Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

“Apakah sudah tiba saatnya?” tanyaku.

Dahinya berkerut. “Kurasa sudah.”

Aku tetap menjaga kesopananku sambil menunggu.

Ia menghentikan mobilnya. Aku mendongak, terkejut—tentu saja kami sudah sampai di rumah Charlie. Edward memarkir mobilnya di belakang trukku. Bermobil dengannya akan lebih mudah bila aku hanya membuka mata ketika kami sudah sampai. Ketika menatapnya lagi, ia sedang menatapku, mengamatiku.

“Dan kau masih ingin tahu kenapa kau tak bisa melihatku berburu?” Ia tampak serius, tapi rasanya aku melihat kejailan di matanya.

“Well,” ujarku, “aku terutama ingin tahu bagaimana reaksimu.”

“Apa aku membuatmu takut?” Ya, sudah jelas ia sedang melucu.

“Tidak,” aku berbohong. Ia tidak percaya.

“Aku minta maaf telah membuatmu takut,” ia tetap bersikeras sambil tersenyum simpul, tapi kemudian semua gurauan itu lenyap. “Hanya saja membayangkan kau ada di sana… sementara kami berburu.” Rahangnya mengeras.

“Pasti buruk?”

Ia berkata dengan rahang rapat. “Sangat.”

“Karena…”

Ia menarik napas dalam-dalam dan memandang melewati kaca depan, ke awan-awan yang menggayut tebal, yang seolah dapat diraih.

“Ketika kami berburu,” katanya pelas, dengan enggan, “kami membiarkan indra mengendalikan diri kami… tanpa banyak menggunakan pikiran. Terutama indra penciuman kami. Kalau kau berada di dekatku ketika aku kehilangan kendali seperti itu..” Ia menggeleng, masih menatap awan tebal itu dengan murung,

Aku tetap menjaga ekspresiku, menantikan kelebatan matanya yang beberapa saat kemudian mengamatik reaksiku atas ucapannya. Wajahku tidak menunjukkan apa-apa.

Namun pandangan kami bertemu, dan keheningan itu semakin kental—dan berubah. Getaran yang kurasakan siang tadi memenuhi atmosfer saat ia menatap mataku tanpa berkedip. Ketika kepalaku mulai berputar, aku sadar aku tak bernapas. Ketika akhirnya aku menghela napas gemetar, memecah kekakuan dia antara kami, ia memejamkan mata.

“Bella, kurasa kau harus masuk sekarang.” Suaranya rendah dan serak, matanya kembali menatap awan.

Kubuka pintunya, den embusan angin sangat dingin yang menyerbu ke dalam mobil menjernihkan pikiranku. Khawatir kehilangan keseimbangan, dengan hati-hati aku keluar dari mobil dan menutupnya tanpa menoleh. Suara jendela diturunkan membuatku berbalik.

“Oh, Bella?” ia memanggilku, suaranya lebih tenang. Ia menjulurkan tubuhnya di jendela yang terbuka, tersenyum tipis.

“Ya?”

“Besok giliranku.”

“Giliran apa?”

Senyumnya melebar, memamerkan kilauan deretan giginya. “Bertanya padamu.”

Lalu ia menghilang, mobilnya melaju cepat sepanjang jalan dan lenyap di belokan bahkan sebelum aku mengumpulkan kesadaranku. Aku berjalan menuju rumah sambil tersenyum. Jelas ia berencana menemuiku berok, kalau tak ada halangan.

Malam itu Edward muncul dalam mimpiku, seperti biasa. Bagaimanapun tidurku berubah, mimpi itu menimbulkan getaran yang sama seperti yang muncul siangnya, dan aku berguling kian kemari, gelisah, hingga sering kali terbangun. Menjelang subuh akhirnya aku jatuh ke dalam tidur yang melelahkan dan tanpa mimpi.

Ketika terbangun aku masih merasa lelah, tapi juga tegang. Aku mengenakan kaus turtleneck cokelat dan celana pendek. Makan pagi berlangsung biasa, tenang seperti yang kuharapkan. Charlie menggoreng telur untuknya sendiri; aku makan semangkuk sereal. Aku bertanya-tanya apakah ia lupa mengenai rencanaku Sabtu ini. Ia menjawab pertanyaanku yang tak sempat terlontar ini ketika beranjak membawa piringnya ke tempat cuci piring.

“Mengenai Sabtu ini…” katanya, berjalan menyeberangi dapur, dan menyalakan keran.

Aku berkata takut-takut. “Ya, Dad?”

“Kau masih kepingin ke Seattle?” tanyanya.

“Begitulah rencanaku.” Aku nyengir, berharap ia tidak menyinggungnya sehingga aku tak perlu berbohong.

