Baca Novel Online

Twilight – Stephenie Meyer

Kemudian, ketika ruangan sudah gelap, sekonyong-konyong aku terkejut menyadari Edward duduk sangat dekat denganku. Aku terkesiap oleh aliran listrik yang melanda sekujur tubuhku, kagum karena kesadaranku akan keberadaannya melebihi yang sudah-sudah. Dorongan sinting untuk meraih dan menyentuhnya, membelai wajahnya yang sempurna, sekali saja dalam gelap, nyaris membuatku sinting. Aku menyilangkan lengan erat-erat di dada, jemariku mengepal. Aku kehilangan akal sehat.

Pembukaan film dimulai, cahayanya sekejap menyinari ruangan. Otomatis aku melirik ke arahnya. Aku tersenyum malu-malu menyadari postur tubuhnya sama seperti aku, tangannya mengepal di balik lengan, matanya melirikku juga. Aku langsung memalingkan wajah sebelum kehabisan napas. Benar-benar konyol kalau aku sampai pusing.

Jam pelajaran sepertinya sangat panjang. Aku tak bisa berkonsentrasi pada filmnya—aku bahkan tidak tahu filmnya tentang apa. Sia-sia aku berusaha tenang, aliran listrik yang sepertinya mengalir dari salah satu bagian tubuhnya tak pernah berkurang. Sesekali aku membiarkan diriku melirik ke arahnya, tapi kelihatannya ia juga tak pernah bisa tenang. Hasrat kuat untuk menyentuhnya pun sama sekali tak berkurang, dan kepalan tanganku semakin erat hingga jari-jariku sakit karenanya.

Aku mendesah lega ketika Mr. Banner menyalakan lampu kembali. Kurenggangkan dekapan lenganku, melemaskan jemariku yang kaku. Edward tertawa geli di sebelahku.

“Well, tadi itu menarik,” gumamnya. Suaranya misterius dan tatapannya hati-hati.

“Hmmm,” hanya itu yang bisa kukatakan.

“Yuk?” ajaknya, sambil bangkit dengn lincah.

Aku nyaris mengerang. Waktunya kelas Olahraga. Aku berdiri hati-hati, khawatir keseimbanganku terpengaruh oleh hasrat baru yang muncul diantara kami.

Tanpa bicara ia mengantarku ke kelas berikut, lalu berhenti di ambang pintu. Aku berbalik untuk mengucapkan selamat tinggal. Wajahnya membuatku bingung—ekspresinya sedih, nyaris terluka, sekaligus begitu menawan hingga keinginan untuk menyentuhnya kembali menyala-nyala, sama kuatnya seperti sebelumnya. Aku tak sanggup bicara.

Ia mengulurkan tangan, ragu-ragu, matanya sarat pergumulan, dan dengan lembut ia membelai pipiku dengan ujung jemarinya. Kulitnya dingin seperti biasa, namun jejak yang ditinggalkan jari-jarinya terasa hangat di kulitku—seperti terbakar, tapi aku tidak merasa nyeri.

Ia berbalik tanpa kata-kata dan langsung meninggalkanku.

Aku berjalan memasuki gymnasium, nyaris melayang-layang dan sempoyongan. Aku menuju ruang ganti, mengganti pakaian dalam keadaan melamun, hanya samar-samar menyadari kehadiran orang-orang di sekitarku. Barulah ketika seseorang menyerahkan raket padaku, aku sepenuhnya sadar. Raket itu tidak berat, namun terasa tak mantap di tanganku. Kulihat beberapa anak mengamatiku diam-diam. Pelatih Clapp menyuruh kami berpasang-pasangan.

Untung sia-sia kesopanan Mike masih ada; dan ia berdiri di sebelahku.

“Mau berpasangan denganku?”

“Terima kasih, Mike—kau tahu, kau tak perlu melakukannya,” aku meringis penuh penyesalan.

“Jangan khawatir, aku tidak akan mengganggumu.” Ia tersenyum. Kadang-kadang rasanya mudah sekali untuk menyukai Mike.

Keadaan tidak berjalan lancar. Entah bagaimana aku memukul kepalaku sendiri dengan raket dan mengenai bahu Mike dengan ayunan yang sama. Aku menghabiskan sisa pelajaran menyendiri di pojok belakang lapangan, raketnya aman tersimpan. Meski aku telah mencederainya, Mike bermain cukup baik; ia memenangkan tiga dari empat babak seorang diri. Ia mengajakku ber-high five yang seharusnya tak perlu ketika pelatih akhirnya meniup peluit tanda kelas berakhir.

“Jadi,” katanya sambil meninggalkan lapangan.

“Jadi apa?”

“Kau jalan dengan Cullen, heh?” tanyanya, nadanya menantang. Perasaan suka yang tadi kurasakan padanya lenyap.

“Itu bukan urusanmu, Mike,” aku mengingatkannya, diam-diam mengutuk Jessica ke pusat neraka paling panas.

“Aku tidak suka,” ia tetap mengatakannya juga.

“Memang tidak perlu,” sergahku marah.

