mesin pengering. Sayangnya ini jenis pekerjaan yang hanya dapat menyibukkan tangan saja. Pikiranku jelas punya banyak waktu senggang, dan sudah mulai tak terkendali. Pikiranku berpindah-pindah antara antisipasi yang begitu kuat hingga nyaris menyakitkan, dan perasaan sangat takut membulatkan tekadku. Aku harus terus mengingatkan diri bahwa aku telah membuat keputusan, dan tak akan mengubahnya. Aku mengeliarkan kertas berisi tulisannya dari sakuku lebih sering dari yang diperlukan untuk menyerap dua kata yang ditulisnya. Ia ingin agar aku selamat, aku mengingatkan diriku sendiri berulang-ulang. Aku hanya perlu berpegang pada keyakinan bahwa akhirnya, hasrat itu akan mengalahkan segalanya. Dan apa pilihanku yang lainnya—mengenyahkannya dari hidupku? Tidak mungkin. Lagipula, sejak aku datang ke Forks, kelihatannya hidupku benar-benar tentang dirinya.

Tapi suara kecil di relung benakku yang terdalam khawatir, bertanya-tanya apakah akan sangat menyakitkan… bila semua itu berakhir buruk.

Aku merasa lega ketika hari sudah cukup malam untuk pergi tidur. Aku tahu aku terlalu tegang untuk bisa tidur. Jadi aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Aku sengaja meminum pil demam yang sebenarnya tidak kuperlukan—obat itu bisa membuatku tidur selama delapan jam. Dalam keadaan normal aku tidak akan memaafkan tindakan seperti itu, tapi besok bakal cukup rumit tanpa aku menjadi sinting karena kurang tidur. Sambil menunggu obatnya bekerja, aku mengeringkan rambutku yang sudah bersih hingga benar-benar lurus, dan memikirkan apa yang akan kukenakan besok.

Setelah semua siap untuk esok, akhirnya aku berbaring di tempat tidur. Aku merasa tegang, hingga tak bisa berhenti bolak-balik. Aku terbangun, dan mencari-cari di kotak sepatuku hingga menemukan koleksi instrumental Chopin. Aku menyalakannya dengan volume sangat pelan lalu berbaring lagi, berusaha menenangkan setiap bagian tubuhku. Di tengah-tengah itu ada obat yang kuminum tadi mulai bekerja, dan aku pun tidur pulas.

Aku bangun cepat, tidurku benar-benar nyenyak dan tanpa mimpi berkat obat yang sengaja kuminum. Meski istirahatku cukup, aku kembali tergesa-gesa seperti semalam. Aku berpakaian terburu-buru, melicinkan kerah pakaianku, merapikan sweter cokelatku hingga jatuh alami di pinggangku. Aku mengintip ke luar jendela untuk memastikan Charlie sudah benar-benar pergi. Awan tipis bagai kapas menyelimuti langit. Sepertinya tidak akan bertahan lama.

Aku menyantap sarapanku tanpa benar-benar merasakannya, buru-buru membereskannya ketika selesai. Aku mengintip ke jendela lagi, tapi tak ada yang berubah. Aku baru saja selesai menggosok gigi dan hendak turun ketika sebuah ketukan pelan membuat jantungku berdetak kencang.

Aku meluncur ke pintu; sedikit kesulitan dengan selotnya, tapi akhirnya berhasil membukanya. Dan ia tampak berdiri di sana. Semua kegelisahanku lenyap begitu aku melihat wajahnya. Kini aku merasa tenang. Aku mendesah lega—ketakutan yang kurasakan kemarin terasa konyol setelah sekarang ia sudah di sini bersamaku.

Awalnya ia tidak tersenyum—wajahnya muram. Tapi kemudian raut wajahnya sedikit ceria ketika melihatku, dan ia pun tertawa.

“Selamat pagi,” sapanya sambil tergelak.

“Ada apa?” aku menunduk untuk memastikan tidak melupakan sesuatu yang penting seperti sepatu, atau celana.

“Kita serasi.” Ia tertawa lagi. Aku baru menyadari bahwa ia mengenakan sweter tangan panjang cokelat muda, dengan kerah putih mengintip di baliknya, dan jins. Aku ikut tertawa, menyembunyikan sekelumit kekecewaan—kenapa ia terlihat sebagai model peragaan busana sementara aku tidak?

“Kita sudah sepakat,” aku mengingatkannya, merasa puas. Lalu aku masuk ke kursi kemudi, dan meraih ke seberang untuk membukakan pintu baginya.

“Kemana?” tanyaku.

“Kenakan sabuk pengamanmu—belum-belum aku sudah gugup.”

Aku menatapnya jengkel ketika melakukan perintahnya.

“Kemana?” ulangku sambil mendesah.

“Ke arah satu-kosong-satu utara,” perintahnya.

Aku terkejut menemukan diriku sulit berkonsentrasi pada jalanan di depanku ketika merasakan tatapannya di wajahku. Karenanya aku mengemudi lebih hati-hati dari biasa, menembus kota yang masih tidur.

“Apakah kau bermaksud meninggalkan Forks sebelum malam tiba?”

“Truk ini cukup tua untuk menjadi mobil kakekmu—hargailah sedikit,” tukasku gusar.

Tak lama kemudian kami sampai di perbatasan kota, meskipun ia terus saja mencela. Pemandangan semak belukar yang lebat dan batang-batang pohon berselimut lumut menggantikan pekarangan dan rumahrumah yang tadi kami lewati.

“Belok kiri di satu-sepuluh,” perintahnya ketika aku hendak bertanya. Aku mematuhinya tanpa berkatakata.

“Sekarang terus hingga ke ujung jalan.”

Aku bisa mendengar senyum dalam suaranya, tapi terlalu takut bakal keluar jalur dan membuktikan ia benar untuk merasa waswas.

“Dan di ujung jalan sana ada apa?” aku bertanya-tanya.

“Jalan setapak.”

“Kita akan mendaki gunung?” Untung aku memakai sepatu tenis.

“Apakah itu masalah?” Ia terdengar tidak kaget.

“Tidak.” Aku berusaha agar jawabanku terdengar meyakinkan. Tapi kalau pikirnya trukku berjalan pelan…

“Jangan khawatir, jaraknya hanya kurang-lebih lima mil, dan kita tidak perlu terburu-buru.”

Lima mil. Aku tidak menyahut, supaya ia tidak mendengar kepanikan dalam suaraku. Lima mil dengan akar-akar berbahaya dan bebatuan yang mudah luruh, sepertinya ia berencana membuat pergelangan kakiku keseleo, atau bahkan melukaiku. Ini akan jadi perjalanan memalukan.

Selama beberapa saat kami melanjutkan tanpa bicara, sementara aku membayangkan kengerian yang bakal kuhadapi.

“Apa yang kaupikirkan?” tanyanya tak sabar setelah beberapa saat.

Lagi-lagi aku berbohong. “Hanya membayangkan tempat yang kita tuju.”

“Tempat itu sering kudatangi ketika cuaca sedang bersahabat.” Kami memandang ke luar jendela, ke awan-awan yang mulai menipis.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.