Ia menuang sabun cuci piring ke piringnya dan menggosok-gosoknya dengan sikat. “Dan kau yakin takkan sempat ke pesta dansa?”

“Aku tidak akan ke pesta dansa, Dad.” Aku menatapnya jengkel.

“Tak adakah yang mengajakmu?” tanyanya, berusaha menyembunyikan kepeduliannya dengan berkonsentrasi membilas piring.

Aku berkelit. “Kali ini anak ceweklah yang mengajak.”

“Oh.” Ia mengeringkan piring dengan wajah cemberut.”

Aku merasa kasihan padanya. Pasti sulit menjadi ayah; hidup dalam kekhawatiran bahwa anak gadisnya akan bertemu cowok yang disukainya, tapi juga mengkhawatirkan sebaliknya. Betapa ngeri, pikirku bergidik seandainya Charlie bahkan sedikit saja mencurigai siapa yang sebenarnya yang kusukai.

Kemudian Charlie pergi sambil melambai, dan aku naik, menyikat gigi, dan mengumpulakn bukubukuku. Ketika mendengar mobil patroli Charlie menjauh, aku hanya bisa bertahan sebentar sekali sebelum mengintip ke luar jendela. Mobil silver itu sudah ada disana, menunggu di tempat Charlie biasa parkir. Aku setengah berlari menuruni tangga, keluar rumah, membayangkan berapa lama rutinitas aneh ini akan berlanjut. Aku tak pernah menginginkannya berakhir.

Ia menunggu di mobil, sepertinya tidak memperhatikan waktu aku menutup pintu tanpa perlu repotrepot mengunci. Aku berjalan menuju mobil, berhenti malu-malu sebelum membuka pintu dan masuk ke dalam. Ia tersenyum, tenang—dan seperti biasa, begitu sempurna dan tampan hingga membuatku tersiksa.

“Selamat pagi.” Suaranya lembut. “Bagaimana kabarmu hari ini?” matanya menjelajahi wajahku, seolah pertanyaannya lebih dari sekedar basa-basi.

“Baik, terima kasih.” Aku selalu baik—lebih dari baik—setiap kali berada di dekatnya.

Pandangannya melekat pada lingkaran di bawah mataku. “Kau tampak lelah.”

“Aku tak bisa tidur,” aku mengaku, tanpa sadar menggerai rambutku agar sedikit menutupi wajah.

“Aku juga,” godanya sambil menyalakan mesin mobil. Aku mulai terbiasa dengan suara deruman halus itu. Aku yakin deruman trukku akan membuatku kaget, kalau aku sempat mengendarainya lagi.

Aku tertawa. “Kurasa itu benar. Kurasa aku tidur agak lebih banyak darimu.”

“Aku berani bertaruh untuk itu.”

“Jadi, apa yang kaulakukan semalam?” tanyaku.

Ia tergelak. “Tidak bisa. Hari ini giliranku bertanya.”

“Oh, kau benar. Apa yang ingin kau ketahui?” Dahiku mengerut. Aku tidak bisa membayangkan apa pun tentangku yang bisa membuatnya tertarik.

“Apa warna kesukaanmu?” tanyanya, raut wajahnya serius.

Aku menggerak-gerakkan mataku. “Setiap hari berubah-ubah.”

“Kalau hari ini?” Ia masih tenang.

“Barangkali cokelat.” Aku biasa berpakaian sesuai dengan suasana hatiku.

Ia mendengus, ekspresi seriusnya berubah. “Cokelat?” tanyanya ragu-ragu.

“Tentu. Warna cokelat itu hangat. Aku rindu cokelat. Semua yang seharusnya berwarna cokelat— batang pohon, bebatuan, debu—disini semua itu dilapisi warna hijau,” keluhku.

Ia sepertinya terkesima mendengar celotehanku. Sesaat ia berpikir, menatap mataku.

“Kau benar,” katanya serius. “Warna cokelat itu hangat.” Tangannya menyentuh lembut, tapi masih sedikit ragu-ragu, merapikan rambutku ke balik bahu.

Kami sudah tiba di sekolah. Ia berbalik menghadapku sambil memarkir mobil.

“Musik apa yang kaumainkan di CD palyer-mu saat ini?” tanyanya, wajahnya muram, seolah sedang menginterogasi pembunuh.

Aku jadi sadar tak pernah memindahkan CD yang diberikan Phil. Ketika kusebut nama bandnya, ia tersenyum mengejek, tatapan aneh terpancar di matanya. Ia membuka laci di bawah CD player mobilnya, mengeluarkan satu dari tiga puluh atau lebih CD yang diselipkan dalam satu wadah sempit dan menyerahkannya padaku.

“Debussy, lalu ini?” Satu alisnya terangkat.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.