Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Aku memandang marah padanya, karena yakin ia sedang menggodaku sekarang.

Ia tersenyum begitu memahami ekspresiku. “Dengan keunggulan yang kumiliki,” gumamnya, menyentuh dahinya dengan hati-hati, “aku lebih baik daripada manusia umumnya. Manusia bisa ditebak. Tapi kau… kau tak pernah seperti yang kuduga. Kau selalu membuatku terkejut.”

Aku berpaling, mataku kembali mengamati keluarganya, merasa malu dan tidak puas. Kata-katanya membuatku merasa seperti kelinci percobaan. Aku ingin menertawai diriku sendiri karena mengharapkan yang lain.

“Bagian itu cukup mudah untuk dijelaskan,” lanjutnya. Aku merasakan tatapannya di wajahku, tapi aku belum bisa menatapnya, khawatir ia bisa saja membaca kekecewaan di mataku. “Tapi ada lagi… dan tak mudah menjelaskannya dengan kata-kata—”

Aku masih memandangi keluarga Cullen ketika ia berbicara. Tiba-tiba Rosalie, saudaranya yang berambut pirang dan luar biasa cantik, berpaling dan menatapku. Tidak, bukan melihat—melainkan menatap marah dengan tatapan gelap dan dingin. Aku ingin berpaling, tapi tatapannya memerangkapku sampai akhirnya Edward menghentikan kata-katanya dan mengeram marah. Suaranya nyaris seperti desisan.

Rosalie membuang muka, dan aku lega karena terbebas dari tatapannya. Aku kembali menatap Edward—dan tahu ia bisa melihat perasaan bingung dan takut yang memenuhi mataku.

Wajahnya tegang ketika menjelaskan. “Maaf soal itu. Dia hanya khawatir. Begini… bukan hanya aku yang bakal terancam, kalau setelah menghabiskan begitu banyak waktu denganmu terang-terangan…” Ia menunduk.

“Kalau?”

“Kalau ini berakhir… dengan buruk.” Ia menaruh kepalanya diantara kedua tangannya seperti yang dilakukannya malam itu di Port Angeles. Kesedihannya sangat nyata; ingin rasanya aku menenangkannya, tapi aku tak tahu bagaimana caranya. Kupaksakan tanganku meraihnya; dengan cepat, meski akhirnya kujatuhkan lagi ke meja, khawatir sentuhanku akan memperburuk keadaan. Perlahan aku menyadari kata-katanya seharusnya membuatku takut. Aku menunggu rasa takut itu, tapi sepertinya yang dapat kurasakan hanya perasaan sedih karena rasa sakit yang dialaminya.

Dan perasaan frustasi—frustasi karena Rosalie telah menyela apapun itu yang hendak dikatakannya. Aku tak tahu bagaimana caranya membuatnya membicarakannya lagi. Ia masih memegangi kepalanya.

Aku berusaha bicara sewajar mungkin. “Kau harus pergi sekarang?”

“Ya.” Ia mengangkat wajah; sesaat wajahnya serius, kemudian suasana hatinya berubah dan ia tersenyum. Mungkin ini yang terbaik. Kita masih punya waktu lima belas menit menonton film menyedihkan itu di kelas Biologi—aku tak yakin bisa melakukannya lagi.”

Aku hendak beranjak. Alice—rambut gelapnya yang pendek berpotongan lancip membingkai wajahnya seperti peri kecil—tiba-tiba sudah berdiri di belakang Edward. Posturnya ramping, elegan meski tidak bergerak.

Edward menyapanya tanpa memalingkan pandangan dariku. “Alice.”

“Edward,” balasnya, suara soprano tingginya nyaris sama menariknya seperti suara Edward.

“Alice, ini Bella—Bella, ini Alice,” ia memperkenalkan kami, menunjuk kami sesantai mungkin, senyum sinis mengembang di wajahnya.

“Halo, Bella.” Warna matanya yang seperti batu obsidian tak bisa ditebak, tapi senyumnya bersahabat. “Senang akhirnya bisa berkenalan.”

Edward melontarkan pandangan misterius ke arahnya.

“Hai, Alice,” sapaku malu-malu.

Suaranya dingin. “Hampir. Kita ketemu di mobil.”

Tanpa mengucapkan apa-apa Alice meninggalkan kami; langkahnya sangat gemulai, begitu anggun sehingga membuatku iri.

“Haruskah aku mengucapkan ‘Selamat bersenang-senang’, atau kalimat itu tidak tepat?” tanyaku, berbalik menghadap Edward lagi.

“Tidak, ‘selamat bersenang-senang’ sudah cukup.” Ia tersenyum.

“Kalau begitu, selamat bersenang-senang.” Aku berusaha terdengar tulus. Tentu saja aku tidak bisa menipunya.

“Akan kucoba.” Ia masih tersenyum. “Dan kau, jagalah dirimu, kumohon.”

