Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Ia melirikku sebentar. “Masalah lagi,” katanya muram.

Ia membuka pintu itu dalam gerakan luwes, lalu bergerak, nyaris menarik dirinya menjauh dariku.

Lampu sorot yang menembus hujan menarik perhatianku. Sebuah mobil menepi dan berhenti hanya beberapa meter di depan kami.

“Charlie sudah dekat,” ia mengingatkanku, memandang menembus hujan lebat yang mengguyur mobil tadi.

Meski bingung dan penasaran, aku langsung melompat keluar. Hujan terdengar lebih keras ketika membasahi jaketku.

Aku mencoba mengenali sosok yang duduk di jok depan mobil tadi, tapi terlalu gelap. Aku bisa melihat sosok Edward dalam sorotan lampu mobil yang baru saja datang tadi; ia masih menatap ke depan, tatapannya terpaku pada sesuatu atau seseorang yang tak bisa kulihat. Ekspresinya aneh, antara putus asa dan menantang.

Kemudian ia menyalakan mesin mobilnya, bannya berdecit di pelataran yang basah. Dalam sekejap Volvo itu menghilang dari pandangan.

“Hei, Bella,” suara serak yang tak asing lagi memanggilku dari jok pengemudi mobil hitam kecil itu.

“Jacob?” tanyaku, menyipitkan mata menembus hujan. Mobil patroli Charlie muncul dari belokan jalan, lampunya menyinari mobil di depanku.

Jacob sudah keluar dari mobil, senyumnya yang lebar tampak nyata meski saat itu gelap. Di jok penumpang duduk seseorang yang lebih tua, pria bertubuh kekar dengan wajah yang kuingat—wajah yang berkeriput, pipi yang kendur, dengan kulit keriput bagai jaket kulit tua. Dan sepasang mata yang tak disangkasangka sangat familier, mata hitam yang tampak terlalu muda dan sekaligus kuno untuk sebuah wajahnya yang lebar. Itu ayah Jacob, Billy Black. Aku langsung mengenalinya, meski sudah lebih dari lima tahun sejak terakhir kali aku melihatnya. Aku nyaris lupa namanya jika Charlie tidak menyebutnya pada hari pertama kedatanganku disini. Ia memandangku, mengamati wajahku, jadi aku tersenyum malu-malu padanya. Matanya lebar, seolaholah ngeri, hidungnya kembang-kempis. Senyumku memudar.

Masalah lagi, seperti kata Edward.

Billy masih menatapku lekat-lekat, waswas. Diam-diam aku mengerang. Apakah Billy mengenali Edward semudah itu? Mungkinkah ia benar-benar mempercayai legenda mustahil yang diceritakan anaknya?

Jawabannya tampak jelas di mata Billy. Ya. Ya, ia percaya.

 

 

12. Penyeimbangan

“Billy!” seru Charlie begitu ia keluar dari mobil.

Aku berbalik menuju rumah, memberi isyarat pada Jacob untuk mendekat, sambil meraih-raih ke bawah serambi. Aku mendengar Charlie menyambut mereka lantang di belakangku.

“Tadinya aku mau berpura-pura tidak melihatmu di belakang kemudi, Jake,” protesnya.

“Kami mendapat izin meninggalkan reservasi,” kata Jacob, sementara aku membuka pintu dan menyalakan lampu teras.

“Ya, tentu saja,” Charlie tertawa.

“Bagaimanapu aku harus mampir kemari.” Aku mengenali suara Billy yang mengelegar itu dengan mudah, meski sudah bertahun-tahun. Suaranya membuatku tiba-tiba merasa lebih muda, masih kanak-kanak.

Aku masuk, membiarkan pintu terbuka dan menyalakan semua lampu sebelum menanggalkan jaket. Lalu aku berdiri di ambang pintu, dengan waswas memperhatikan Charlie dan Jacob membantu Billy keluar dari mobil dan mendudukannya di kursi roda.

Aku menepi memberi jalan ketika ketiganya bergegas masuk, menghindari hujan.

“Ini kejutan,” kata Charlie.

“Sudah terlalu lama,” sahut Billy. “Kuharap kami datang di waktu yang tepat.” Matanya yang gelap bersinar-sinar menatapku, ekspresinya tak bisa ditebak.

“Tidak masalah. Kuharap kau tinggal untuk menyaksikan pertandingan.”

Jacob nyengir. “Kurasa itulah rencananya—TV kami rusak sejak minggu lalu.”

Billy menatap anaknya dengan pandangan menegur. “Dan tentu saja Jacob sudah tak sabar ingin bertemu Bella lagi,” ia menambahkan. Jacob cemberut dan menunduk sementara aku mencoba mengenyahkan perasaan menyesal yang menyelimutiku. Barangkali rayuanku di pantai tempo hari kelewat meyakinkan.