“Caranya memandangmu… seolah ingin memakanmu,” ia meneruskan, mengabaikan keberatanku.

Kutahan emosiku yang sewaktu-waktu bisa meledak, tapi akhirnya aku toh tertawa kecil. Ia memandang marah padaku. Aku melambai dan langsung menuju ruang loker.

Aku berpakaian dengan cepat, sesuatu yang lebih hebat mangaduk-aduk perutku, pertengkaranku dengan Mike sudah jauh dari ingatanku. Aku bertanya-tanya apakah Edward menungguku, atau apakah seharusnya aku menemuinya di mobil. Bagaimana kalau saudara-saudaranya ada disana? Aku merasakan gelombang ketakutan yang mendalam. Tahukah mereka kalau aku tahu? Apakah seharusnya aku tahu mereka tahu bahwa aku tahu, atau tidak?

Ketika beranjak meninggalkan gymnasium, aku baru saja memutuskan akan langsung pulang tanpa melihat lapangan parkir. Tapi kekhawatiranku tidak perlu. Edward menantiku, bersandar santai di dinding gymnasium, wajahnya yang luar biasa tampan kini tampak tenang. Ketika aku berjalan ke sisisnya, aku merasa sensasi lega yang aneh.

“Hai, desahku, tersenyum lebar.

“Halo.” Senyumnya mempesona. “Bagaimana kelas Olahragamu?”

Wajahku berubah agak kecewa. “Baik-baik saja.” Aku berbohong.

“Benarkah?” tanyanya tidak percaya. Pandangannya bergeser sedikit, melirik ke belakangku, matanya menyipit. Aku menoleh dan melihat Mike berjalan memunggungi kami.

“Apa?” desakku.

Ia kembali menatapku, masih tegang. “Newton membuatku kesal.”

“Kau tidak sedang mendengarkan lagi, kan?” aku terperanjat. Tiba-tiba selera humorku lenyap.

“Bagaimana kepalamu?” tanyanya polos.

“Kau ini bukan main!” Aku berbalik, berjalan cepat ke lapangan parkir, meskipun tidak bermaksud begitu.

Dengan mudah Edward menyusul.

“Kau sendiri yang bilang, aku tak pernah melihatmu di kelas Olahraga—aku jadi penasaran.” Ia tidak terdengar menyesal, jadi aku mengabaikannya.

Kami berjalan tanpa bicara—aku diam karena malu dan geram—menuju mobilnya. Tapi belum sampai di tempat Edward memarkir Volvo-nya, langkahku terhenti—kerumunan orang, semua cowok, tampak mengerumuninya. Lalu aku sadar mereka tidak sedang mengerumuni Volvo, melainkan mobil convertible merah Rosalie, mereka tampak sangat tertarik. Tak satu pun dari mereka bahkan mendongak ketika Edward menyelinap diantara mereka dan membuka pintu mobilnya. Aku langsung masuk ke jok penumpang, juga luput dari perhatian.

“Kelewat mencolok,” gumamnya.

“Mobil apa itu?” tanyaku.

“M3.”

“Aku tidak paham jenis-jenis mobil.”

“Itu keluaran BMW.” Ia memutar bola matanya, tanpa memandangku, mencoba memundurkan mobil tanpa menabrak para penggila mobil yang sedang berkerumun itu.

Aku mengangguk—aku pernah mendengarnya.

“Kau masih marah?” tanyanya sambil berhati-hati mengemudikan mobilnya meninggalkan sekolah.

“Jelas.”

Ia menghela napas. “Maukah kau memaafkanku kalau aku meminta maaf?”

“Mungkin… kalau kau bersungguh-sungguh. Dan kalau kau berjanji takkan mengulanginya lagi,” aku bersikeras.

Sorot matanya sekonyong-konyong berubah tajam. “Bagaimana kalau aku bersungguh-sungguh, dan aku setuju membiarkanmu mengemudi Sabtu nanti?” ujarnya.

Aku mempertimbangkannya, dan memutuskan itu tawaran terbaik yang bisa kudapat. “Setuju.”

“Kalau begitu aku sangat menyesal telah membuatmu marah.” Ketulusan membara di matanya untuk waktu lama—membuat irama jantungku berantakan—kemudian berubah jadi santai. “Dan aku akan tiba di depan rumahmu pagi-pagi sekali Sabtu nanti.”

“Mmm, rasanya tidak akan terlalu membantu bila Charlie melihat Volvo asing di halaman rumahnya.”

Senyumnya kini rendah hati. “Aku tidak berencana membawa mobil.”

“Bagaimana—“

Ia menyelaku. “Jangan khawatir soal itu. Aku akan datang, tanpa mobil.”

Aku tidak mendesaknya lagi. Aku punya pertanyaan yang lebih penting.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2015 08:34

    meta

    Woow keren... :)
  • Posted: June 29, 2015 04:10

    Arcan's Girl

    aku baru tahu novel... kerenn
  • Posted: October 12, 2016 16:51

    ardelia

    baagus bangett
  • Posted: January 19, 2018 16:13

    diky

    izin baca ka

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.