“Aman di Forks—itu sih gampang.”

“Bagimu memang gampang.” Rahangnya mengeras. “Janji.”

“Aku janji akan menjaga diri,” ulangku. “Aku akan mencuci malam ini—pasti bakal penuh bahaya.”

“Jangan terjatuh,” ejeknya.

“Lihat saja.”

Ia bangkit berdiri, aku juga.

“Sampai ketemu besok,” desahku.

“Sepertinya bakalan lama bagimu, ya kan?” godanya.

Aku mengangguk sedih.

“Aku akan datang besok pagi,” ia berjanji, tersenyum lebar. Ia mengulurkan tangan, menyentuh wajahku, mengusap lembut pipiku. Lalu ia berbalik dan pergi. Aku memandanginya hingga ia tak terlihat lagi.

Aku amat tergoda untuk membolos selama sisa jam pelajaran hari itu, setidaknya pelajaran Olahraga, tapi insting menghentikan niatku. Aku tahu kalau aku menghilang sekarang, Mike dan yang lain pasti menduga aku pergi dengan Edward. Dan Edward sendiri mengkhawatirkan kebersamaan kami yang terang-terangan seperti ini… kalau saja semuanya tidak berjalan semestinya. Aku mencoba mengenyahkan keinginanku itu, dan lebih berkonsentrasi membuat segalanya lebih aman baginya.

Dengan sendirinya aku tahu—dan rasanya ia juga—bahwa esok adalah saat yang penting. Hubungan kami tak bisa berlanjut secara seimbang, seperti layaknya hubungan di ujung tanduk. Kami akan terjatuh ke satu sisi atau sisi lain, tergantung sepenuhnya pada keputusannya, atau instingnya. Keputusanku sendiri sudah bulat, bahkan sebelum aku memutuskannya dengan sadar, dan aku bertekad menjalankannya. Karena tak ada yang lebih menakutkan buatku, lebih menyakitkan, daripada menjauhkan diriku darinya. Itu sesuatu yang mustahil.

Aku pergi ke kelas dengan patuh. Aku tak bisa mengatakan sejujurnya apa yang terjadi di kelas Biologi; pikiranku kelewat sibuk memikirkan hari esok. Di Olahraga, Mike mengajakku bicara lagi; berharap aku bersenang-senang di Seattle. Hati-hati kujelaskan bahwa aku tidak jadi pergi, khawatir trukku takkan sanggup.

“Kau akan ke pesta dansa dengan Cullen?” tanyannya, tiba-tiba marah.

“Tidak, aku sama sekali tidak akan ke pesta dansa.”

“Lalu, apa yang akan kaulakukan?” tanyanya, kelewat ingin tahu.

Keinginanku paling besar adalah menyuruhnya tidak ikut campur. Tapi sebagai gantinya dengan cerdik aku berbohong.

“Cucian, dan aku harus belajar untuk ujian Trigono atau nilaiku bakal jelek.”

“Apakah Cullen membantumu belajar?”

“Edward,” aku menekankan, “tidak akan membantuku belajar. Dia pergi entah kemana akhir pekan ini.” Kebohongan itu mengalir lebih alami dari biasanya, dan ini membuatku terkejut.

“Oh,” katanya kembali bersemangat. “Kau tahu, kau bisa datang ke pesta dansa dengan kami—pasti keren. Kami semua akan berdansa denganmu,” janjinya.

Bayangan wajah Jessica mengubah nada suaraku lebih tajam dari seharusnya.

“Aku tidak akan pergi ke pesta dansa, Mike, oke?”

“Ya sudah.” Ia marah lagi. “Aku hanya menawarkan.”

Ketika sekolah akhirnya selesai, aku berjalan lemas menuju parkiran. Aku terutama tak ingin pulang berjalan kaki, tapi aku tak mengerti bagaimana ia bisa membawa trukku kesini. Tapi aku mulai percaya tak ada yang mustahil baginya. Insting terakhirku terbukti benar—trukku diparkir di tempat ia memarkir Volvo-nya tadi pagi. Aku menggeleng tak percaya, membuka pintu yang tak terkunci dan melihat kuncinya menggantung di lubang starter.

Selembar kertas tergeletak di jokku. Aku mengambilnya dan menutup pintu sebelum membuka lipatannya. Tertera dua kata dalam tulisan yang elegan.

Jaga dirimu

Suara deru truk membuatku kaget. Aku menertawai diriku sendiri.

Ketika aku sampai di rumah pintunya terkunci, namun gemboknya terbuka, persis seperti yang kutinggalkan tadi pagi. Sesampai di dalam aku segera ke ruang cuci. Kelihatannya juga sama seperti ketika kutinggalkan tadi. Aku mencari jinsku, dan setelah menemukannya, kuperiksa sakunya. Kosong. Barangkali kuncinya telah kugantungkan di suatu tempat, pikirku sambil menggeleng.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.