“Kalian lapar?” tanyaku, berbalik menuju dapur. Aku ingin sekali melarikan diri dari tatapan Billy yang penasaran.

“Tidak, kami sudah makan sebelum kemari,” sahut Jacob.

“Bagaimana denganmu, Charlie?” aku menengok sambil meluncur ke sudut.

“Tentu saja,” balasnya, suaranya terdengar berpindah ke ruang depan, ke TV. Bisa kudengar suara kursi roda Billy menyusul di belakangnya.

Sandwich panggang keju sudah siap di wajan dan aku sedang mengiris tomat ketika merasakan seseorang di belakangku.

“Jadi, bagaimana keadaanmu?” tanya Jacob.

“Baik.” Aku tersenyum. Semangatnya sangat sulit ditolak. “Bagaimana denganmu? Apakah mobilmu sudah selesai?”

“Belum.” Keningnya berkerut. “Aku masih perlu beberapa bagian lainnya. Kami meminjam mobil itu.” Ia menunjuk pekarangan dengan ibu jarinya.

“Maaf. Aku belum melihat… apa yang kau cari itu?”

“Master cylinder.” Ia nyengir. “Apakah trukku bermasalah?” lanjutnya tiba-tiba.

“Tidak.”

“Oh. Aku hanya penasaran sebab kau tidak menggunakannya.”

Aku menunduk menatap wajan, mengintip bagian bawah sandwich-nya. “Seorang teman memberiku tumpangan.”

“Tumpangan yang keren.” Suara Jacob terkagum-kagum. “Tapi aku tidak mengenali pemiliknya. Kusangka aku kenal hampir semua anak disini.”

Aku mengangguk lemah sambil terus menunduk, membalikkan sandwich.

“Sepertinya ayahku mengenalinya.”

“Jacob, bisakah kau mengambilkan piring? Ada di lemari di sebelah atas tempat cuci piring.”

“Tentu saja.”

Ia mengambil piring tanpa mengatakan apa-apa. Kuharap ia tidak meneruskan topik itu lagi.

“Jadi, siapa dia?” tanyanya, menaruh dua piring di konter sebelahku.

Akhirnya aku mengalah. “Edward Cullen.”

Yang membuatku terkejut, ia tertawa. Aku mendongak memandangnya. Ia kelihatan sedikit malu.

“Kurasa itu menjelaskan semuanya,” katanya. “Kenapa ayahku bersikap sangat aneh.”

“Benar sekali.” Aku berpura-pura polos. “Dia tidak menyukai keluarga Cullen.”

“Dasar orang tua yang percaya takhayul,” gumam Jacob.

“Dia tidak bakal bilang apa-apa pada Charlie, kan?” Aku tak bisa menahannya, kata-kata itu keluar dalam bisikan.

Jacob menatapku sesaat, dan aku tak bisa menebak ekspresi yang terpancar di matanya yang gelap. “Aku sih tidak yakin dia bakal bilang,” akhirnya ia menjawab. “Kurasa Charlie sudah membuatnya mengerti terakhir kali mereka bertemu. Mereka tidak banyak bercakap-cakap sejak—boleh dibilang malam ini semacam reuni, kurasa. Menurutku dia takkan mengungkitnya lagi.”

“Oh,” kataku, mencoba terdengar tak peduli.

Aku tetap tinggal di ruang depan setelah mengantar makanan kepada Charlie, berpura-pura menonton pertandingan sementara Jacob terus berceloteh. Sebenarnya aku mendengarkan pembicaraan pria-pria dewasa itu, memperhatikan tanda apa pun yang menunjukkan Billy akan menginterogasiku, mencoba mencari jalan untuk menghentikannya bila ia memulainya.

Sungguh malam yang sangat panjang. PR-ku banyak yang belum selesai, tapi aku khawatir meninggalkan Billy sendirian bersama Charlie. Akhirnya pertandingannya selesai.

“Apakah kau dan teman-temanmu akan ke pantai lagi?” tanya Jacob sambil mendorong ayahnya ke pintu.

“Entahlah,” sahutku menarik diri.

“Tadi itu menyenangkan, Charlie,” kata Billy.

“Datanglah untuk menonton pertandingan berikutnya,” ujar Charlie membesarkan hati Billy.

“Tentu, tentu,” timpal Billy. “Kami akan datang. Selamat tidur.” Ketika tatapannya beralih padaku, senyumnya memudar. “Jaga dirimu, Bella,” tambahnya serius.

“Terima kasih,” gumamku, lalu berpaling.

Aku bergegas menuju tangga sementara Charlie melambaikan tangannya di ambang pintu.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.